One Day For Ever

One Day For Ever
Episode 19



Kairo menatap lurus pada jalan raya yang dominan dipenuhi kendaraan beroda dua dan roda empat. Kairo melirik istrinya yang duduk disebelahnya.


"Ngapain dari tadi senyum-senyum sendirian?" Kairo menaikkan satu alisnya. Melihat Aurora senyum-senyum sendiri horor juga ya.


"Hah siapa yang senyum-senyum? Mana ada!" Kairo sudah menceritakan semuanya termasuk tentang Abyan dan juga permintaan terakhir Abyan.


"Terus Mas menyetujui permintaan Abyan ketika itu?" Kairo menggeleng.


"Saya tidak mengatakan 'iya' atau pun 'tidak'. Saya hanya diam."


Aurora juga meminta maaf pada Abyan karena Aurora tak mengingat Abyan sama sekali.


"Jadi Mas selama kuliah belum suka sama aku ya? Terus kapan dan dimana?" Kairo tersedak ludahnya sendiri. Pertanyaan blak-blakan Aurora membuatnya pusing. Pertanyaan macam apa itu?


"Katanya kamu mau ketemu temen kuliah kamu dulu kan?" Kairo mencari keselamatan saja dengan mengalihkan pertanyaan aneh Aurora itu.


"Eh iya! Afifah! Hampir aja aku lupa dia kan lagi di Surabaya!"


Afifah. Kairo tak mungkin lupa dengan gadis satu itu. Mungkin Afifah lupa dengan Kairo atau mungkin sejak dulu Afifah sudah lupa karena hanya Kairo yang tau nama Afifah sedangkan Afifah tak pernah tau nama Kairo. Siapa juga yang mau tau tentang dirinya yang culun?


Mobil mereka sudah sampai di tempat parkir sebuah kafe, tempat Aurora janjian dengan Afifah.


Aurora tiba-tiba saja merangkul lengan Kairo saat mereka akan masuk ke kafe. Kairo menatap bingung pada Aurora.


"Emangnya ga boleh rangkul laki sendiri?" seakan Aurora mengerti maksud tatapan Kairo. Kairo mengiakan saja biar cepat.


Mudah sekali menemukan Afifah. Lihat lah perempuan itu sudah berteriak heboh sambil mengangkat tangannya tak memperdulikan di sekitarnya. Aurora sudah malu sekali ingin rasanya dia berpura-pura tak mengenal Afifah.


"Aurora sini Aurora!" Aurora berjalan bersama Kairo ke meja tempat Afifah berada.


"Saya duduk di meja yang di sana aja ya." Aurora mengangguk. Kairo permisi pada Afifah dan duduk tak jauh dari Aurora dan Afifah.


"Wuih! Lakimu gentle dan cakep banget, Ra!"


"Fah! Inget lakimu di rumah oy." Aurora kurang senang bila Kairo dipuji oleh perempuan lain walaupun itu temannya. Afifah tergelak.


"Dih sekarang udah jadi istri cemburuan dan protektif ya Ra? Hihihi."


"Bodo amat, Fah. Kamu kapan sampainya? Udah acara ijabku ga dateng sekarang resepsi juga ga dateng. Jahat kamu tuh!"


"Maaf, say. Gimana ya bilangnya, kamu tau dong ribetnya keluarga kecilku. Suamiku juga auto protektif banget sekarang. Ini aja aku harus mewek dulu  minta ke Surabaya."


Semenjak menikah Afifah sudah tak lagi tinggal di Surabaya karena suaminya bekerja di kota Palembang dan Afifah pun harus ikut. Maka dari itu sekarang Aurora sangat sulit menemui sahabatnya itu paling mereka berhubungan hanya via telepon atau video call.


"Kok gitu?"


"Ya gimana dong. Lagi hamidun hihihi." Afifah mengelus-ngelus perutnya yang masih rata.


"Serius!? Wah selamat kalau gitu! Adek sehat-sehat ya di dalem kalau mama kamu nakal tendang aja perutnya." Aurora ikut mengelus perut Afifah. Afifah tergelak melihat kelakuan konyol temannya itu.


"Apaan sih Ra! Dia masih dua bulan loh jadi belum bisa denger apa yang kamu bilang! Kamu juga cepat-cepat isi dong! Jangan kelamaan."


"Iya-iya. Aku sih tawakal aja sama Allah dikasih cepat ya Alhamdulillah. Kalau dikasih lama berarti aku belum cocok buat jadi seorang ibu." Aurora melirik ke arah meja Kairo, suaminya itu terlihat sedang bermain ponsel. Aurora jadi bertanya-tanya apakah Kairo juga menginginkan seorang anak secepatnya?


Afifah mengangguk-ngangguk sambil mengaduk jus jeruknya.


"Fah. Kamu ingat Abyan ga?" tanya Aurora. Aurora masih merasa bersalah dengan Kairo terutama Abyan dan dia ingin menggali kembali ingatannya melalui Afifah.


