
Ya Allah... masih pantaskah rindu ini ku bawa. Ku timang dan ku dekap di setiap helaan nafasku. Masih halalkah rasaku ini, rindu pada pria pemilik rinduku. Maafkan aku yang terkadang merinduinya hingga tanpa sadar mengabaikan kerinduan-Mu padaku, hamba-Mu."
-
Syafiqa-
________________________________________
Di kamarnya yang bernuansa putih, seorang wanita cantik tengah melanjutkan ketikan untuk tesisnya. Meski sedikit terlambat, ia akan selalu menyicil setidaknya satu lembar per hari. Menyelsesaikan Magister dengan jurusan Pendidikan Agama Islam ternyata tidak sesulit awal-awal ia mengambil keputusan ini. Terlebih lagi ketika ia mulai berhijrah dari masa lalunya.
Sesekali ia menghela nafas, masih tak percaya dengan jalan hidupnya ini. Apakah benar apa yang ia lakukan? Apakah keputusannya tidak salah? Tapi mengapa ia masih meragu? Terlebih lagi ia tak bisa melupakan seseorang yang kini masih mengisi hatinya.
Seketika jari-jari tangannya yang bergerilya di atas keyboard itu terhenti, sekelebat bayangan masa lalu menghampirinya, menghantarkan kehangatan namun juga menikamnya dengan perasaan bernama rindu dan penyesalan.
Fokusnya hilang, seperti angin tenang yang berhembus membelai wajahnya seketika itu pula ia dibawa ke masa-masa yang lalu. Masa seorang gadis bernama Syafiqa merasakan keterpurukan, kesepian hingga kebahagiaan lalu berakhir menyakitkan.
Flashback – Syafiqa POV On
Aku merupakan anak tunggal dari kedua orang tuaku dan kini hanya tinggal bersama seorang Ayah yang penyayang, pekerja keras dan pemilik punggung terkokoh.
Tapi itu dulu, ketika Ibu masih bersama kami. Hingga dua tahun yang lalu aku dan Ayah kehilangan sosok malaikat dihidup kami. Aku menjadi lemah dan selalu kalah bahkan pada diriku sendiri.
Ibu adalah semangatku dan ayah adalah kekuatanku. Jika keduanya aku miliki, aku merasa dunia dan seisinya saja mampu aku hadapi. Tapi, langkahku sekarang pincang. Memiliki kekuatan tanpa ada semangat untuk menggunakan semua itu percuma. Yang dapat kugenggam jadi terlepas dan yang kukejar tak kudapatkan.
Begitupun dengan Ayah, ia yang sangat menyayangiku dan juga pekerja keras kini berbalik arah. Kehilangan wanita paling dicinta sekaligus pendamping hidup yang menjadi penyejuk jiwanya membuat ayah kehilangan arah dan memilih menjalani harinya jauh dariku. Ayah berubah.
Ayah lebih sering menghabiskan waktunya di luar entah untuk urusan apa-apa saja, ia jarang pulang dan bahkan semakin dingin padaku. Usahanya yang dulu berkembang kini mulai menguncup. Aku kehilangn Ibu beserta kasih sayang dari Ayah.
Aku juga terluka ayah, mengapa kita tak saling menguatkan saja? Batinku meronta.
Aku kesepian, tak tahu tempat bersandar, merebah lelah dan mengadu rasa. Saat sepi kian menyelimutiku, Bu Tanti hadir dengan tangan terbuka dan menyiapkan ruang di pelukannya untukku. Berusaha mengusir sedih dan kesepianku hingga menarikku melihat sisi lain dari hidupku.
Keluarga kami memiliki sebuah yayasan sosial, Panti Asuhan. Panti dibangun oleh kakekku, hingga setelah kepergiannya panti diambil alih oleh orang tuaku. Di sanalah Bu Tanti yang mengalami trauma setelah dicerai hidup oleh suaminya itu mengabdi.
Bu Tanti takut mengenal dan mencoba membangun biduk rumah tangga untuk yang kedua kalinya. Saat mengetahui Panti Asuhan kami membutuhkan tambahan pengurus, ia datang dengan senang hati dan meminta mengabdi. Ibu Tantilah yang menjadi temanku bertahan, bertahan dalam menanggung rasa sepi.
Enam bulan berlalu, ketika aku berada di kelas 2 SMA, Ayah lebih sering sakit-sakitan. Beliau bahkan sering bolak-balik rumah sakit dan sekarang aku meminta rawat jalan saja. Sebab, sangat susah jika harus membagi waktu sekolahku dengan mengurus Ayah di rumah sakit lalu kembali ke rumah lagi. Jadi, jika di rumah maka ada yang bisa membantuku.
