NEO

NEO
15. Masa Depan yang Tak Pernah Terbayangkan



Ketiga peri hutan itu berbaris di depan Pohon Kehidupan, membentuk pola segitiga. Setelah itu, simbol-simbol aneh muncul di dalam pola segitiga itu. Aku hanya bisa menatap takjub pada adegan tiap adegan yang terjadi di hadapanku.


Simbol-simbol aneh itu kian lama semakin terang, berjumlah tiga. Dua simbol terletak di sebelah kiri dan kanan, sementara simbol yang terakhir berada di tengah. Di antara ketiga simbol itu, simbol yang berada di tengah mengeluarkan cahaya yang berbeda dibandingkan dengan yang lainnya.


Adegan terakhir yang terjadi pada ketiga peri hutan itu sukses membuatku tertegun. Cia dan dua peri hutan lainnya terpental mundur, menandakan bahwa Pohon Kehidupan menolak sihir mereka.


“Cia! Cey! Caf!”


Aku segera berlari menghampiri mereka. Efek dari penolakan sihir itu berdampak pada ketiganya. Nyatanya, ketiga peri hutan itu terbatuk-batuk dan mulut mereka mengeluarkan darah kental berwarna merah.


Cia, yang mewakili kondisi dua peri hutan lainnya, memberitahuku bahwa mereka tidak sanggup membuka segel Pohon Kehidupan.


Sebagai gantinya, mereka memintaku membuka segel itu dengan sihirku. Awalnya aku langsung menolak permintaan Cia. Coba pikirkan, peri hutan yang langka dan memiliki sihir tingkat tinggi saja ditolak mentah-mentah oleh Pohon Kehidupan, apalagi aku yang baru saja mencapai penyihir tingkat 9.


Tetapi pada akhirnya, aku menerima permintaan mereka setelah dipaksa dan diyakinkan berulang kali. Lagi pula, aku melakukan hal ini juga demi melihat tiga masa depan yang kuinginkan.


Berjalan, aku berhadapan dengan Pohon Kehidupan. Tanganku terkepal dengan erat.


Aku pasti bisa!


Bibirku lantas merapalkan mantra yang baru saja diajarkan oleh Cia. Telapak tangan kananku perlahan terulur, menyentuh batang pohon itu.


Syuuu...!


Perlahan cahaya-cahaya berwarna pelangi muncul di sekelilingku. Bersamaan dengan munculnya cahaya-cahaya itu, simbol-simbol aneh mulai terlihat. Simbol-simbol itu berada tepat di atas kelima jariku.


Mantra yang kubaca cukup panjang. Untungnya aku dapat dengan mudah menghafal kalimat-kalimat panjang, sehingga memudahkanku untuk mengingat mantra itu.


Selain bibirku yang masih berkomat-kamit, sekujur tubuhku mulai mengeluarkan keringat. Dalam benakku, aku terus berdoa agar sihirku tidak ditolak oleh pohon itu. Ajaibnya, sihirku bekerja dengan lancar.


Suara Cia menginstruksikan aksi yang kulakukan. Dia mengatakan bahwa aku dapat menurunkan tanganku, yang artinya aku berhasil dan segel itu akan terbuka sebentar lagi.


Perlahan aku menurunkan tanganku. Selang beberapa detik, simbol-simbol aneh itu digantikan oleh sesuatu seperti portal, berukuran cukup besar dengan bentuk lingkaran, tampak seperti langit malam.


Swing, swingg!


Di dalam portal itu terlihat cahaya-cahaya tadi, yang mengelilingiku, berputar-putar di sana.


“Kau berhasil. Sekarang, katakan masa depan apa yang ingin kau lihat.”


Aku mengangguk mendengar perkataan Caf. Kemudian aku berkata, “Wahai Pohon Kehidupan, perlihatkanlah masa depanku,” kataku sambil memasang sihir perekam untuk merekam apa yang portal itu perlihatkan.


Portal itu bercahaya yang tandanya bahwa ia membalas perkataanku. Tepat setelahnya, di dalam portal itu kulihat seorang wanita dewasa yang sangat mirip denganku sedang memperlihatkan sihir tingkat dasar dan menengah pada dua anak kecil yang kira-kira berusia 5 tahun.


Kemungkinan dua anak kecil itu adalah saudara kembar, yang satu perempuan, sedangkan yang satunya lagi laki-laki.


Anak perempuan itu sangat mirip denganku. Tapi bedanya, bola matanya berwarna biru, sedangkan aku berwarna ungu. Kemudian perhatianku teralih pada anak laki-laki yang duduk di samping anak perempuan tadi. Anak laki-laki itu berambut hitam keperakan, seperti Fajar, sementara bola matanya sama persis denganku, berwarna ungu.


