NEO

NEO
Neo Can View




Kehidupan itu tentang momen. Jangan menunggu momen pentingmu untuk terjadi, buatlah momenmu sendiri.


Sulit?


Jangan menyerah dulu. Setiap orang bisa menyerah, karena itu adalah hal termudah, yang bahkan individu seperti fetus pun bisa melakukannya. Tapi ketika kau bertahan dan berjuang untuk membuatnya, di sanalah kekuatanmu yang sebenarnya berada.


                                                                                        ***


Pagi yang indah berganti menjadi senja. Anak malang yang ditinggal pergi kedua orangtuanya untuk selamanya terbangun di atas lantai di kamarnya. Kosong, tidak ada kasur ataupun pernak-pernik perabotan lainnya. Lampu yang telah lama padam, langit-langit pun mulai dipenuhi sarang laba-laba. Meski begitu, perasaan familiar dan aman menyelimuti sekujur tubuhnya. Tidak pernah dia merasakan kenyamanan sejak ditinggal kedua orangtuanya. Kejadian tragis yang merenggut nyawa kedua orangtuanya 2 minggu lalu. Dia dan kakaknya "diasuh" bude dan paman mereka, tidak pernah sekalipun berkunjung ke rumah yang penuh kenangan berharga. Kini ia berada di dalam rumah yang menyimpan masa lalu indah, tempat ia berteduh dari hujaman kebencian dan penderitaan yang diberikan kerabatnya. Istana kecil hanya untuknya, sang kakak, dan kedua orangtuanya.


Setelah berdiam beberapa saat, anak itu bangkit berdiri. Walau ekspresi di wajahnya tidak berubah, hati kecilnya bersorak gembira merindukan rumah yang telah lama ditinggal. Gadis kecil itu berkeliling untuk memastikan bahwa rumah ini benar-benar rumahnya, bukan rumah kosong tak bertuan. Kepalanya dipenuhi bayangan akan keluarga kecilnya yang berada di setiap ruangan yang ia jumpai, terlalu sibuk untuk memikirkan alasan mengapa ia tiba-tiba berada di tempat itu. Ia juga tidak berusaha mengingat apa yang ia lakukan sebelum berada di rumah tercintanya. Si kecil manis terus menelusuri ruangan di balik pintu, hingga kemudian langkahnya terhenti saat melihat isi ruangan dari pintu yang terbuka.


Seekor anjing, kucing, landak, dan... karakter figur mini bersayap? Otaknya tidak dapat mencerna apa yang sedang terjadi di kamar mandinya. Keempat individu itu berada di lantai, duduk dengan rapi dan saling bertatapan, seperti sedang melakukan meeting yang sangat serius. Tidak berniat mengganggu pembicaraan keempat makhluk itu, si kecil menutup pintu perlahan dan meninggalkan lokasi tersebut.


Anak perempuan setinggi 130 cm itu melanjutkan petualangannya menelusuri tiap detail ruangan. Ia memasuki kamar kedua orangtuanya. Dalam kepalanya, bundanya sedang tersenyum di atas kasur empuk, membuka lebar kedua lengannya, bersiap memeluknya seperti yang biasa dilakukan tiap kali si kecil berlari menghampiri bundanya. Sementara ayahnya sibuk tertawa menonton TV di atas kasur sambil menepuk kasur, memberi sinyal pada si kecil untuk ikut menonton bersamanya. Ketika campuran emosi mulai memengaruhi pikirannya, ia menepuk kedua pipinya, tidak ingin membiarkan dirinya hanyut terlalu jauh. Seketika semua ilusi indah hilang. Kamar kedua orangtuanya kosong. Tidak ada kasur maupun TV. Hanya ada pecahan cermin di lantai. Ia menatap pecahan cermin yang berserakan di samping kakinya. Samar-samar, cermin itu memantulkan bayangan dirinya. Entah karena apa, ia memutuskan untuk berjongkok, memungut pecahan cermin tersebut. Dihadapkannya cermin itu ke wajahnya.


Hijau. Biru.


Iris mata yang seharusnya berwarna coklat tua seperti kebanyakan orang pada umumnya, berubah menjadi hijau kebiruan. Gadis itu mengedip-ngedipkan kedua matanya, bingung. Dia tidak ingat pernah mencoba memakai lensa kontak. Apa yang terjadi? Warna hitam alisnya pun berubah menjadi warna yang sama dengan matanya. Ia mengarahkan cermin ke bagian yang lebih tinggi. Rambut pendeknya yang hampir mencapai leher juga berubah warna. Warna hitam kecoklatan alami sepenuhnya hilang dari dirinya. Dia teringat, dulu bundanya pernah bercerita tentang bahaya obat-obatan terlarang dan minuman entah-apalah-namanya yang dapat merusak diri, merubah mental dan fisik dengan sangat drastis. Sedikit rasa takut mulai merayapi tubuhnya, khawatir bahwa ia secara tidak sengaja meminum obat-obatan dan minuman terlarang itu.


