O

O
MASIH MENGENANG



“Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah Ta’ala mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridha, maka mereka akan meraih ridha Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka (benci atau marah), maka Allah pun akan murka.” 


(HR. Ibnu Majah no. 4031, hadits hasan)


_________________________________________


Aku menatap rumah yang kini seperti kapal pecah, ruangan yang semula dipenuhi banyak perabotan kini terlihat lengang. Barang-barang milik kami disita, mobil yang biasa Ayah gunakan juga ikut dibawa. Surat rumah pun hampir jatuh ketangan mereka, tapi berkat tabungan peninggalan Ibu yang tidak pernah aku gunakan mampu menutupi hutang Ayah pada mereka.


Aku sungguh tak menyangka dihadapkan dengan hal ini, terlebih masalah hari ini sedikit banyak telah diketahui oleh sosok yang baru kukenal. Kami terpaksa membolos karena aku meminta bantuannya lagi, kukira ia akan langsung pergi setelah aku sampai di rumahku tapi tidak, ia malah mengikutiku hingga menyaksikan masalah pelik keluargaku.


Ayah memang tak punya saudara lain, apalagi sejak orang tuanya meninggal maka keluarga jauh tak lagi berhubungan dengan kami. Sedangkan dari pihak Ibu pun sama, pernikahan yang tidak mendapat restu dari saudara Ibu membuat mereka membenci kami. Jadi, jangan harap mereka akan mengasihani keadaan kami sekarang.


Aku duduk di depan Thoriq yang sedari tadi terus memandangiku dengan pandangan prihatin. Aku tak suka ia melihatku begitu.


Thoriq membawakan dokter untuk Ayahku ketika beliau syok melihat orang-orang berdatangan menyita barang berharga kami. Ayah menyesal hingga tak berhenti menangis sesal, Thoriq yang sangat asing bagiku ini entah mengapa dapat membuatku sedikit tenang. Ia memberiku semangat hingga menemaniku sampai siang harinya. Kami benar-benar membolos dan hal itu membuat rasa bersalahku semakin besar padanya.


“Maaf sekali telah merepotkanmu hingga kamu harus menyaksikan kekacauan tadi.” Ucapku saat mengantarnya menuju mobil. Jam menunjukkan pukul 12 lewat dan ia pun memilih pamit.


“Never mind, kamu ngga usah sungkan minta bantuanku lagi setelah ini. Karena kita bukan orang asing lagi," ucapnya.


"Aku ulangi. Hai, kenalkan namaku Thoriq dan namamu Syafiqa. Kita berteman.” Tambahnya mengambil tanganku untuk menyalaminya.


Aku pun mengangguk dan tersenyum. Aku bersyukur bertemu dengannya hari ini. Terima kasih.


Aku memandangi mobilnya yang kian menjauh dari rumahku, menggenggam ponsel yang didalamnya telah tersimpan nomor Thoriq. Kami memang berbagi nomor ponsel karena katanya Thoriq akan menghubungiku jika nanti akan mengantarkan motorku. Aku saja hampir melupakan si hitam.


Keesokan harinya


Thoriq muncul di depan rumahku ketika jam baru menunjukkan pukul enam pagi, aku heran melihatnya telah berada di teras rumahku sepagi ini. Dengan seragam seperti kemarin yang ia gunakan dan ditangan kanannya juga terdapat parcel buah yang kuprediksikan akan diberikan untuk Ayahku.


Semalam dia memang mengirimiku pesan yang mengatakan bahwa besok motorku akan diantar, tapi tak ku sangka Thoriq sendiri yang membawanya.


Aku mempersilakan dia masuk dan menempati ruang tamu, aku pamit menuju dapur untuk menyelesaikan urusan bersama Bi Dina di sana.


Setelah makanan tertata rapi di meja makan, Bi Dina memintaku mengajak Thoriq untuk sarapan bersama. Dalam keheningan kami pun menikmati makanan di pagi hari ini dengan perasaan baru.


Setelah menyuapi Ayah, aku menyalami tangannya bermaksud pamit ke sekolah.  Tak elak Thoriq pun mengikuti apa yang aku lakukan dan kemudian memberikan buah tangan yang ia bawa pada Ayahku. Thoriq terlihat luwes berinteraksi dengan orang yang baru dikenalnya, ia sangat mudah mengambil perhatian Ayah hingga Ayah tak canggung menggodanya.


Aku sangat malu melihat tatapan Ayah padaku. Kami baru saja bertemu kemarin pagi, bagaimana bisa Ayah mengira Thoriq adalah kekasihku. Sedangkan Thoriq hanya menimpali godaan Ayah dengan senyumannya, senyuman yang sama seperti kemarin. Ya Allah, mengapa dengan seulas senyumnya itu bisa membuatku merasa hangat? Batinku.


