
"Jika dua orang ditakdirkan bersama, maka dari sudut bumi manapun mereka berasal, mereka pasti bertemu."
-Bang Tere-
_________________________________________
Thoriq Side On
Suara merdu dari Bruno Mars menemaniku sekaligus menenggelamkan kebisuan di kursi kemudiku. Brendi, nama yang aku sematkan pada si jago silver ini. Aku biasa memanggilnya begitu. Seolah bersahabat akrab, Brendi menjadi saksi hidupku, saksi kesepian yang aku rasakan. Brendilah yang bisa mengertiku selain si Biang Kerok penghianat itu.
Meski pun Brendi tak bisa menimpali perkataanku, aku merasa lega saja ketika bersama Brendi dan meluapkan perasaanku sendiri. Berceloteh panjang lebar bak orang kekurangan kasih sayang, berharap Brendi mengerti. Berbeda dengan Ardan. Dia adalah sahabat yang paling mengerti aku dan telah terdaftar sebagai pendengar setiaku.
Tak hanya mendengar, terkadang ia yang berbicara panjang lebar memberi wejangan bak orangtua serta menyemangatiku. Yang paling mengesalkan adalah ketika sekretarisku itu mengejekku atau bahkan menjatuhkan moodku seperti yang ia katakan tadi di ruangan.
Aku mendengus dan terus saja memutar kemudi si Brendi. Kini, kami akan langsung meluncur menuju TKP. Untuk kali ini, lokasinya di sebuah restoran yang terletak tak jauh dari pusat perbelanjaan.
Akibat penghianat seperti Ardan, aku harus mengikuti keinginan Mama untuk menemui seseorang yang akan diperkenalkan kepadaku. Selalu saja begitu, padahal Mama tahu bahwa sampai kapanpun aku tidak akan tertarik dengan wanita manapun yang Mama kenalkan kepadaku.
Aku selalu memberi penjelasan bahwa urusan hati biarlah menjadi urusanku sendiri. Dan aku akan menemukan serta membawa sendiri menantu yang diinginkan Mama, tapi Mama harus bersabar sampai waktu itu tiba. Aku tengah berjuang mencari dan menemukannya sekarang. Tapi mengapa Mama tak bisa sabar menunggu, sehingga tanpa lelah mempertemukan aku dengan beragam jenis wanita yang terkadang membuatku muak.
Aku menghela nafas panjang, memperhatikan jalanan yang terlihat ramai. Beragam jenis manusia menikmati perjalanan di sore hari ini, ada yang terlihat lelah mengemudi kendaraan bermotornya, berboncengan dan ada pula yang terlihat bahagia bersama keluarga.
Hatiku telah kebal mendapat pemandangan seperti ini, “Brend, kapan ya Daddy bisa boncengin Mommy? Mommy kemana sih, sulit banget dicari.” Ucapan tak berpaedahku.
Kebiasaan ketika bersama Brendi seorang diri, kebiasaan berceloteh sendiri dan berharap Brendi akan peka menimpali. Namun sayang, si Brendi hanyalah sebuah benda mati yang selalu menemaniku ke mana saja. Saking, absurdnya aku si Brendi saja sudah aku anggap seperti anak sendiri.
Tiin...
Aku mengklakson seorang wanita yang terlihat sedang mengotak-atik sepeda motornya. Aku berhenti, menurutkan kaca mobilku seraya menyapa orang tersebut. “Kenapa motornya Mbak?”
Wanita tersebut melihat kearahku seraya menggelengkan kepalanya, “Ini Mas, kehabisan bensin.” Ucap wanita tersebut. Wanita yang terlihat lebih muda dariku, ia berpenampilan muslimah seperti Mama. Pakaian yang disebut syar’i, panjang, longgar, menutup lekukan tubuh serta tidak transparan ditambah lagi kerudung lebar senada.
Aku tersenyum seraya menimpali, “ada yang bisa saya bantu Mbak? Menemukan bensin misalnya.” Tawarku dengan masih diposisi semula.
