
"Ayah! Ayah!" Aurora mengguncang tangan Ayahnya. Randy yang sedang membaca koran merasa terganggu tapi dia tidak kesal dengan putrinya. Randy senang Aurora berada di rumah walaupun hanya sebentar karena semenjak Aurora menikah rumah semakin sepi apalagi kedua putranya selalu sibuk dengan kegiatan kuliah mereka.
"Kenapa, Ra?"
"Hm. Itu, Yah. Robert masih Ayah pakai nggak?" Robert merupakan kereta ninja kesayangan Randy sejak dulu dia berkuliah tetapi karena faktor umur, Randy sudah jarang memakainya.
"Nggak sesering dulu. Emangnya kamu mau ngapain pake nanya-nanya si Robert?" Randy memicingkan matanya curiga pada Aurora.
"Hehehe. Ayah, bolehkan Rara minjem Robert buat jalan-jalan? Rara bosen banget Yah di rumah terus."
"Sudah izin sama Kairo?"
Harus banget ya? Kan aku nggak pergi jauh-jauh.
"Dia suamimu. Kamu bisa keluar kalau dia Ridho." Aurora mencibir. Sudah berapa orang di rumah ini yang mengingatkan Aurora. Aurora enggak lupa kok tapi kan dia masih kesal pada Kairo yang irit ngomong itu.
"Kalo nih ya, Yah. Kalo Mas Kairo ngijinin, Ayah ngijinin juga kan? Terus aku pengen bawa Robert ke kampus hehe." Randy berdoa di dalam hati semoga Kairo tidak mengijinkan putrinya membawa Robert.
"Tunggu aja jawaban Kairo."
***
Kairo melipat sajadah baru menyelesaikan shalat subuh. Kamarnya begitu sepi karena memang Kairo memilih tidur sendiri disana sedangkan Afian berada di kamar yang lain.
Kairo meringis ketika melihat isi kopernya yang sudah sangat berantakan. Biasanya Aurora lah yang menyiapkan semua pakaiannya dengan sangat rapi namun sekarang Kairo membuat isi koper itu berantakan.
"Yah harus di setrika lagi kayaknya." Kairo menggaruk dahinya. Dia mencari di dalam lemari namun tidak ditemukan setrika. Akhirnya dia menghubungi Afian.
"Assalamu'alaikum, Yan? Kamu udah sadar kan?"
"Apaan?" suara Afian yang serak menandakan lelaki itu baru bangun.
"Kamu kaga shalat? Jam segini baru bangun ck." Kairo berdecak.
"Bawel banget sih lo ah. Lo nelpon gue cuma untuk ini doang? Mentang-mentang gue jomblo."
Apa hubungannya? Sepertinya Afian belum sadar. Dia masih di dunia lain.
"Terserah. Saya butuh setrika untuk jas saya, tolong bawakan."
"Yaelah, Pak Bos. Lo kan bisa manggil staf hotel. Harus banget nyuruh gue?"
"Tapi kamu sekretaris saya Afian! Atau kamu mau dimutasi ke bagian keuangan?"
Tidak! Afian tidak mau ke divisi yang menyeramkan itu. Lebih baik dia menjadi sekretaris bos beruang kutub selamanya daripada harus terjun ke dunia gelap itu.
"Iya! Iya sabar dong! Sekitar lima belas menit lagi gue ke kamar lo." Afian mematikan ponselnya. Kairo menggeleng melihat tingkah sekretarisnya itu.
Berarti masih ada waktu lima belas menit kan? Kairo segera menghubungi seseorang. Walaupun sebenarnya dia juga bingung harus mengatakan apa nantinya.
"Assalamu'alaikum, Mas." Kairo tidak salah dengarkan? Suara perempuan ini terdengar manis dan sedikit centil berbeda dari biasanya.
"Wa'alaikumsalam. Sudah shalat subuh?"
Basa basi boleh kan? Walaupun Kairo sudah menebak Aurora pasti sudah shalat. Keluarga Setiawan tidak mungkin menyia-nyiakan waktu shalat.
"Udah, Mas. Tadi jamaah sama Ayah, Mama, dan duo semprul."
Kairo hampir tertawa saat Aurora menyebut duo semprul. Aurora memang tidak terlalu akur pada kedua adik laki-lakinya. Bukan karena saling tidak suka hanya saja kedua adik laki-laki Aurora suka sekali menganggu kakak perempuannya itu.
"Mas. Mas masih disana kan?" suara Aurora menyadarkan Kairo dari lamunannya.
"Iya, saya masih disini. Kenapa?"
"Hm itu, Mas." Diseberang sana, Aurora menggigit bibirnya. Berdoa dalam hati semoga Kairo mengijinkannya.
