
"Ya Allah... Jika dia bukanlah untukku, kuatkan aku untuk mengabulkan keinginan dalam suratnya itu. Jika dia tercipta untukku, dekatkanlah kami kembali tanpa menyakiti. Sungguh, aku meminta cintanya tanpa mengurangi cintaku kepada-Mu."
-Thoriq-
_________________________________________
♡♡♡
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah rasa capek, rasa sakit (yang terus menerus), kekhawatiran, rasa sedih, gangguan, kesusahan yang menimpa seorang muslim sampai duri yang menusuknya kecuali Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan musibah tersebut.”
(HR. Bukhari no. 5641, Muslim no. 1792)
***
“Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo’a :
“Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur'an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku.”
Maka akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan.”
Tiba-tiba ada yang bertanya: “Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do’a ini (kepada orang lain)”?
Maka Rasulullah menjawab: “Ya, selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yang lain).”
(HR. Ahmad no.3712 dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani)
_________________________________________
♡♡♡
Langkah kaki yang tertutup sepatu pantofel hitam bergema memasuki bangunan megah dengan jumlah 25 lantai. Sedari ia meninggalkan kuda besinya, sapaan-sapaan hormat dan ramah menghampirinya. Siapapun yang berpapasan dengannya, entah muda atau dewasa pasti akan menunduk sebagai bukti bahwa ia disegani.
Kaum wanita yang melihat paras tegasnya, tak dapat menolak pesona pria berusia 27 tahun ini. Pria jangkung, berkulit kuning langsat, rahang tegas, bahu kokoh dan punggung yang dinilai peluk-able. Kharismanya mampu menyihir pandangan wanita agar tertarik ke arahnya.
Namun sayang, tak sedikit pun ia tertarik untuk sekedar membalas senyum kagum pada manusia bergenre wanita itu. Ia hanya menyapa datar tanpa niat berbangga hati.
Bukannya ia sombong dan irit senyum, pria tinggi berahang tegas yang dikenal sebagai CEO atau Direktur Utama di perusahaan yang bergerak dibidang Konstruksi ini hanya menjaga wibawanya sebagai pemimpin di perusahaan peninggalan sang Papa.
Terkadang ia sering mengeluh karena adiknya yang seharusnya memegang pucuk kepemimpinan lebih memilih profesi lain yaitu sebagai tenaga pendidik, Dosen. Sehingga menyerahkan posisi CEO kepadanya.
Ia memasuki ruangannya, mendudukkan diri pada kursi yang seharusnya milik adiknya. Jujur saja, putra sulung Farhan Oktar Aksa ini lebih memilih berada diposisi kedua saja di perusahaan ini. Tapi, akibat kebencian adiknya terhadap sang Papa membuat adiknya itu menolak untuk mengurusi perusahaan ini bahkan lebih memilih tinggal jauh dari keluarga.
Ia menghela nafas, pusing memikirkan semuanya. Terkadang ia lelah bersikap tegas dan berwibawa seperti ini, ia seperti menjadi orang lain saja.
Awalnya, ia bersikap seperti biasa ketika di kantor, namun beberapa kali keramahannya dibalas perilaku tidak menyenangkan oleh karyawannya. Hingga Omnya menyarankan agar ia membatasi diri dari karyawan, jangan terlalu dekat dan bersikap seperti seharusnya. Agar ia ditakuti dan disegani, itulah petuah Omnya yang ia ikuti hingga kini, menjaga wibawa dan kharismanya di mata karyawan.
Jika berada di luar kantor atau berada di tengah keluarganya, pria tampan ini dikenal sebagai sosok hangat, humoris, ramah dan penyayang. Hanya di kantor lah ia berlagak dingin dan tak tersentuh.
Diusianya yang hampir menginjak 28 tahun, belum sekali pun terdengar kabar ia dekat atau menjalani hubungan dengan lawan jenis. Banyak yang heran dengan sikapnya itu, tak terkecuali sang Mama.
Tidak, dia bukan penganut aliran menyimpang seperti yang kalian pikirkan. Ia hanya belum menemukan sosok yang memenuhi hatinya. Ah, bukannya 'belum' tapi lebih tepatnya ia tak tertarik dengan wanita manapun sebab hatinya telah dibawa pergi oleh seorang wanita yang sangat ia cintai. Wanita yang menjadi satu-satunya. Bagaimana untuk jatuh cinta lagi? Hati saja tak ia miliki, telah dicuri oleh wanitanya dan dibawa pergi hingga kini tak kembali.