Aku menuju motorku yang dibawa Thoriq tadi, menaikinya namun tidak kujalankan. Thoriq menghalanginya, ia berdiri di depan motor dengan tangan bersedekap dada. Aku menatapnya bingung seraya mencari di mana mobilnya. Kok ngga ada? Batinku.


Thoriq terkekeh melihat kebingunganku, kemudian dia pun berjalan mendekat ke arahku dan dengan lembut menggeser tubuhku hingga dia berhasil menempati posisiku. Apa mungin dia minta ganti rugi bensin yang sudah dia isi ya? Pikirku.


“Kemarin aku yang nebengin kami dan bantuin kamu bahkan udah dua kali ya. Sebenarnya sih aku ngga mau ngungkit ini. Tapi untuk hari ini aku mau gantian lagi, kamu yang nebengin aku ke sekolah. Gimana?” ucapnya sambil menaik turunkan alisnya.


Dengan kaku dan sedikit malu aku pun hanya mengangguk menerima tawarannya. Mengapa dia bisa bersikap biasa saja padaku yang baru dikenalinya, mengapa hanya aku yang merasa sangat sungkan? Aku pun menempati posisi di belakangnya.


Aku yang menggunakan rok selutut ini merasa risih jika duduk menyamping, Thoriq menyadari itu hingga dia memberikan jaketnya padaku seraya menatapku dari spion sebelah kiri.


“Pakai itu kalo kamu risih. Aku juga ngga mau jalanan bisa menikmati bentuk kaki kamu.” Ucapnya yang tanpa sadar merekahkan wajahku, malu sekali.


Jantungku berdegup saat ia memberikan senyuman lewat spion. Mengapa senyumannya menjadi tolak ukur frekuensi detak dijantungku ya? Aku bingung.


Aku menata letak jaketnya untuk menutupi lututku, nampaknya besok aku harus menggunakan rok yang lebih panjang lagi dari ini. Aku tidak enak disapa seperti itu. Terlebih lagi oleh seorang lelaki.


***


Pertemuan pertama hingga pertemuan-pertemuan berikutnya tanpa terasa mendekatkan kami, aku dan Thoriq telah sangat mengenal satu tahun terakhir ini. Kesehatan Ayah pun telah kembali pulih dan hal itu membuatku tambah bersyukur.


Thoriq sering berkunjung ke rumah meski hanya sekedar menemui Ayah dan main  catur berdua. Seperti hari ini, ia langsung meluncur ke rumahku ketika baru kembali dari Jakarta, kota asalnya.


Aku sudah mengetahui tentangnya, ia tinggal di Jakarta, namun sejak SMA dia pindah ke Bogor mengikuti sang Paman untuk belajar mengurus perusahaan. Thoriq adalah putra dari pemilik perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi, berstatus anak sulung pastilah membuatnya mau tidak mau akan menjadi penerus usaha keluarga.


Hubungan kami semakin baik hingga di kelas 3 SMA tepatnya mendekati UAN (Ujian Akhir Nasional) Thoriq menyatakan cintanya padaku. Perasaan nyamanku padanya dan aku pun juga meyukainya, tak mungkin membuatku menolaknya  begitu saja hingga kami pun berpacaran.


Papa yang mengetahui ini sangat mendukungnya, ia bahkan mengatakan bahwa ia lebih dulu menyukai Thoriq dibandingkan aku. Ada-ada saja.


Suka duka cinta anak sekolahan juga kami rasa. Kadang marahan tanpa sebab, lalu cemburu tak beralasan, hingga menjadi objek kekesalan saat tugas sekolah sulit dikerjakan. Dari semua itu tak pernah membuat kami mengatakan 'putus'. Kami berbaikan setelah badai menerjang, entah dia yang mengalah ataupun aku yang menekan ego lebih dulu.


Seminggu menjelang UAN kesehatan Ayah kembali menurun, ini lebih parah dari sebelumnya hingga membuat Ayah  mengatakan tak sanggup lagi bertahan hingga ingin bertemu Ibu secepatnya. Aku tak mau mendengar itu semua, tapi melihat tubuh Ayah yang kian kurus membuatku kasihan. Ayah lelah menahan sakitnya ini.


Tepat dua hari menjelang UAN, Ayah memintaku membawa Thoriq ke hadapannya. Aku melihat tatapan sayu Ayah yang mengucapkan permintaan terakhirnya, entah mengapa aku menduga ini adalah permintaan terakhir dari Ayah. 


