One Day For Ever

One Day For Ever
Episode 7



"Jadi itu alasanmu?"


Kairo menelan ludahnya lalu mengangguk. Entah kesurupan setan apa membuat Kairo berani duduk menghadap laki-laki paruh baya yang  duduk dihadapannya saat ini. Dengan bermodalkan berserah diri kepada Yang Maha Esa.


"Tapi saya tidak butuh laki-laki pembual untuk putri saya," ucap ayah gadis itu.


"Kamu hafal berapa juz?"


Hah? Kairo tidak menduga akan mendapatkan pertanyaan itu.


"Alhamdulillah 30 juz, Pak. Eh maksudnya juz 30."


Kairo merutuki dirinya, bisa-bisanya dia salah bicara di waktu seperti ini. Kemana Kairo yang biasanya? Yang tegas saat menyampaikan presentasi hasil kerja di depan karyawannya. Berulang kali Kairo menjilat bibirnya yang terasa kering.


Datar, dahi berkerut, tatapan tajam. Begitu lah ekspresi Bapak Randy, ayah satu-satunya perempuan yang akan dipinang Kairo dan Kairo tidak bisa membaca ekspresi macam apa itu. Kalau pun dirinya ditolak, kembali ke awal. Kairo hanya pasrah dengan semuanya.


"Sebentar lagi mau shalat dzuhur. Kamu yang jadi imam di masjid ya."


"Baik, Pak," ujar Kairo. Bukannya sombong tapi Kairo cukup sering menjadi imam. Kesibukannya di kantor tidak menghalanginya untuk beribadah.


"Oh iya satu lagi, bagaimana saya harus mengatakannya pada Aurora?"


                                                                                        ***


Kairo menutup bukunya dan melepaskan kacamatanya. Kairo melirik malas pada sekretarisnya yang tidak tahu diri itu. Afian. Laki-laki itu bermain games di ponselnya tanpa menghiraukan Kairo.


"Jadi lo mau bawa Aurora malam ini ke acara Pak Feno?"


Kairo diam, malas menjawab. Ribet.


"Hm. Jadi beneran lo bawa ya," tebak Afian sambil memegang dagunya.


"The first dong. Terus lo nanti kayak di novel-novel itu kagak? Lampu dimatiin terus lo naik ke panggung sambil megang mikrofon dan bilang 'Perkenalkan ini istri saya Aurora' terus fans-fans bucin lo pada menggelepar kayak ikan-ikan. Mangap-mangap juga."


"Halu."


"Nggak romantis banget sih lo jadi laki. Harusnya tuh ya--"


"Halo? Pak Raden, saya bisa minta tolong? Buatkan surat keterangan pemotongan gaji untuk karyawan sekaligus sekretaris saya yang bernama Afiandra Tritan ya, Pak." Ponsel masih tertempel di telinga Kairo. Afian yang mendengar itu pun mendengus dan langsung berdiri.


"Sial, untung temen gua," bisiknya pelan tapi masih bisa didengar Kairo.


"Wahai Bapak Bos yang terhormat. Hari ini ada meeting jam 3 siang. Mohon kerja samanya, saya memohon maaf untuk kelancangan saya semenit yang lalu."


Kairo meletakkan ponselnya sebenarnya dia hanya berpura-pura menelepon salah satu karyawannya. Padahal yang selalu bertugas membuat surat menyurat ialah Afian sendiri, sekretaris Kairo.


"Cancel aja. Hari ini saya mau jemput Aurora di kampus sekaligus makan siang di rumah." Kairo segera mengirim pesan pada Aurora.


Afian mencibir. Bos mah bebas, sekretaris yang tewas.


Afian harus mencari alasan lagi dan lagi.


"Kai, lo tau kan siapa klien kita kali ini?"


"Tau." Kairo mengangguk dengan ekspresi datarnya.


"Terus!? Dan lo dengan seenak jidatnya cancel gitu aja?" Afian berteriak frustasi.


"Dari awal saya nggak pernah terima, mereka saja yang memaksa buat kerja sama." Kairo memakai jasnya.


"Udah lah. Saya mau pergi, Aurora sudah menunggu."


Afian menggeram, Kairo memang juara membuat kepalanya sakit.


***


Aurora memandang dirinya di depan cermin. Sungguh, Aurora tak pernah mengikuti pesta formal seperti ini. Apalagi pesta diadakan oleh salah satu rekan Kairo.


"Udah siap?" Aurora terkesiap. Kairo ini kayaknya suka banget mengejutkan Aurora dengan kehadirannya yang selalu mendadak.


"Bisa nggak sih, sekaliii ajaaa ngucapin salam atau kasih aba-aba kalau mau manggil aku."


