O

O
BERSEBERANGAN



Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,


لا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لا يَشْكُرُ النَّاسَ


“Tidak bersyukur kepada Allah seorang yang tidak berterima kasih kepada manusia.”


(HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Albani di dalam kitab Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, 1/702).


_________________________________________


♡♡♡


Thoriq terlihat sibuk berbincang dengan seseorang di ponselnya sebelum ia memilih untuk menjemput Mamanya menghadiri acara di kantor yaitu penyambutan staf baru dan promosi jabatan baik untuk Kantor Pusat Okhtara Group maupun kantor cabangnya.


Setelah memberi kata sambutan dan pemotongan tumpeng, mereka pun berbaur saling bertegur sapa dan mengucapkan selamat. Thoriq dikerumuni rekan dan karyawan yang dominannya adalah wanita meski hanya sekedar untuk menunduk hormat padanya.


Mama Hasna menatap putranya sambil tersenyum, ia yang biasanya gencar mencarikan wanita untuk dikenalkan pada putranya kini tak lagi begitu. Ia tak ingin salah pilih dan mengakibatkan putranya tidak bahagia.


Saat Thoriq sedang sibuk bersama rekan-rekannya, Ardan yang melihat Ibu dari sahabatnya duduk sendirian, ia pun menghmapiri Mama Hasna wanita yang telah ia anggap seperti Ibunya sendiri.


Ia pun menggoda Mama Hasna seperti biasa tanpa canggung, “Ma, ngga ada niatan cariin Bos wanita untuk Ardan? Biasanya sibuk nanyain sana-sini udah ada imam sholat belum?”


Mama Hasna tertawa seraya menepuk pundak pria yang telah fasih memanggilnya Mama. “Mama kapok, Dan. Sahabat kamu itu susah banget dibilangin, Mama nyerah deh, apalagi waktu dia bilang mau nyari sendiri. Nyari yang sesuai sama selera dia dan selera Mama juga, emang dia pikir istri itu mie instan apa. Sok ngukur selera.”


Ardan mengangguk membenarkan ucapan wanita di depannya ini. Apa yang ia ucapkan memang khas seorang Thoriq sekali itu. Thoriq memang susah didekatkan dengan perempuan, Ardanlah saksinya dimana Thoriq terlihat tak tertarik jika ada wanita yang terang-terangan menunjukkan ketertarikannya. Entah cinta itu benar-benar buta ataukah perasaan Thoriq yang tak punya mata. Ia masih saja yakin bahwa istri yang dinikahinya waktu SMA tanpa diketahui keluarganya itu masih menunggunya.


Menunggu apanya? Wanita itu saja meminta talak pada Thoriq melalui sebuah surat yang kini telah berada ditangan Thoriq, Thoriq tinggal berucap dihadapan seorang saksi dan talak yang diminta istrinya pun bisa didapatkan.


Tapi, Thoriq tak juga mengabulkan keinginan istrinya yang lari entah kemana itu. Padahal ia menerima surat itu dari kediaman istrinya, bukankah ia bisa langsung mengabulkan isi surat itu dihadapan saksi yang mewakili istrinya?Mengapa Thoriq sangat bersikukuh padahal istrinya pergi meninggalkannya, kan berarti istrinya tak menginginkannya lagi. Kasihan sekali, semoga saja keyakinan Thoriq selama ini terbayar. Batin Ardan.


“Dan, kamu tahu sesuatu ngga kenapa Thoriq jadi susah buat dekat sama wanita? Perasaan waktu SMA dulu dia supel banget tau sampe-sampe dicap playboy. Apa gara-gara Papa bersikukuh menjodohkannya waktu itu ya?” Tanya Mama Hasna dengan kernyitan didahinya.


Ardan menelan ludah, seharusnya Thoriq jujur saja pada Mamanya sehingga wanita baik ini tidak khawatir dan mana tahu bisa membantu menemukan orang yang Thoriq cari.


Ada-ada saja Thoriq, mestinya dari awal dia mengenalkan istri sirinya itu walau ada kemungkinan besar keluarganya tidak akan menerima karena waktu itu keluarganya telah menentukan calon istri untuk Thoriq yang tak lain adalah anak dari rekan bisnis Almarhum Papanya.


