
Surabaya, Januari 2019
Brak..
Kairo membanting dokumen yang baru saja dia koreksi dan semua isinya berantakan. Yang membuat Kairo semakin pusing adalah dia pasti mendapat tekanan dari atasan karena tidak bisa bertanggung jawab pada karyawannya. Semua memang salahnya karena dia tidak memeriksa kinerja stafnya. Dia tidak memantau secara detail.
Dering ponselnya terdengar, dari sang Ibu.
"Assalamu'alaikum. Iya, Bu?" tanya Kairo lembut. Dalam sekejap kairo lupa dengan amarahnya saat suara perempuan kesayangannya terdengar.
"Wa'alaikumsalam, sehat Kai?"
"Sehat Bu. Ibu gimana disana? Sehat kan?"
"Alhamdulillah Ibu sehat disini. Kamu lagi nggak ada masalah kan?" feeling ibu Kairo benar-benar kuat. Padahal Kairo tidak menampakkan bahwa dia sedang tidak apa-apa.
"Nggak kok Bu. Disini aman." Kairo tidak ingin merepotkan ibunya. Semenjak Ayahnya meninggal, peran ibunya bertambah menjadi tulang punggung keluarga apalagi Kairo tidak sendiri dia memiliki dua saudara, kakak perempuan dan adik laki-lakinya. Untuk itu Kairo tak pernah menceritakan apapun masalah yang sedang dia hadapi karena itu akan menambah beban ibunya. Kairo ingin menyelesaikan semuanya sendiri dan dia berhasil mendapat pekerjaan yang bisa menghidupi keluarganya, menghidupi ibunya sehingga ibunya tidak harus bekerja seperti dulu lagi.
Kairo sangat mencintai ibunya, perempuan kuat dan tangguh. Yang mengandungnya, melahirkannya dan merawatnya tanpa terucap kata lelah lewat bibir sang ibu.
"Serius? Jangan dipendem-pendem ah kalau ada apa-apa nggak baik loh."
"Ada masalah kecil di kantor Cuma ya ini lagi diselesain."
"Terus gimana? Berarti kamu masih di kantor?"
Kairo memang masih di kantor karena masalah ini membuat dia harus lembur. Kairo menyuruh Afian pulang lebih dulu karena sekretarisnya itu ada kepentingan dengan orang tuanya. Awalnya Afian menolak, dia ingin membantu Kairo namun bagi Kairo orang tua lebih penting dari pekerjaan apalagi Afian memiliki orang tua yang lengkap berbeda dengan Kairo.
"Iya tapi bentar lagi pulang."
"Ibu tau ya Kai. Defenisi bentar dari kamu seberapa. Dua jam lagi gitu kan maksudnya?" Kairo tertawa. Tebakan ibunya selalu saja benar. Lagi pula untuk apa dia harus cepat pulang. Di rumah tidak ada yang menunggunya, apartemennya sepi dan membosankan.
"Ya sekitar segitu lah, Bu."
"Sudah shalat isya sama makan kan?"
"Udah, Bu."
"Bagus! Sesibuk-sibuknya kamu jangan lupa shalat! Jangan lupa berdoa sama Allah itu yang penting. Allah bisa memberikan apapun atau mengambil semua yang kamu miliki sekarang. Ingat itu!"
"Iya Bu."
Panggilan berakhir karena Kairo harus menyelesaikan masalahnya malam ini juga. Dia juga harus menyiapkan diri untuk hari esok, dia akan mendapatkan tekanan.
***
"Bos, setelah ini kita ada meeting lagi sekitar jam setengah 12 siang." Alfian menatap lekat ipad-nya. Disana sudah tercatat jadwal-jadwal pertemuan mereka dengan para klien.
"Apa nggak bisa diundur? Itu hampir masuk dzuhur."
"Okay." Alfian tidak membantah seperti biasanya. Dua tahun bekerja sebagai sekretaris Kairo membuatnya sudah hafal dengan perangai Kairo. Kairo yang selalu mengutamakan waktu shalat daripada pekerjaan sebenarnya menjadi tamparan cukup keras bagi Alfian yang cukup jarang mengerjakan ibadah wajib itu.
"Kalau gitu gue ngambil mobil dulu, lu nunggu di lobby aja Bos."
Alfian berlari kecil meninggalkan Kairo yang juga berjalan menuju ke depan lobby. Cuaca hari ini sangat panas, asap polusi juga memenuhi udara. Kapan ya Kairo bisa beristirahat sejenak? Batin Kairo.
Mata Kairo menyipit, dilihatnya seorang perempuan berkerudung hitam sedang berjongkok tak jauh dari tempat Kairo. Itu perempuan ngapain coba disitu?
Kairo memasang kacamatanya agar penglihatannya lebih jelas. Sebenarnya dia tidak peduli sih dengan apa yang dilakukan perempuan itu tapi Kairo hanya penasaran bisa-bisanya perempuan itu berjongkok disana.