Sakitnya Ayah membuatku sedih, bukan karena harta kami yang mulai terkuras untuk pengobatannya, tapi aku sedih baru sekarang mengetahui penyebab penyakit Ayah. Ternyata selama ini Ayah sering mengonsumsi minuman keras dan juga merupakan pecandu. Ya Allah, berat nian ujian dari-Mu. Sanggupkah aku menerimanya? Sanggupkah aku melalui semua ini? Aku membatin.
Aku sungguh kecewa pada apa yang Ayah lakukan, aku marah dan tak terima. Tapi, rasa sayang, kepedulian dan cintaku untuknya lebih besar lagi. Saat ayah menangis sesal di depan wajahku, aku pun tak dapat menahan kepiluan ini lebih lama. "Ayah, aku akan selalu bersamamu disaat apapun itu." Ucapku.
Aku pun menjaga dan merawat Ayah dengan keyakinan penuh. Seperti Asmaul Husna yang pernah aku baca ketika berada di Panti, Ayah pasti akan sembuh sebab tuhanku, Allah Maha Menyembuhkan, Allah Maha Menghidupkan yaitu memberi daya kehidupan untuk sesuatu yang dikehendaki-Nya hidup. Allah Maha Pengasih yang Tak Pilih Kasih dan Allah Maha Penyayang yang Tak Pilih Sayang.
Keseharianku kulalui dengan sekolah dan menjaga Ayah, aku juga dibantu oleh Asisten Rumah Tangga kami dan terkadang juga Bu Tanti. Tak jarang adik-adik panti ikut mendo’akan kesembuhan ayah. Memohon Pada Al Samii' Yang Maha Mendengar.
Tanpa sadar dari merekalah aku belajar lebih mengenal Islam, agamaku. Aku yang dulunya sering meninggalkan sholat kini beransur berubah, aku malu ketika mereka yang masih kecil-kecil saja lebih mengenal Allah daripada aku yang sudah hidup disemesta-Nya belasan tahun.
Aku ingin berubah, meski pun berjalan dengan sangat pelan. Melihat kesholehan anak panti membuatku perlahan jatuh cinta pada agamaku sendiri yang salah satu pintu Surga-Nya dapat dimasuki dengan berbakti kepada orang tua. Jadi, selain do’a yang itu-itu saja yang selalu aku panjatkan untuk kedua orang tuaku maka mengurus Ayah adalah langkah besarku selanjutnya.
Surga memiliki beberapa pintu, dan salah satunya adalah pintu birrul walidain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian”
(HR. Tirmidzi, ia berkata: “hadits ini shahih”, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.914)
Setelah menyuapi Ayah sarapan, aku menyerahkan penjagaan Ayah pada Bi Dina. Wanita yang kesenjaannya kian merekah, ia telah mengabdi di keluarga kami sejak Ibu masih remaja. Sampai setelah Ibu menikah dengan Ayah pun ia ikut bersamanya.
Aku mengecup pipi ayah lalu pamit menuju motorku. Dengan tak semangat aku membelah jalan bersama si hitam, motor maticku yang dibelikan Ayah saat aku mendapatkan peringkat satu di kelas 2 SMP dulu.
Mengkuti arus jalanan pagi ini, pikiranku selalu mengarah pada kesehatan Ayah. Bagaimana jika keadaannya semakin buruk saat aku tak berada di sampingnya? Batinku.
Biaya pengobatan Ayah yang tidak sedikitlah penyebabnya juga kemaslahatan Panti juga menjadi prioritasnya.
Belum sampai setengah perjalanan menuju sekolah, tiba-tiba motor yang aku kendarai mogok dan mesinnya mati total. Aku menggesernya ke pinggir jalan, mencoba menstarternya ulang hingga berkali-kali tapi nihil. Setelah mengecek apa yang salah aku baru menyadari bahwa sudah dua hari aku tidak mengisi ulang bahan bakarnya.
Aku menghela nafas berat, di sekitarku tidak tampak ada yang berjualan bensin hingga aku memilih mendorong saja motor ini dengan harapan akan menemukan bensin.
Beberapa menit aku mendorong motorku, keadaan jalanan yang memang ramai ini entah mengapa terasa menyakitkan. Apakah tidak ada orang baik yang berinisiatif membantuku meski sekedar melihat keadaanku sekilas ketika mereka melintas? Apakah pagi ini orang baik belum bangun? Pikirku.
Aku memilih istirahat sebentar karena kakiku yang dibalut rok abu-abu selutut ini terasa kebas.
Saat bermenung dengan pikiran yang kusut, tiba-tiba saja sebuah mobil silver berhenti di samping motorku. Aku hanya diam melihat seorang pria paruh baya turun dari kemudinya dan menghampiriku. Beliau menanyakan alasanku berada di pinggir jalan dengan seragam sekolahku ini hingga dengan jujur kutanggapi semuanya.