“Emm... itu Ma, sebenarnya-“


“Eh, ngomongin apa sih berdua? Jangan bilang loe lagi ngehasut Mama gue buat nyariin gue bini ya, Dan?” Tuduh Thoriq seraya menghampiri Ardan dengan pandangan memojok tak suka.


Ardan menghela nafas, bersyukur Thoriq menghampirinya jika tidak pasti Ardan akan diintrogasi oleh Mama dari Bosnya ini. Apalagi Ardan tidak bisa berbohong di depan wanita yang telah ia anggap seperti ibunya sendiri.


Ardan menyengir seraya menjawab,  “tuh loe tahu banget.”


Thoriq mendengus memperhatikan Ardan sedang mengoporinya di depan Mamanya. Tanpa sadar, terselip penyesalan dari hatinya. Andai saja ia berani menentang keinginan keluarganya dulu maka yang digenggaman tak akan terlepas. Toh, keinginan keluarganya juga tak tercapai waktu itu.Thoriq terlambat jika menjelaskannya sekarang. Biarlah ia menemukan terlebih dahulu. Pikirnya.


Mama Hasna tersenyum melihat keakraban dua sahabat ini. Ia bersyukur bisa melihat tawa lepas mereka. Tanpa sadar Mama Hasna melupakan pertanyaannya yang belum ditanggapi oleh Ardan.


Beberapa saat kemudian, Mama Hasna meminta Thoriq untuk mengantarkannya pulang karena acara resminya sudah selesai dan kini hanya acara pengakraban yang nampaknya bisa Thoriq tinggalkan. Seraya berpamitan para rekan yang lainnya, Thoriq pun menyerahkan acara pada sekretarisnya.


“Titip acara ya Bro! Mau antar Bidadari pulang dulu.” Ardan mengangguk paham.


Di perjalanan pulang, Mama Hasna menyampaikan bahwa orang yang berjasa pada keluarganya telah meninggal dunia dan Mama Hasna sedang menunggu cucu dari kenalannya itu menghubunginya karena akan tinggal bersama mereka setelah ini.


Kemarin Mama Hasna sempat pergi ke Singapura sambil mencari rumah Bi Sofi, meskipun gagal bertemu dengan gadis yang dicarinya disana tapi rasa penasaran Mama Hasna terbayarkan. Ia mengetahui bahwa Elsha kecil hidup dengan baik di sana dan kini telah beranjak dewasa ditangan Omanya. Luka si gadis kecil semoga bisa digantikan kebahagiaan jika kesepakatannya dengan Bi Sofi dulu bisa dilaksanakan.


Ia memandangi putra tampannya sambil menilai, mungkin saja Thoriqlah orangnya. Lalu ia menggeleng pelan, mungkin saja tidak. Pikirnya.


“Elsha, Ma? Anak yang dijebak untuk nikah sama Papa waktu dulu dan akhirnya membuat Riqhad benci Papa?” timpal Thoriq sambil fokus menyetir.


Ia mendengar saja perkataan Mamamnya sedari tadi, bagaimana antusiasnya wanita ini ingin bertemu dengan Elsha kecil itu. Selain berjasa menyelamatkan Papa, bagi Thoriq ini sungguh menggelikan hingga membuatnya ingin tertawa saja.


Bagaimana bisa, seorang istri sangat menyayangi dan tak sabar ingin bertemu dengan mantan istri suaminya. Ya, Elsha masih kecil waktu itu kalau tidak salah masih SD. Tapi, jika dipikir-pikir memang lucu saja.


“Iya, Elsha Bang. Kan sudah Mama jelaskan itu bukan salah Elsha ataupun Papa. Mereka dijebak sama rekan bisnis Papa. Untung ada Bi Sofi ya, hingga masalah itu bisa terselesaikan. Bi Sofi juga bisa bertemu dengan cucunya.” Mama Hasna tak terima ketika nada bicara Thoriq seolah menyalahkan Elsha.


“Iya, iya, bukan salah Papa ataupun Elsha. Thoriq udah sangat-sangat tahu kok kronologisnya gimana. Tapi, si Riqhad itu ngga mau bahas lagi masalah ini, sampai sekarang aja dia masih dendam dan benci Papa bahkan saat Papa ngga ada lagi.” nada suara Thoriq semakin memelan.