Kairo mendekati perempuan itu. Walau perempuan itu memunggungi Kairo tetapi Kairo dapat melihat bahu perempuan itu bergetar seperti sedang tertawa. Perempuan itu bukan orang gila kan? Ya mana mungkin! Pakaian perempuan itu saja sangat rapi seperti sedang habis tes wawancara pekerjaan. Apalagi di tangan perempuan itu terdapat dokumen yang dia genggam. Sepertinya benar, perempuan itu pasti baru melamar pekerjaan.
Apa karna enggak diterima kali ya makanya jadi stres begitu?
Kairo berdiri dua meter dari perempuan itu dan tiba-tiba saja perempuan itu berbalik. Ada dua ekor anak kucing lucu nan menggemaskan tapi bukan kesana fokus Kairo melainkan wajah perempuan itu. Wajah yang sangat amat Kairo kenali.
Aurora.
Semesta seolah mempermainkannya dan menghancurkan rencananya. Setelah kematian Abyan, perempuan ini lah yang sangat tidak ingin Kairo temui kalau bisa selamanya. Saat Kairo menyelesaikan pendidikan sarjananya, dia memilih pergi meninggalkan Surabaya membawa ibu, kakak perempuannya dan adik laki-lakinya untuk tinggal di ibu kota. Hingga Kairo mendapatkan pekerjaan namun jabatannya sekarang membawanya ke kota ini lagi. Kairo pikir kota Surabaya yang luas pastinya akan membuat dirinya tidak akan pernah bertemu dengan Aurora.
Tapi sayang, hari ini hal yang tak pernah ia duga pun terjadi. Dia bertemu kembali dengan Aurora.
Tin! Tin!
Suara klakson menyadarkan Kairo.
"Bos ngapain berdiri disana? Ayo buruan!"
Kairo tak akan menyapa dan Kairo tak akan mau berurusan lagi dengan perempuan itu.
***
Kairo menggeram dengan kelakuan petinggi yang seenaknya.
"Kenapa baru sekarang saya diberi tau?"
"Yaelah Bos. Gue juga baru taunya hari ini kalau akan ada karyawan baru yang direkrut eh tapi kan memang ada posisi yang kosong sih Bos. Lu lupa kalau Tina udah resign seminggu yang lalu?"
"Ya tapi kan posisi Tina juga bisa ditutupi dengan karyawan lainnya? Terus kan saya atasan mereka kenapa malah saya yang tidak tau?"
Bukan. Bukan itu yang menjadi masalah kemarahan Kairo melainkan kertas CV yang berada diatas meja Kairo
"Menurut gue sih nggak masalah Bos. Kita nggak bakal bisa nutupin terus dengan karyawan lain. Ya lo tau sendiri Bos nggak selamanya manusia akan sanggup buat kerja double. Gini aja deh kita coba aja dulu nih karyawan baru kita pantau pekerjaannya gimana kalau nggak sesuai ya pecat aja. Bereskan?"
Benar kata juga Afian tapi mengapa harus Aurora orangnya kenapa tidak yang lain saja?
"Atau lo sebenarnya ada hubungan sama ini cewek ya Bos? Atau lo ada masalah sama dia? Soalnya dari tadi lo pake urat mulu emosian bawaannya."
"Sebenarnya dia perempuan yang disukai sama almarhum sepupu saya."
"Ya terus masalah lo apa sama dia Bos?"
"Jangan potong kalimat saya! Denger dulu!"
"Iye-iye maap dah."
"Sebelum kematian sepupu saya, sepupu saya ini minta tolong buat deketin dia dengan perempuan ini karna cewek ini satu fakultas dengan saya."
"Gils! Drama banget idup lo Bos! Nah terus-terus? Lo malah baper sama nih cewek? Iya kan? iya?" tanya Afian tak sabar. Sepertinya Kairo memang sangat salah harus menceritakan hal ini pada sekretarisnya.
"Ya nggak lah. Ngapain juga saya harus suka dengan perempuan yang disukai sama sepupu saya? Bahkan perempuan ini nggak kenal dan nggak tau siapa saya."
"Aelah! Tau gitu ngapain juga lo harus emosi Bos! Dia aja nggak tau siapa lo! Eh tapi lo hati-hati deh sama ucapan lo. Siapa tau dia nanti jodoh lo. Baru tau rasa!"
***
Aurora memekik membuat orang rumahnya terkejut dan heran.
"Hore! Aurora keterima kerja akhirnya bukan pengangguran lagi!" Aurora melompat kegirangan tidak menghiraukan Ardi dan Arya yang sibuk mencibir karena Aurora sangat berisik.
"MAMA! ANAK SULUNGMU INI BUKAN PENGANGGURAN LAGI!"
"Sumpah.Mbakmu Bang berisik banget!" cibir Ardi.
"Mbakmu tuh! Aku nggak kenal sama dia,"
"Aduh!" teriak Ardi dan Arya bersamaan. Aurora menjitak kedua adiknya.
"HEH! BOCIL! Harusnya kalian tuh bangga sama kakak! Entar gaji pertamaku nggak akan aku bagi-bagi sama kalian bye!"
Aurora meninggalkan kedua adiknya yang aneh dan menyebalkan itu. Satu pesan dari calon perusahaannya eh ralat Aurora kan sudah resmi menjadi karyawan disana. Dia segera mencari mamanya untuk memberitau kan hal ini.
