NEO

NEO
Neo Can Learn - II



Bagi Neo, tiada hal lain yang lebih mengejutkan setelah ia melewati berbagai kejadian tidak masuk akal ini. Seperti diombang-ambing, pikirannya dipermainkan. Tidak layak pula semua ini disebut sebagai halusinasi, sudah terlalu banyak rentetan peristiwa dialami si kecil. Gadis itu hanya mengikuti arus sungai tanpa penolakan meski bebatuan di depan mata. Memang awalnya ia bertanya-tanya mengapa dirinya bisa terjebak dalam situasi seperti ini. Namun itu tidak berlaku lagi. Ia tahu betapa rumitnya perjalanan hidup yang harus dia tempuh. Ia tahu berbagai kejutan telah menantinya sejak pertama ia bertemu para peneliti dari dunia yang tentu berbeda dari dunia asalnya.


Wajahnya yang selalu dalam keadaan tenang bagai boneka yang mimiknya selalu sama. Itulah yang selama ini Neo berusaha lakukan, mempertahankan ketenangannya. Ia tidak ingin menyebabkan kepanikan tidak menentu, dan usahanya bisa dibilang berhasil. Meski ia telah mendengar penjelasan Morga tentang betapa dibencinya bangsa manusia di dimensi yang kini ia tempati--yang mana mungkin dapat membahayakan dirinya--Neo tetap tenang.


Sekarang adalah giliran Tagt untuk mengajarinya. Neo serta 2 lelaki yang bersamanya turut masuk kembali. Saat berada di dalam tempat persembunyian, Morga langsung menuju ke ruangan lain dan mengambil sarapan yang tertunda. Devan mengikutinya dari belakang, sedangkan Neo menyiapkan mentalnya sebelum menerima "pelajaran" dari Tagt. Entah fakta apa lagi yang menunggu untuk mendapatkan reaksi membelalak dari matanya.


"Oh, sudah pergantian jam, ya? Sepertinya ratu sedang buru-buru," ujar Abe sambil cengengesan. pemuda yang perawakannya mirip bocah itu sedang menikmati camilan sebelum makan siangnya sambil berleha di sebuah kursi tangan.


"Ini, kau mau mencicip Brötchen-ku?" Abe menyodorkan camilan berupa roti yang dipotong kecil. Neo bergeming. Memang belum ada satupun yang masuk ke perutnya selain air hangat sejak pagi tadi. "Terimakasih," ucapnya seraya mengambil sepotong roti dari tangan Abe. Abe tersenyum, menepuk kursi lain yang ada di sebelahnya sebagai isyarat menyuruh si gadis untuk duduk di sampingnya.


Baru beberapa detik setelah Neo duduk, Tagt keluar dari ruangan dimana Morga dan Devan berada. Dia membawa sebuah tongkat pendek berhias tanaman rambat. "Mungkin ini terlalu cepat untukmu," lanjutnya, "tapi jika kau bisa menggunakan kubus, aku yakin kau pasti bisa menggunakan tongkat."


Raut wajahnya nampak sangat serius, namun tetap terkesan lembut. Jas putih yang ia kenakan menambah kharisma yang bisa dibilang sudah cukup besar. Tapi anak seumuran Neo masih belum mengerti hal-hal semacam romantisme dan lainnya. Kepalanya tidak memiliki ruang untuk itu. Neo teringat akan pertanyaannya yang belum terjawab. Ia berencana menanyakannya pada Tagt jika sempat.


Tagt pun melangkah keluar. Lagi-lagi ia harus berurusan dengan suasana cuaca yang tidak nyambung. Tanpa banyak basa-basi, Neo langsung memakan roti dari Abe dalam satu lahapan lalu mengikuti Tagt. "Semangat, Neo!" Abe berbisik namun hanya mendapat pemandangan punggung Neo sebagai jawaban.


"Neo, ini kubawakan sarapanmu..." Devan keluar dari ruang sebelah dengan 2 piring berisi kukusan makanan. Sayangnya, gadis yang ia tuju sudah tidak lagi berada di ruangan itu. "Dia bersama Tagt," Abe membuang jempolnya, menunjukkan bahwa Neo sudah di luar. Devan menghela napas.


