NEO

NEO
Neo Can Sleep



Malam itu, untuk pertama kalinya Neo tidur larut. Biasanya dia selalu tidur tepat pukul 8.30, setelah kedua wali asuh yang tidak peduli padanya selesai makan malam dan bersiap untuk sibuk di dunia mereka masing-masing --menonton TV, bermain gawai layar sentuh, atau hanya sekedar bermalas-malasan-- tanpa mengajak si kecil. Anak itu biasanya dibiarkan saja. Mereka tidak tahu menahu apa yang dilakukan gadis muda itu seusai makan malam. Tidak peduli dan tidak ada waktu juga untuk bertanya.


Hiburannya ketika di dunia manusia hanyalah jendela di ruang tamu. Di sana, ia dapat melihat aktivitas tetangga-tetangga sembari melepas jenuh. Ia tidak diperbolehkan berinteraksi dengan orang luar, tidak boleh keluar tanpa izin dan alasan yang jelas, juga tidak boleh berbuat seenaknya yang tidak diperintahkan saat di rumah. Bukan, gadis itu bukan pembantu rumah tangga. Tapi om dan tantenya --terutama tantenya-- memperlakukan si kecil jauh lebih buruk dari pembantu. Ia seperti budak mereka. Wali asuhnya hanya memberi makan karena aset berharga mereka, kakak dari si gadis kecil, meminta mereka untuk menjaga si gadis.


Sejak awal, pasangan suami istri itu memang tidak menyukai si kecil, Neo. Mereka beranggapan bahwa orangtua juga kakek dan nenek si kecil terlalu memanjakan dia hingga berniat memberikan hak warisan mereka padanya dengan alasan dia adalah cucu perempuan termuda. Kakak jeniusnya juga kelewat batas menyayangi si gadis. Segala hal ilmiah yang menarik langsung ia dihadiahkan pada si kecil sebagai pengetahuan dasarnya. Dan pengetahuan itulah yang kelak akan berguna bagi masa depan si kecil. Masa depan yang begitu terjamin, harta dan pengetahuan sudah ada di genggamannya. Sementara mereka, sang wali asuh, masih mengais harta yang tidak sama sekali diberikan kakek dan nenek. Anak semata wayang mereka sudah dewasa, bahkan sudah bisa bekerja mencari nafkah, untuk apa lagi wanita paruh baya itu diberikan uang? Itulah salah satu alasan kakek dan nenek memberikan segalanya pada mendiang ibunda Neo. Kejadian yang merenggut nyawa kedua orangtua si kecil dimanfaatkan kedua wali asuh itu untuk mengambil alih hak warisnya.


Tapi cukup sudah tentang dunia kelamnya. Kini ia berada di tempat dimana ia dihargai dan diperlakukan seperti yang seharusnya. Ia merasakan kehangatan yang luar biasa, seperti kehangatan yang selalu dilimpahkan oleh kakaknya. Dan itu saja sudah lebih dari cukup baginya.


"Maaf, kalau aku tidur di sini, dimana kalian tidur?" Tanya Neo, ia dan para lelaki sudah selesai membereskan perabotan dari kubus-kubus sebelumnya. Saat ini ia berada di ruangan yang sama, tapi dengan perlengkapan berbeda. Lampu-lampu melayang kian meremang, menandakan betapa malamnya waktu.


Neo berdiri di bawah ranjang yang didesain tinggi. Ranjang tersebut cukup luas dan nyaman. Bentuknya simetris dan letaknya di tempat tinggi, dekat jendela lingkaran. Ranjang itu dengan sendirinya akan melayang tinggi begitu ada seseorang yang menempatinya. Itulah sebabnya saat ini ranjang itu berada di atas kepala Neo. Sebagian ekor menyembul dari selimut, terlihat jelas rupanya dari bawah. Seekor kucing hitam keabuan yang sudah tidak asing lagi bagi Neo sedang tidur dengan nyaman di sana.


"Kuc- Nath? Dia sudah tidur sepertinya," Neo menempatkan dirinya di lantai, bersiap untuk tidur.


Plak! "Bangun kucing! Kau tidak ingat apa yang diajarkan di akademi? Wanita lebih dulu!!!" Devan terbang ke atas ranjang, memukul, lalu mengangkat kucing hitam itu hingga aura negatifnya menyebar.


"Kau iblis jadi-jadian! Ini kasurku! Sejak dulu ini memang tempatku tidur!" Kucing hitam, Nath, tidak mau kalah. Ia meronta, berusaha mencakar tangan yang mengangkatnya.