"Ma! Akhirnya! Rara keterima!" Aurora memeluk leher mamanya yang sedang duduk manja di pinggir kolam ikan bersama ayahnya.
"Astaghfirullah! Untung mama kamu nggak kecebur ke kolam ikan! Ganggu mama sama ayah pacaran aja." omel ayahnya. Tari –Mama Aurora yang sebenarnya tidak terlalu terkejut karena dia sudah sangat hafal perangai keluarganya ini.
"Songong banget sih, Yah!" cibir Aurora pada Ayahnya.
"Biarin namanya udah halal. Emangnya kamu masih jomblo." Randy –Ayah Aurora menjulurkan lidahnya mengejek Aurora. Tari menghela napasnya. Aurora itu adalah Randy versi perempuan jadi wajar saja kalau bertemu akan seperti ini namun sebenarnya Randy sangat menyayangi anak perempuan satu-satunya itu.
"Sudah-sudah. Kamu kenapa?"
"Ma ingatkan perusahaan tempat aku melamar pekerjaan?" tanya Aurora antusias. Kehidupan keluarganya memang berkecukupan tetapi dia tidak mau selalu hidup dibawah biaya kedua orang tuanya. Bukannya sombong tapi dia ingin berusaha dan mandiri hingga dia memiliki suami yang akan menafkahinya nanti.
"Iya mama ingat. Kamu keterima."
"Iyaa! Hore! Rara nggak nganggur lagi dong," ucap Aurora jumawa.
"Lebay banget iuwh," canda Randy.
"Biarin dong, Yah. Setidaknya Rara itu mandiri tau gimana rasanya berusaha dari hasil Rara sendiri."
"Iya-iya. Ayah bercanda. Kalau gitu selamat ya sayang. Nanti gajimu jangan dipakai sendiri, jangan lupa berbagi sama orang-orang yang kekurangan. Ingat uang itu bukan milik kita itu Cuma titipan dari Allah."
Aurora mengacungkan jempolnya dan memeluk kedua orang tuanya dengan sayang.
***
Salahkan Alfian, semua ini gara-gara sekretaris songongnya itu. Kubikel yang biasanya kosong sekarang sudah terisi oleh seorang gadis. Ini sudah hampir dua minggu gadis itu bekerja dan lihat lah gadis itu masih tampak bahagia dapat dilihat dari wajah gadis itu padahal kerjaannya hari ini cukup banyak.
"Jadi ceritanya lagi mantau karyawan baru ya Pak?" Kairo tersedak ludahnya sendiri.
"Jauh amat mantaunya Pak. Masuk dong masa dari pintu begini nggak elit banget." Kairo menatap tajam pada Afian yang berdiri disampingnya.
Ruangan Kairo terpisah dari ruangan staf divisi keuangan namun ruangannya itu tak begitu jauh dari sana sehingga dia masih bisa memantau karyawannya.
"Cantik juga tuh cewek pantes sepupu Bos demen. Dari CV-nya juga dia masih single, gue deketin aja kali ya Bos? Siapa tau jadi istri gue?" Afian melirik wajah Kairo dan wajah bosnya itu sudah sangat menyeramkan.
"Biasa aja kali Bos mukanya. Santuy gue juga nggak bakal nikung punya Bos."
"Ngawur kamu." Kairo memasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku celananya. Dia berjalan ke ruangannya tanpa peduli dengan Afian. Afian yang sadar ditinggalkan akhirnya mengikuti langkah bosnya.
"Bos kalau demen tuh ya diusahain dong."
"Nggak usah sok-sokan dari jauh mantaunya. Pake segala nggak mau ketemu secara langsung."
"Laporan kan emang dikumpulin dulu lewat Pak Harto selaku kepala divisi baru setelah itu dikasih ke saya."
"Masa sih Bos? Seinget gue nih ya sejak tuh cewek kerja disini aturan lama mulai berubah."
"Maksud kamu?"
"Bos jangan pura-pura lupa deh. Eh tapi tuh cewek ingat sama Bos nggak ya? Jangan-jangan cuma Bos doang yang ribet, dianya mah biasa aja."
Kairo memijat dahinya yang pusing karena sedari tadi Alfian tak berhenti berbicara.
"Afian.silahkan.keluar.dari.ruangan.saya,"
Afian segera menutup mulutnya jika Kairo sudah berubah galak itu akan sangat mengerikan dan pastinya jadwal lemburnya akan semakin bertambah.
Dasar Kairo. Sudah tau memiliki sekretaris yang cerdas dan sedikit licik seperti Alfian tapi masih saja menepis kebenaran. Jelas-jelas Kairo sedang memantapkan hatinya untuk mengetahui gadis bernama Aurora itu dan Alfian mengetahui itu semua. Darimana Afian tau? Setumpuk berkas identitas milik Aurora yang harusnya disimpan staf HRD malah berada diatas meja Kairo. Afian tebak sih Kairo akan datang ke rumah orang tua Aurora beberapa hari lagi.