
Ketika aku melewati ruangan yang di atasnya terdapat simbol botol ramuan, langkahku terhenti. Sayup-sayup kudengar suara dua orang yang sedang berdebat. Salah satu suara orang yang berdebat di balik ruangan itu terasa familier bagiku, sepertinya aku mengenal suara itu.
Saat suara familiar itu terdengar lagi, jantungku berpacu lebih cepat. Itu adalah suara Fajar!
Benar. Tidak salah lagi, itu adalah suara Fajar. Tetapi mengapa dia bisa berada di sini? Lalu, siapa orang yang memaksanya untuk kembali ke rumahnya?
Ah, rasanya sedih sekali, aku bahkan tidak mengetahui jawaban dari pertanyaanku.
“Nona?” Suara seorang wanita mengambil alih perhatianku. Itu adalah suara wanita yang menuntunku menuju ruangan orang yang memberiku surat. “Mengapa Anda berdiam diri di sana?” tanyanya.
Aku mengukir senyum cerah, sebisa mungkin tidak ketahuan oleh wanita itu kalau sebenarnya aku tak sengaja menguping pembicaraan dua orang. “Tidak, tidak apa-apa. Tadi aku hanya sedang melihat simbol ramuan itu, sepertinya tampak menarik,” kataku berbohong sambil menunjuk simbol ramuan yang terpampang di atas pintu ruangan yang terletak di sampingku.
“Ya sudah. Mari saya antar, beliau pasti telah menunggu Anda.”
Aku mengangguk, kemudian kembali mengikuti wanita itu menuju ruangan yang berada di ujung bangunan lantai lima. Kuharap Fajar baik-baik saja.
Sesampainya di depan ruangan yang dimaksud, wanita yang mengantarku langsung membuka pintu ruangan, kemudian mempersilakanku masuk. Setelah itu, ia menutup pintu ruangan dan berbalik, lantas melangkah pergi, meninggalkan aku berdua bersama sesosok laki-laki yang duduk di kursi kebesarannya.
Laki-laki itu adalah orang yang tak sengaja kutabrak ketika aku mendaftar ujian masuk Akademi Sihir Mozilla beberapa hari yang lalu.
Ia melirik sebuah kursi kayu berbalut lilitan tumbuhan yang dipenuhi bunga berwarna merah muda. Kemudian berkata, “Duduklah.”
Aku pun menghampiri kursi itu, lalu duduk dengan raut wajah―sebisa mungkin―tampak tenang.
“Perkenalkan, aku adalah Lexas Hisfon Sence, pengawal pribadi sekaligus pengawal terpercaya Ratu Shena.”
Laki-laki yang bernama Lexas Hisfon Sence itu memperkenalkan dirinya. Jadi, laki-laki itu adalah pengawal pribadi ibuku?
“Sejujurnya, wajahmu tampak sangat mirip dengan Yang Mulia Ratu Shena, makanya aku mengundangmu ke sini untuk mengetahui identitasmu,” ucap Lexas, lantas tersenyum penuh makna, membuatku berkeringat dingin. Entah mengapa, orang itu menjadi lebih terlihat seperti iblis ketimbang menjadi pengawal pribadi. “Sekarang, giliran dirimu yang memperkenalkan diri.”
Tiba-tiba saja mulutku bungkam.
Apakah aku harus membongkar identitasku di depan Lexas? Apakah orang itu bisa dipercaya?
Namun, jika terbukti bahwa dia tidak bisa dipercaya dan dengan mudahnya aku memercayainya, lalu membongkar identitasku padanya, bukankah berarti aku akan mengalami kerugian besar?
Selama beberapa menit terakhir, aku terus memikirkan hal ini; membongkar identitasku atau tidak.
Pada akhirnya, aku memantapkan diri kalau aku akan membongkar identitasku padanya. Jika suatu hari nanti dia mengkhianatiku, maka biarkan Microna atau Lightning yang mengurusnya.
Setelah merasa yakin dengan keputusanku, aku pun memperkenalkan diri dengan singkat.
“Nama saya adalah Sheyla Putri. Tetapi baru-baru ini, seorang peri dari keluarga bangsawan Ell, yaitu Microna Ell, mengatakan pada saya bahwa nama asli saya adalah Sheyla Shena Ali Putra. Lalu ketika saya keluar dari ruangan Mrs. Aleea, saya bertemu dengan orang yang merupakan kakak kandung saya, Shavir Ali Putra.”
