One Day For Ever

One Day For Ever
Episode 16



Pesta resepsi Kairo dan Aurora berlangsung hikmat. Kairo benar-benar menepati janjinya. Tak ada musik, tak ada campur baur antar tamu laki-laki dan perempuan karena ada tirai besar yang sengaja dipasang sebagai pembatas. "Selamat Pak Kairo atas pernikahannya. Sakinah mawaddah wa rahmah buat Pak Kairo dan istri." Seorang laki-laki berumur yang diketahui salah satu kolega Kairo bersalaman dengan Kairo.


"Terimakasih Pak atas doanya." kolega Kairo tersebut menatap dekorasi pesta sejenak.


"Konsep pernikahan Pak Kai juga keren. Saya jarang menemui konsep acara seperti ini. Tamu laki-laki dan perempuannya dipisah."


"Iya, Pak. Ini juga kesepakatan saya sama istri. Oh iya, terimakasih sekali lagi karena Bapak sudah hadir ke resepsi saya." Kairo tersenyum pada koleganya itu.


"Ah sayang sekali, anda sudah sold out. Padahal niat saya ingin sekali menjadikan Pak Kairo menantu saya. Tapi ya sudah lah namanya tidak jodoh ya bagaimana lagi." Kairo tertawa menanggapi ucapan koleganya itu. Beliau akhirnya permisi pada Kairo. Kairo senang hari ini dengan acaranya tapi dia khawatir. Aurora masih marah padanya. Aurora mendiamkan Kairo beberapa hari ini. Tak ada sepatah kata pun yang Aurora lontarkan. Aurora menjalani tugasnya seperti memasak, mencuci tanpa berbicara pada Kairo. Kairo berulang kali memutar otaknya agar Aurora tidak marah lagi tapi Kairo selalu gagal. Setelah acara ini, Kairo memang harus membawa Aurora ke tempat yang Kairo janjikan.


***


Aurora tersenyum dan bersalaman dengan teman-teman perempuan di kantornya dulu.


"Gils banget, Ra! Jangan-jangan kamu resign dari kantor karna nikah sama Pak Kairo? Terus kapan kalian punya hubungannya? Bahkan rasa-rasaku nih ya ketemu Pak Kairo jarang loh kita," tanya Reta --salah satu teman kantor Aurora. Ini pertanyaan sekian kali yang dilemparkan oleh teman-temannya pada Aurora.


"Nggak. Aku resign kan karna mau kuliah lagi, Ta. Kayaknya aku pernah cerita deh sama kamu." Reta tampak berpikir.


"Iya sih, Ya. Kamu pernah bilang ke aku. Terus-terus gimana ceritanya sih?" Aurora bahkan tak tau bagaimana menjelaskannya karena dia pun tak tau.


"Yah gitu. Nggak berapa lama aku resign Mas Kairo dateng ketemu Ayahku."


"Cie panggil Mas."


"Ya kali aku manggil suami pake Bapak. Nggak lucu kali." Aurora memutar bola matanya.


"Hihihi lucuk. Tapi beneran gitu doang? Datengin ayahmu dan menikah?"


"Heem." Aurora mengangguk.


"Wah singkat banget ya cerita cinta kalian. Luar biasa!" Reta bertepuk tangan heboh dan membuat beberapa tamu perempuan menatapnya aneh.


"Kamu kalau lagi laper ngeselin ya, Ta! Sana sana, balik ke mejamu."


"Dih ngusir! Mentang-mentang jadi ratu hari ini." Aurora hanya tertawa membalasnya. Ah untung saja ada Reta. Setidaknya membuat mood-nya sedikit berubah. Kalau ditanya tentang resepsi hari ini apakah Aurora senang? Cukup senang karena dia bisa bertemu teman-teman satu kantornya lagi tapi dengan Kairo Aurora masih dalam mode diam.


"Kamu cantik sekali, sayang." Aurora tersadar dari lamunannya saat suara lembut memujinya.


"Eh, Ibu!" Aurora segera mencium telapak tangan ibu mertuanya. Ya, baru kali ini dia bertemu langsung dengan Mama Kairo. Saat Ijab kabul dulu, mertuanya itu tidak dapat hadir karena sakit apalagi kota tempat tinggal sang mertua cukup jauh di Depok dan baru sampai ke Surabaya pagi tadi bersama adik laki-laki Kairo.


"Makasih ya, Na. Udah bawa Ibu kesini," kata Aurora pada sepupu perempuannya --Ana. Mama Kairo juga ikut berterimakasih.


"Gapapa loh, Mbak. Eh Mbak, aku ke belakang dulu yo. Masih banyak kerjaan.  Ana ke belakang dulu, Bu."


"Oh yowes-yowes." Aurora mengambil alih dan mendorong kursi roda mertuanya itu.


"Maaf ya, Bu. Malah Ana yang ngajak kesini bukan Rara." Mertuanya itu tertawa.


