NEO

NEO
17. Selamat Datang di Akademi Sihir Mozilla



Aku menceritakan pada mereka setiap kejadian yang terjadi di hari aku menghilang. Dimulai dari aku yang tersesat di dimensi lain karena mengikuti arah jalan setapak, mengetahui bahwa keluargaku masih hidup dan menungguku, bertemu dengan tiga peri hutan yang tak lain adalah Cia, Cey, dan Caf, kemudian bertemu dengan Bun dan naga-naga lainnya.


Setelah itu kuceritakan pada mereka aksiku saat membuka segel Pohon Kehidupan agar menunjukkan tiga masa depan yang ingin kulihat.


Tak lupa, aku memperlihatkan mereka rekaman masa depan yang kurekam saat itu.


Aku hanya memperlihatkan masa depan Kota Neo dan masa depan Neopolist, tapi tidak memperlihatkan masa depanku.


Rasanya malu sekali memperlihatkan masa depan diri sendiri ketika pasangan masa depanmu berada di dekatmu saat ini. Apakah aku benar?


Ah, aku jadi malu lagi membayangkan reaksi Fajar jika aku memperlihatkan masa depanku padanya. Dia pasti akan memasang muka tebal. Huh! Tidak akan kubiarkan dia melihat masa depanku!


Selain itu, aku juga tidak menceritakan apa pun mengenai masa laluku pada mereka. Karena lebih baik hanya aku yang mengetahuinya.


“Sheyla, tadi kau bilang ada tiga. Tapi mengapa hanya dua yang kau perlihatkan? Mana yang satunya?”


Oh, tidak.


Sedari tadi aku terus menghindar dari pertanyaan itu. Fajar telah menanyakan pertanyaan itu berkali-kali, dan aku selalu menghindari pertanyaan itu dengan mengganti topik pembicaraan berkali-kali. Tapi kali ini dia menanyakannya lagi, dan aku tidak tahu harus menghindar seperti apa!


“Ah, eum, itu.... Rahasia!”


“Wah, kau sudah mulai main rahasia-rahasiaan denganku, ya!” Fajar terlihat geram.


Dia segera mengambil alih sihir perekam milikku dan mulai mengotak-atik sihir itu. Tampaknya dia sedang mencari rekaman masa depan yang satunya lagi―alias masa depanku sendiri.


*(Sihir perekam suaranya itu berupa cahaya gitu, bukan benda)


Tapi, bukan Sheyla namanya jika rahasianya terbongkar begitu saja.


Swuushh!


Aku segera mengambil alih kontrol sihir itu. Lalu aku menyimpannya di memori kepalaku. Namun sayangnya, Fajar melihat secuil rekaman itu sebelum aku menyimpannya di memoriku.


“Ah! Sheyla!” Fajar berseru, tampak terkejut. “Anak siapa yang kulihat di rekaman itu? Dia sangat mirip denganku. Hei, anak laki-laki itu... apakah dia anakku?”


Uh, mengapa pertanyaannya tepat sasaran?!


“Bukan!” sanggahku cepat. “Kau terlalu percaya diri! Ya sudah, aku mau tidur dulu. Sampai nanti!”


Secepat kilat aku kembali tertidur, mengabaikan berbagai nada protes yang keluar dari mulut Fajar. Kuharap besok dia tidak bertanya apa pun lagi padaku. Semoga saja.


...❀ ❀ ❀...


Pagi harinya, aku dan Fajar memutuskan untuk kembali ke akademi hari ini juga.


Kata Fajar, seharusnya aku dan dia telah berada di akademi dua hari yang lalu. Tapi, mau bagaimana lagi? Karena aku menghilang sampai tiga hari, dengan terpaksa Fajar tidak pergi menuntut ilmu ke akademi hari itu, hanya saja dia telah mengambil seragam dan beberapa barang yang diberi oleh kepala sekolah.


Aku berucap syukur pada Tuhan. Entah keajaiban apa yang terjadi, pagi ini Fajar tidak bertanya apa pun mengenai anak laki-laki yang dia lihat di rekaman kemarin.


Ah iya, ngomong-ngomong tentang Fajar, aku dan Microna telah sepakat untuk tidak memberi tahu Fajar dan Felicia tentang identitas asliku.


Aku juga telah meminta Lightning tutup mulut mengenai kehidupan masa laluku. Semoga saja naga emas itu tidak keceplosan saat mengobrol bersama Stay.


Alasan mengapa aku tidak ingin mereka mengetahuinya adalah karena aku masih belum percaya sepenuhnya pada mereka.


Iya. Aku masih belum percaya pada mereka.


Siapa itu Fajar?


Dia adalah laki-laki yang tak sengaja kutemui saat aku berumur 5 tahun di Desa Mozilla. Aku hanya tahu bahwa Fajar adalah anak bangsawan. Tapi aku tidak mengetahui apa pun mengenai kehidupannya. Aku tidak tahu apakah sikap manisnya adalah murni dari dirinya sendiri atau hanya topeng untuk menutupi jati dirinya.