Lalu, beliau kembali ke mobilnya sebentar dan terdengar suara percakapan singkat yang hanya sayup-sayup menghampiri inderaku. Tak lama kemudian, beliau kembali kepadaku dan manawari bantuan untuk mengantarkanku ke sekolah tapi segera aku tolak dengan sopan.
Bagaimana bisa aku mengikuti orang yang takku kenal? Terlebih lagi meninggalkan motorku di sini? Hanya motor ini saja yang ku punya selain tabungan peninggalan Ibu yang tak pernah kugunakan.
Saat aku terus saja menolak tawaran pria paruh baya di depanku, seseorang yang tadinya hanya berada di dalam mobil itu pun ikut keluar, mungkin bosan melihatku yang terus menolak ajakan orang berseragam navy ini.
Ia menghampiriku dan tersenyum lembut, senyum yang begitu menyejukkan. Tanpa sadar aku memperhatikannya, seragam sekolah yang sama sepertiku membalut indah tubuh tingginya, tatanan rambut yang rapi khas anak sesusianya serta tatapannya bersahabat.
Ia mendekatiku seraya berkata, “Kamu ikut ke mobil denganku, aku yang antar! Kita satu sekolahan dan motor kamu biar dibawa Pak Udin. Dia supirku, jadi jangan khawatir kalau akan membawa pergi motor kesayanganmu ini.” Ucapnya ramah seolah menjawab kecemasanku.
Akupun mengangguk, menerima tawarannya setelah seseorang yang ia panggil Pak Udin itu mengambil alih motorku.
Aku berterima kasih pada Pak Udin dan mengikuti laki-laki berseragam SMA memasuki mobilnya.
Kebisuan menemani perjalanan kami, aku hanya diam dan duduk kaku di sampingnya. Untuk memulai pembicaraan pun aku tak berani meski sekedar untuk menanyai namanya.
Beberapa saat kemudian, mobil yang membawaku memasuki gerbang sekolah dan mulai menuju area parkir. Setelah memarkirkan mobilnya, laki-laki baik ini membukakan pintu untukku dan hal itu membuatku bertambah tidak enak saja. Aku juga malu menjadi pusat perhatian siswa lainnya.
“Terima kasih atas bantuannya pagi ini. Untung saja ada kamu!" Ucapku sedikit menunduk.
Ia menatapku tulus dan tersenyum lembut, senyuman yang entah mengapa mampu menular padaku. Aku juga ikut tersenyum, terbuai oleh lengkungan sabit di wajahnya.
Beberapa saat kemudian, ia menyamarkan senyumannya lalu berkata, “Terimakasih kembali. Perkenalkan, namaku Thoriq. Kamu bisa panggil apa aja kok, atau semaumu deh!”
Aku tertawa mendengar perkataannya hingga ia kembali bersuara, “kamu ada keturunan chinese gitu ya?”
Tawaku terhenti, wajahku memerah melihat dia yang memandangiku dengan intens. Memang, ketika tersenyum mataku akan menyipit tapi apakah dia harus mengatakannya sedekat ini? Batinku.
Aku berdehem dan menggeleng singkat. Ketika hendak menyambut uluran tangannya, ponselku berdering cukup keras dan mampu membuatku mengabaikan tangan kokohnya itu.
Aku menjawab panggilan ponselku setelah meminta izin darinya. Ketika alunan suara mengalun dari seberang sana, hatiku terasa perih seperih perkataan orang yang tak kukenal dari seberang. Mengetahui apa yang terjadi, membuat mataku mengembun dan genggamanku pada ponselku pun terlepas. Ponselku jatuh beriringan dengan air mataku juga.
Thoriq memandangiku bingung, kemudian memungut ponselku. “Kamu kenapa? Kok nangis?” tanyanya.
Telingaku terasa tertutup hingga maksud dari pertanyaannya pun tak aku pahami. Aku terus saja terisak hingga Thoriq semakin mendekat ke arahku dan menyeka air mataku yang melelah.
“Sudah, jangan nagis lagi. kamu ada masalah apa sih? Ceritain ke aku mana tahu aku bisa bantu.” Ucapnya dengan tangan yang masih berada di wajahku.
Mataku yang memerah ini pun menatap kearahnya, dengan menelan rasa malu aku menurunkan tangannya yang telah berjasa atas air mataku pagi ini, aku menggenggamnya seraya memohon. “Aku butuh bantuanmu lagi, tolong antarkan aku kembali ke rumah sekarang! Boleh?”
Tanpa bertanya lebih lanjut, ia membalas genggaman tanganku seraya menggangguk, “ayo! Aku antarkan kemana pun kamu mau!” ucapnya sambil menuntunku kembali ke dalam mobilnya.
_________________________________________
Bersambung..