"Ya nggak apa-apa. Kan hari ini kalian jadi raja dan ratu seharian. Ibu juga tadi istirahat dulu capek juga naik pesawat." Aurora terkikik.


"Kamu lagi ada masalah ya sama Kairo?"


"Nggak Bu," dusta Aurora.


"Jangan bohong loh nanti dosa. Tadi Ibu liatin kamu di pelaminan ngelamun mulu. Apa sih yang kamu pikirin?"


"Maafin Kairo ya, Ra. Dia orangnya emang penuh rahasia dan susah banget buat cerita. Waktu dia memutuskan untuk melamar kamu aja ibu baru tau waktu dua hari sebelumnya." Fakta baru yang diketahui Aurora tentang Kairo.


"Kok gitu, Bu?"


"Iya. Sejak ayahnya meninggal dia jadi tertutup dulu sih nggak begitu."


Aurora tau soal itu. Kairo pernah menceritakannya sedikit mengenai keluarganya pada Aurora bahwa Ayah Kairo sudah meninggal ketika Kairo menduduki kelas 3 SMA.


"Ditambah dengan masalah sepupunya juga."


"Sepupunya, Bu?"


"Iya, sepupunya. Namanya Abyan."


***


Acara resepsi selesai hanya sampai sore hari. Sengaja tidak sampai malam karena memang tak mau mengganggu jadwal shalat. Aurora berjalan ke kamarnya, dia ingin menunaikan shalat ashar. Sebenarnya badannya terasa pegal dan lelah tapi itu tak boleh menjadi alasan untuk menunda shalat. Sesekali dia menumbuk-numbuk pelan bahunya.


"Capek banget ya?" Aurora terkejut ternyata sedari tadi Kairo berjalan dibelakangnya.


"Mas ngikutin aku ya?"


"Perasaan. Ini kan kamar saya."


"Enak aja! Kamarku juga ini." Dalam hati Kairo bertanya Aurora tidak sedingin sebelum acara resepsi. Apa ada yang membuat Aurora bahagia? Ah mungkin efek bertemu dengan kawan lama membuat Aurora senang. Syukur lah, Kairo membatin.


"Kenapa ke kamar?" tanya Kairo. Sebenarnya ini hanya basa basi agar percakapan mereka tak terputus.


"Mau Ashar." Kairo mengangguk.


"Mau berjamaah?" Aurora menatap serius pada suaminya. Sebenarnya mereka tidak pernah shalat berjamaah karena Kairo lebih sering shalat ke masjid.


"Boleh. Mas kan imamku." Kairo mengulum senyum, ada rasa yang membuncah di dalam hatinya. Sadar kah Aurora dengan ucapannya?


***


"Assalamu'alaikum wa rahmahmatullahi wa barakatuh."


Selesai berdoa, Kairo menolehkan kepalanya ke belakang. Lebih tepatnya ke arah Aurora. Tetapi sebelum benar-benar melihat istrinya itu, satu tangan Aurora yang terangkat membuat Kairo menaikkan alisnya.


"Salam loh, Mas. Kok malah diliatin aja." Baru lah Kairo mengerti dan Kairo mengikuti apa yang dikatakan Aurora. Yang lebih mencengangkan lagi, Aurora mencium telapak tangan Kairo. Membuat Kairo terkejut dengan seluruh tingkah Aurora hari ini.


"Mas, aku nggak tau apa yang kamu sembunyiin dari aku. Aku harap setelah resepsi kita ini Mas bisa lebih terbuka. Mungkin diantara kita belum ada rasa cinta tapi kita butuh komunikasi untuk membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah kan? Apapun masalah Mas, aku mohon ceritakan sama aku. Mau itu Mas capek ngantor atau ada masalah sama klien. Mas boleh cerita walaupun aku ga bisa bantu banyak tapi insya Allah aku bisa jadi pendengar lumayan baik lah. Eh nggak baik-baik amat deh." Kairo tertawa mendengarnya. Kalimat akhir Aurora menggagalkan kesan manis. Ah tak apa. Begini saja Kairo senang. Berarti Aurora sudah menerima Kairo sebagai suaminya kan? Walaupun alasan Kairo menikahi Aurora menjadi tanda tanya besar untuk istrinya itu.


Kairo mendekat dan dia tak segan mencium kening Aurora. Aurora melotot karena terkejut atau mungkin belum siap dengan perlakuan Kairo.


"Saya akan mencoba buat lebih terbuka. Dan seperti janji saya, saya akan membawa kamu ke suatu tempat." Aurora mengangguk.


"Iya, Mas."


"Oh iya. Akhirnya Mas udah berani waktu aku melek gini biasanya kan pas aku lagi tidur Mas berani cium-cium." Dan Kairo tersedak ludahnya sendiri. Jadi selama ini Aurora tau?