Lalu, Felicia.


Siapa peri pirang itu?


Dia adalah peri kecil yang tak sengaja kutemui di Hutan Abadi. Dia memang mengatakan bahwa dulunya majikannya adalah ibuku, Ratu Shena. Tapi bisa saja dia berbohong, ‘kan? Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa dulunya dia memang mengenal ibuku.


Wajar bila aku belum seratus persen percaya pada mereka.


“Sheyla!” panggil seseorang. Aku mencari asal suara itu. Di sana, di depan gua, Fajar yang duduk di punggung Stay, melambaikan tangannya padaku. “Kau lambat! Apa kau tahu bahwa sebentar lagi bel masuk akademi akan berakhir?”


Aku mengangguk pelan, kemudian melangkah ke arahnya.


Setibanya di sana, aku langsung menaiki punggung Lightning. Sementara Microna dan Felicia terbang di sebelah kananku.


Perlahan, Lightning mengepakkan sayap emasnya. Naga emas itu pun terbang, menjauh dari gua―tempat aku dibesarkan hingga berumur 5 tahun―menuju akademi.


Microna dan Felicia terbang di sisi kananku. Sementara Stay dan Fajar terbang di sisi kiriku.


Perjalanan menuju akademi membutuhkan waktu sekitar lima belas menit.


Kepakan sayap emas Lightning berhenti kala kami telah berada di depan gerbang akademi. Dua orang penjaga akademi menatap kami dengan tatapan seakan kami akan memakannya. Ah, bukan kami. Tetapi mungkin saja dua orang penjaga itu ketakutan saat melihat Lightning yang memasang tampang garang.


Aku menggeleng saat Lightning dengan angkuhnya menatap mereka.


Segera, aku turun dari punggung Lightning dan menghampiri dua orang penjaga itu.


Aku menyerahkan plakat akademi―tanda pengenal bahwa aku adalah siswi di Akademi Sihir Mozilla. Setelah melihat plakat yang kuperlihatkan, dua orang penjaga itu mengizinkanku memasuki akademi. Tak lupa, Lightning, Felicia, Microna, dan Fajar beserta Stay mengekori di belakangku.


Kami menyusuri koridor akademi yang lumayan sepi. Hanya ada beberapa siswa yang berlalu-lalang di sana.


Fajar memberitahuku bahwa sebelum memasuki kelas, aku harus pergi ke Ruang Kepala Sekolah, karena beliau akan memberiku kartu pelajar, buku pelajaran, dan beberapa alat tulis yang dibutuhkan saat jam pelajaran berlangsung.


Fajar juga mengatakan bahwa dia telah lebih dahulu diberikan barang-barang itu, jadi hanya aku seorang yang belum mendapatkan barang-barang itu. Yah... kau tahulah sebabnya.


Saat aku hendak membuka pintu, gagang pintu itu telah lebih dahulu dibuka oleh Microna. “Silakan, Tuan Putri,” ucapnya, setengah berbisik.


Aku tersenyum, kemudian mengangguk dan memasuki ruangan itu. Microna berjalan di belakangku. Sementara Fajar dan yang lainnya menunggu di luar ruangan.


Setibanya di dalam sana, kulihat di ruangan itu ada seorang wanita yang berusia sekitar 35 tahun. Wanita itu memiliki rambut cokelat dan sepasang mata berwarna cokelat muda.


“Permisi,” ucapku memberi salam.


Wanita itu―yang sedang menulis beberapa dokumen yang tak kuketahui―mendongak, menatapku. Ia segera menghentikan aktivitasnya.


“Selamat datang,” sapanya ramah, ia lantas menjentikkan jarinya, setelah itu muncul sebuah kursi di hadapanku. “Silakan duduk.”


“Terima kasih.”


Wanita itu kembali menjentikkan jarinya. Kini di hadapanku tampak seperangkat alat tulis dengan warna yang berbeda. Tak terkecuali, terdapat pakaian seragam yang tampak imut.


Sekadar informasi, di Akademi Sihir Mozilla, pakaian murid akademi di sini sesuai dengan kelas yang mereka tempati. Berbicara mengenai kelas, akademi ini adalah sekolah khusus bagi penyihir yang telah mencapai tingkat 5 ke atas.


Karena aku telah mencapai penyihir tingkat 9, maka kepala sekolah memasukkan aku ke dalam kelas Ennéa, yaitu kelas sembilan.


Beralih pada seragamku.


Pakaian seragamku terdiri dari kemeja berlipat merah muda. Kancingnya berbentuk bulat pipih berwarna emas. Di bagian dada sebelah kanan, tersemat lambang Akademi Sihir Mozilla, yakni gambar kepala naga berwarna emas.


Kau tahulah, siapa naga emas itu.


Ya. Lambang Akademi Sihir Mozilla adalah gambar Lightning.


Setelah puas melihat seragam bagian atas, aku beralih menatap seragam bagian bawah, alias rok.