Aku merasa berada diujung pisau saat Ayah mengatakan tak bisa meyusul Ibu dengan tenang jika tak ada yang menjagku, hingga Ayah meminta persetujuan Thoriq untuk mengambil hak atasku.


Ayah meminta Thoriq menikahiku hari ini meski cuma secara siri agar dia bisa tak mengkhawatirkanku lagi dan siap menemui Ibu.


Aku memandangi Thorq dengan cangung, aku tak berharap ia mengabulkan permintaan Ayah sebab sudah berada disampingku selama ini saja aku bersyukur. Kemudian, Thoriq menggenggam tanganku.


Sambil menatap wajah tua Ayah, dia membawa tanganku ke arah tangan Ayah yang diinfus.


“Om, seharusnya aku yang meminta, bukan mengabulkan pinta. Aku mencintai putrimu sejak pertama kali bertemu dan izinkan aku mencintainya lagi setelah ini tanpa henti. Untuk semua itu, sudikah Om menerimaku sebagai pendamping hidup Syafiqa? Bertanggungjawab atas dirinya dan berusaha selalu membahagiakannya tanpa jeda?” Ucapnya tegas.


Deg


Apa aku tak salah dengar? Tanpa basa-basi Thoriq menerima permintaan Ayahku dan mengucapkan kalimat lamaran? Hingga senyuman kembali terbit diwajah Ayah.


Ayah mengenggam erat tanganku seraya bertanya, “bagaimana, Nak?”


“Syafiqa juga mencintai Thoriq, Ayah. Meskipun tak seharusnya begini, Syafiqa tetap ingin bersamanya.” Jawabku dengan wajah menunduk, antara sedih dan senang sekaligus.


Pernikahan kami pun terjadi dengan berwalikan Ayahku sendiri meski kesehatannya tak beransur pulih. Tapi sayang, dari pihak Thoriq tidak ada keluarganya yang hadir kecuali Pak Udin dan satunya lagi aku tak tahu namanya siapa.


Semua yang serba dadakan membuat Thoriq tidak meminta izin terlebih dahulu pada keluarganya. Aku cemas, apakah mereka setuju jika mengetahui pernikahan siri kami ini? Apakah mereka sudi menerimaku? Aku ragu.


Dua hari setelah pernikahan, Ayah meninggalkanku bahkan meninggalkan semesta-Nya. Seperti dugaanku bahwa meminta Thoriq menikahiku adalah permohonan terakhirnya sebagai  seorang Ayah.


Aku meraung, merintih sedih tak terkira. Aku kehilangan lagi dan lagi. Thoriq mendekapku, berusaha menenangkanku dan membisikkan kalimat semangat untukku.


Ia mengatakan bahwa sekarang Thoriq adalah sandaran terkokoh untukku, genggaman tererat untukku dan bisa menjadi apapun yang aku perlu.


Aku kembali bersyukur, Allah Sang Maha Penyayang mengrimkan seseorang yang mau menyayangiku dalam keadaan apapun.


Beberapa bulan pasca menikah kami lalui dengan indahnya kebersamaan. Tanpa sepengetahuan Thoriq, aku mengajukan beasiswa dan semoga saja diterima. Aku tak ingin menyusahkan Thoriq apalagi dia belum juga mengenalkanku pada keluarganya.


Dia suamiku hingga perkataannya adalah hukum untukku, aku tak mungkin memaksanya membawaku kehadapan keluarganya jika bukan kemauan darinya sendiri. Punya hak apa aku? Aku hanya istri sirinya yang belum sah dimata negara.


Memasuki bulan ketiga, Thoriq dimintai oleh keluarganya untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Dia meminta pendapatku dan tak mungkin aku melarangnya pergi.


Aku sedih, itu pasti! Tapi sebagai seorang istri aku harus terus mendukungnya meski melepasnya pergi. Seorang putra sulung yang memiliki tanggungjawab atas nama besar keluarganya.


Aku kecewa namun tak mampu mencegahnya, tak mungkin aku menghalangi dan menghentikan suamiku untuk berbakti pada pemilik surganya itu. Aku pun merelakan Thoriq pergi mengabdi.


Hubungan jarak jauh kami pun dimulai. Awalnya memang menyakitkan, apalagi ketika mendengar suaranya di seberang sana, membuatku selalu ingin mendekapnya. Setiap hari kami lalui dengan bertukar kabar, hingga suatu hari aku memilih menghilang dari semua media yang biasa menghubungkan kami.


Aku terpaksa melakukan itu dan puncaknya ketika aku memutuskan untuk menuliskan sebuah surat untuknya, surat itu aku titipkan pada Panti berharap Thoriq akan menemukannya di sana ketika ia kembali nanti.


