One Day For Ever

One Day For Ever
Episode 5



Aurora menggosok rambutnya yang basah dengan handuk. Segar sekali rasanya walaupun dirinya hanya mengerjakan pekerjaan rumah. Aurora juga tidak banyak mengeluh karena mamanya mengajarkannya untuk tidak menjadi anak yang manja apalagi Aurora merupakan anak sulung di keluarganya.


Aurora duduk di depan meja rias. Diliriknya Kairo yang sibuk berkutat dengan laptop diatas pahanya. Mungkin suaminya itu sedang sibuk dengan urusan kantor. Tapi yang jadi masalahnya, sedari tadi diantara mereka berdua tidak ada yang memulai pembicaraan.


Aurora pun sibuk mengoleskan krim malam di wajahnya. Dia pun tidak mau mengganggu suaminya bekerja.


"Aurora, kamu besok ada acara tidak?"


Acara? Aurora lupa kapan terakhir dia punya acara. Lagian Kairo ini aneh-aneh saja. Kairo itu suaminya bukan pacar Aurora, masa tidak tahu kalau Aurora bisa pergi kemana saja jika Kairo memberi ijin.


"Ga ada, Mas. Aku di rumah terus kok. Aku mana mungkin pergi tanpa ijin kamu."


Kairo melepaskan kacamata, memijat kening karena lelah menatap laptop. Kairo menoleh ke arah Aurora dan menatap aneh istrinya. Lebih spesifiknya ke pakaian Aurora. Pakaian Aurora memang tidak seksi tapi..


"Itu pakaian kamu.."


"Kenapa pakaian aku?" Aurora menyelisik pakaiannya. Menurutnya tidak ada yang salah, dia hanya memakai pakaian tidur ya walaupun tidak sepasang. Aurora memakai atasan pink bergambar kodok dan bawahan hijau polos. Tidak salahkan? Pikir Aurora. Dia hanya ingin memakai pakaian yang membuatnya nyaman.


Kairo menggeleng dan menyudahi aksi meneliti pakaian istrinya. Salah satu kebiasaan Aurora yang baru Kairo ketahui bahwa istrinya itu suka memakai pakaian tidur dengan pasangan berbeda.


Kairo mendeham.


"Besok malam akan ada acara pernikahan dari salah satu klien saya. Saya bermaksud ingin mengajak kamu."


"Oh, oke."


Oke aja nih? Singkat, padat dan jelas.


Namun Kairo tidak melanjutkan perkataannya. Segera dia menutup laptopnya dan bersiap untuk tidur. Begitu juga dengan Aurora yang berada di sampingnya sudah pergi lebih dulu ke dunia mimpi.


***


Cuaca hari ini tidak begitu terik, Kairo duduk di halaman rumahnya dengan mengaduk segelas teh susu yang baru ia buat. Hari libur memang menyenangkan.


Kening Kairo mengerut, dia baru saja duduk santai di bangkunya. Tiba-tiba saja sebuah mobil yang sangat asing memarkir tepat di depan pagar rumahnya. Siapakah gerangan? Tidak mungkin tetangga.


Seorang lelaki keluar dari mobil, dengan langkah tegasnya berjalan menuju ke rumah Kairo. Kairo berdiri dan menyambut. Enggak menyambut sih sebenarnya lebih tepat penasaran.


"Assalamu'alaikum, Mas. Ini benar rumahnya Aurora?"


Loh? Cari Aurora toh.


"Iya bener. Ada apa ya mencari istri saya?"


"Oalah! Ini toh suaminya Aurora! Selamat ya Mas buat pernikahan kalian. Maaf kemarin nggak bisa hadir." laki-laki tersebut hendak menyalam Kairo tapi sayang terhalang karena pagar rumah belum Kairo buka.


"Btw, Mas. Ini pagar nggak dibukain? Saya tamu loh."


Kairo terkejut mendengarnya. Ini laki-laki kok enggak ada sopan-sopannya di rumah orang?


"Kamu belum menjawab pertanyaan saya," jawab Kairo dengan wajahnya yang datar. Entah mengapa ada rasa was-was di hati Kairo pada lelaki ini. Sedekat apa Aurora dengan lelaki ini?


"Saya temannya Aurora, Mas. Oh-oh Mas nggak perlu cemburu kok. Beneran deh saya ini cuma temennya Aurora. Nggak lebih dan nggak kurang." laki-laki itu menyengir.


Akhirnya Kairo membukakan pagar dan dengan seenak jidatnya, laki-laki asing itu masuk padahal Kairo belum mempersilahkan.


"Aurora mana, Mas? Kok nggak keliatan?" Laki-laki asing itu celingak-celinguk. Kairo berjalan tanpa menjawab namun dia memutar tubuhnya kembali.


"Kamu disini aja. Jangan masuk," laki-laki asing itu terpelongo melihat kelakuan Kairo. Jelas sekali kalau Kairo cemburu dengan kehadiran. dirinya.


"Hm, baiklah." lelaki itu tersenyum miring saat Kairo sudah masuk ke dalam rumah.


