
Ya Allah, saat aku kehilangan harapan dan rencana, tolong ingatkan aku bahwa cinta-Mu jauh lebih besar daripada kekecewaanku, dan rencana yang Engkau siapkan untuk hidupku jauh lebih baik daripada impianku.
- Ali bin Abi Thalib -
_________________________________________
🌸بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ🌸
Happy reading
.
.
.
Thoriq melangkahkan kakinya menuju rumah mewah yang menjadi pusat keramaian hari ini. Setelah berpamitan pada si Brendi mobil kesayangannya, Thoriq pun mendial sahabat-sahabatnya.
Untung saja sahabat-sahabatnya itu masih melajang sepertinya, sehingga bisa dijadikan partner hinaan bagi pasangan Raja dan Ratu hari ini. Entah bagaimana jika teman-temannya telah berlabuh semuanya, mungkin Thoriq akan memilih antara dua opsi yaitu : Pertama, tidak datang ke acara ini dan hanya mengirimkan hadiah saja atau opsi kedua, membawa Zoeya si tomboy untuk dijadikan partner tentunya Zoeya akan meminta imbalan seperti yang sudah-sudah.
Thoriq melebarkan senyumnya saat melihat perawakan yang sangat dikenalinya, ia mendekat ke arah beberapa orang itu. "Hoi Bro!" Sapanya.
"Nih dia, lama amat sih loe? Kita bosan tau nungguin loe." Ucap Lexi pada Thoriq.
"Sorry, sorry. Yang jelaskan gue dateng." Jawab Thoriq seraya menerima segelas minuman berwarna orange dari pelayan.
"Ardan mana?" Tanya Thoriq saat tak melihat seseorang yang merupakan pelengkap dari anggota mereka ini.
"Lah, loe kan yang paling deket sama tuh anak. Masa enggak tahu sih? Dasar Bos cuek." Jawab Delon.
Thoriq meneguk jus yang ada di genggamannya seraya mengernyit. "Emang dia kenapa?" Tanyanya.
"Dia kan hari ini dateng bareng calonnya. Itu tuh, lawan ta'arufnya dia." Bara menimpali pertanyaan Thoriq.
Di antara beberapa sahabatnya, hanya Bara saja yang terlihat normal di mata Thoriq selain Ardan. Lihatlah, Delon dan Lexi mulai melancarkan aksinya. Melirik kiri kanan dan mengedipkan matanya pada wanita-wanita cantik yang sedari tadi memperhatikan mereka.
Mereka merupakan pria tampan dan mapat namun sayang masih melajang dengan berbagai alasan. Delon masih menunggu kekasihnya menyelesaikan studi di luar negeri dan Lexi sedang menunggu kekasihnya bercerai dari suaminya. Astaga, inilah Lexi merupakan perusak hubungan rumah tangga orang tetapi tak ada yang bisa menegurnya.
Hanya Bara dan Thoriq saja yang belum mempunyai rencana ke depan. Jika Thoriq kita sudah sama-sama tahu akan kesetiaan dan keyakinannya, jadi kita doakan saja ia bisa dipertemukan secepatnya.
Beberapa saat terlibat perbincangan ringan, sahabat Thoriq itu pun memperhatikan seseorang yang baru saja tiba. "Bro, tuh lihat! Panjang umur nih, yang kita omongin dateng." Ucap Lexi menyenggoli Thoriq dan Bara.
"Mana?" Bara menimpali lebih dulu.
"Itu tuh, yang pakaiannya tertutup semua." Lexi menunjuk ke arah dua orang yang sedang kelimpungan mungkin sedang mencari posisi mereka ini.
"Wah, iya benar. Nggak nyangka tipe si Ardan gitu ya? Gimana cara dia menilai si cewek kalo matanya doang yang kelihatan." Delon ikut memperhatikan.
"Namanya juga cinta. Bukan fisik yang dinilai." Lexi menimpali.
"Gayaan loe mah."
"Eh, Thor loe ngapain sih asyik banget sama handpone. Tuh lihat si Ardan gandeng calonnya. Eh bukan gandeng sih, tapi jalan berjauh-jauhan." Delon memperhatikan Thoriq yang sedari tadi sibuk dengan benda pipih digenggamannya, bahkan kehebohan mereka tak mengusiknya.
Mereka tertawa ketika melihat tingkah kikuk Ardan yang mengajak pasangannya berbincang. Canggung sekali. Swdang Thoriq masih serius saja dengan ponselnya, tergambar sebuah kecemasan di raut tampannya. Hingga ia pamit tanpa permisi dari teman-temannya. Ia begitu tergesa-gesa dengan menggenggam ponsel tanpa sedikitpun memperhatikan perkataan sahabatnya.
"Lah, tuh anak kenapa ngacir sih?" Ucap Lexi melihat kepergian Thoriq.
"Nggak tahu gue." Bara mengangkat bahu acuh.
Ardan yang sedari tadi berjalan kaku berdampingan dengan Harisa kini terlihat risih saat tatapan dari sahabatnya menyambut kedatangannya. Ia melirik Harisa sekilas kemudian sedikit berbisik, "kita ke teman aku dulu ya. Mereka udah nungguin dari tadi."