Ia menggeleng dan beberapa menit kemudian seorang pria berperawakan tegas menghampirinya. “Ngga usah Mas, makasih. Suami saya sudah menemukannya.” Jawabnya sambil tersenyum.
Aku mengangguk paham, setelah menyapa sekilas pasangan tersebut aku pun mengangguk pamit. Kembali menjalankan si Brendi.
Tanpa sengaja aku terus melirik spion kanan Brendi, yang masih menampilkan jalanan serta keberadaan kedua orang tadi. Mereka terlihat akrab dan bahagia. Tiba-tiba saja perasaan nyeri menghampiri hatiku, aku kembali merindu.
Beberapa saat membelah jalan, Brendi berhasil membawaku menuju TKP dengan selamat. Aku melirik kaca di depanku sekilas, mematikan kontak Brendi, kemudian memasukkan ponsel ke dalam saku, baru lah aku melangkah keluar meninggalkan Brendi sebentar untuk menindaklanjuti keinginan Mama.
Restoran mewah ini ternyata memiliki tempat parkir khusus yang berada sedikit jauh dari Restorannya, sehingga aku harus berjalan kaki terlebih dahulu untuk sampai ke sana.
Saat sedang melangkah dalam diam, aku melihat sesuatu. Seorang wanita yang menggunakan pakaian serba hitam dan selembar kain menutupi wajah, kini terlihat sedang kesusahan. Masih memperhatikan dalam kebisuan hingga aku berinisiatif mendekat ke arahnya. Semakin dekat, hingga aku mengetahui bahwa kerudung bagian belakangnya tersangkut pada besi pembatas pagar yang sudah mulai karatan itu.
Aku ingin membantu, tapi aku canggung mendekatinya. Aku takut nanti tindakanku salah dan wanita ini tidak menyukai bantuan yang aku berikan. Hingga aku lihat ia hendak menarik paksa kerudungnya. Secepat kilat aku mendekat dan menyentuh kerudung hitamnya. Perlahan, aku berusaha melepaskan kerudungnya dari lilitan besi.
Aku lihat ia hanya diam dan menunduk seperti patung, ia pun tidak berkata-kata. Hingga beberapa saat kemudian aku berhasil menyelamatkan kerudungnya. Ia masih membelakangiku hingga aku tersenyum sekilas sebelum melangkah menjauh menuju restoran.
Sepanjang jalan menuju pintu restoran, aku seperti penasaran dengan wanita yang berpenampilan tertutup seperti wanita barusan. Aku heran, mengapa wanita harus menutupi semua keindahan yang ada pada dirinya. Jika hanya berkerudung, aku maklum.
Kata Mama dan Ustadz yang pernah aku dengar ceramahnya, wanita dalam islam diminta menutupi auratnya dan hanya menampakkan wajah serta telapak tangannya. Tapi, mengapa wanita tadi harus menutup wajah juga?
Katakanlah bahwa aku bukanlah orang yang paham akan agama. Iya, aku terlalu jauh dari hal tersebut, entah mengapa untuk urusan akhirat aku sedikit bandel. Bahkan nasihat dari Mama beserta petuah-petuahnya selalu aku abaikan. Mamaku seorang muslimah sejati namun memiliki tiga orang anak yang sangat sulit dinasehati untuk beribadah.
Aku bukannya tidak pernah mengerjakan perintah Allah, hanya saja aku mengerjakan sholat ketika luang saja. Aku menjadikan kesibukanku sebagai alasan untuk menghindari perintah Tuhan itu, begitu pun Zoeya Adikku.
Mama selalu mewanti-wanti agar dia menutupi auratnya dengan berkerudung tetapi tak juga diindahkan olehnya, Zoeya mengatakan bahwa berkerudung membuatnya terlihat seumuran Mama hingga ia tidak mau mengenakkannya.
Lain lagi dengan Riqhad, Adikku yang satu itu sebenarnya adalah orang yang taat beribadah ketika remaja dulu. Ia selalu mengikuti apa yang Papa kerjakan, mengikuti Papa ke pengajian dan kegiatan agama lainnya.
