
"Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah dengan sebab cinta karena Allah."
(HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)
_________________________________________
♡♡♡
Di suatu ruangan yang luas, terlihat seorang pria berperawakan tegas sedang serius menekuni tumpukan kertas yang ada di mejanya. Setiap lembar demi lembar memerlukan bubuhan tanda tangan darinya.
Inilah kesehariannya yang terbilang sangat monoton dan membosankan. Ketika di luar sana pria seusianya akan menyisihkan waktu disela kesibukan untuk dihabiskan dengan istri dan anak, lain halnya dengan dia. Pria yang terkenal akan ke-single-annya ini lebih memilih mengurung diri dalam ruangannya, ditemani tumbukan berkas dan seperangkat peralatan kantor.
Hal ini ia lakukan sekaligus untuk menghindari Mamanya. Sosok wanita kesayangannya itu selalu saja memberinya pertanyaan yang sungguh menggelikan, mengatur pertemuan dengan berbagai anak perempuan dari kenalannya dan berharap ia akan memilih salah satu diantara mereka.
Wanita-wanita yang dikenalkan Mamanya semuanya cantik, itu tak ia pungkiri. Lelaki mana yang tak suka memandangi wanita cantik, begitupun dia. Namun, ia hanya suka memandangi wanita-wanita cantik, tak sampai menimbulkan rasa ingin memiliki.
Dari pada menemui wanita kenalan mamanya yang sangat berisik dan selalu berusaha mencari perhatiannya, lebih baik ia habiskan di ruangannya ini. Damai.
Ia masih bergelut dengan tumpukan berkas yang sebenarnya tak terlalu dibutuhkan sekarang, ini ia lakukan hanya untuk menyibukkan diri dan merupakan senjata andalan jika sang mama melancarkan aksinya.
Sayangnya, ketenangannya mulai terganggu akibat deringan yang bersumber dari handphone canggihnya. Tanpa melihat nama siapa yang tertera di touchscreen nya, ia tahu pasti siapa itu. Nada dering yang berbeda, khas untuk memberitahukannya bahwa sang mamalah orang tersebut.
Ia menutup bollpointnya, melempar punggung kekarnya pada sandaran kursi nyaman di ruangannya ini. Kemudian ia melonggarkan dasi hitamnya sebelum menggeser icon hijau dari benda pipih yang berdering itu.
"Iya Ma." Ucapnya dengan nada serius khas seperti ketika ia sedang bekerja.
"Bang... Abang di mana sekarang? Abang ingatkan kata mama semalam?" Imbuh suara di seberang sana. Nada lembut yang hanya dimiliki sang Mama, wanita yang mendidiknya dengan kasih sayang tanpa pernah memarihinya sedikitpun.
Ia menghela nafas, si mama masih belum menyerah juga ternyata. Memang setelah makan malam kemarin mamanya memintanya menemui seseorang yang merupakan salah satu putri dari sahabat papanya. Ia telah menolak tetapi ucapan mamanya semalam nampaknya tak terbantahkan.
Ia sudah memberitahukan kepada mamanya bahwa dia sedang sibuk di kantor, tapi apalah daya... si mama berkuasa atas anaknya.
"Bang, Abang ngga pura-pura bisu kan?" Ucap mamanya geram atas diamnya sang putra.
"Eh, ngga Ma. Abang ngga pura-pura kok. Abang ingat kata-kata mama semalam, tapi maaf banget ya ma... kerjaan kantor numpuk banget ini. Lain kali aja ya?" Ia berusaha mengelabuhi Mamanya.
Terdengar helaan nafas dari seberang telepon hingga mamanya kembali bersuara, "sibuk apanya? Ardan bilang kerjaan kamu udah clear sedari tadi. Malahan kamu lagi ngerjain kerjaan buat besok kan? Jangan bohong Bang!"
Deg...
Ia ketahuan berbohong. Mukanya memerah, satu nama yang menjadi biang kerok di sini. Si Ardan ternyata mulai berani mengkhianati kepercayaannya. Nampaknya si biang kerok sekarang berpihak pada mamanya. Ia pastikan akan memarahi pria bernama Ardan setelah ini atau pemilik nama lengkap Armadan Yuzran, sahabat sekaligus sekretarisnya.
Kurang ajar si Ardan, sebelumnya selalu membelanya, berada dipihaknya dan bersekongkol dengannya untuk menangkis titah sang mama. Tapi sekarang, argghh... ingin rasanya ia menenggelamkan sekretarisnya itu dalam laut.
"Heh, Abang! Udah lah ngga usah ngeles lagi, cepat ke sini. Dan jangan coba-coba memarahi Ardan, dia sudah seperti anak sendiri untuk mama dan juga sekarang dia akan menjadi sekutu mama." Ucap wanita paruh baya diseberang telepon dan diakhiri tawa.
Ia menghela nafas, nampaknya ia terpaksa menyetujui perkataan mamanya ini.
"Oke-oke. Mama menang! Abang ke TKP sekarang."
