
Jangan acuhkan kata hatimu. Jika kau ambil kesempatan, kamu bisa meraihnya! Kata hatimu adalah impian tersiratmu. Kenapa kau selalu memendam impianmu? Bukankah itu terasa sakit saat kau cabut bulu di sayap indahmu? Kau bisa saja terbang bebas, tapi kau menolaknya.
***
Si cilik tiba di sebuah tempat, di salah satu bagian dari hutan kecil di komplek rumahnya. Dia dapat mendengar kicauan burung dan dentuman air terjun dengan jelas. Nenek yang tadi dibantunya kini sedang beristirahat di sebuah kursi kayu yang reyot. Tidak ada bekas goresan di bagian tubuh nenek itu setelah terserempet. Sungguh wanita tua yang tangguh.
"Terimakasih, nak. Kamu benar-benar anak yang baik," ujar wanita ringkih itu setelah keheningan menemani beberapa waktu. Bocah kecil mengangguk.
"Sebagai tanda terimakasih nenek, nenek akan biarkan kamu memilih sesuatu yang ada di sini untuk dibawa pulang," ucapnya lagi, "kamu bisa melihat-lihat dulu." Meskipun si kecil agak keberatan, sebab ia harus segera pulang, dan tidak banyak barang di rumah sempit ini, ia tetap melakukan apa yang dipinta nenek. Lagipula, nenek itu sepertinya kesepian. Sebentar saja, mungkin si kecil dapat menemaninya walau hanya sebentar.
"WOOF WOOF!!! Grrh!!!"
"Rawr!!! MEEOW! Hisssh..!" Kegaduhan terdengar dari luar rumah wanita tua. Tahu akan rasa penasaran si anak, sang nenek tersenyum dan mengizinkannya mengecek keadaan.
Si kecil segera berjalan ke luar dan mendapati 3 ekor hewan yang sibuk bertengkar. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengangkat seekor landak ke atas kepalanya dan menimang kucing layaknya bayi. Anjing berambut putih tebal digiringnya masuk ke rumah sang nenek bersama hewan lainnya. Si anjing masih mengibaskan ekornya, entah karena kesal atau senang. Sementara kucing yang digendongnya dan landak di kepalanya sudah tenang. Lantas ia menurunkan si kucing dan menggendong anjing putih untuk menenangkannya.
"Kamu ingin membawa mereka, anak manis?" tanya wanita tua setengah tertawa. Bocah berumur 10 tahun itu mengangguk.
"Bolehkah aku membawa ini semua?" dia bertanya pelan, menatap wanita tua yang masih duduk di kursi kayunya.
Woosh! Angin menerbangkan helaian daun kering, masuk ke dalam rumah wanita tua.
"Hei, kenapa kamu minta izin darinya? Dia menyeramkan, lihat matanya yang hitam pekat dan giginya yang runcing!"
Sebuah suara berbisik di telinganya. Semua mata hewan yang bersamanya tertuju ke arah belakang si cilik.
"Bukankah kamu yang paling menyeramkan di sini?" anak itu menolehkan sebagian wajahnya ke sumber suara. Anak laki-laki bertanduk hitam kecil dengan lingkaran malaikat melayang di atas kepalanya, sayap yang tidak serasi satu dengan lainnya, ekor yang panjang dan runcingan panah di bagian ujungnya, serta mata hitam pekat dengan bola mata merah dan pupil tipis. Jelas dia bukan seorang anak manusia.
Kedua anak itu saling terdiam.
"Kau... bisa melihatku?" tanya anak laki-laki itu bingung, disambut anggukan pasti si kecil.
Lalu pandangannya menjadi gelap.
***
Beep... beep...
"Nath, catat! Degup jantungnya masih stabil hari ini, belum ada tanda-tanda dia akan siuman dalam waktu dekat, tapi keadaannya tidak memburuk."
"Kamu menjengkelkan sekali, Devan! Memerintah seenaknya, memangnya kau pikir dia jadi seperti ini karena ulah siapa?!"
"Hei, gentlemen, jangan bertengkar lagi!" Laki-laki dengan rambut yang melawan arah gravitasi melerai kedua temannya.