Mama Hasna langsung senyap dan keduanya pun larut dalam perasaan bernama rindu pada sosok kepala keluarga yang tak lagi ada di dunia.


“Pa, Mama akan berusaha membawa Riqhad kembali kepelukan Mama. Mama akan menghapus kesalahpahaman ini, Riqhad udah terlalu jauh membenci. Mama takut dia semakin sulit digapai. Semoga saja dengan kedatangan Elsha, perlahan semua akan kembali bahagia seperti semula tanpa bayangan masa lalu.” Batin Mama Hasna merintih.


Mobil yang dikendarai Thoriq sampai pada tujuannya, Pak Udin setia membukakan gerbang untuk majikannya. Sebelum mobil Thoriq kembali melaju, Pak Udin mengetuk kaca.


"Nya, tadi ada yag nitipin ini ke saya. Katanya dari Muslim Syar'i Butik." Ucap Pak Udin sambil menyerahkan sesuatu yang dititipkan Padanya.


Setelah bagasi tertutup, Mama Hasna kembali memanggil Pak Udin. "Pak, siapa yang nganterin? Saya belum transfer deh kayaknya. Kok ngga hubungin saya dulu."


"Itu Nya, wanita bercadar. Pake motor matic warna hitam." Jawab Pak Udin seadanya.


Mama Hasna mengangguk lalu menutup kembali kaca mobilnya. Sedangkan Thoriq yang mendengar percakapan itu sedikit tergerak hatinya. Wanita bercadar? Ia teringat dengan seorang wanita yang ditemuinya beberapa waktu yang lalu saat di parkir restoran, wanita yang kerudungnya tersangkut.


Lalu, mendengar kata cadar ia teringat dengan cerita Ardan, kata sekretarisnya itu di Butik Ibunya ada karyawan bercadar. Eh, katanya Ardan lagi dekat sama wanita yang dijodohkan oleh Mamanya. Wanita itu adalah karyawan Mamanya, apa jangan-jangan calonnya Ardan bercadar ya? Batin Thoriq.


Ia terkekeh, selera Ardan memang benar-benar berubah ternyata. Kasihan Zoeya yang tak bisa mendapatkan Ardan sampai kapan pun, sia-sia saja pengorbanan Zoeya selama ini. Pikirnya prihatin.


"Bang, kok bengong. Ayo jalan!" Tepukan di pundak Thoriq menyadarkannya dari sekelibat pikiran diotaknya.


Thoriq mengangguk lalu mengikuti arahan Mamanya.


***


"Besok, anak rekannya Bapak mengadakan resepsi dengan sahabatnya Ardan. Kamu ikut Ardan ya ke sana? Ibu sama Bapak ngga bisa hadir soalnya." Ucap Bu Wirda pada wanita di sampingnya.


Setelah mengantarkan pesanan dari pelanggan setia Butik, Harisa pun menemani Bu Wirda memilihkan kado untuk acara besok. Harisa hanya diam sejak diajak tadi, pikirannya membawanya ke satu jam yang lalu saat dia mengantarkan pesanan pakaiam muslimah ke sebuah rumah Mewah tak jauh dari tempatnya tinggal.


Ia kaget dan tak menyangka bisa melihat sosok yang dikenalinya di sana, Pak Udin. Ya, Harisa masih sangat mengenali wajah yang kian menua itu. Salah satu saksi disaat ia melangsungkan permintaan terakhir Ayahnya dulu.


Untung saja Pak Udin tidak mengenalinya karena ia menggunakan cadar sekarang. Hatinya semakin sakit saat mengetahui bahwa pesanan beragam model gamis tersebut atas nama seorang wanita yang tidak ia kenal, pastinya bukan untuk Mama dari Mantan suaminya ataupun Adiknya. Harisa menduga bahwa mungkin saja itu adalah pesanan untuk istrinya Thoriq sekarang. Ya, mungkin saja. Ia semakin sedih jika dugaannya benar.


Harisa tak lagi mengetahui semua tentang Thoriq, ia bahkan jarang menggunakan media sosialnya karena lebih banyak menghabiskan waktu bersama Al-Qur'an atau buku. Setelah lulus S2 dia akan berhenti dari Butik karena telah diterima sebagai Tenaga Pendidik dan juga ditawari menjadi Dosen. Untuk itu ia harus banyak belajar lagi.


