One Day For Ever

One Day For Ever
Episode 10



Kairo menarik koper kecilnya, dia baru saja sampai di kota Surabaya. Tidak begitu banyak membawa oleh-oleh dari kota Jakarta. Dia hanya membelikan beberapa pakaian untuk orang tua dan mertuanya juga sebuah kalung emas putih yang dia pun tak tau kenapa bisa terbeli. Kairo membelinya saat dia berkeliling sebentar di Senayan City dan tak sengaja melihat kalung emas putih berbandul bunga daisy tampak menawan. Mungkin cocok untuk Aurora? Begitu lah dalam pikiran Kairo saat itu. Tanpa basa basi Kairo membelinya dan Afian tidak tahu soal itu. Jika Afian tau, mulut lelaki itu tidak akan berhenti menggoda Kairo.


Afian berlari mengejar langkah besar Kairo.


"Lo jalan kenceng banget dah. Sabar dikit napa."


"Kai! Kai! Gue ngeliat ada kotak emas gitu tadi pagi diatas nakas. Pasti lo beli buat bini lo kan?"


Halah ketahuan sama si Bambang.


"Kepo." Kairo tetap berjalan tidak menghiraukan Afian yang heboh.


"Idih si beruang kutub kagak mau ngaku. Ini suatu keajaiban tau kaga lo.  Lo bisa romantis begini."


"Hari ini tidak ada jadwal kan? Saya ingin pulang ke rumah."


"Pasti lo ga sabar ngasih oleh-oleh istimewa ini buat Aurora kan?" Bukannya menjawab, Afian malah excited dengan objek yang dia temui hari ini. Apalagi kalau bukan emas dari Kairo untuk sang istri.


"Bukan urusan kamu."


"Hadeh si kampret nyebelin banget. Untung bos gue."


"Saya naik taksi saja." Afian mengangguk lalu berpisah dengan Kairo.


Kairo masih bingung harus mengatakan apa. Berulang kali dia menggaruk kepalanya.


"Ini saya ada oleh-oleh?"


"Ini oleh-oleh buat kamu. Maaf kalau oleh-olehnya jelek."


Lagi dan lagi Kairo menggaruk kepalanya. Sampai supir taksi melirik Kairo lewat kaca spion. Pasti sang supir menganggap Kairo sudah gila karena Kairo terus berbicara sendiri. Kairo tersenyum tak enak dan memilih diam.


Taksi berhenti di depan rumah bertingkat berwarna cream.


"Ini Pak ongkosnya."


"Makasih, Mas. Santai aja Mas kalau mau ngasih hadiah buat istrinya. Nggak perlu tegang begitu Mas, kayak lagi ujian CPNS saja." Kairo tergelak. Ternyata si Bapak memperhatikan Kairo sedari tadi. Kairo semakin malu jadinya.


"Iya, Pak. Terima kasih atas sarannya, saya coba deh buat bersikap santai." Kairo segera masuk ke dalam rumah mertuanya. Hari ini Aurora sedang berada di rumah karena tidak ada jadwal kuliah hari ini.


"Assalamu'alaikum." Kairo menekan bel rumah mertuanya.


"Wa'alaikumsalam, oalah Kairo toh. Enggak bilang-bilang kalau udah sampai." Tari mengintip dari balik jendela kemudian dia membukakan pintu untuk menantunya itu. Kairo segera menyalam tangan mertuanya.


"Maaf, Ma. Seharusnya berangkat nanti sore tapi tidak jadi karena batal meeting."


"Ya sudah. Masuk dulu, bersihin badan terus istirahat."


"Iya, Ma." Kairo mengangguk sopan.


"Aurora dimana, Ma?"


"Loh? Bukannya kamu udah ngijinin dia? Kata Aurora tadi dia mau pergi sebentar keluar mau ke toko buku terus dia bilang udah ijin sama kamu."


Ijin? Bahkan Aurora tidak menghubunginya dari pagi. Kenapa Aurora berbohong?


Kairo segera permisi pada mertuanya dan segera masuk ke kamar Aurora. Kamar istrinya itu terlihat rapi berarti benar Aurora sedang tidak di rumah. Tapi kemana Aurora pergi?


***


"Rara, mama mau ngomong sebentar sama kamu." Mamanya tampak serius membuat Aurora penasaran.


"Mau ngomong apa, Ma?"


"Lebih baik kita ngomongnya di ruang TV aja."


Aurora dan Tari duduk. Tari masih memasang wajah serius.