"Aku rasa mengurungnya dalam tabung transparan dengan air berisi campuran kimia bukanlah ide bagus, Nath..." ucap laki-laki lainnya dengan rambut putih panjang bergelombang, hampir sepenuhnya menutupi mata.
"Tidak ada yang tahu, dia bisa saja menyerang kita ketika siuman!"
"Kata orang yang senang disentuh manusia-" BRAK!!!
"-Aku yakin kau bukan orang yang suka cari masalah, Dev!" anak laki-laki berambut hitam keabuan menarik kerah baju laki-laki bertanduk.
"Kawan-kawan, tenanglah! Jangan berkelahi di sini, kita bisa mengundang banyak makhluk dari dunia ini! Kalian 'kan tahu, sangat sulit mencari tempat persembunyian yang aman."
"Abe benar. Jangan berisik," lanjut si rambut putih, "kalian seperti anak kecil." Ucapan pria dengan rambut putih yang bergelombang itu justru membuatnya menggantikan posisi laki-laki bersayap setengah iblis setengah malaikat. Tidak memedulikan temannya yang emosional, ia mengalihkan matanya. Tatapan malasnya diarahkan pada anak di dalam tabung, intuisinya tahu apa yang akan dilakukan temannya. Ketiga lelaki tersebut sudah bersama teman pemarah mereka dalam waktu yang sangat lama. Mereka sudah hapal betul tindakan apa saja yang dapat dilakukan teman mereka itu. Tetap saja, ia tidak mengalihkan pandangannya. Barulah ketika laki-laki berambut hitam lurus dengan sisi yang berbentuk seperti telinga kucing menghampirinya, ia beralih. Mungkin saja kali ini giliran kerah baju hangatnya yang ditarik teman pemarahnya.
"Ohoho, dan kau pikir kau lebih dewasa, hei anjing?" Mereka berdua berhadapan. Devan yang telah lepas dari pengawasan temannya membenarkan kerah bajunya. Si rambut putih, Morga, benar-benar telah menggantikan posisinya sebagai mantan target pria berambut hitam. Hanya saja, tubuhnya yang lebih tinggi membuatnya dalam posisi aman dari penarikan kerah baju. Matanya memberi isyarat pada laki-laki bersayap untuk menggantikannya mengawasi anak di dalam tabung.
"Apakah itu pertanyaan? Karena aku yakin kau sudah tahu jawabannya," tanggap si rambut putih dengan datar.
Tentu saja ia tahu bahwa responnya membawa masalah semakin dekat. Tapi ia tidak peduli, terlalu malas untuk berceloteh panjang lebar, atau melawan temannya sendiri. Di saat seperti inilah, laki-laki dengan gaya rambut tidak terarah melawan gravitasi bumi, ikut turun tangan.
"Huff... Ya, terimakasih infonya, Abe." Si rambut hitam meredakan emosinya, melepaskan Morga dari daftar targetnya, tidak ingin bertengkar dengan anak yang memiliki rambut melawan gravitasi, Abe.
"Um, hei, Nath, Abe, Morg, maaf mengganggu drama rumah tangga kalian, tapi apakah anak itu awalnya memiliki warna rambut dan mata seperti itu?" Devan menunjuk ke arah tabung setelah beberapa saat lalu mengalami situasi tegang dengan Nath. Ucapannya membuat ketiga temannya mengarahkan mata ke tabung tersebut.
"Dia sudah membuka matanya!?" Keempat laki-laki itu berebutan menyaksikan si cilik siuman. Rambutnya yang hitam berubah menjadi hijau kebiruan, hal yang sama terjadi pada matanya.
"A...astaga!" Rahang bawah Abe terjatuh, menggambarkan betapa terkejutnya ia.
"J-jangan diam saja, cepat hapus ingatannya, Dev!" Perintah Nath panik. Morga, laki-laki berambut putih, segera membuka tabung dan mengangkat si kecil, membopongnya, dan menaruhnya dengan hati-hati di hadapan Devan. Di antara mereka berempat, hanya Devan lah yang mempelajari ilmu sihir. Memang dia belum sepenuhnya handal, tapi untuk ilmu dasar seperti menghapus memori, ia sudah terbiasa melakukannya.
