One Day For Ever

One Day For Ever
Episode 1



Matahari belum muncul seutuhnya, hari juga masih begitu gelap. Kairo berjalan dengan mata yang masih mengantuk. Wudhu adalah cara terampuh untuk menghilangkan rasa kantuknya. Seusai wudhu, Kairo bergegas melaksanakan shalat tahajud tapi Kairo bingung dimana letak sajadah. Apa Kairo membangunkan Aurora saja? Tapi itu Aurora sepertinya tidur terlelap sekali sampai selimut saja jatuh ke lantai. Kairo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung apa yang harus dilakukannya. Apa mungkin Kairo shalat di mesjid saja ya?


"Apa-apaan ini!"


Itu bukan suara dari Kairo melainkan suara Aurora yang sedang mengigau? Kairo mengerutkan dahinya.


"Dasar Kairo aneh!"


"Ha?" Kairo menganga. Aurora sedang memimpikan dia?


Apa yang sebenarnya dimimpiin sama Rara sampe bawa-bawa nama saya?


Kairo kemudian tersadar karena sebentar lagi akan memasuki waktu subuh jadi Kairo harus secepatnya mengerjakan shalat tahajud. Kairo keluar dari kamar. Ketika dirinya hendak membuka pintu sebuah suara memanggilnya.


"Mau kemana, Kai?" Randy sudah rapi dengan baju kokoh dan bawahannya sarung.


"Kai mau ke mesjid Om--Pa." lidah Kairo belum terbiasa ternyata. Maklum baru kemarin juga ijab kabul.


"Oh kalau gitu samaan aja sama Papa. Papa juga mau ke mesjid nungguin subuh." Kairo mengangguk dan mempersilahkan mertuanya itu terlebih dulu.


"Gimana malam pertama kalian?"


"Hah? Apa, Pa?" Kairo nggak salah dengarkan? Ini mertuanya nanyain malam pertama? Yang benar saja!


"Bukan yang itu. Itu ya masalah kalian lah! Maksudnya papa gimana dengan kelakuan Rara? Biasanya mulutnya susah banget direm." Kairo berdehem. Mertuanya ini ngomongnya ambigu sih, kirain apaan.


"Ya nggak gimana-gimana, Pa." Aurora dan Kairo memang tak banyak berbicara setelah menyelesaikan shalat suami istri. Aurora masih bungkam dan berbicara seperlunya.


"Papa sempat nggak percaya ada juga yang mau sama anak Papa itu." Kairo tersedak ludahnya sendiri, Randy menepuk-nepuk bahu menantunya itu. Akhirnya batuk Kairo terhenti juga.


"Biasa aja, Kai. Kayak sama siapa aja tapi Papa salut dengan semua cerita kamu."


Kairo tersenyum mendapatkan pujian dari ayah mertuanya. Randy memang tidak segalak saat Kairo meminta izin untuk meminang Aurora.


"Jagain Aurora ya. Jangan ngadepinnya pake emosi apalagi pake tangan." Kairo mengangguk setuju dengan petuah Randy.


"Iya, Pa. Insya Allah." Kairo dan Randy masuk ke dalam masjid dan melaksanakan shalat tahajud.


***


Kaki Aurora sudah melalang buana. Posisi tidurnya juga sudah berubah 360 derajat bagai jarum jam. Guling-gulingnya saja sampai berjatuhan ke lantai. Pokoknya kasurnya sudah kayak kapal pecah. Jika saja Kairo masih tidur disamping Aurora mungkin kaki Aurora sudah didepan wajah Kairo.


Kairo yang sudah selesai subuh, masuk ke dalam kamarnya. Kairo terkejut melihat penampakan kamar pengantinnya.


Astaghfirullah!


"Ra. Bangun, Ra. Udah subuh."


"Hm?" Aurora tanpa sadar mengelap sudut bibirnya yang sedikit basah. Kairo menggelengkan kepalanya. Nggak mungkin Kairo mengangkat Aurora ke kamar mandi biar istrinya ini berwudhu? Tapi nggak apa-apa juga sih, Aurora kan istrinya.


Kairo hendak menjalankan niatnya saat mengangkat bobot tubuh Aurora, Aurora membuka matanya dan terkejut dengan dirinya yang sudah digendongan Kairo.


"Loh! Loh! Apaan ini!? Kamu ngapain di kamar aku!!" pekik Aurora. Kairo ikut terkejut dan tak sengaja menjatuhkan dirinya dan Aurora ke lantai karena gerakan Aurora.


"Aduh!" Aurora segera berdiri dari posisi aneh ini! Pinggangnya jadi sakit kan! Ternyata sama halnya dengan Kairo. Kairo menarik napasnya menahan rasa kesal.


"Kamu sih pake acara gendong segala jadi jatuh kan!? Sekarang pertanyaan aku belum kamu jawab. Kamu ngapain disini dan ambil kesempatan di saat aku tidur ya!?"


"Ra. Kamu ambil wudhu sana. Nanti keburu waktu subuh habis."