Itulah sebabnya ia belum pernah membawa dan memperkenalkan seorang wanita kepada keluarganya. Ia masih yakin dalam mencari dan menemukan wanita pencuri hati, sang pemilik separuh jiwanya itu.
Wanita yang membahagiakannya meski hanya sebentar, wanita yang beberapa tahun yang lalu memberinya selembar surat tak terduga. Surat yang menjadi pemutus hubungan mereka.
Mungkin sekarang wanita itu berpikir bahwa mereka tak memiliki hubungan lagi, tapi tidak! Dia belum menjatuhkan putusan atas surat itu. Sampai kapanpun ia tidak akan mengabulkan isi surat tersebut.
Syafiqa namanya, wanita yang pergi membawa hatinya dan meninggalkan selembar surat yang menjelaskan bahwa Syafiqa ingin mengakhiri pernikahan mereka, Syafiqa meminta cerai namun sampai sekarang tak pernah ia setujui.
Syafiqa Haris Ashani nama lengkapnya, wanita cantik yang sekarang berusia 27 tahun. Seorang yang awalnya hanya sebatas teman dibangku sekolah hingga dipenghujung putih abu-abu takdir menyatukan mereka dalam sebuah pernikahan. Pernikahan yang sayangnya hanya sah dimata agama, pernikahan yang dilakukan dalam keadaan mendesak namun dengan niat ibadah dan keikhlasan jiwa.
Syafiqa, wanita yang ia tinggalkan demi memenuhi permintaan orang tuanya yaitu mengejar masa depan lebih mapan dengan diawali menuntut ilmu di luar negeri.
Awalnya hubungan jarak jauh mereka masih indah-indah saja, hingga wanitanya hilang kontak dan takbisa di hubungi lagi. Ia kalang kabut hingga bertekat menyelesaikan kuliahnya lebih cepat dari yang seharuanya. Hanya untuk menemui wanitanya dan meresmikan hubungan mereka serta membawa wanitanya ke tengah keluarganya. Hal yang seharusnya sedari awal ia lakukan.
Tapi sayang, ketika ia kembali. Syafiqa menghilang entah kemana, terakhir wanitanya itu menitipkan surat pada Panti Asuhan yang merupakan yayasan milik keluarga Syafiqa. Di sanalah ia mendapati selembar surat yang dititipkan pada Ibuk Tanti, pengurus Panti. Wanita paruh baya yang menjadi saksi kisah indah mereka hingga kisah terpahit bagi keduanya.
Syafiqa pergi tanpa alasan, meninggalkannya dengan torehan luka, kecewa, sedih dan penyesalan. Andai saja ia memberanikan diri membawa dan mengenalkan Syafiqa pada keluarganya. Maka hal ini takkan terjadi. Andai saja ia bisa membantah keinginan orang tuanya untuk fokus pada pendidikan dan melarangnya terlibat urusan asmara yang kadang menghancurkan, maka Syafiqa tak pergi darinya. Ia menyesal, sungguh.
"Syafiqa... istriku. Jangan pernah kau kira hubungan kita telah berakhir, aku tak pernah menalakmu dan menceraikanmu. Syafiqa... sayangku. Aku akan menemukanmu, tak peduli di mana pun kamu... sampai kapan pun aku hanya menginginkanmu. Wahai kekasihku, tunggu aku!" Lirih batinnya tak terbendung lagi.
Ia menatap potret seorang wanita yang selalu terselip dalam dompetnya, wanita berparas cantik dengan rambut hitam lurus sepinggang ditambah lagi lesung pipi yang manis. Iris coklat dalam potret iti membuat kesedihan menghampirinya, ia rindu.
Dialah Atthoriq Okhtara, pria dengan sejuta pesona namun memiliki kerapuhan jiwa. Bertekad akan menemukan istrinya yang kini entah di mana. Istri yang sangat ia rindukan.
"Syafiqa! Tunggu aku dan tagihlah kasihku!" - Thoriq
"Ini kisahku. Mengenai hatiku setelah kau pergi!"
-My Heart After You've Gone-