"Huff... Ini makan siangmu, Abe," ujar Devan seraya mendekati Abe yang masih bersantai di kursi tangannya. Ia memberikan piring yang tadinya hendak diberikan pada Neo.


 


***


Tagt membawa Neo jauh lebih dalam ke hutan. Di siang bolong begini, hutan yang gelap tanpa cahaya terlihat menyeramkan. Tiada pula hewan di sekitar area mereka berada. Yang ada hanya lapisan pelindung berbentuk setengah lingkaran transparan dilengkapi lintasan sirkuit biru muda. Sudah pasti hampir seluruh bagian dari hutan ini terlindungi. Bukankah itu berarti jangkauan wilayah tempat persembunyian mereka sangat luas?


"Ini tameng tempat berlindung kita. Makhluk apapun yang bisa melihat tidak akan bisa melihat apa yang ada di dalam tameng ini. Untuk saat ini, kita aman," jelas Tagt ketika menyadari mata Neo tak lepas dari sisi tameng. Mereka berada begitu dekat dengan bagian tak terlindung. Sedikit saja mereka salah melangkah, makhluk di luar sana pasti akan menyadari keberadaan mereka.


"Baiklah Neo! Satu hal yang harus kamu tahu, rakyat dimensi X terbiasa menggunakan barang-barang efisien untuk memudahkan segala aktivitas mereka. Mereka tidak bisa lepas dari ilmu dan sihir," Tagt melempar tongkatnya ke udara. "Dan ini, salah satu sihir dasar yang kami pelajari."


Whoosh!


Tongkat yang dilempar pria itu kembali jatuh menancap tanah. Tapi kemudian tongkat itu meleleh hingga tersisa genangan air. Bagai trik sulap yang dilakukan seorang profesional, sangat tak bercelah. Neo manggut-manggut, diam-diam ia terkesima pada perubahan tongkat tersebut. Bagaimana bisa? Selama di Sekolah Dasar, ia hanya diajari bahwa kayu tidak bisa mencair. Kakaknya pun tidak pernah bilang kalau sebatang kayu bisa berubah menjadi air jika dilempar ke udara. Tidak, Neo tidak sebodoh itu. Tentu ia tahu kalau dimensi ini amat berbeda dengan dunianya. Tapi menyaksikan sihir asli secara langsung benar-benar mendebarkan!


"Ras-ku adalah makhluk air. Kau pasti bisa langsung tahu ketika melihat sirip kedua tempat telinga berada," Tagt tersenyum lembut sambil menyisir rambutnya ke belakang dengan tangannya. "Lihat, aku dapat membuat selaput di sela-sela jariku," ujarnya sedikit terkekeh. Ia menunjukkan tangannya yang perlahan tapi pasti menumbuhkan selaput di sela-sela jarinya.


"Aku dapat merubah kayu dan pasir menjadi air. Ini merupakan salah satu cara agar kami dapat bertahan hidup, karena... yah, karena aku hewan air," lanjutnya, "jaga-jaga jika suatu saat kami terdampar di wilayah miskin air."


"Apa semua ras suku Cleo dapat menciptakan air?" tanya Neo penasaran. Tagt mengangguk. "Morga yang cerita, ya? Haha, dia suka sekali sejarah," Tagt menempelkan telapak tangannya pada permukaan air di atas tanah, kemudian air berhasil digenggamnya dan perlahan kembali ke bentuk tongkat. "Kami tidak semurni suku Raath. Alam mungkin saja membenci kami. Tidak ada salahnya untuk menyiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk, bukan? Ratu bisa saja membuang kami."


Neo menyimak, dahinya mengerut namun air mukanya tetap sama. Selagi membahas tentang masalah ini, bukankah ini kesempatan baginya untuk menanyakan pertanyaan yang belum sempat terjawab?


"Hei Tagt-" belum selesai gadis itu bicara, Tagt sudah menyelaknya.


"-Bisakah kamu melakukan yang barusan kulakukan? Berlatihlah sebentar di sini, aku akan segera kembali!" Tagt meraih tangan Neo dan meletakkan tongkat di atas telapaknya kemudian berlari ke arah tempat persembunyian, meninggalkan Neo dengan tanda tanya.