"Langit, kumohon padamu untuk menerbangkan ingatannya, laut, kumohon padamu untuk menghanyutkan ingatannya, tanah, kumohon padamu untuk mengubur ingatannya." Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya disatukan, lalu ditempelkan ke kening si kecil. Secercah cahaya muncul dari jemari Devan. Sekali lagi, anak berambut hijau kebiruan itu terjatuh tidak sadarkan diri.
Keempat pria itu kehabisan kata-kata. Nafas mereka terengah-engah seperti pelari yang baru mencapai garis finish. Perubahan warna pada mata dan rambut... itu bukanlah hal yang sering terjadi pada sampel penelitian mereka. Dan lagi...
"...dia tidak..."
"...menjerit."
"Sebaiknya kita teliti anak ini. Mungkin dialah kunci kedamaian antara dunia manusia dan dunia kita!" Devan terdengar bersemangat.
"Tahan kuda-kudamu, anak muda. Bisa jadi dia hanya shock."
"Harus kuakui, aku setuju denganmu kali ini, Morg."
"Ja, Dev. Aku rasa kita harus menelitinya. Diese kleine Dame menunjukkan perubahan warna rambut dan mata..."
"Bukankah itu karena zat kimia dalam air?"
"Tidak, Nath, nein nein nein. Kau tidak ingat? Dia juga bisa melihat 'wanita tua' di gubuk dan Devan dalam bentuk asli tanpa alat apapun!"
"Abe ada benarnya. Mungkin kita bisa membuat perdamaian dengan meneliti anak ini. Aku ikut denganmu, Dev." Ucap Morga menyetujui.
"Yang benar saja, kalian! Aku akan mengadukan pada Tagt!" Nath mengambil arloji tua dari saku celananya, kemudian ia buka arloji itu. Belum sempat hologram Tagt muncul, ia menutup kembali arlojinya. Rambut hitam berponinya diacak tanda gusar.
"...ayo kita selesaikan ini!" ujarnya kepada teman-temannya. Jika ia menceritakan hal ini pada Tagt, sudah pasti orang itu akan setuju tanpa pikir panjang. Dengan muka masam, ia berjalan ke arah si kecil, lalu menyeret kakinya.
"Uh... Nath, sebaiknya kamu menggendongnya... dengan lebih halus," Devan merasa keberatan dengan apa yang dilakukan temannya, "dia... perempuan, Nath." Kata-kata Devan membuat Nath berhenti sejenak.
"Kamu tidak dengar sebelumnya aku memanggilnya 'Dame' ?" Wajah Nath memerah. Di dunia tempat mereka berasal, wanita adalah makhluk tertinggi yang diagungkan. Semua hal tentang etika dan sopan santun yang diajarkan ketika mereka masih sangat muda ialah tentang cara memperlakukan wanita. Tapi meskipun wanita dianggap sebagai kaum tertinggi, mereka juga termasuk kaum terlemah. Itu sebabnya mereka harus berhati-hati menangani manusia ini.
"Aku tidak tahu kalau anak ini salah satu kaum atas di dunia kita," gumam Morga.
"Yah, tidak ada peraturan yang bilang bahwa kau tidak boleh meneliti wanita, kurasa tidak apa-apa selama kita menjaga kelakuan kita." Abe merekam laporan pertama ke dalam recorder.
Klak! "Sampel nomor 001730: 1. Subjek adalah anak manusia berkelamin perempuan. Dia dapat melihat manusia yang sudah meninggal dan kaum dari bangsa kita tanpa alat bantuan."
"Aku terkesan, kamu masih mengingat berapa banyak sampel yang pernah kita teliti," Devan terkekeh.
"Terimakasih, Dev. Aku pikir akan lebih mudah memanggilnya dengan sebutan nama, tapi kita tidak tahu siapa namanya."
"Neo."
"Kamu memang jenius, Morg! Karakteristiknya berbeda dari manusia lain yang pernah kita teliti, dia 'baru'!" Tanggap Abe dengan antusias.
"Kukira kamu akan berceloteh tentang penulisan 'neu' yang benar, Abe," Nath terkekeh.
"'Noi'??? Ahaha, nein, kurasa 'Neo' lebih keren!"
"Ya, ya, baiklah tuan-tuan," Devan memotong obrolan teman-temannya, lalu ia merubah ketiga laki-laki itu menjadi seekor anjing, kucing, dan landak.
"Mari kita pulangkan Neo!"