"Kamu bohong kan sama Mama? Padahal kamu belum dapat ijin dari Kairo." Aurora terkejut. Bagaimana bisa mamanya tau?


"Kamu nggak perlu jawab. Mama udah tau jawabannya. Mama nggak akan ikut campur urusan rumah tangga kamu tapi lebih baik kamu meminta maaf sama suami kamu."


Berarti Kairo sudah pulang?


"Jangan seperti anak-anak. Sekarang kamu sudah menjadi istri. Berulang kali mama ingatkan." Aurora mengangguk dengan lesu. Aurora membuat mamanya kecewa.


"Maafin, Rara."


"Minta maaf sama suami kamu. Dia sekarang di kamar kamu. Sudah lah, Mama mau masak." Tari pergi meninggalkan putrinya.


Aurora menjadi takut tetapi di sisi hatinya menolak. Bukan kah seharusnya disini dia yang marah? Aurora membuka pintu kamar. Terlihat Kairo yang tidur terlelap diatas kasur, Aurora menjadi merasa bersalah. Kairo pasti capek sekali.


Aurora berjalan begitu saja ke kamar mandi. Hatinya masih terasa berat untuk meminta maaf pada Kairo.


"Kamu kemana aja?" suara serak Kairo menghentikan langkah Aurora.


"Mas tidur aja. Mas pasti capek," jawab Aurora tidak sesuai dengan pertanyaan Kairo.


"Kamu belum jawab pertanyaan saya." Kairo bangun lalu duduk di pinggir kasur.


"Pake saya aja terus! Mau sampai kapan Mas akan terus kayak gini? Sebenarnya saya ini istri atau pegawai Mas sih?!" Aurora sudah tidak tahan lagi. Suaranya yang meninggi membuat Kairo terkejut. Mata Kairo terbuka, rasa kantuknya menghilang begitu saja.


"Aku tuh nggak ngerti lagi sama pemikiran Mas yang memang  misterius atau memang ada yang Mas sembunyiin dari aku?"


"Kalau memang Mas nikahin aku cuma untuk melayani segala keperluan Mas. Oke, aku kerjain." Kairo berdiri mencoba mendekati Aurora tapi sayang Aurora mundur. Rasa emosinya memuncak. Aurora bukan orang yang gampang menangis tapi dia hampir saja menangis. Aurora menahannya. Dia tak boleh lemah.


"Maafin kesalahan saya." Hanya iti yang terucap dari mulut Kairo.


"Terserah! Terserah Mas mau pake saya atau apapun. Terserah! Aku cuma harus ngelakuin kemauan Mas aja kan? Ya udah." Aurora membanting pintu kamar mandinya. Ada rasa menyesal dan malu. Semoga saja orang tuanya tidak mendengar teriakan Aurora. Tangis Aurora pecah.  Aurora lelah harus menebak-nebak. Hingga Aurora tidak sanggup mengatakan agar Kairo boleh bermain-main dengan perempuan lain diluar sana.


Kairo benar-benar terdiam. Bukan ini yang dia mau, seharusnya hadiah yang dia bawakan sudah melekat di leher Aurora. Apa yang salah?


***


Aurora meletakkan piring berisikan nasi dan lauk pauk dihadapan Kairo. Keduanya sudah kembali ke rumah mereka. Tidak ada omelan seperti biasanya. Setelah semuanya beres, Aurora kembali ke kamar membiarkan Kairo sendirian. Aurora benar-benar melakukan apa yang dia katakan. Melayani suaminya itu, hanya sebatas melayani.


Kairo menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Atmosfer rumahnya sungguh berbeda. Sunyi sekali, jika biasanya rumah ini akan diisi keceriwisan Aurora namun sekarang tidak. Istrinya itu marah.


Kairo mencuci piring kotornya setelah makanannya sudah habis dan Kairo masuk ke kamarnya dan Aurora.


Ternyata Aurora sudah tidur dengan posisi membelakangi Kairo. Kairo menghela napasnya.


Kairo berjalan ke arah kopernya yang belum dia bereskan. Kairo mengambil sebuah kotak, kotak yang harusnya sudah digenggaman Aurora saat ini. Kotak itu Kairo letakkan di dalam laci meja rias Aurora. Semoga esok Aurora tak sengaja melihatnya atau mungkin kotak itu akan terus terbengkalai tanpa diketahui pemiliknya.


Kairo merebahkan tubuhnya disebelah Aurora. Dengan sedikit keberanian, Kairo menyelipkan satu tangannya ke pinggang Aurora. Semoga Aurora tidak sadar.


"Maafkan saya yang terlalu pengecut."