***


"Aurora."


"Eh! Ayam.. Ayam." Aurora tak sengaja menjatuhkan pakaian basah yang harusnya dia jemur.


"Mas tuh ya, bisa nggak sih pake salam atau apa gitu. Ngejutin tau nggak."


"Ngapain juga pake salam kan saya dari tadi di rumah." Aurora mengerucutkan bibirnya.


"Itu diluar ada seseorang yang mau ketemu kamu."


"He? Siapa?" Kairo menaikkan kedua bahunya.


"Saya nggak nanya namanya yang pastinya dia laki-laki."


"Laki-laki? GIO?!" Aurora hendak berlari namun Kairo mencegahnya dengan merentangkan kedua tangan.


Aurora menepuk dahinya.


"Oh iya. Maaf-maaf."


"Ga perlu cantik-cantik. Dia bukan mahrom kamu." teriak Kairo ketika Aurora sudah berlari ke kamar. Entah Aurora mendengar perkataan Kairo atau tidak, Kairo berharap Aurora tidak mendengarnya.


Disini lah mereka berada, Aurora duduk disebelah Kairo dan laki-laki asing yang bernama Gio duduk di hadapan mereka. Kairo mencoba stay cool tidak ingin menampakkan raut tak sukanya pada Gio.


"Mas, ini Gio anaknya Tante Diana, temennya Mama. Mas ingatkan Tante Diana?" Kairo mengangguk. Dia benar-benar tak suka dengan situasi ini.


"Gio, temannya Aurora. Sorry tadi aku belum sempat mengenalkan diri." Gio mengulurkan tangannya namun Kairo cuma menatapnya.


Teman katanya? Teman dari Hongkong. Mana ada cowok sama cewek temenan.


Mau tak mau, Kairo akhirnya menjabat tangan Gio.


"Hm."


"Jadi apa yang ngebuat kamu kesini? Tumben banget."


"Cuma silahturahmi aja sih. Emangnya nggak boleh nemuin teman kecil?"


Jadi... Mereka teman kecil?


Kairo semakin tak suka dengan kehadiran Gio.


Apa ini hanya perasaannya atau memang Gio seperti menganggap Kairo tak ada disana.


"Jadi kamu bakal tetap kuliah kan, Ra?"


Aurora sudah akan menjawab namun langsung disela oleh Kairo.


"Istri saya tetap lanjut kuliahnya. Dia akan menjadi ibu yang pintar untuk anak-anak kami kelak."


Aurora terkejut dengan kalimat 'anak-anak kami' yang dikatakan Kairo. Aurora bahkan belum terpikir sampai kesana. Aurora melanjutkan kuliahnya karena dia butuh belajar lagi.


Berarti Mas Kairo ngijinin aku buat kuliah lagi?


Beda dengan Gio. Laki-laki itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


"Oh bagus deh. Berarti kita bisa ketemu di kampus lagi kan, Ra?"


Rahang Kairo seketika mengeras. Dia tidak suka dengan Gio dan ini kali pertamanya dia merasa hatinya memanas.


***


Aurora duduk disamping Kairo yang seperti biasa, sibuk dengan urusan kantornya itu. Sebenarnya Aurora kesal, kenapa sih urusan kantor harus dibawa ke rumah? Kenapa tidak sekalian saja Kairo tinggal di kantornya sana. Aurora mendengus untung Kairo tidak dengar.


"Mas?"


Aurora butuh penjelasan mengenai kelanjutan kuliahnya. Takut-takut Kairo berubah pikiran, bisa saja Kairo hanya memberikan harapan palsu. Dasar Aurora dan pikiran anehnya.


"Kenapa?" Kairo tidak memandang Aurora, matanya masih berkutat pada layar laptop.


"Aku mau bicara sebentar. Bisa Mas berhenti dari kerjaan Mas dulu?"


Ayo lah ini weekend.


Kairo menutup laptopnya dan menghadap Aurora. Kok Aurora jadi mendadak gugup.


"Mau bicara apa?"


Itu mukanya bisa agak manisin dikit nggak? Datar banget sumpah, ya Allah.


"Masalah kuliah aku. Yang tadi Mas bilang itu beneran?"


"Why not? Memangnya alasan kamu pengen kuliah lagi itu apa?"


"Nggak tau sih, cuma rasanya aku pengen nambah ilmu aja. Aku tau kok aku nggak sepinter Mama yang hobi baca tapi ntah kenapa rasanya aku pengen belajar sesuatu yang baru lagi."


Aurora menatap wajah Kairo dan tersenyum. Ini pertama kalinya mereka bercerita cukup panjang dan tanpa sadar jarak keduanya sangat dekat.


Mata Aurora terbelalak, Kairo baru saja mencium pipinya.


"Bagus lah kalau begitu. Tapi saya harap kamu jaga jarak dengan Gio." Kairo mengusap puncak kepala Aurora. Aurora tidak berkutik, dia masih terdiam dengan semua perlakuan Kairo padanya.


Kairo tidak sedang cemburu dengan Gio kan?