Ia sangat berterima kasih pada Bu Wirda yang telah banyak membantunya dan mengizinkannya berada di Butik tanpa ketentuan waktu. Hingga ia bisa melakukan aktivitas lainnya tanpa terikat. Bagaimana bisa Harisa menolak tawaran Bu Wirda untuk menjadi menantunya jika jasanya tak mampu Harisa balas hingga sekarang? Pikirnya.


"Nak, kamu melamun apa? Kamu dengar kan Ibu ngomong apa?" Bu Wirda menyadarkan Harisa yang asyik bermenung saja.


Keduanya berada dalam mobil yang akan menuju Butik. Harisa tersenyum tak enak dibalik cadarnya seraya menimpali ucapan Bu Wirda, "maaf, Bu. Harisa hanya sedang banyak pikiran saja. Mengenai yang Ibu sampaikan tadi, maaf Bu. Harisa ngga berani, apa kata orang nanti jika Harisa ke sana bersama Mas Ardan?"


Bu Wirda tersenyum dan mengelus kerudung Harisa. "Ngga apa-apa kok, kalian bisa bawa supir kalau kamu takut hanya berduaan saja. Lagian, ini pertemuan ketiga kalian di luar. Biasanya kan hanya di Butik dan Kampus. Kamu tahu kan, Ibu berharap banyak dalam ta'aruf kalian ini." Ucap Bu Wirda yang menimbulkan sensasi menyesakkan untuk Harisa.


***


Keesokan Harinya


Thoriq menuruni anak tangga dengan santainya, celana goyang dan kemeja batik telah menempel indah ditubuhnya. Ia bersiul asyik sambil memutar-mutar kunci mobilnya.


Zoeya yang tengah memperagakan gerakan yoganya merasa terganggu dengan tingkah Abangnya. Bagaimana tidak, Zoeya yang sedang berkonsentrasi menjadi penuh kaget luar biasa saat Thoriq mengaktifkan musik dengan volume paling tinggi.


"Woi... woi... masih hidup ngga nih orang!" Suara Thoriq melekat indah diindera pendengar Zoeya hingga membuat Zoeya padam muka.


"Apa sih ribut-ribut. Ganggu konsentrasi Oya aja." Kesal Zoeya sambil berdiri.


Ia mematung memperhatikan tampilan Abangnya yang sangat rapi hingga menambah volume ketampannya. Menurut Zoeya tak ada yang kurang dari sosok Thoriq hanya saja kurang lengkap, yaitu pendamping. Zoeya terkekeh.


"Lamunin apa sih? Ngejek ya?" Thoriq menyentil dahi Adiknya.


"Iya, hobby Oya sekarang kan udah nambah. Dan ngejek Abang salah satunya." Ucap Zoeya sambil terkekeh.


"Abang mau kemana Rapi Ahmad? Eits, salah. Rapi amat maksudnya." Tambah Zoeya sambil memainkan kancing kemeja batik plbagian paling atas yang dipakai Abangnya.


"Ini tangan jangan ganggu dandanan Abang. Abang mau ke kondangan." Jawab Thoriq menepis lembut tangan Adiknya. Ia tak jamin jika Zoeya tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh jika dibiarkan saja.


"Kondangan orang mulu, kondangan Abang kapan?" Zoeya kembali bersuara setelah tangannya ditepis tanpa permisi.


"Kapan-kapan. Udah lah Abang mau berangkat dulu. Udah janji sama yang lain. Abang udah keren kan ini?" Ucap Thoriq sambil berpose ala model shampoo.


Zoeya mendengus sambil menganguk tak rela. "Ganteng dong, kan Abangnya Oya. Tapi kok Oya ngga diajak Bang? Oya bisa jadi pasangan pura-pura Abang loh." Tawar Zoeya.


"Enggak sudi Abang, entar dikira bawa Abang-abang cantik." Tolak Thoriq seraya menjuh dari Zoeya.


Zoeya kesal hingga berteriak histeris, "Abaaaaang! Oya bukan Abang-abangan cantik tahu!"


Thoriq terkekeh sambil melambaikan tangannya pada Zoeya.


_________________________________________


Bersambung