Rok itu adalah rok berlapis berwarna merah muda juga, selaras dengan kemejanya. Di bagian lapis terdalam dilapisi renda putih polos. Dan di bagian atas sebelah kanan rok, terdapat untaian rantai emas pendek. Rantai emas itu menghubungkan bagian tali pinggang dengan lambang Akademi Sihir Mozilla.


Aku berdecak kagum. Ternyata satu-satunya akademi terbaik di Desa Mozilla seelit ini.


Bagaimana bisa dikatakan elit? Lihat saja seragamnya. Desain seragam akademi ini terinspirasi dari seragam sekolah di bumi.


Tak berapa lama kemudian, jentikkan jari kembali terdengar. Setelah itu, muncul sepasang sepatu bot panjang―hingga selutut―yang juga berwarna merah muda. Di bagian tengah sepatu bot, terdapat untaian tali putih yang diikat rapi. Tak lupa di bagian kanan dan kiri sepatu bot tersemat lambang Akademi Sihir Mozilla berukuran kecil.


Ya ampun.


Hanya dengan melihat seragam pakaian itu membuatku ingin segera memakainya.


“Selamat datang di Akademi Sihir Mozilla,” kata wanita itu―yang merupakan kepala sekolah Akademi Sihir Mozilla. “Kuucapkan selamat, karenamu akademi ini kembali mendapat kejayaannya seperti dulu lagi.”


Aku tersenyum kikuk. “Saya hanya mengikuti seleksi ujian masuk, Anda terlalu berlebihan.”


Wanita itu menggeleng pelan. “Tidak. Ini semua berkatmu. Karena kau telah memperlihatkan pada seluruh rakyat Desa Mozilla bahwa kau adalah majikan naga emas itu, dan berhasil lolos tahap seleksi dengan nilai tertinggi, jadinya para warga yang memiliki anak berusia 10 tahun berbondong-bondong mendaftarkan anak-anaknya kemari hari itu.”


Aku mengangkat sebelah alisku, tidak mengerti dengan apa yang wanita itu katakan.


Bukankah akademi ini diperuntukkan bagi remaja berusia 14 tahun ke atas atau penyihir yang telah mencapai tingkat 5 ke atas?


“Ekhm.” Wanita itu berdehem, membawaku kembali ke alam sadarku. “Kau mungkin tidak tahu hal ini. Tapi karena kau telah resmi menjadi murid di sini, maka kau berhak tahu.”


“Selain Akademi Sihir Mozilla, kami juga membangun akademi khusus untuk anak-anak berusia 7 tahun hingga 13 tahun. Akademi itu bernama “Akademi Mozilla”. Namun, beberapa waktu terakhir, akademi itu tidak lagi diminati oleh warga.”


“Alasannya karena akademi itu dianggap tidak dapat mengelola bakat anak-anak mereka. Mereka berkata demikian karena menilai bahwa “Jika di Akademi Sihir Mozilla saja tidak ada siswa yang berbakat, bagaimana dengan Akademi Mozilla?” sehingga akademi itu pun terbengkalai.”


“Karena hal itu, dengan sangat terpaksa, kami―selaku pihak akademi―memulangkan beberapa murid yang masih betah bersekolah di sana. Namun, sejak kau memperlihatkan naga emas yang telah menghilang selama bertahun-tahun, para warga yang menyaksikan tahap seleksi itu menarik kembali perkataan mereka.”


“Mereka mengatakan jika anak-anak mereka bersekolah di Akademi Mozilla dan Akademi Sihir Mozilla, maka pengajar di akademi itu dapat mengelola bakat anak-anak mereka. Itulah sebabnya, aku sangat berterima kasih padamu.”


“Berkatmulah, Akademi Mozilla dapat kembali beraktivitas.”


Wanita itu mengeluarkan setetes cairan bening dari sudut matanya, nampak terharu.


Aku termenung. Jadi, begitu?


“Jika ada yang ingin kau inginkan, katakanlah. Aku akan mengabulkan keinginanmu.”


Mataku berbinar mendengar penuturan wanita itu.


“Ada!” Aku segera menjawab dengan antusias. “Ada yang kuinginkan.”


Wanita itu tersenyum. “Katakanlah.”


Aku melangkah, menghampiri wanita itu. Lalu kubisikkan sederet kalimat padanya.


Ia pun mengangguk setelah mendengar permintaanku. “Baiklah. Akan kukabulkan.”


Yeah!!


“Terima kasih!”


“Ah, iya.” Wanita itu mengulurkan tangannya padaku. Aku terdiam sesaat, kemudian membalas uluran tangannya. "Kau bisa memanggilku Mrs. Aleea Foxx. Sekali lagi, kucapkan selamat datang di Akademi Sihir Mozilla. Berjuanglah.”


Aku tersenyum dan membalas, “Nama saya Sheyla Putri. Terima kasih atas sambutan Anda, Mrs. Aleea.”


...❀ ❀ ❀...


Tbc.