Ada-ada saja CEO Okhtara Group ini, jika bersinggungan dengan anggota keluarganya makan sifat aslinya akan muncul. Usil
"Gitu dong, dari tadi mama tunggu kalimat itu. Ya sudah cepat ya, jangan biarkan perempuan nunggu lama-lama." Ucap Mamanya.
Setelah menjawab salam dari mamanya, pria 27 tahun pemilik nama lengkap Atthoriq Okhtara itu memasukkan ponsel pintarnya dalam saku celana kemudian ia bergerak meninggalkan singgasananya. Mengambil kasar jas miliknya yang tergeletak di sandaran sofa dengan wajah yang merengut, kemarahannya sedang berada di ubun-ubun. Satu nama yang menjadi sumbernya, Armadan Sialan.
Thoriq menutup ruangannya dan bergerak menuju ruangan sekretarisnya yang berada tepat di depan ruangannya. Ruangan tersebut memang tak ditutup hingga langkah besar Thoriq melaju tanpa halangan.
Ia melihat wajah tenang Ardan yang sedang merapikan sejumlah map di mejanya, bahkan kehadiran Thoriq pun tak terendus olehnya.
Brakk....
Toriq mengebrak meja tersebut. Ardan tak terkejut, ia hanya menghela nafas pelan dan balik memperhatikan wajah murka orang di depannya. Ia telah menyiapkan diri jika sahabatnya ini memarahinya karena telah berkata jujur kepada Mama Hasna ketika wanita paruh baya itu meneleponnya dan menanyakan Thoriq.
Ardan sebenarnya kasihan karena ibu dari pimpinannya itu selalu saja mencemaskan nasib asmara sang anak, hingga Ardan memilih beralih memihaki wanita itu dan balik menyerang pria di depannya.
Masih menelisik ekspresi marah Thoriq, Ardan pun tersenyum dan bersuara.
"Yes Bos!"
Thoriq tambah kesal melihat senyum menyebalkan Ardan. Apalagi panggilannya itu, namun untuk kali ini Thoriq tak sempat untuk mengoreksinya.
"Dasar penghianat loe Dan!" Tunjuk Thoriq tepat di depan wajah Ardan.
Ardan yang menyaksikan ekspresi marah Thoriq tertawa hingga terpingkal-pingkal. "Ekspresi loe lucu Bro! Loe ngga jago marah kayak 'pria kecil' alias adik loe itu. Sumpah, ngga cocok banget tau!" Ardan masih belum menghentikan tawanya.
"Gara-gara loe, gue harus ikutin rencana Mama. Kali ini entah wanita mana lagi yang ia sodorkan. Loe tahu kan gue ngga tertarik sama sekali! Ngga peduli juga gue!" Thoriq mengeluarkan uneg-uneg nya pada Ardan. Sebenarnya Thoriq jarang sekali marah, hingga jika dia marah maka akan terlihat lucu.
Ardan pun keluar dari kungkungan meja kerjanya, hingga tepat berada di posisi samping Thoriq dan menepuk pelan bahu sahabatnya.
Thoriq menghela nafas kasar, "Loe tahu benar apa penyebabnya!"
"Sampai kapan loe nungguin dia! Loe cari-cari pun sampai sekarang ngga ketemu juga kan! Mungkin saja dia sudah bahagia dengan keluarga kecilnya, bersama pria tampan dan anak-anak yang lucu!" Ardan mengopori Thoriq.
Ardan tau siapa penyebab Thoriq masih melajang hingga kini. Meski tak tahu siapa nama wanita itu, ia sudah menjadi pendengar tetap yang selalu setia menampung keluh kesah sahabat sekaligus bosnya itu, keluh kesah yang tak jauh dari perkara rindu.
Thoriq kesal dengan perkataan Ardan. Dadanya bergemuruh, sakit, marah, kecewa dan takut apa yang dikatakan Ardan benar adanya. Bagaimana jika wanitanya telah menemukan pria lain? Ditambah lagi kehadiran anak-anak yang lucu? Tidak! Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Batinnya.
Melihat wajah murung dari Thoriq, Ardan merasa sangat bersalah. "Maaf Bro, gue cuma bicara kemungkinan pahitnya aja. Gue juga berdo'a semoga kalian dipertemukan kembali, dengan posisi hati yang masih sama." Ucap Ardan.
Thoriq mengangguk dan memaklumi, ia beralih memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia kembali menatap ke arah Ardan yang kini terlihat bersiap untuk meninggalkan ruangannya.
"Loe harus temenin gue! Gara-gara loe gue harus ngikutin titah mama!" Pinta Thoriq.
"No! No! No! Sorry gue ngga bisa! Hari ini gue ada janji ke butik Ibu sekaligus mau ketemu calon Ummi Anak-anak." Tolak Ardan yang terdengar begitu menyebalkan.
"Sialan loe! Sok-sok an punya calon. Gue do'ain calonnya loe ngga jadi sama loe!" Ucap Thoriq dengan setengah bercanda.
