One Day For Ever

One Day For Ever
Episode 4



Kairo mengusap matanya yang masih mengantuk. Seperti biasanya, kegiatan yang tidak boleh dirinya lewatkan yaitu shalat tahajud. Bagi Kairo, shalat tahajud itu memang bagian dari sunnah tapi tahajud membuat dirinya lebih dekat dengan Sang Maha Pencipta.


Kairo mengerutkan dahinya, kasur disanpingnya tampak kosong. Tidak ada Aurora disana. Istrinya itu sudah terbangun? Di jam segini? Jam masih menunjukkan pukul 3 pagi, Kairo hafal sekali jam segini bukan lah jam bangunnya Aurora.


Kairo menuruni tangga, mencari Aurora ke ruang televisi namun tetap nihil lalu Kairo berjalan kembali ke arah ruang tamu. Sama saja, Aurora tidak ditemukan.


Aurora kemana?


Kairo menghentikan langkahnya. Suara isakan tangis terdengar di telinganya. Suara itu semakin jelas saat Kairo mendekati dapur.


"Hiks! Hiks!"


"Astaghfirullah! Rara kamu kenapa?!" Rara duduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya. Matanya masih basah dan tampilannya juga sangat berantakan. Kairo berjongkok menatap teduh pada Aurora.


"Kamu ngapain duduk disini? Nggak dingin di lantai terus?" Aurora tidak menjawab tapi air matanya masih mengalir.


"Kita pindah tempat ya. Nggak lucu Pak Anto malah liat kamu seberantakan ini dan nggak pake kerudung." Aurora masih saja menggelengkan kepalanya. Kairo harus meningkatkan kesabarannya, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tiba-tiba saja Aurora mendekatkan dirinya pada Kairo, memeluk tubuh suaminya itu. Kairo terkesiap dengan apa yang dilakukan Aurora. Pasalnya ini pelukan pertama mereka. Aurora tidak melepaskan pelukannya dan tetap melanjutkan tangisannya.


"Huhu.. Aku minta maaf ya, Mas." suara isakan Aurora membuyarkan Kairo yang masih dalam suasana terkejut. Kairo mengerutkan dahinya. Kenapa Aurora meminta maaf? Apa yang sudah Aurora perbuat?


"Kenapa minta maaf?"


"Hiks. Aku minta maaf karena sudah menjadi istri yang gagal buat Mas."


"Memangnya apa yang kamu lakuin?" Aurora melepaskan pelukannya, menatap manik cokelat suaminya itu. Kairo yang ditatap rasanya sudah panas dingin saja.


"Semua yang ada di meja makan, Mas semua kan yang masak?" Kairo mengangguk, yang berefek besar untuk Aurora. Air mata Aurora kembali mengalir. Kairo semakin bingung dengan tingkah istrinya.


"Kenapa Mas nggak bangunin aku? Harusnya kan aku yang masak bukannya malah Mas yang ambil alih huhu." Aurora mengerucutkan bibirnya masih dengan isakan.


Ternyata masalah itu. Kirain apaan.


"Bisa kita pindah tempat sebentar? Saya capek berjo--"


"Mas! Aku serius Mas masih sempat-sempatnya mikirin yang lain."


Ya Allah, bini siapa sih ini?


Kairo berdiri sambil memegang tangan istrinya agar Aurora juga ikut berdiri syukurnya Aurora tak menolak. Kairo menarik tangan Aurora dan berjalan menuju ruang tamu. Berbicara seperti ini lebih layak daripada yang tadi dan Kairo yakin tidak mungkin Pak Anto tidak mendengar tangisan Aurora.


Setelah keduanya terduduk, Aurora masih dengan tangisannya namun Kairo harus bersuara.


"Sudah jangan menangis lagi. Kamu nggak capek? Bahkan waktu aja belum subuh." Aurora menggeleng, layaknya anak kecil menangis begitu lah tampilan Aurora saat ini.


"Memang semuanya saya yang memasak tapi itu kemauan saya apalagi kamu tidurnya nyenyak banget." Kairo memotong kalimatnya sejenak.


"Dan paling utama saya menjadikan kamu sebagai istri saya bukan sebagai asisten rumah tangga. Kita bisa kerja sama dalam mengurus rumah. Jadi jangan menangis lagi ya." Kairo meletakkan telapak tangan kekarnya diatas kepala istrinya,mengusap rambut Aurora dengan sayang. Kairo tidak sadar yang dilakukannya saat ini membuat tangisan Aurora terhenti.


Aurora menegakkan kepalanya. Baru kali ini, kalimat panjang nan manis keluar dari mulut suami cueknya ini.


***


Kairo melepaskan kacamatanya dan mengangkat kedua tangannya, merenggangkan otot pinggang karena sedari tadi dirinya sibuk membereskan pekerjaan. Kairo teringat akan sesuatu. Segera Kairo membuka laci mejanya dan menemukan kotak bekal.