Tidak denganku yang selalu fokus dengan buku dan apatis keadaan sekitar bahkan aku terbilang jauh dari Papa. Hingga, suatu kejadian yang membuat Riqhad kecewa dan membenci Papa, balik meninggalkan hal-hal yang sering ia lakukan bersama Papa hingga membuatnya lalai mengerjakan ibadah.
Terkadang aku menyesal, sadar akan apa yang kami kerjakan selama ini. Tidak seharusnya aku mementingkan dunia dan mengacuhkan urusan akhirat yang selalu diingatkan Mama. Mama, ini bukan salah Mama.
Karena perpecahan keluarga dan kedewasaan kami yang kami lalui hanya bersama Mama, tanpa Papa dengan nasehat dan tindakan kepemipinannya. Mama tak pernah memarahi kami, jika menasehati pasti dengan lemah lembut, hingga kami tidak takut jika membantah. Andai saja masih ada papa, kedewasaan kami ini pasti akan lebih terkoridor karena ketegasannya.
Hampir mencapai pintu restoran, aku memutar tubuhku secara refleks untuk memperhatikan wanita bercadar tadi. Tapi, wanita tersebut telah meninggalkan parkir. Aku mengangkat bahu acuh, untuk apa juga aku harus peduli dan seakan ingin bertemu dengannya lagi.
Aku hanya ingin memastikan saja, sebab ketika aku mulai menjauh dari parkir tadi, punggungku seolah ditusuk oleh pandangannya, entah benar atau tidak. Itu hanya perasaanku, mungkin wanita itu hendak mengucapkan terima kasih. Pikirku meyakini.
Drrrt... drrttt....
Tiba-tiba saja ponselku berdering dan muncul nama Mama, aku pun menerima panggilan itu.
“Iya Ma....”
...................
“Abang udah nyampe. Ini baru mau masuk!”
......................
.....................
“Iya Mama sayang. Walaikumsalam.”
Tut.
Aku memasukkan ponsel dalam celana, perlahan masuk dan mencari meja yang telah diberitahukan Mama. Setelah menelisik, iris gelapku pun menemukan sosok yang aku kenal bersama seseorang. Aku berjalan menghampiri mereka.
“Maaf terlambat.” Ucapku.
Mama menoleh dan cemberut.
“Salamnya mana, Bang!” Sapanya, terus saja begitu dan aku terus saja melupakan salam.
“Assalamualaikum. Maaf terlambat.” Ulangku.
Mama merubah mimik wajahnya dan memintaku duduk di sampingnya, berhadapan dengan seorang wanita cantik. Wanita itu tersenyum kepadaku, dan aku menatap ngeri wanita itu kemudian kembali melihat ke arah Mama. Mata kami bertemu, dan aku mengode-ngode Mama lewat mata. Entah mengapa Mama seakan paham dan balik memutar-mutar matanya sebagai rekasi dari ucapanku.
Aku merengut dan menghela nafas.
Kami pun berkenalan, aku menyebut namaku dengan datar sedangkan wanita yang aku tahu bernama Wulan itu menyebutkan namanya dengan suara lembut dibuat-buat dan aku menatapnya geli.
***
Di rumah
Setelah kembali dari restoran tadi, aku sengaja mendiami Mama. Aku kecewa dengan Mama dan aku tak percaya Mama bisa begitu.
Bukankah selama ini Mama mengidamkan menantu yang sopan dan ramah. Tapi apa? Yang aku dapatkan tadi adalah kebalikannya serta berbonus kejelekan lainnya dan kembali aku katakan : Aku tidak suka! Tidak tertarik! Tidak peduli!
“Bang, kok diemin Mama sih dari tadi?” sapa Mama ketika kami sampai di ruang keluarga.
Aku menghela nafas dan menghadap ke arah Mama. “Mama, Abang ngga nyangka Mama bisa kenalin wanita itu ke Abang. Bukankah Mama mengidamkan wanita yang sopan dan ramah? Tapi buktinya tadi? Astaga!” ucapku kesal.