"Saya suami kamu, Rara. Sana kamu ambil wudhu, terus shalat subuh atau saya gendong lagi kamu kayak tadi!" Kairo memasang wajah datarnya. Rara terdiam. Jadi beneran dia sudah menikah? Bukan mimpi?


"Ra!" tekan Kairo.


"Iya loh, Mas." dengan bibir cemberut,  Aurora ngacir ke kamar mandi. Dia nggak mau digendong sama Kairo!


Kairo dan Aurora turun bersama untuk sarapan. Aurora menatap kesal pada punggung kokoh suaminya. Kairo lebih memilih berjalan didepan tanpa menunggu Aurora. Sangat menyebalkan!


Keluarga Aurora ternyata sudah berkumpul. Arya bersiul jahil yang Aurora pun tahu maksudnya. Aurora memutar bola matanya dengan malas.


Aurora ikut duduk disebelah Kairo sebenarnya sih dia malas mending duduk disamping Ardi.


"Rara! Kamu kok malah duduk! Harusnya kamu buatin kopi dong atau apa gitu buat Kai." Tari berkacak pinggang.


Aurora berdiri malas tapi baru saja dia ingat. Aurora masih tidak tahu apa kesukaan suaminya itu.


"Mas mau aku buatin apa?"


"Buatin anak, Mbak!"


"Hush! Berhenti godain Mbakmu terus!" Randy melirik Ardi. Aurora merasa bahagia karena sang ayah membelanya. Aurora menjulurkan lidahnya mengejek Ardi yang merengut kesal.


Aurora melirik suaminya. Kairo belum menjawab pertanyaan Aurora. Kayaknya Kairo tampak cuek dengan godaan yang dilancarkan adik-adiknya Aurora. Ini Kairo sebenarnya niat nggak sih menikah dengan Aurora?


"Saya mau teh aja. Saya kurang suka sama kopi."


Aurora beranjak dari kursinya dan membuatkan Kairo segelas teh. Ternyata Kairo dan Aurora memiliki kesamaan juga, sama-sama nggak suka kopi. Aurora sama seperti mamanya, pencinta rasa sepat teh bukannya pencinta pahitnya kopi seperti ayahnya.


Aurora menghidangkan teh buatannya dihadapan Kairo. Gini-gini Aurora tidak mau menjadi istri yang durhaka.


"Enak," ucap Kairo dengan pelan tapi masih terdengar di telinga Aurora. Kairo lagi memuji teh buatannya? Benarkah?


"Kapan kalian akan pindah?" Randy mengusap sudut bibirnya dengan sapu tangan.


"Rencananya besok, Pa. Hari ini Kai sama Rara mau melihat-lihat furniture rumah dulu."


Pft! Giliran sama Ayah aja nyebutnya pake nama. Giliran sama aku pake 'saya'. Apa coba itu maksudnya!


Kairo sudah menyiapkan rumah untuk tempat tinggalnya bersama Aurora tetapi rumahnya masih kosong dan akan pindah esok. Sebelum menikah Kairo masih tinggal di sebuah apartemen.


"Jadi kuliah kamu bagaimana, Ra? Tetap dilanjutin atau cuti dulu?" Mengejar gelar master menjadi alasan Aurora resign dari kantornya dan Kairo. Aurora paling sulit membagi waktunya maka dari itu dia memilih keluar saja. Eh baru saja sebulan masuk kuliah, tiba-tiba saja Kairo mendadak menikahinya. Aneh kan?


"Nggak tau, Yah. Rara sama Mas Kairo belum bicarain masalah ini. Kepengennya Rara sih lanjutin tapi nggak tau sama Mas Kairo." Aurora mengangkat kedua bahunya. Bagaimana pun Aurora tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Sekarang Aurora sudah menjadi istri Kairo jadi semuanya harus dirundingkan dengan suaminya itu.


"Bagus kalau begitu. Semuanya memang harus disepakati bersama. Ya kan, Ma?" Randy melihat Tari dan tak lupa Randy mengedipkan satu matanya pada Tari.


Aurora merasa geli melihat kelakuan kedua orang tuanya itu bagai anak ABG. Mama dan Ayahnya suka tidak tahu tempat jika sudah bermesraan dan jangan harapkan Aurora dan Kairo akan seperti orang tuanya! Mustahil banget! Aurora belum sempat berbicara dan bertanya pada Kairo. Setiap Aurora mendapatkan waktu yang pas untuk bertanya, wajah Kairo yang datar itu seperti minta di bom oleh Aurora. Aurora jadi kesal kan!?


Kairo sudah menyelesaikan makannya dan permisi pada kedua mertuanya tapi tidak dengan Aurora. Kairo melewatinya begitu saja dan memilih ke atas tanpa menunggu Aurora.


Liatkan! Tuh orang emang ngeselin banget! Pengen aku cekik aja lehernya. Astaghfirullah. Ampuni hamba ya Allah.


Kairo menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Ra. Udah selesai makan nanti kamu ganti baju ya. Biar kita langsung pergi." Kairo kembali berjalan menaiki tangga.


Aurora mendengus kesal. Kairo menyebalkan!! Suami siapa sih itu!??