Di kala rasa takutnya keluar, potongan-potongan ingatan ikut berhamburan. Ia meremas rambutnya, menekan kepalanya. Rasa sakit yang hebat dia rasakan.


Potongan memori beterbangan di kepalanya. Dia menyaksikan dirinya berada di sebuah rumah kayu, sangat mirip dengan gubuk. Ia ingat sedang menolong seorang nenek, membawakan barang-barangnya. Nenek yang berpenampilan mencolok, mata hitam pekat dengan bola mata yang hitam pula, rambut beruban keriting sebahu yang diriap, serta deretan gigi yang runcing di dalam mulut lebarnya. Namun wanita tua itu terlihat ramah bagi si kecil. Wanita itu tidak menakutkan.


Beberapa waktu setelah wanita tua meminta gadis kecil membawa barang di rumahnya sebagai tanda terimakasih, terdengar suara dari luar rumah kayu. Seperti mengalami dèjá vu, ia berlari menghampiri suara, menemukan 3 ekor hewan yang sama persis seperti yang berada di kamar mandinya. Gadis itu membawa ketiga hewan tersebut, meminta izin pada nenek pemilik rumah. Kemudian ia mendengar suara di belakangnya. Bisikan yang sangat jelas. Kali ini dia mencoba untuk tidak menoleh ke sumber suara, tapi kepalanya dipaksa bergerak ke samping. Malaikat setengah iblis, karakter figur yang berada di kamar mandinya. Karakter itu hidup. Ia mencoba untuk bicara lebih lama pada laki-laki bersayap tersebut, ingin menanyakan tentang apa yang terjadi, tapi bibirnya tidak ingin bergerak. Alih-alih bicara, ia malah terjatuh tak sadarkan diri.


Kemudian potongan ingatan lainnya mengambil alih. Lagi-lagi ia menyaksikan dirinya, masih tidak sadarkan diri, terperangkap dalam sebuah tabung berisi air campuran zat kimia. Entah apa yang dilakukannya hingga ia bisa terjebak di sana. Matanya memang tertutup, tapi ia dapat melihat sekelilingnya. Tempat dimana tabung itu berada, ruangan yang seperti tempat perlindungan, terlihat higienis dan elit. Sibuk mengagumi pemandangan di luar tabung, gadis kecil hampir lupa bahwa ia tidak bisa bernapas. Paru-parunya meraung-raung meminta oksigen. Si kecil berusaha menggerakkan tangannya, berharap dapat meraih penutup tabung. Tapi tangannya sama sekali tidak dapat digerakkan. Ia hanya bisa diam, tegak tak bergerak seperti patung.


Tanpa ia gerakkan, matanya yang sedari tadi terpejam tiba-tiba terbuka. Membuka mata di dalam air campuran zat kimia terasa sangat perih. Samar-samar ia dapat melihat seorang, tidak, 4 orang laki-laki. Salah satunya sangat mirip dengan karakter figur mini di kamar mandinya. Keempat pria tersebut terpana menatapnya. Seorang laki-laki berambut putih berlari membuka penutup tabung dan mengangkat tubuh mungilnya. Laki-laki tersebut meletakkannya di hadapan laki-laki bersayap yang ia temui di rumah kayu wanita tua. Si kecil mendengarnya mengucapkan sesuatu, lalu menempelkan jarinya ke kening si kecil. Ia dapat melihat secercah cahaya keluar dari ujung jarinya. Rasa panas yang membara ia terima, tapi gadis itu tidak menjerit.


Lalu ia kembali tersadar. Rasa sakit di kepalanya perlahan menghilang, namun kedua kakinya tidak mampu menopang tubuhnya. Ia terkulai lemas di lantai. Pecahan ingatan pun kembali pudar. Ia menenangkan dirinya.


Hari semakin gelap, si kecil masih berada di rumah tersayangnya. Mungkin saja tantenya sudah kembali dari mall. Mungkin saja ketika nanti ia kembali, ia akan mendapatkan cacian dari tantenya. Tapi biarlah. Dia ingin menyelesaikan teka-teki ini sebelum kembali ke neraka dunia. Boleh jadi ia mendapatkan alasan pasti tentang perubahan warna rambut dan matanya. Ia tidak ingin kakaknya berpikir adiknya menjadi liar dan suka meminum minuman dan obat-obatan berbahaya.


Gadis kecil yang dilanda kebingungan tidak mengerti sama sekali akan apa yang terjadi. Namun sesuatu dalam dirinya percaya bahwa keempat pria tersebut ada hubungannya dengan kejadian di hutan dekat komplek, dan pastinya mereka berhubungan dengan kemunculan malaikat setengah iblis dan hewan lainnya.


Gadis muda melambatkan langkahnya, mencoba memelankan suara tarian kakinya. Dibukanya pintu pelan-pelan agar tidak mengagetkan 4 individu yang berada di dalamnya. Tapi nampaknya keempat makhluk tersebut tetap terperangah ketika si gadis masuk dan menutup pintu hingga terdengar bunyi "ceklik!". Kini mereka berlima berada di dalam kamar mandi, saling berpandangan.


