
Surabaya, November 2015.
Kairo menopang dagunya, menatap danau buatan yang ada didepannya. Tiba-tiba saja asap mengganggu pandangannya. Ternyata disampingnya ada Abyan yang sedang menikmati vape miliknya.
"Asapnya Byan!"
"Lah ini kan bukan rokok loh Mas. Salah juga aku?" protes Abyan. Kairo dan Abyan sudah berbaikan. Begitu lah Abyan, sebenarnya laki-laki itu mudah sekali memaafkan. Jika dia marah dia hanya butuh waktu untuk sendiri. Makanya saat itu Abyan memilih pergi.
"Tetap aja itu nggak bagus. Sekali-kali sayangi badanmu. Siapa lagi yang ngurus badanmu sendiri kalau bukan kamu sendiri?" Abyan terkekeh.
"Kan ada Mas. Sepupuku tersayang." Kairo bergidik ngeri melihat sepupunya itu.
"Jadi sampe sekarang belum ada tanggapan dari Wulan ya Mas?" Kairo menggelengkan kepalanya. Dia jadi teringat kejadian saat dia kabur dari Aurora. Sangat memalukan. Tapi dia memang tak siap berhadapan dengan Aurora saat itu padahal dia tak pernah seperti itu sebelumnya. Rasanya Kairo seperti pencuri yang ketahuan oleh Aurora. Adudu.
Dan kalau dipikir-pikir Aurora memang cantik jika dilihat dari jarak yang dekat.
"Mas!" Kairo melongo dilihatnya Abyan sudah kesal.
"Dari tadi Mas melamun terus kulihat. Mas lagi mikirin cewek?" tebak Abyan.
"Cewek apanya! Mas mana sempat mikirin begituan. Mas mau kerja dulu cari duit biar beban bude sedikit berkurang baru mikirin pasangan." Kairo menepis bayang-bayang wajah Aurora yang hampir saja mengisi otaknya.
"Mas emang terbaik. Udah rinci banget mikirin masa depan." Abyan menertawakan dirinya dalam hati. Hingga saat ini bahkan masa depan tak terlintas dibenaknya. Dia lebih suka bermain-main.
"Byan, masa depan nggak seburuk yang kamu bayangin. Mungkin masa depanmu bisa aja lebih baik dari sekarang, kita ga pernah tau. Emang bukan kita yang menentukan semuanya tapi apa salahnya kita merancang masa depan kita."
"Aku nggak punya masa depan Mas. Semua prestasiku juga kujadikan permainan. Teman-temanku pun berteman denganku karena aku populer, rasanya sulit sekali mencari yang benar-benar tulus berteman denganku. Bahkan sesekali aku tak sengaja mendengar mereka menjelekkan aku dibelakang." Kairo terkejut. Kairo pikir menjadi orang populer itu menyenangkan ternyata ada beban tersendiri yang harus dipikul oleh Abyan.
"Terus kenapa kamu masih mau berteman dengan mereka?"
"Aku bosan di rumah terus. Ayah aja jarang di rumah."
"Mas pikir kamu nggak harus stuck di masa lalumu terus. Jangan kamu anggap hanya kamu sendiri yang merasakan sakit. Pernah kamu perhatikan ayahmu? Kita kadang terlalu egois memikirkan rasa sakit kita sendiri." Abyan terdiam.
"Mas kapan wisudanya?" rupanya Abyan mengalihkan pembicaraan mereka.
"Ck! Masih lama! Tahun depan! Tapi dua minggu lagi Mas akan seminar proposal kalau ada waktu luang datang ke kampus Mas. Siapa tau kamu bisa bertemu dengan Aurora."
"Memangnya dia datang?"
"Ya, nggak sih tapi kan siapa tau kamu ga sengaja ketemu dia." Bagaimana pula Aurora bisa datang ke acara seminar Kairo? Bertatapan dengan Aurora saja rasanya Kairo sangat malu.
"Yaelah! Tau gitu mending aku datang ke wisudamu aja Mas!"
"Cih! Suka-sukamu aja lah, Yan. Lagian ini pun hanya seminar bukan sidang atau pun wisuda. Kalau nggak mau datang ya udah."
"Lah-lah Mas malah ngambek." Abyan tergelak.
"Mas kalau misalnya nih ya. Misalnya ya! Suatu saat nanti diantara kita berdua nggak ada yang boleh memiliki Aurora. Gimana?"
***
Surabaya, Desember 2019
"Aduh! Mas tungguin!" Kairo menoleh ke belakang dan mendapati Aurora yang terduduk di tanah.
"Ngapain disitu?" Kairo masih bisa bertanya seperti itu?! Bukannya membantu. Lagian langkah Kairo itu besar sekali, Aurora tak bisa mengimbanginya. Terlebih lagi, Kairo tidak tau diri dan meninggalkan Aurora dibelakang.