Tampak raut wajah Lexas berubah. Di wajahnya tercetak dengan jelas rasa sedih, kaget, bahkan amarah. Semuanya bercampur menjadi satu. Aku tak mengerti mengapa wajahnya berubah seperti itu.
Setelah menormalkan ekspresinya, Lexas berdiri dari duduknya. Kemudian menghampiriku, lalu bertekuk lutut di hadapanku―yang masih dalam posisi duduk.
“Lexas Hisfon Sence, pengawal pribadi Ratu Shena, mengabdi pada Putri Sheyla Shena Ali Putra,” ucap Lexas tegas dan penuh keyakinan.
Aku tersenyum. “Ya. Aku terima.”
Setelah itu aku menyuruh Lexas berdiri, lalu kukatakan padanya bahwa aku tidak menerima pengkhianatan dari siapa pun. Aku juga mengatakan padanya untuk bersumpah tetap setia padaku, dan Lexas menjawab perkataanku dengan tegas dan penuh keyakinan bahwa dia akan tetap setia padaku apa pun yang terjadi, dan tidak akan pernah mengkhianatiku.
Ketika mendengar bahwa Lexas mengabdikan kehidupannya padaku dan bersumpah akan tetap setia padaku apa pun yang terjadi, aku merasa sedikit terkejut, tetapi di saat bersamaan, aku merasa senang.
Perasaan ini... membuatku merasa puas, juga sedikit ragu.
Masalahnya adalah selama aku hidup, aku tidak pernah mencoba untuk memanfaatkan seseorang atau apa pun yang berhubungan dengan tindak kejahatan.
Namun, ketika aku mendengar sumpah mengenai kesetiaan Lexas, aku merasa puas dan... merasa bahwa aku menemukan seseorang untuk dimanfaatkan.
Sebenarnya, apa yang sedang terjadi padaku?
...❀ ❀ ❀...
Hari ini malam tampak lebih gelap daripada sebelumnya. Aku memandang langit malam dari jendela kamarku. Tadi ketika aku berada di ruangan Lexas, ia menyuruhku agar menemui Microna, lalu memintanya memberikan buku tua yang pertama kali ditemukan di “Restricted Area” oleh ibuku.
Ya, Lexas menyuruhku untuk meminta Wizard Book yang disimpan Microna, kemudian Lexas secara pribadi menjadi pelatihku tadi. Ia mengajarkanku beberapa teknik sihir yang dicatat di dalam buku tersebut.
Aku tidak tahu mengapa Lexas bersikeras mengatakan bahwa aku harus berlatih. Ketika aku bertanya padanya, Lexas mengatakan bahwa ia merasa sebentar lagi akan terjadi suatu peperangan di akademi ini. Saat ia mengatakan hal itu, kepalaku mulai berasumsi bahwa perang yang sebentar lagi terjadi adalah perang pembuka yang dikatakan ibuku.
Kualihkan pandanganku pada sekelebat bayangan yang diam-diam memasuki halaman akademi. Keningku berkerut. Tiba-tiba saja, satu kata terlintas di pikiranku; penyusup!
Kala aku hendak melompat turun dari jendela, sosok itu segera menghilang. Aku pun menghentikan aksiku yang hampir saja melompat turun dari lantai tiga. Ah, aku bodoh sekali. Beruntung aku tidak jadi melompat.
Setelah itu, mataku menelusuri halaman akademi, mencoba mencari sosok tadi. Tetapi aku tidak menemukan apa pun. Setelah kurasa tidak ada hal aneh lainnya, aku pun berdiri dari dudukku, lalu melangkah menaiki ranjang, kemudian tertidur pulas.
Besok ada hari yang kunanti.
...❀ ❀ ❀...
Sinar mentari pagi senada dengan senyum menawanku―ah, aku tidak tahu dari mana asalnya kepercayaan diri ini. Hari ini adalah hari pertama aku bersekolah di Akademi Sihir Mozilla.
Seragam akademi yang menawan telah terbalut rapi di tubuhku, ditambah sepatu bot yang telah lama ingin kupakai sejak Mrs. Aleea memberikannya padaku beberapa waktu lalu. Kupandangi seragam menawan itu dari cermin yang berada di depanku. Aku pun semakin menyunggingkan senyuman.
Tok, tok, tok!
Suara ketukan pintu terdengar. Tanpa menoleh ke arah pintu, aku berkata, “Masuklah.”