"Aku tidak mengerti, apakah kucing memang selalu egois seperti ini?" Tagt menepuk keningnya, lelah dengan sikap temannya yang satu itu.


"Aku seekor landak, bukankah landak takut pada kucing?" Abe tersenyum menyeringai, "tapi benarkah begitu?" Seketika bulu kuduk Nath berdiri, seakan mengerti apa yang dikatakan Abe. Ia langsung melompat dari ranjangnya dan menerjang Tagt.


"AH- HEI!!! Kenapa malah aku yang diserang??!" Tagt melepas paksa terkaman Nath dari kepalanya. "Kau menyebalkan, ikan."


Di tengah keributan itu, seorang gadis kecil telah terlelap dengan posisi duduk di atas lantai dingin, bersandar pada dinding keras. Morga yang sejak tadi malas berbaur dengan segala kerusuhan teman-temannya menyadari hal itu. Dengan santai ia mengambil selimut dari ranjang Nath yang semakin mendekat jaraknya pada lantai. Tak lupa ia pindahkan ranjang itu agar tidak menubruk si kecil yang terlelap. Selimut itu ia kenakan pada tubuh gadis mungil. Ia pun berubah menjadi anjing putih dan ikut pergi ke alam mimpi bersama si kecil.


Di sisi lainnya, Abe, Devan, Nath, dan Tagt masih saja meributkan hal-hal kecil yang semakin bertambah banyak. Lama kelamaan mereka lupa akan kebutuhan tidur mereka hingga mata hitam pekat Devan menangkap 2 sosok yang sudah terlelap di lantai. Morga tidur di atas pangkuan si kecil, ia terlihat sangat menikmati waktu tidurnya. Tiba-tiba rasa kantuk malaikat setengah iblis itu menyerang kembali. Mungkin karena terpengaruh dari pemandangan damai yang ia lihat. Devan berjingkat menjauh dari kerusuhan dan bergabung bersama Morga dan Neo ke alam mimpi. Selang beberapa detik setelah kepergian Devan, Abe, Nath, dan Tagt mulai tersadar akan betapa banyak waktu yang telah mereka buang hanya untuk perdebatan sembarang. Mereka terdiam dan menguap bergantian.


 


\*


 


Dari ufuk timur, matahari- tidak, tidak ada matahari di dimensi X. Objek bulat bercahaya gemerlap menembus jendela lingkaran tempat persembunyian para peneliti termuda dan seorang manusia. Objek bulat bercahaya itu bukanlah matahari, melainkan kelopak bunga yang berjatuhan, membawa banyak serbuk sari yang berkilauan.


Hanya ada satu jalan untuk keluar dari situasi ini. Neo memberanikan dirinya. Dia berusaha memajukan kepalanya perlahan agar Devan dan Tagt tidak terbangun. Gadis kecil itu berhasil membebaskan tubuh bagian atasnya. Kini kepala Devan dan Tagt saling bersandar. Lalu dengan hati-hati, ia memindahkan ketiga hewan dari pangkuannya. Kucing menguap di tengah-tengah regangannya, membuat Neo sedikit kaget. Tepat setelah Nath dipindahkan ke lantai beralas selimut tebal, ia terbangun dan langsung berubah menjadi seorang laki-laki berambut hitam keabuan.


"Kau sudah bangun rupanya," Nath mengusap kedua matanya yang masih setengah terpejam. "Selamat pagi."


"Pagi, Nath," jawab Neo agak linglung. Kedua tangannya masih memegang Abe, menjaga agar dia tidak terbangun. Nath tersenyum tipis melihat tingkah si kecil. Perlahan tapi pasti, gadis itu memindahkan si landak dari pangkuannya.


"Aneh melihat manusia biasa sepertimu dapat tidur nyenyak di suasana yang jauh berbeda dengan duniamu," ucap Nath memecah keheningan sejenak. Neo menatapnya, tidak mengerti. "Maksudku, kau pasti sudah sadar kalau tidak ada matahari ataupun bulan di sini, bukan?" Neo menggeleng.


"Aku belum keluar pagi ini," jawabnya. Meski begitu, ia sedikit banyak paham apa maksud Nath. Suasana di dimensi X agak berbeda dari dunia manusia di malam hari. Malam yang seharusnya benar-benar "malam" terasa seperti pagi dini hari. Mungkin karena perbedaan waktu dari kedua dunia yang memang pada dasarnya berbeda. Ralat, dimensi X tidak mengenal waktu.