Harisa memperhatikan beberapa orang pria yang melihat ke arahnya lalu mengangguk menyetujui perkataan Ardan. Keduanya pun semakin mendekat ke arah sahabat dari Ardan.
Beberapa saat kemudian, setelah memperkenalkan Harisa pada mereka. Harisa sangat risih menjadi bahan tatapan dari beragam tamu undangan hingga wanita bercadar itu meninggalkan Ardan dan teman-temannya untuk menuju toilet.
Ardan ingin menghentikan Harisa sebab dia ragu Harisa tahu letak toiletnya. Namun ia urungkan sebab kedatangan seseorang yang menghampiri mereka. Ia menyambut sosok cantik itu seraya melirik Harisa yang semakin menjauh, "ah, dia kan bisa nanya." Batin Ardan.
"Hai, apa kabar kalian?" Sapa wanita yang baru bergabung bersama Ardan dan sahabatnya.
***
"Toiletnya di mana ya?" Gumam Harisa terlihat kebingungan.
Sepanjang jalan ia menjadi pusat perhatian karena satu-satunya yang menggunkan niqob di sini. Ia berjalan santai seolah tahu letak tujuannya tapi sebenarnya ia hanya menyembunyikan kekakuannya. Ia kebingungan karena sudah tiga kali bolak balik di area yang sama.
"Aduh, mau nanya kok ngga berani ya? Mereka ngeliatin aku beda banget, kan jadinya risih." Gumamnya lagi.
"Kalo kembali ke Mas Ardan lagi, sama aja boong. Aku kan mau menghindar dari sahabat-sahabatnya yang seolah menampilkan pandangan menilai." Batin Harisa seraya memperhatikan kiri kanannya.
Saat ingin berbalik, ia tanpa sengaja menabrak seseorang yang lebih tinggi darinya. Astaghfirullah. Lirihnya.
"Sorry, sorry. Saya ngga sengaja Mbak. Mbak ngga apa-apa?" Ucap sebuah suara yang hendak menyentuh lengan Harisa. Harisa pun spontan menghindar.
"Maaf, saya yang salah." Lirih Harisa yang menunduk.
Harisa pun mengangkat pandangannya hingga bertemu dengan tatapan orang di depannya. Bentuk wajah yang lebih dewasa dari sebelumnya, mata indah yang dulunya sering menatap cinta ke arahnya, rambut yang ketika dulu sering disisir oleh Harisa hingga sudut bibir yang begitu menggetarkannya.
Deg
Tak dapat dijelaskan bagaimana kinerja jantung Harisa sekarang ini. Apakah Harisa tidak salah lihat? Di depannya ini adalah pria pemilik rindunya. Mantan suaminya, Thoriq.
Thoriq memperhatikan wanita di depannya. Ia sedikit menurunkan pandangannya karena ingin memperhatikan lebih dekat namun Harisa menghindari tatapan dari pria di depannya itu.
"Mmm. Oke-oke. Sekali lagi sorry ya. Kamu mau kemana?" Tanya Thoriq dengan sedikit gagu.
Harisa sedikit demi sedikit memundurkan dirinya dengan gemetaran dan detak jantung yang terasa cepat. Sambil menunduk ia pun berkata lirih, "letak toiletnya di mana?"
Thoriq mengangguk paham, ternyata wanita ini sedang kebingungan mencari letak toilet. "Gini, kamu lurus aja ke kiri terus nanti ada persimpangan nah kamu pilih yang kanan di situ letak toiletnya." Jelas Thoriq.
Harisa mengangguk mengerti. "Makasih. Permisi." Harisa pun meninggalkan Thoriq dengan tergesa-gesa. Ia berusaha menjaga hatinya agar tidak jatuh pada pria itu lagi.
Thoriq terus memperhatikan wanita bercadar itu hingga hilang dari pandangannya. Ia menyentuh dada bagian kirinya. Ada sesuatu yang berbeda di bagian sana, entah apa. Hangat.
Kemudian, ponselnya kembali berdering. Ia memperhatikan deretan angka itu, "mati gue, kenapa nih siluman muncul lagi sih. Udah gue reject panggilan dari tadi, ini trio biang kerok ikut-ikutan. Sial." Batin Thoriq.
"Apa?" Jawab Thoriq.
"Kok loe ngilang sih? Ini ada mantan calon tunangan loe nih. Sini lah, dia ngerecokin kita mulu
kalo loe nggak muncul-muncul." Ucap Lexi dari seberang teleponnya.
"Gue pamit duluan ya, Bro." Thoriq berusaha menghindar.
"Thoriq? Kok kamu jahat sih? Masa ketemu aku juga nggak mau?" Suara wanita menggantikan suara cemas dari Lexi.
Thoriq pun menghela nafas dan terpaksa kembali ke teman-temannya.