"Siapa kalian?" tanya si kecil tanpa basa-basi. Nada bicaranya datar, namun tetap mewakili rasa ingin tahunya. Suaranya yang pelan dipantulkan dinding-dinding kamar mandi, membentuk gema. Hewan-hewan menatap lurus padanya, bahkan laki-laki bersayap seukuran mainan karakter figur ikut menatapnya lurus. Keheningan menyelimuti ruangan seluas 2 x 3 meter. Dari keempat individu yang berada dalam ruangan, tak satupun yang mampu menjawab. Mulut mereka terbungkam rapat.


Beberapa menit berlalu, ia masih menunggu jawaban dari keempat karakter, tapi mereka tidak mememberi respon apapun. Sampai akhirnya si gadis memutuskan untuk duduk di atas pijakan balok kayu, di samping lantai tempat hewan-hewan dan lelaki bersayap duduk. Pria bersayap menghela napas, lalu terbang mendekati gadis kecil, disusul hewan lainnya. Untuk apa mereka menyembunyikan kejadian ini dari gadis kecil itu lagi? Dia berhak untuk tahu.


"Apa kamu telah mengingat semuanya?" tanya lelaki bersayap, Devan, dengan hati-hati. Anak perempuan itu mengangguk, mengiyakan pertanyaan Devan.


"Aku menyaksikan diriku." Dia sangat tenang, tidak tergambar rasa kaget ketika melihat dan mendengar makhluk yang jelas-jelas bukan manusia, bicara padanya. Gadis itu dapat mendengar bisikan-bisikan dari hewan lainnya. "Bagaimana bisa?" kata si kucing. "Apakah Devan tidak berhasil menghapus memorinya?" landak menanggapi. *"Lebih baik kita ceritakan padanya,"*usul anjing putih, dibalas pelototan si kucing, tanda tidak setuju. Sayangnya, Devan sudah terlanjur membahas tentang kejadian tersebut.


"Seperti yang kamu lihat dalam memori itu, kami melakukan sedang melakukan penelitian. Dan kau, 'Neo', adalah subjek penelitian kami." Ujar Devan. Tidak ada reaksi panik dilemparkan si kecil. Meski ia bingung tentang 'Neo' dan penelitian yang mereka lakukan, ia hanya mendengarkan dengan seksama. Hal itu justru membuat Devan dan hewan lainnya terkejut.


"Kamu tenang sekali. Aku menaruh dan mengurungmu di dalam tabung itu... dengan campuran bahan kimia yang mungkin saja berbahaya!" si kucing hitam keabuan, Nath, tidak tahan dengan sikap gadis itu.


"Apa alasanmu?" si kecil menyahut. Dia sudah mendengar perbincangan 4 laki-laki ketika terperangkap di tabung dalam memorinya. Hanya saja, ia butuh penjelasan. Jika potongan puzzle masih belum lengkap, ia tidak dapat menyusunnya.


"Agar kau... tidak memburu kami." kucing hitam menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa. Itukah yang merubah warna mata dan rambutku?"


"Ya, sepertinya-"


"-tidak! Rambut dan matamu berubah warna karena kau spesial, Neo! Kamu bisa melihat Devan, kamu bisa bicara pada kami saat kami dalam bentuk hewan, dan kamu bisa melihat memori yang sudah dihapus Devan!" Landak kecil melompat ke bahu si cilik.


"Jika aku pulang berpenampilan seperti ini, kakak akan kecewa," nada datarnya berubah sedih. Gadis itu memainkan sebagian rambutnya, menatap warna hijau kebiruan yang menyeluruh.


"Ini bukan rumahmu?" tanya anjing putih. Si gadis memandangnya lalu menggeleng. "Tidak lagi," jawabnya. Ketika Devan mengambil memori si kecil, rumah inilah yang dapat ia lihat dengan sangat jelas. Itulah mengapa ia membawa si kecil dan teman-temannya ke rumah ini. Suasana kembali hening. Perasaan bersalah menyelimuti keempat makhluk tersebut. Mereka sudah mengacaukan banyak hal.


"Aku akan pulang," ucap si kecil memecah keheningan. Ia bangkit dari duduknya. Tidak semua hal dapat dipahami olehnya, namun ia tidak bisa berlama-lama di sini. Kakaknya mungkin sudah menunggunya di rumah.


"T-tunggu!" sebuah suara menghentikannya, "tolong izinkan kami ikut denganmu!"


Si kecil membalikkan badannya, "kemarilah." Keempat individu terdiam mendengar respon tanpa pikir panjang si kecil. Hewan-hewan dan lelaki bersayap menghampirinya. Entah apa yang akan dilakukan tantenya ketika ia sampai di rumah nanti. Ia dapat membayangkan dirinya tidak diberi makan selama seminggu, atau dikurung di kamarnya selama sebulan penuh.


"Aku harus menambah laporan tentang anak ini nanti. Dia bisa menyaksikan ingatan yang telah dihapus Devan."