Mama mendekat ke arahku, mengelus lenganku seraya berkata lembut, “Maaf Bang, Mama juga ngga nyangka Wulan begitu. Ketika Mama meminta fotonya pada Ibunya, Ibunya mengirimkan foto Wulan dengan menggunakan kerudung. Sehingga Mama suka dan yakin jika Wulan seperti yang Mama kira. Tapi, Mama juga terkejut ketika menemuinya tadi.”
“Udah Abang bilangkan, Mama ngga usah repot-repot cariin Abang istri. Tunggu aja dengan sabar, Abang pasti bawain mantu buat Mama. Mantu yang Abang suka dan Mama juga.” Ucapku lembut.
“Terima kasih untuk usaha Mama selama ini, mengenalkan Abang dengan banyak wanita cantik, tapi maaf Ma... Abang ngga bisa, apalagi dengan wanita tadi. Penampilannya saja terbuka gitu, suaranya menggelikan dan tatapan matanya buat Abang ngeri tau.” Tambahku.
“Iya Bang, Mama tau. Maafkan Mama. Wulan yang ada difoto sangat berbeda dengan yang kita temui tadi. Diluar ekspektasi Mama, Mama ngga nyangka ia melepas kerudungnya dan bahkan mengenakan pakaian yang tidak sopan itu.” Mama menggenggam tanganku.
Aku mengangguk seraya berkata tegas. “Abang mohon, berhenti Ma. Berhenti mencari, biar Abang sendiri yang menemukan. Abang janji, akan sesuai dengan keinginan Mama. Beri Abang waktu, dan selama itu mama hanya perlu bersabar.” Ucapku meyakinkan.
Mama mengangguk, tersenyum dan menyetujui keinginanku. Tidak merencanakan beragam pertemuan lagi untuk menjodohkanku. Akhirnya, mama mendengarkan suaraku. Dan setengahnya adalah karena wanita yang bernama Wulan itu. Andai saja Wulan berpakaian sopan dan sedikit kalem, aku pastikan Mama akan berusaha keras membujukku.
Aku pamit pada Mama dan melangkah menuju kamarku. Aku bersiul senang akibat keinginanku di dengar Mama dan Mama tidak akan merecokiku lagi. ‘Terima kasih Wulan. Setengahnya karenamu.’ Batinku riang.
Thoriq Side Off
***
“Alhamdulillah. Kenyang.” Ucap seorang pria yang telah menghabiskan makanannya.
Entah karena lapar ataukah hal lainnya, makanan yang masuk keperutnya pun sudah dua porsi. Ia menghabiskan air mineral digelasnya sebelum meninggalkan ruangan Ibunya.
Setelah kembali dari kantor, ia langsung menuju ke butik Ibunya bahkan ia melupakan makan siangnya tadi.
"Kok, ngga dimakan makanannya?" Tanya Ibu Wirda pada wanita bercadar yang sedari tadi belum menyentuh makanannya.
Ardan pun menatap heran wanita tersebut, mengapa sikapnya menjadi aneh sejak kembali dari membeli makanan ini?
"Eh, maaf Ibu. Harisa kurang enak badan. Harisa izin pulang, boleh?" Pinta Harisa dengan perasaan tak enak.
Ardan hanya menatapnya dengan pandangan menyelidik, ia tahu bahwa wanita yang sedang menjalani ta'aruf dengannya ini adalah sosok pemalu dan pendiam tapi tak seperti ini.
Ibu Wirda menghela nafas kemudian meminta Ardan untuk mengantar Harisa pulang tapi ditolak oleh Harisa yang lebih memilih mengendarai motor maticnya sendiri.
Ardan hanya memandangi kepergian Harisa dengan kening berkerut, dia kenapa? Pikirnya.
"Gimana menurutmu, Nak?"
"Apa?"
"Harisa, bagaimana menurutmu? Kapan kita mengkhitbahnya?"
"Secepatnya, Bu."
_________________________________________
_Bersambung_