Tapi aku tidak tahu triknya... Neo melihat tongkat di tangannya sambil sesekali memutar pelan, berharap keajaiban terjadi. Tapi tongkat itu sama sekali tidak berubah. Neo menarik napas panjang dan mengeluarkannya pasrah. Apa yang ia pikirkan? Tentu saja tongkat itu tidak akan berubah, dia cuma manusia biasa tanpa keahlian apapun. Dia hanya seorang bocah yang kebetulan bisa memunculkan sebuah bunker dari kubus kecil dan mengubahnya menjadi meja. Semuanya hanya kebetulan.


Tidak tahu apa yang harus ia lakukan, gadis itu menanam kayu ke dalam tanah dengan harapan sewaktu-waktu kayu itu dapat mencair. Neo berjongkok dan menundukkan kepalanya. Matanya fokus pada kayu yang kini tertancap di tanah. Terkadang gadis itu membatin agar sesuatu terjadi pada tongkat. Apapun itu, perubahan kecil saja pun boleh. Tetapi tongkat tersebut tetap pada tempatnya. "Percuma," pikirnya.


Dari kejauhan, nampak Devan tengah terbang dengan sayapnya yang tak sesuai satu sama lain. Neo hampir saja lupa bahwa Devan adalah asisten dari setiap "pengajar".


"Belajar sihir," jawabnya singkat. Devan memiringkan kepalanya sedikit, bertanya-tanya sihir macam apa yang gadis itu pelajari kali ini. Dia hendak bertanya, tapi gadis itu nampaknya terlalu fokus pada sebatang tongkat. Devan berpikir sebentar, "mengubah kayu dan pasir menjadi air?" tebaknya. Neo mengangguk tanpa melepas fokusnya.


Devan mematahkan ranting sembarang, lalu meremasnya. Byar! Air meledak seketika di tangan Devan. Keberadaan ranting kini telah terganti dengan derasnya aliran air di tangan Devan. "Seperti ini?" tanya pria bersayap itu saat menyadari si gadis beralih dari tongkat di tanah. Mata hijau kebiruan gadis itu membulat. Lambat ia mengangguk.


"Sebenarnya ini lebih mudah daripada kubus-kubus itu. Kamu tidak perlu membaca apapun, cuma harus memikirkan sebanyak apa air yang bisa menggantikan ranting ini," Devan mencari-cari penjelasan yang lebih mudah dipahami, "bayangkan saja ranting ini adalah air." Hanya membayangkan? Jika semudah itu, seharusnya manusia pun bisa melakukan. Neo meningkatkan konsentrasinya. Air, air, air!


Tidak ada perubahan sama sekali.


Devan mengusap tengkuknya. "Hmm, mungkin kau harus menggenggam tongkat itu, Neo," usul pria itu agak ragu. Neo menarik tongkat tersebut dari tanah.


"Eh?" Sulit! Tongkat tersebut seperti menempel kuat di tanah, membuat Devan harus turun tangan membantu Neo. Pluk!


"A...kar?" Mata hitam Devan tidak berkedip. Lelaki bersayap itu spontan mengecek tanah tempat tertancapnya tongkat tersebut. "Neo, lihat!" Devan menggali tanah semakin dalam tanpa mempedulikan tangan kirinya yang semakin kotor.


Tersembunyi di dalam tanah, genangan air tercipta. Genangan tersebut lama-lama merembes hingga membasahi permukaan tanah. Neo menutup mulutnya dengan lengan bajunya yang kebesaran. Dia sangat terkejut. Air yang ia munculkan entah dari mana diserap oleh tongkat hingga membentuk akar dalam kurun waktu yang relatif cepat. Dia memang tidak berhasil mengubah tongkat menjadi air, tapi ia berhasil memunculkan mata airnya jauh di dalam tanah.


Tagt datang tepat pada waktunya. Ia memerhatikan kehebohan dua sosok tersebut dari kejauhan. Sempat terlintas di benaknya bahwa gadis polos nan lugu itu tidak akan berhasil melakukan sihir mustahil seperti itu. Tapi ia menarik kembali pikirannya. Bagai seorang ayah yang bangga terhadap pencapaian anaknya, ia tersenyum puas. Dengan santainya ia berjalan mendekati kedua anak tersebut.


"Bagus sekali, Neo," Tagt menepuk pundak si gadis, "kamu berhasil."