"Manusia biasanya panik ketika pertama kali masuk ke dimensi ini. Ketenanganmu yang kelewat batas itu mengerikan," Nath sedikit terkekeh. Pria itu ternyata dapat berbincang dengan normal, tanpa teriakan tak tentu dan emosi berlebih. Neo tahu betapa lembutnya pria di hadapannya sejak pertama kali mereka bertemu, saat Nath dalam wujud kucing di hutan dekat komplek. "Semua hal yang ada di sini dapat berubah seperti apa yang makhluk-makhluk bodoh itu pikirkan. Jika mereka panik, tentu semua akan terlihat menyeramkan."


Pagi, siang, sore, dan malam, itu hanyalah kebijakan sang Ratu. Jika ratu memerintahkan pagi untuk datang, maka pagi datang. Begitu juga siang, sore, dan malam. Dan tentunya, pagi yang saat ini ia lalui adalah salah satu kehendak ratu. Tidak ada matahari, tidak ada bulan. Hanya ada titah dari kerajaan.


"Akan kujelaskan nanti, jika aku ingin menjelaskan," Nath bangkit dan mengambil sebuah kubus hitam. Ia membaca tulisan yang tertera dan dengan cekatan langsung mengerjakan aktivitas kesehariannya. "Jangan diam saja. Ini, minumlah!" Nath memberi si kecil segelas air hangat.


"Kau tahu? Ada banyak sekali hal yang ingin kuajarkan padamu. Tapi sepertinya aku sedang tidak ingin bersosialisasi dengan manusia untuk saat ini," ujarnya saat Neo meraih gelas yang ia tawarkan. Neo meminum air di gelasnya, hanya mendengarkan ucapan Nath.


"Maaf aku membuat keributan semalam. Aku tidak biasa berada di sekitar orang asing," Nath bermaksud menyindir gadis berambut hijau kebiruan. "Kau tahu, tempat ini bisa menjadi sangat sepi sewaktu-waktu."


"Dulu kami juga membawa seorang manusia ke tempat ini. Laki-laki dewasa yang perawakannya seperti perempuan," kisah Nath mengenang kejayaan di masa lalunya, ketika para peneliti itu menjadi peneliti non-resmi kerajaan. Nath menyeruput air hangat di gelasnya, kemudian menghela napas berat, "kami kehilangan orang itu, manusia yang kami harapkan membawa sesuatu yang berbeda... kami kehilangan dia." Neo menunduk menunjukkan empatinya. Ekor Nath membuat gerakan gelombang, tidak tahu harus merespon apa terhadap reaksi si kecil. Ia hanya bisa melirik kumpulan pria yang saling bersandar di lantai.


Pagi itu, hanya ditemani kelopak bunga berkilau yang berjatuhan dari jendela lingkaran yang terbuka, Neo dan Nath menikmati segelas air hangat bersama. Tenang dan hening, menunggu pria lainnya bangun dari alam bawah sadar mereka.


Kelopak bunga semakin banyak berjatuhan, lampu-lampu melayang kian menyala terang. Landak yang tertidur di atas selimut menggeliat sebagai reaksi terhadap cahaya. Ia terbangun. "Hoaaahm... Guuuten Morgen Natthie, Neo." Makhluk malam itu berubah menjadi wujud manusia, lalu menghampiri kedua temannya yang telah terjaga.


"Pagi, Abe." Nath mengambil gelas bergambar karakter kartun tikus dan menyeduh teh hangat. "Minumlah, daun teh ini kutemukan di gubuk hantu wanita tua dari dunia manusia," ujar Nath ketika sudah berada di depan Abe. Pria dengan rambut hitam keabuan itu berjongkok dan memberikan gelas kepada manusia landak. "Danke, Nath~"


Devan bangun ketika ia mencium wangi daun teh, disusul oleh Tagt. Abe yang tahu keinginan kedua lelaki itu langsung menyodorkan gelas berisi teh yang baru sedikit ia minum. "Ahaha, kalian mau coba?" Anggukan serentak kedua temannya menerima tawaran Abe. Bergiliran, dua laki-laki itu meminum teh dari Abe. Rasa puas tergambar di wajah mereka. "Enaknyaa," ungkap mereka riang. Rasa hangat yang menyegarkan mengalir dalam tubuh mereka, membuat kesadaran mereka bertambah.


Di atas selimut hanya tersisa seekor anjing putih. Sebenarnya anjing itu sudah terbangun saat Neo memindahkannya, namun ia terlalu malas bergerak dan memilih untuk tetap tidur. "Bangun, anjing!" bentak Nath membuat telinga sensitif si anjing putih otomatis berdiri. Anjing putih tahu betul dimana posisi Nath saat ini tanpa melihat. Suaranya dekat sekali. "Kita harus bersiap mengajari cewek itu!"