"Aku lagi berenang disini. Ya kepleset lah!" Kairo melangkah ke tempat Aurora berada. Laki-laki mengulurkan tangannya.
"Ayo cepetan. Mau dibantuin tidak?" Aurora mencibir. Bisa-bisanya lelaki ini kembali menyebalkan seperti dulu. Padahal semalam tingkahnya begitu manis.
Akhirnya Aurora menerima uluran tangan Kairo. Tangan mereka kembali bertautan, Aurora merasa tangannya yang kecil sangat pas dengan tangan Kairo yang kekar. Ah Aurora benar-benar baper tapi dia tak ingin memperlihatkannya pada Kairo.
"Wajah kamu kentara sekali. Minta dibantu."
"Apa?"
"Kita sudah sampai."
Setelah beberapa menit berjalan kaki menelusuri gang kecil, akhirnya mereka sampai di sebuah tempat pemakaman.
"Ini tempat beberapa keluarga saya yang sudah meninggal dimakamkan termasuk Ayah saya. Saya ingin memperkenalkan kamu di depan Ayah."
Aurora memilih diam. Kairo tetap menggenggam tangan mungil Aurora hingga sebuah batu nisan bertuliskan nama lengkap Ayah Kairo sudah berada di hadapan mereka.
"Assalamu'alaikum, Yah. Maaf mas udah lama nggak datang kesini." Kairo bisa merasakan genggaman tangan Aurora sedikit menguat.
"Mas datang kesini ingin mengenalkan istri mas satu-satunya ke Ayah. Namanya Aurora. Dia cantik tapi sayangnya agak judes dan mulutnya cerewe--ouch!"
Aurora memukul geram lengan Kairo. Enak saja Kairo mengatakannya judes dan cerewet. Ya memang benar sih.
"Assalamu'alaikum Om--Eh maksudnya Ayah mertua hehe." Aurora menyengir.
"Pasti Ayah mertua bingungkan kenapa aku bisa jadi istri laki-laki disebelah aku ini? Sama! Padahal kami nggak pernah ketemu loh Yah. Dia memang bosku tapi kita tatap muka aja nggak pernah. Sekali sih itu pun di rapat besar. Selalu ada aja yang ngewakilin setiap kami yang bawahan ini mau lapor hasil kerja kami ke dia. Songong banget kan dia, Yah?"
Kairo tersenyum mendengar seluruh ocehan istrinya itu.
"Sebenarnya..kami ini satu almamater dan satu fakultas Yah," potong Kairo. Aurora seolah tak percaya. Mata mereka saling menatap. Aurora meminta penjelasan.
"Aurora, dia junior Mas di kampus Yah. Mas dua tingkat diatas Aurora." Kairo tak peduli dengan tatapan Aurora. Dia tetap bercerita pada Ayahnya.
"Aurora nggak akan pernah ingat sama Mas karena waktu itu Mas laki-laki yang jelek dan culun. Bahkan buat berdiri di depannya rasanya Mas pengen kabur terus. Mas terlalu pengecut kan Yah?"
Sebentar! Jadi?
"Jadi foto laki-laki berkacamata itu adalah Mas?"
"Iya. Itu adalah saya empat tahun yang lalu."
"Tapi kenapa Mas nggak bilang sama aku?"
"Itu masa lalu saya dan nggak penting. Ada yang lebih penting lagi dari itu. Ikut saya." Kairo menarik pelan istrinya itu. Mereka berjalan ke sebuah gundukan tanah tak jauh dari makam Ayah Kairo.
Abyan Pradana
"Ini makam sepupu Mas kan?" Aurora tau Abyan dari sang ibu mertua. Mertuanya itu bercerita sedikit bahwa Abyan ini adalah adik sepupu terdekat Kairo dan juga salah satu yang membuat Kairo semakin tertutup.
"Namanya Abyan, sepupu yang paling dekat dengan Kairo. Abyan meninggal karena kecelakaan motor dua hari sebelum Kairo seminar. Kairo sangat terpukul bahkan dia hampir saja tidak hadir ke seminarnya kalau aja ibu tak memarahinya saat itu. Ibu benar-benar sedih melihatnya. Kairo seperti tak mengenal dirinya."
Kairo mengangguk mengiakan.
"Dan juga dia orang yang sangat menyukai kamu."
Aurora kembali dibuat terkejut.
"Tapi gimana bisa? Aku kan nggak pernah ketemu dengannya." Aurora bertanya-tanya. Ada apa ini? Aurora merasa seperti orang bodoh.
Kairo mengangkat genggaman tangannya dengan tangan Aurora.
"Byan, maafin Mas. Maaf karena Mas nggak bisa menepati janji. Maaf karena banyak yang Mas sembunyiin darimu tentang Aurora."
"Dan...Maaf karena sekarang Aurora sudah menjadi istri Mas."