 


\*


 


Siang menjelang sore, Neo, Devan, dan Tagt sudah kembali ke tempat perlindungan. Morga tertidur pulas di tumpukan kubus dalam wujud anjing, sedangkan Abe menyambut kedatangan ketiga temannya di depan pintu.


"Bagaimana kegiatan belajarmu, Neo?" Tanya Abe riang, memamerkan deretan giginya yang terasah.


"Neo melakukannya dengan sangat baik! Kau tidak akan percaya!" Jawab Devan tak kalah bersemangat. Devan menceritakan sedetail mungkin tentang betapa terampilnya Neo dalam sihir menyihir. Kedua laki-laki itu tenggelam dalam perbincangan asik mereka.


"Neo, makanlah," Tagt menyodorkan gadis yang tengah berdiri canggung sepiring sajian yang telah dikukus. "Kamu belum makan siang, bukan?" Gadis kecil menerima piring dengan kedua tangannya. Kemudian dia duduk di lantai dan bersandar pada tembok. Teringat olehnya masa-masa ketika makan siang adalah momen yang langka baginya. Di dunia manusia, ia terlalu sibuk mengurus kebutuhan wali asuhnya hingga lupa untuk mengurus dirinya sendiri, meski kadang ia telah menyisihkan sebagian sarapannya untuk dimakan siang hari.


"Terimakasih, Tagt," Neo mendongak. Tagt membalas dengan senyuman, lalu pria dengan rambut yang disisir ke belakang itu duduk bersandar di sebelah si kecil. Ia hendak memakan makan siangnya juga.


"Anggap saja ini waktu istirahatmu, jangan pikirkan hal rumit dulu. Jika ada hal yang mengganggu, jangan sungkan meminta bantuan kami," ujar Tagt seakan tahu apa yang dipikirkan Neo. Ia tersenyum samar, "kami membutuhkanmu. Itulah kenapa kami membawamu ke dunia kami."


Pembahasan topik ini merangsang rasa ingin tahu dalam diri Neo. "Aku dapat membahayakan keselamatan kalian. Suku Raath benci manusia. Mengapa kalian mau membawaku tinggal bersama kalian?" Neo sedikit menggebu. Guratan senyum di wajah Tagt kini terlihat mengiba. "Morga pasti sudah menceritakan banyak hal, bukan begitu Neo?" Matanya dialihkan ke langit-langit yang sebagian terhalang lampu melayang. "Kau akan segera tahu nanti," desah lelaki itu. Lalu ia melanjutkan makan. Bukan inilah jawaban yang diinginkan gadis kecil itu. Tapi ia berusaha menghormati pilihan Tagt yang tidak ingin menjawab pertanyaannya. Neo pun melanjutkan suapannya.


Namun seketika warna jingga cerah di langit tergantikan. Sore tiba. Abe sontak berlari ke arah Neo dan menggaet tangannya yang tenggelam dalam lengan sweater. "Yeay! Sekarang giliranku!" Seru laki-laki tersebut masih berlari menyeret Neo bersamanya. Ini yang ketiga kalinya Neo harus menghabiskan waktu di luar suaka. Bahkan Devan kewalahan mengikuti setiap "pengajar".


"Jadi, apa saja yang sudah diajarkan Morga dan Tagt?" tanya Abe di sela-sela langkahnya yang lebar.


"Sejarah dan sihir," jawab Neo berusaha menyeimbangkan langkah kakinya. Sekali ia menengok ke belakang, Devan sudah tertinggal jauh.


"Hee~ Kalau begitu, aku akan ajari kamu cara beradaptasi di dunia ini!" Jiwa bersemangatnya membakar hebat, "sosialisasi!"


Mereka sampai di sebuah gua. Lagi-lagi Neo berada di jurang "batas aman". Dilihatnya sirkuit biru muda bebas menjalar di pelindung transparan. Sebagian isi di dalam gua terlindungi tameng setengah lingkaran dan sebagian tidak. Neo bertanya-tanya dalam hati, apa yang ingin diajarkan pria ini padanya. "Aku akan mengeluarkanmu setelah 15 menit," Abe tiba-tiba mendorong Neo masuk ke dalam gua, melewati batas aman, "tapi alangkah lebih baik jika kamu bisa mencari jalan untuk kembali ke sisi aman sebelum waktu habis."