Thoriq tahu jika Ardan baru saja mulai menjalani suatu hubungan yang dinamai "ta'aruf" dengan karyawan di butik ibunya. Dari ceritanya, wanita itu sangat muslimah. Tipe ukhty-ukhty banget. Pikir Thoriq.
Entah mengapa rasanya Thoriq juga ingin memiliki bidadari dunia yang seperti itu. Ah, apa-apaan pikirannya ini. Wanita yang meninggalkannya bahkan tak berkerudung kala itu, tapi mau bagaimana lagi, ia tetap cinta. Pasti jika wanitanya berkerudung akan berkali lipat lebih cantik.
"Huss, mulut loe Bro! Kayak iri aja." Ardan marah akibat do'a jelek dari Thoriq.
"Udah sana, cari calon loe sendiri! Temui dia, loe jangan ngiri ke gue." Ardan mengejek.
"Ngga ada calon-calonan. Gue juga ngga ngiri." Ketusnya.
Thoriq merengut dan berjalan mendahului Ardan meninggalkan kantor mereka dengan tujuan berbeda.
"Pak!"
"Pak Thoriq."
"Pak Ardan! Pak Thoriq!"
Sapaan demi sapaan selalu mereka terima jika melintasi kawasan karyawan ini. Bahkan karyawati memandangi keduanya dengan takjub. Dua pria mapan dan tampan serta masih single, pikir mereka.
Setelah memberi petuah pada resepsionis, Ardan berjalan menuju parkir khusus petinggi kantor mengikuti Thoriq. Mereka pun beriringan memacu kuda besi masing-masing di jalanan yang mulai terlihat ramai.
♡♡♡
Seorang wanita tengah menata letak manekin-manekin yang telah disematkan beragam style pakaian syari terbaru. Hari ini butik mereka kemasukan banyak stok barang hingga kesibukannya bertambah. Ia memandangi posisi-posisi pajangan tersebut, setelah merasa pas ia kembali menuju ruangannya.
Ketika iris coklatnya tanpa sengaja melihat arah jarum jam di dinding, di sana menunjukkan pukul 16.00. Ia beristigfar karena hampir melupakan sholat ashar. Sehingga ia meminta izin pada dua orang karyawan lainnya untuk mengerjakan sholat.
Beberapa saat setelah mengerjakan sholat ashar, si pemilik butik memintanya mengantarkan pesanan gaun syar'i untuk seorang pelanggan. Dengan mengendarai motor matic kesayangannya, ia pun membelah jalan menuju alamat tersebut.
Setelah mengantarakan pesanan tersebut, motor maticnya berhenti di salah satu restoran mewah. Ia akan membelikan beberapa menu, sebab Ibu Wirda mengatakan bahwa putranya akan mampir ke butik sehingga wanita itu memintanya membeli sesuatu yang dapat dimakan. Ia tahu putra pemilik butik itu belum sempat makan karena dari kantor ia akan langsung mendarat ke butik.
Ia menghela nafas, ia masih merasa ragu akan keputusannya terhadap pria yang merupakan putra dari wanita yang telah banyak membantunya hingga sekarang. Semoga saja keputusannya ini benar. Pikirnya.
Setelah menenteng berbagai menu makanan, wanita ini pun berjalan menuju parkiran. Saat hampir mencapai parkiran khusus motor, khimarnya tiba-tiba tersangkut pada besi pembatas di sekitar parkir. Ia kesusahan membebaskan khimar gelapnya yang tersangkut di bagian belakang itu.
Ketika ia mulai memejamkan matanya berniat ingin menarik paksa khimarnya meski akan berakhir robek, tiba-tiba saja sebuah tangan membantunya membebaskan khimar yang tersangkut itu. Ia terdiam menahan nafas, dalam kebisuan ia mematung karena posisinya yang terlalu dekat dengan pria baik ini.
Ia menatap lengan kekar tertutup kemeja navy yang masih berusaha melepaskan khimarnya, entah mengapa perasaan tak biasa menghampirinya. Membuat dadanya bergemuruh, kinerja jantungnya meningkat dan wajahnya yang tertutup cadar gelap itu pun memanas.
Ia lega khimarnya bisa selamat dan terlepas dari jeratan besi pagar. Ketika menoleh dan bermaksud menguncapkan terima kasih, sosok yang membantunya itu telah menjauh dari posisinya. Pria itu melangkah tegap meninggalkan parkir menuju restoran tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Deg....
Punggung kokoh yang dilihatnya itu mengingatkankan dirinya pada seseorang di masa lalu, seseorang yang namanya masih terpatri dihati dan enggan pergi. Sosok yang sangat ia rindukan namun sayangnya hubungan syakral mereka telah lama berakhir dan semua itu adalah keputusan sepihak darinya.
Jangan-jangan! Pria itu....
_________________________________________
Bersambung....
Hayooo siapa Pria itu???
Bagaimana menurut kalian?
Lanjut atau stop?