"Aku pengen bawa Robert-- eh maksud aku bawa motor Ayah ke kampus boleh kan?"
"Cuma masalahnya..."
"Mas Kairo jangan ijinin Mbak Aurora bawa motor Ayah, Mas!" itu bukan suara Aurora melainkan suara salah satu adik laki-laki Aurora. Kairo tebak sih suara Arya.
"Ganggu aja. Pergi sana, Dek! Hush!"
dan yang terdengar saat ini adalah pertengkaran antar saudara. Kairo jadinya bingung sendiri. Memangnya masalahnya apa sih?
"Mas Kai! Jangan mau luluh sama manis-manisnya Mbak Aurora. Dia emang gitu kalau ada maunya!"
"Aku bilang awas! Pergi kamu, dasar kecoak terbang!"
Kairo terkekeh mendengarnya. Pantas saja nada suara Aurora berbeda sekali.
"Memangnya motor jenis apa mobil Ayah sampe Arya nyuruh aku nggak ngijinin kamu?" baru lah Kairo bersuara setelah suara pertengkaran dua adik kakak itu tidak terdengar.
*"Tapi Mas jangan kaget ya.*"
"Iya." Kairo mengangguk walaupun Aurora tak bisa melihatnya.
"Motor jenis Ninja Warrior hehe," ucap Aurora dengan suara yang sangat pelan. Kairo memutar otaknya. Dia memang bukan pengendara motor tapi Kairo tau jenis motor seperti apa itu. Motor yang sering tampil di beberapa sinetron.
Bukannya itu berat banget?
"Please ya, Mas. Pleasee, aku udah lamaaa banget nggak bawa motor."
Kairo masih terdiam sampai suara pintu mengejutkannya. Siapa lagi kalau bukan Afian yang tidak tau diri masuk seenak jidatnya.
"Sorry lama Mas Bray. Tadi gue medi pedi dulu. Eh itu si wanita ular ngapain ada di depan kamar lo?" Mulut Afian terus nyerocos tanpa peduli telepon Kairo masih tersambung dengan Aurora.
"Halo, Mas? Wanita ular siapa, Mas?" Kairo tersentak.
"Oh bukan siapa-siapa kok. Orang nggak penting, temennya si Afian." Maafkan Kairo terpaksa harus berbohong.
Afian mencibir tak terima, awalnya dia tidak mengerti tapi lambat laun ternyata Kairo sedang berteleponan dengan sang istri.
"Saya ijinin kamu naik motor tapi kamu harus hati-hati. Nanti saya hubungi lagi. Pagi ini saya ada meeting."
"Iya, Mas. Jangan lupa sarapan Mas." Aurora menutupi rasa penasarannya. Tentang siapa wanita ular itu.
Kairo menutup telepon, dia sedikit merasa bersalah karena tidak berkata jujur pada Aurora. Tetapi Kairo memang tidak memiliki hubungan dengan Wenda.
"Lo kenapa harus bohong sama Aurora?"
"Menurut saya tidak perlu diberi tahu karena saya dan Wenda memang tidak ada apa-apa."
"Tapi kan--"
"Ini urusan rumah tangga saya, Yan. Masalah Wenda biar saya yang urus."
Afian menghela napasnya. Kairo begitu keras kepala, tidak tau saja Wenda itu wanita ular. Wenda tidak akan menyerah sampai apa yang diinginkan perempuan itu dia dapatkan. Termasuk mengusik rumah tangga Kairo dan Aurora.
***
"Wuih, edan kamu. Kamu bawa motor beginian ke kampus?" Mita sangat terkejut melihat Aurora yang berpenampilan syar'i membawa motor gede.
Gio yang sudah biasa, meminum susu vanila kotak dengan santai. Padahal umurnya terbilang matang tapi dia tidak peduli.
"Menurutmu aja lah, Mit. Aku yakin, pasti Aurora jampi-jampi Mas Kairo biar diijinin."
"Lambe kamu, Yo. Enak aja aku nggak segila itu buat dapat ijin Mas Kairo."
"Ya terus gimana kamu dapat ijin suamimu? Dia nggak shock gitu atau apa kek kalau kamu bisa bawa motor gede ini?" Aurora mengangkat kedua bahunya lemas. Bukan itu yang menjadi pikirannya saat ini. Bahkan Kairo mengijinkannya begitu saja tanpa ragu. Tidak ada nada terkejut sama sekali.
Aurora jadi teringat ucapan seorang perempuan saat di pesta klien Kairo. Kairo tidak sedang menemui selingkuhannya kan di Jakarta sana? Haruskah Aurora mencari tau siapa perempuan wanita ular itu?