"Abyan? Kayak familiar sih namanya. Bentar aku inget-inget dulu." Afifah menjentikkan jari. Dia sudah mengingat siapa Abyan.


"Abyan itu orang yang nembak kamu bukan sih? Waktu itu kita masih semester-semester awal di semester tiga kalau aku ga salah." Aurora ikut berpikir.


Semester tiga ya.


"Terus? Terus?"


"Kamu beneran nggak ingat, Ra? Padahal dia cukup populer loh. Dan..kenapa kamu nanyain Abyan sedangkan kamu udah menikah?" Afifah menaikkan satu alisnya.


"Demi Allah aku nggak ingat Abyan, Fah. Terus yang lebih mengejutkan lagi adalah..." Aurora menarik napasnya.


"Wait! Sepupu? Kayaknya aku ingat sesuatu deh ya walaupun otakku ga pinter-pinter banget kayak kamu. Dulu banget nih ada cowok cupu yang ngaku-ngaku sepupu Abyan terus dia pengen deketin kamu sama Abyan."


Cowo cupu!?


"Dan kamu ga tau nama sepupunya itu siapa?"


"Itu dia! Aku udah keburu heboh duluan karena aku pengen banget Ra kamu sama Abyan tau nggak! Eh kamu malah sama sepupunya."  Aurora menunduk. Wajahnya mulai menyesal. Kenapa dia tidak mengingat apapun?


"Abyan udah nggak ada, Fah. Terus cowok cupu yang kamu bilang itu adalah Mas Kairo suamiku."


Afifah hampir menjerit, syukurnya dia masih bisa menguasai dirinya.


"Serius!? Laki-laki disana itu, suami cakepmu itu.." Afifah menunjuk Kairo. Untungnya Kairo tak melihat.


"..adalah cowok cupu itu?" Aurora mengangguk dengan rasa bersalah.


"Dan kamu tau darimana Abyan udah nggak ada?"


"Aku baru aja dari makamnya yang ga jauh dari makam Ayah mertuaku." cerita pun mengalir begitu saja.


"Luar biasa banget ya Ra. Aku beneran nggak nyangka loh. Semua rencana Allah bener-bener nggak terduga ya. Kamu juga sih! Pake lupa segala!" Afifah menjitak kepala Aurora.


"Aduh! Sakit, Fah!"


"Jangan bilang kamu juga lupa sama surat-surat yang kamu temuin di loker dulu?"


"Surat?"


***


Kairo mengernyitkan dahinya dari tadi dia terus melirik istrinya yang diam memandangi jendela mobil. Memangnya semenarik apa sih pemandangan jalan raya itu?


Dan Aurora berbeda sekali dengan sebelum dia bertemu dengan Afifah.


"Ada masalah?" tanya Kairo.


"Hm? Nggak kok."


"Kebiasaan."


"Aku cuma..merasa bersalah karna nggak ingat sama Mas dulu. Aku minta maaf banget Mas."


"Oh yang itu. Ya udah lah kita juga ga pernah ketemu waktu kuliah." Kairo bohong. Dia bohong! Jelas-jelas dia pernah berdiri di depan Aurora. Saat itu saat mengembalikan diary.


"Masa?"


"Iya." Kairo memutar setir mobil. Jalanan sepi sekali hari ini dan mengapa sampainya terasa lama ya?


"Kita ke rumah Ayah bentar ya." Aurora ingin mengecek sesuatu. Tentang surat-surat itu. Ah kenapa Aurora seperti ini sih. Bagaimana bisa dia lupa.


Dasar Rara pikun!


Mobil Kairo sudah terparkir di depan rumah mertuanya. Kairo mengerutkan dahinya saat Aurora tergesa-gesa keluar dari mobil. Kenapa dengan istrinya itu?


Kairo masuk ke dalam rumah mertuanya itu dan berpapasan dengan Ayah mertuanya.


"Rara kenapa Kai? Dia sampai lari-lari begitu ke kamar. Pas Papa tanya dia malah nggak jawab. Mukanya juga kayak panik gitu." tanya Ayah Randy.


"Nggak tau, Pa. Rara tadi minta kesini tapi Kai pikir dia kangen sama Papa sama Mama." Randy menggeleng. Putri sulungnya itu memang aneh tapi hari ini beda dari biasanya.


"Coba kamu liat dia di kamar. Kok papa jadi khawatir liat putri aneh itu." Kairo mengangguk dan segera berjalan ke kamar Aurora.


Kairo membuka knop pintu, syukurnya tidak terkunci tapi yang membuat Kairo terkejut adalah kamar Aurora yang sangat berantakan. Kertas-kertas dan buku-buku tersebar kemana-mana dan Aurora yang terduduk di lantai dengan mata berair. Menangis seperti anak kecil. Kairo jadi teringat ketika mereka baru menikah dulu.


"Hey! Kamu kenapa?" Kairo berjongkok dan mengusap air mata istrinya itu.


"A-aku minta ma-maaf." Aurora senggugukan.