***
Harisa kembali dari toilet dengan perasaan yang campur aduk, ia belum sanggup jika kembali berpapasan dengan Thoriq. Hatinya belum siap menerima kenyataan namun tak dapat ia pungkiri rindu yang amat berat sedikit berkurang ketika mengetahui Thoriq ada di sekitarnya.
Saat menyusuri sudut rumah yang dihiasi dekorasi super mewah ini, Harisa kembali dihinggapi sebuah rasa bersalah bukan hanya pada Thoriq namun juga pada sosok pria baik yang datang bersamanya hari ini, Armadan.
"Ya Allah, kuatkan keyakinanku ini pada pilihanku. Aku memilih untuk mencoba bersama Mas Ardan. Janganlah Engkau bangkinkan lagi rasaku yang berusaha aku padamkan." Batinnya.
Harisa hampir sampai ke arah Armadan bersama teman-temannya. Semakin dekat Harisa, ia semakin mengernyitkan matanya. Punggung itu, ia sangat mengenalinya.
Deg.
Itu Thoriq. Thoriq sedang tertawa bersama Ardan dan yang lainnya.
"Apa mereka saling mengenal?" Pikir Harisa.
Ia melihat Ardan merangkul Thoriq dengan akrab. "Benar, mereka berteman." Gumam Harisa.
Langkah Harisa terhenti, iris coklatnya menatap sosok cantik di antara pria-pria itu, wanita berpakaian terbuka sedang bergelayut mesra di lengan kanan Thoriq. Harisa memang tak ingin lagi terlibat dalam perasaan masa lalunya, namun tetap saja saat menyaksikan penampakan di depannya ini ada sisi hatinya yang belum bisa menerima.
"Apakah itu istrinya Thoriq?" Batin Harisa.
Tapi, rasanya bukan, sebab Harisa pernah mengirim paket pakaian syar'i ke rumah Thoriq atas nama 'Elsha'. "Apakah wanita itu adalah Elsha? Lalu mengapa pakaian terbuka?" Pikir Harisa.
Kepalanya pening, beragam dugaan dan sangkaan memenuhi pikirannya.
Saat Ardan mengarahkan pandangannya ke posisi Harisa berada, Harisa langsung menghindar dan berjalan menjauh, semakin menjauh hingga sampai ke pintu sebelah kanan. Ia berjalan di antara orang-orang hingga ia berhasil mencapai parkir tempat di mana mobil yang ia tumpangi berada.
Ia berhenti tak jauh dari mobil Thoriq, di dalam sana ada supir Ibu Wirda yang mengantar mereka. Harisa memilih mengerluarkan ponselnya, hal pertama yang ia lakukan adalah memesan taksi online. Ia menunggu beberapa saat hingga mengacuhkan paggilan masuk dari Ardan, mungkin Ardan sedang mencemakannya sebab terlalu lama meninggalkan mereka.
Taksi yang dipesan Harisa sampai, tanpa pamit terlebih dahulu pada supir Bu Wirda, Harisa pun menuju taksi syar'i yang ia pesan. Ia mengatakan tujuannya hingga bersandar nyaman. Nafasnya terengah-engah, ternyata lari itu melelahkan apalagi ia mencoba lari dari kenyataan.
Beberapa saat, taksi yang disupiri seorang wanita itu membelah jalanan, ponsel Harisa kembali bergetar dan ternyata ini panggilan ketiga dari Armadan, Harisa menghirup nafas hingga menggeser icon hijau tersebut.
"Assalamualaikum." Ucap Ardan membuka percakapan.
"Di mana? Kok ke toiletnya lama?" Tanya Ardan dengan nada cemas.
Terdengar sorak suara di sekitar Ardan, mungkin sahabatnya sedang mengejeknya sekarang.
"Waalaikumussalam, Mas. Maafkan Risa ya, Risa pulang duluan soalnya Risa nggak enak badan. Nggak usah khawatir, Risa pesan taxi syar'i." Jawab Harisa dengan rasa bersalah.
Ardan menghela nafas mendengar jawaban Harisa, "kenapa nggak ngomong sih? Kan kita bisa langsung pulang, nggak harus pesan taksi kan ada supir."
"Sekali lagi maaf Mas, tadi Risa perhatikan Mas sedang asyik dengan teman Mas. Ngga enak ganggunya. Maaf ya Mas."
"Padahal kamu belum berkenalan dengan sahabat Mas yang lain sekaligus Bos Mas di kantor." Terang Ardan, padahal ia ingin mengenalkan Thoriq pada Harisa.
Harisa terdiam.
"Ya sudah, nggak apa-apa, kamu hati-hati di jalan ya. Ada apa-apa langsung hubungi Mas. Nanti Mas akan hubungi lagi kamu, ini Mas juga mau langsung pamit." Tambah Ardan lagi.
"Iya, Mas. Maaf nggak bisa bersama Mas sampai akhir dan terima kasih ya." Balas Harisa.
"Iya, kalau bisa langsung ke apotik beli obat ya. Sakit dikit jangan dianggurin ntar parah."
"Iya, Mas. Makasih. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Harisa menutup ponselnya. "Maafkan aku Mas Ardan." Lirih Harisa.
_________________________________________
Bersambung