Bu Tanti bingung dan tak percaya dengan keputusanku ini. Lalu, aku jelaskan bahwa sebelum memantapkan keputusanku, aku telah memikirkannya.


Waktu itu, aku menerima beberapa kiriman email yang mengatakan bahwa putra sulung Okhtara Group akan bertunangan dengan wanita lain, putra dari rekan bisnis keluarganya.


Dibandingkan denganku, Thoriq berhak mendapatkan wanita yang lebih segalanya. Dengan kekecewaan yang mendalam aku memutuskan menulis selembar surat untuk suamiku yang sebentar lagi akan bergelar mantan.


Setelah menitipan suratku pada Bu Tanti, aku berpesan pada beliau bahwa ketika Thoriq kembali nanti jangan jelaskan apa-apa, cukup suratku saja yang mewakili semua jawabannya. Biarkan Thoriq yang menentukan dan bertindak. Aku siap ditalak, menjadi jandanya bahkan sebelum menerima buku nikah kami. 


Aku pamit pada Bu Tanti dan adik-adik Panti lainnya. Aku memilih berhijrah ke Jakarta bersama beasiswa S1 yang aku terima. Rumah peninggalan orang tuaku pun aku titipkan pada Bu Tanti untuk sekedar merawatnya.


Inilah aku, sang janda keluarga Okhtara. Syafiqa Haris Ashani namanya.


Beasiswa S1 ku membawaku dalam jurusan Pendidikan Agama Islam. Aku diterima di jurusan itu yang mau tidak mau membuatku mulai merubah cara berpakaianku yaitu dimulai dari menggunakan kerudung.


Hingga menjelang dalam proses penelitianku, aku memantapkan diri untuk bercadar. Pengetahuanku mengenai agama yang semakin meningkat membuatku menyesali diriku yang dulu.


Setelah lulus, aku mulai mencari pekerjaan. Ternyata sangat susah sekali hingga aku bertemu Bu Wirda pemilik Butik Pakaian Muslim. Ia menawariku bekerja di butiknya sampai menemukan pekerjaan yang aku inginkan. Dan aku setuju.


Sambil bekerja di butik, aku juga mengusulkan beasiswa S2 di kampusku yang lama karena di sana katanya ada program pasca sarjana, apa salahnya mencoba. Dan Alhamdulillah aku diterima.


Beberapa bulan setelah nyaman bekerja di butik, aku pun dikenalkan dengan putra Bu Wirda yang namanya Armadan. Pria baik hati dan terlihat sholeh. Ia begitu menyayangi Ibunya, terlihat dari caranya memperlakuakn atasanku itu. Ia juga ramah kepada kami semua, aku suka sifatnya karena mengingatkanku pada seseorang dimasa lalu.


Setelah mengenal Ardan hingga beberapa waktu berselang, ia menawariku berta’aruf. Aku bingung untuk menerima atau tidak sebab rinduku belum sepenuhnya usai.


Aku berpikir dan terbayang bagaimana kebaikan Bu Wirda padaku selama ini, memandang jasa Bu Wirda yang tak terbalaskan ini, aku pun menerima ta’aruf dari putranya.


Flashback - Syafiqa POV Off


Drrt... drrt...


Setelah menutup laptop, Syafiqa atau yang lebih dikenal dengan panggilan "Harisa" menuju ranjangnya dan menjawab panggilan masuk dari ponselnya. Ternyata Ustadz Dzaki lah yang memanggil.


.........................


"Wa'alaikumussalam."


.


........................


"Iya, Tadz. Baik, besok Risa yang gantiin."


..........................


"Ngga apa-apa, Risa bisa izin sama Bu Wirda."


...........................


"Sama-sama. Wa'alaikumsalam."


Harisa menutup ponselnya dan mengetik pesan yang akan ia kirim pada Ibu Wirda. Besok ia harus izin untuk menggantikan Ustadz Dzaki mengajar anak didik mereka di MSBA yang mereka bangun bersama karena Ustadz Dzaki ada keperluan penting.


Setelah pesannya terkirim Syafiqa pun menscroll pesan-pesan lama dalam ponselnya, ia membuka dan membaca sebuah pesan dari Bu Tanti yang mengatakan bahwa Thoriq pernah mencariya ke Bogor beberapa kali hingga surat dari Syafiqa telah sampai padanya melalui perantara Pak Burhan, penjaga Panti. Katanya, Bu Tanti tidak sanggup menemui Thoriq langsung karena takut tidak bisa menjaga pesan dari Syafiqa.


Syafiqa menghela nafas sembari bergumam pelan, "aku merindukanmu, mantan imamku! Semoga aku bisa bahagia sebagaimana kamu bahagia sekarang, pastinya tanpaku."


_________________________________________


Bersambung