Kriet. Suara pintu terbuka terdengar, diikuti dengan suara kepakan sayap seseorang.
“Apakah Anda telah selesai bersiap, Tuan Putri?” tanya orang itu. Itu adalah suara Microna. Aku pun membalikkan badan. Kulihat Microna tersenyum senang. Ia pun bertepuk tangan. “Anda sangat cantik, Tuan Putri,” pujinya tulus.
Aku tertawa kecil kala mendengar pujian dari Microna. “Terima kasih.” Pandanganku teralih pada Microna yang memakai seragam berbeda denganku. “Mengapa seragammu berbeda denganku? Apakah kita beda kelas?” tanyaku, terdengar sendu. Jika itu benar, maka aku akan sendirian menjadi murid baru di kelasku.
Microna segera menggeleng. Ia menjawab, “Tidak, Tuan Putri. Seragam yang hamba kenakan adalah seragam khusus yang menyimbolkan bahwa hamba adalah pengawal Anda. Dan juga, kita tidak berbeda kelas.”
Ketika kudengar bahwa seragam itu khusus untuk para pengawal, ekspresi wajahku tidak menyenangkan. Bagaimana mungkin Microna dianggap sebagai pengawal?!
Apakah tidak ada yang mengetahui bahwa dia adalah salah satu anggota keluarga kerajaan peri yang terhormat, yaitu bangsawan Ell?!
“Kau tidak pantas mengenakan seragam itu. Mereka tidak boleh merendahkanmu. Ayo, aku akan ke ruangan Mrs. Aleea. Kau ikutlah denganku.”
Tanpa aba-aba, aku segera menghampiri Microna dan menarik pergelangan tangannya. Aku harus mengembalikan harga diri Microna sebagai bangsawan peri!
“Tunggu, Tuan Putri.” Microna berusaha mencegah. Aku segera menatap matanya dengan tajam. “Anda salah paham.”
Sebelah alisku terangkat. Salah paham, katanya?
“Katakan apa maksudmu,” ucapku.
“Begini, Tuan Putri. Tidak hanya hamba yang memakai seragam ini, tetapi juga Lexas, Stay, Lightning, dan Felicia,” jelasnya. “Seragam ini khusus untuk kami berlima. Sedangkan para pengawal―putri atau pangeran yang bersekolah di sini―mengenakan seragam yang jauh berbeda daripada seragam kami.”
“Ah?” Hanya itu yang mampu keluar dari mulutku. Sial, aku malu sekali.
“Anda tidak perlu malu, Tuan Putri,” kata Microna, terdengar meyakinkan. Ia meletakkan tangan kanannya di dada. Ekspresinya wajahnya tegas. “Hamba terharu dengan kepedulian yang Tuan Putri miliki terhadap hamba. Untuk itulah, Putri tidak perlu malu. Hamba merasa bangga pada Anda.”
Tiba-tiba saja wajahku terasa memanas. Dengan segera, kedua telapak tanganku menutupi seluruh wajahku. “Kau jangan memujiku seperti itu, Microna...!” ucapku, yang malah terdengar seperti erangan.
Entah mengapa, perasaan aneh ketika aku bersama Lexas kembali kurasakan. Aku merasa bahwa ada suatu gejolak yang memaksaku untuk... memanfaatkan Microna. Namun, aku segera menepis pikiran negatif itu jauh-jauh.
“Ma-maafkan hamba, Tuan Putri.” Suara Microna terdengar panik. Kurasakan tangan seseorang memelukku. “Anda jangan menangis. Jika Anda menangis, maka nanti Tuan Muda akan menghukum hamba.”
Di dalam pelukan Microna, aku menghela napas ketika mendengar perkataan Microna yang mengatakan bahwa kakakku akan menghukumnya jika melihatku menangis. Ah, apa iya? Apakah orang yang merupakan kakakku akan peduli padaku?
Baru saja aku hendak mengatakan sesuatu untuk membantah perkataan Microna dan mengatakan bahwa aku tidak menangis, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang. Nadanya terdengar sangat dingin.
“Apa yang terjadi?”
Deg!
Dapat kurasakan degup jantung Microna berdetak lebih kencang. Ah, sudah dipastikan bahwa suara dingin itu adalah suara milik Shavir Ali Putra, alias kakakku.
“Apa yang kau lakukan pada adikku, Microna?” tanya suara itu. Nadanya semakin dingin seakan hendak menerkam Microna hidup-hidup.
...❀ ❀ ❀...
Tbc.