"Mas ini aku buatin kamu bekal buat makan siang. Semangat ya kerjanya." Kairo terdiam tapi Aurora tak peduli, Aurora menarik tangan suaminya itu dan mencium tangan Kairo. Kairo tersentak kaget untuk kesekian kalinya pagi ini. Apalagi kalau bukan karena tingkah Aurora.


Kairo meletakkan kotak bekal tersebut diatas mejanya. Kairo merasa aneh karena selama dia bekerja baru kali ini Kairo membawa bekal makan siang. Kairo belum memakannya, Kairo masih menatap kotak bergambar doraemon tersebut dengan tangan menopang dagunya. Tanpa sadar seulas senyum terbit di bibir Kairo.


"Hoi! Selamat siang, yang baru aja kawin!"


Kairo mendengus. Afian --Sekretaris sekaligus sahabatnya dengan tidak tahu diri masuk ke dalam ruangan Kairo. Kairo sudah terbiasa akan tingkah Afian tapi begini-begini kinerja Afian sangat bagus maka dari itu Kairo mempercayai Afian sebagai sekretarisnya.


"GILS! Parah! Baru kawin langsung dapat bekal aja lo dari bini! Hidup Kairo semakin berwarna!" Kairo melemparkan pena pada Afian namun meleset. Afian berhasil menghindar.


"Mulutmu dijaga! Kawin kawin palamu peyang."


"Ya kan gue bener lo baru aja kawin. Najisin tau kaga lo senyum-senyum gaje sambil natapin bekal. Geli gue sumpah."


"Af, kamu nggak bisa ganti lo-gue jadi saya-kamu? Kita lagi nggak di Jakarta, Af." Kairo sengaja mengalihkan topik, malu juga dia tercyduk lagi senyum-senyum sendiri.


"Bodoamat Kai gue benci formal-formal gitu apalagi sama lo. Lo kayak nggak tau gue aja. Eh mending lo makan dah tuh bekal dari istri lo. Segitu bahagianya lo dapat bekal dari Aurora sampe senyum-senyum najis."


Kairo merutuk dalam hati. Ternyata Afian masih membahas yang tadi. Malu kan Kairo jadinya! Kairo tak menanggapi guyonan Afian dan memilih untuk makan bekal yang Aurora berikan. Kairo mencuci tangannya walaupun sendok dan garpu sudah tersedia tapi makan dengan tangan lebih nikmat dan sehat.


"Lo emang bocah super gila. Bagus sih lo gercep. Kasian juga kode-kode yang lo kasih dulu nggak pernah ditanggepin sama Rara. Tapi gue bangga, lo langsung nemuin bokapnya Aurora!" Kairo tersedak mendengar Afian mengungkit masa lalunya. Mulut Afian emang kurang di garamin! Bukan cuma pena yang Kairo lempar melainkan buku dihadapannya sudah mendarat di kepala Afian.


"Sakit, kampret! Lo emang nggak ber.ke.pri.ma.nu.sia.an." Afian memegang dadanya seolah dirinya paling tersakiti.


"Kamu mending keluar sekarang atau malam ini saya tambah pekerjaan kamu, Af!" Afian keluar dari ruangan Kairo dengan tergesa-gesa. Jika Kairo sudah mengamuk, pekerjaan Afian akan semakin menumpuk!?


***


Aurora menepuk tangannya. Semua pekerjaan rumah sudah beres. Pakaiannya dan Kairo sudah Aurora cuci, soal makanan juga sudah Aurora masak bahkan Aurora membagikannya pada tetangganya. Awalnya Aurora segan karena perumahan tempat dia tinggal termasuk tempat tinggal elit namun Aurora tidak boleh berburuk sangka menganggap tetangganya itu orang yang sombong. Setelah bertegur sapa dan memberikan makanan pada tetangganya ternyata Aurora salah besar. Tetangganya begitu ramah tamah dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada Aurora. Begitu lah orang-orang, terkadang kita tidak hanya memakai satu strategi pendekatan. Begitu banyak tipe manusia yang harus kita pelajari. Misalnya, tak ada salahnya jika kita yang memulai untuk menyapa dan menciptakan hubungan tali silahturahmi.


"Mas Kairo mana ya? Apa dia lembur?" Hari ini adalah hari pertama Kairo bekerja setelah mereka menikah. Kairo juga belum memberikan kabar, membuat Aurora sedikit cemas.


Satu pesan masuk. Aurora mengeceknya ternyata dari Kairo.


Mas Kairo:


Ra, malam ini aku pulang terlambat.


Pesan yang Kairo kirimkan memang singkat tapi bukan itu yang menjadi fokus Aurora.


'Aku'?


Ternyata satu pesan masuk lagi


Mas Kairo :


sayang


eh maksudnya saya