"Sudah berulang kali saya manggil kamu sedari tadi tapi kamunya malah bengong di depan cermin. Saya pikir kamu kesurupan." Aurora memutar bola matanya. Seperti biasa, dengan wajah Kairo yang datar.  Kairo memakai tuxedo berwarna dongker tanpa memakai dasi. Kancing atas kemeja Kairo juga tidak terpasang. Aurora pikir pakaian Kairo akan sama kakunya dengan wajah Kairo saat ini namun entah mengapa pipi Aurora terasa panas.


"Memangnya ada yang salah?" Aurora mendengus.


"Jasnya Mas keliatan ketat. Mas nggak ngerasa sesak apa?" Kairo menggeleng.


"Mas ganti gih. Masih ada 20 menit lagi."


"Kamu cemburu?" Aurora terdiam, Kairo pun terdiam. Dua-duanya terdiam terus author kudu piye.


Aurora cemburu? Hah? Sumpah demi apa?


"Terserah Mas lah! Aku cuma nyaranin kalau emang ga mau ganti, yaudah," ucap Aurora tak terima.


Bukannya marah, Kairo malah tertawa. Ingatkan Aurora, ini adalah pertama kalinya Kairo tertawa. Tertawa di depan Aurora.


"Iya-iya. Saya ganti. Tenang aja."


"Jadi... Kamu yakin mau tetap disini?" lanjut Kairo.


"Maksud?"


"Kamu mau tetap disini selama saya ganti pakaian?" Kairo menaikkan satu alis matanya.


"Enggak!" Aurora segera keluar dari kamar. Kenapa Kairo jadi menggodanya?! Sepertinya bukan Aurora yang kesurupan tapi Kairo!


***


Kairo dan Aurora berjalan bersisian. Aurora merasa sangat canggung apalagi tidak ada orang yang dikenalnya sama sekali.


"Kamu disini dulu. Kamu mau makan apa biar saya ambilin?"


Dan sekarang Kairo akan meninggalkannya. Aurora tidak mau, Aurora benar-benar tidak nyaman.


"Aku ikut aja deh, Mas."


"Kenapa? Saya hanya sebentar nanti pasti kembali lagi kesini. Liat tuh antriannya juga lama. Kamu yakin mau ikut?" Kairo menunjuk antrean prasmanan yang cukup ramai. Aurora menimangnya.


"Yaudah deh tapi Mas nggak lama kan?"


"Kalau kamu masih tahan saya disini pastinya akan lama." Aurora mengerucutkan bibirnya. Akhirnya Kairo pergi mengambil beberapa makanan untuk mereka.


Acaranya cukup meriah, banyak orang yang berlalu lalang. Yang membuat Aurora semakin tidak nyaman adalah musik dan tidak dibatasinya laki-laki dan perempuan. Aurora memang bukan perempuan suci tapi entah lah. Rasanya dia ingin pulang ke rumah sekarang juga.


Tiba-tiba saja seorang perempuan berbusana minim duduk di sebelah Aurora.


"Aku liat kamu datang sama Kairo. Kamu siapanya?" tanya perempuan itu ketus. Tatapan perempuan itu seolah menghujam Aurora. Aurora terkejut, dia kan tidak mencari masalah dengan perempuan ini.


"Aku--"


"Dia istri saya. Kamu bisa pergi dari sini." Itu bukan suara Aurora melainkan suara Kairo yang terdengar sangat dingin. Lebih dingin dari biasanya.


"Bohong kamu kan? Cewek ini cuma salah satu mainan kamu kan?"


Mainan katanya!?


Coba saja Aurora tidak tahu adab dan etika, pasti sudah Aurora jambak rambut perempuan itu.


Kairo tersenyum miring dan Aurora sedikit ngeri melihatnya.


"Ingat ya, Kai! Perusahaanku bekerja sama dengan perusahaanmu. Aku bisa kapan saja mengambil saham yang aku berikan pada perusahaanmu!"


"Ck. Ambil saja sahammu itu. Dari awal saya sudah menolak bekerja sama. Memangnya hanya karena sahammu itu perusahaan saya akan bangkrut?" Perempuan itu hampir menjerit kesal mendengar perkataan Kairo.


Aurora tidak tahu harus bagaimana, dia sama sekali tidak mengerti dengan masalah perempuan ini dan suaminya. Entah hanya perasaannya, Kairo ini orang yang misterius. Banyak yang Aurora tidak tahu mengenai Kairo.


Perempuan itu pergi dengan menghentakan sepatu heels-nya. Aurora menatap kepergian perempuan itu, pikirannya masih berputar-putar terutama saat perempuan itu mengatakan Aurora adalah salah satu mainan Kairo. Apa maksudnya?


"Nggak perlu dipikirin. Dia hanya annoying klien saya dan saya bukan player seperti yang dia katakan. Kalau saya player untuk apa saya menikahi kamu?" bisik Kairo di telinga Aurora. Napas Kairo begitu terasa di wajah Aurora membuat Aurora menahan napasnya. Tapi sebentar, bukankah pertanyaan itu harusnya Aurora yang menanyakannya pada Kairo?


Untuk apa kamu menikahi saya, Mas?