Aku tidak tahu siapa wanita yang memperlihatkan sihir-sihir itu pada dua anak kecil itu. Tapi aku yakin bahwa wanita itu adalah aku di masa depan.


Wanita itu berhenti mengeluarkan sihirnya, dan mengatakan bahwa kini saatnya mereka makan siang, tetapi anak perempuan di hadapannya merengek.


“Kau harus memperlihatkannya lagi, Mama!”


Aku tersentak kaget.


Anak perempuan itu memanggilku, di masa depan, dengan panggilan “Mama”!


Lalu anak laki-laki di sampingnya menimpali, “Mama harus berjanji untuk memperlihatkan sihir itu lagi nanti.”


Apa-apaan! Anak laki-laki itu juga memanggilku “Mama”!


Aku kembali memperhatikan adegan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Di dalam portal, wanita itu berusaha untuk menenangkan “anak-anaknya”. Setelah mereka tenang, wanita itu menggendong anak kecil perempuannya, sedangkan anak laki-lakinya mengikuti dari belakang. Ia membawa mereka ke sebuah ruangan, yang kutebak adalah ruang makan.


Di ruang makan, ada sebuah meja panjang. Di sana duduk tiga orang yang wajahnya tak terlihat dalam indra penglihatanku, seolah-olah Pohon Kehidupan tidak ingin memperlihatkan siapa mereka padaku. Ada sepasang suami-istri yang tampak tua, sedangkan satu orang lainnya adalah seorang laki-laki dewasa.


Sepasang anak kembar itu menyapa pasangan suami-istri itu dengan panggilan “Kakek” dan “Nenek”, sedangkan untuk lelaki dewasa itu mereka memanggilnya dengan panggilan “Paman”.


Ya Tuhan.


Apakah pasangan tua suami-istri itu adalah ayah dan ibuku? Lalu apakah laki-laki dewasa itu adalah kakakku?


Tapi sayangnya, wajah mereka tidak diperlihatkan. Aku kecewa dan cemberut, kemudian kembali memandang portal itu.


Di ruang makan, mereka mengobrol dengan santai, terlihat harmonis. Obrolan mereka terhenti ketika seorang lelaki yang seumuran denganku, di masa depan, datang dengan senyum cerianya.


Lelaki itu adalah Fajar! Dan kedua anak kecil itu memanggilnya dengan panggilan “Papa”!


“Pfffttt―ohok! Ohok, ohok!”


Aku tidak bisa berhenti batuk dengan tubuh gemetar.


Apakah di masa depan aku dan Fajar akan menikah, lalu memiliki anak kembar? Lucu sekali!


...❀ ❀ ❀...


Setelah itu, aku kembali melanjutkan menonton masa depanku sendiri. Lalu aku menarik kesimpulan.


Pertama, aku menemukan keluargaku dan kami hidup bahagia. Kedua, aku membangun rumah tangga dengan Fajar di usiaku yang menginjak dewasa. Dan terakhir, aku memiliki sepasang anak kembar yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, yang entah siapa nama mereka, aku tidak tahu.


Untungnya di masa depan, aku tidak terbunuh atau sekarat. Jika itu terjadi, maka itu akan menjadi skenario terburuk dalam hidupku.


Setelah Fajar yang di masa depan datang, Microna, Lightning, dan Stay mengekori di belakangnya. Mereka berpakaian rapi, seolah-olah mereka akan pergi ke suatu acara penting. Setelah mereka datang, Tania dan Alex muncul dari belakang mereka, yang juga berpakaian rapi.


Hal yang kutahu adalah bahwa di sana akan diadakan sebuah pesta, tapi aku tidak tahu pesta apa yang akan diselenggarakan.


...❀ ❀ ❀...


Kegiatan selanjutnya adalah “menonton” masa depan Kota Neo dan Neopolist.


Kota Neo di masa depan akan mendapatkan teror untuk yang kedua kalinya, namun teror yang itu justru lebih parah daripada yang sebelumnya. Itu karena semua penyihir yang masih bertahan hidup di Neo dibantai habis-habisan.


Mereka sudah membuat naga-naga di Neo pergi ke dimensi lain, sekarang mereka justru membantai seluruh penyihir yang ada di Neo! Ini tidak bisa dimaafkan!


Parahnya lagi, mereka bersekongkol dengan Philipolist untuk meratakan Neopolist!


Teror kedua itu membawa konflik yang sangat besar sehingga menumbuhkan benih-benih peperangan.


Aku ingat ketika ibuku mengatakan bahwa “perang pembuka” akan segera dimulai. Kemungkinan perang pembuka itulah yang menjadi titik awal dari teror kedua yang menimpa Kota Neo.


Ketika perang besar terjadi di Neo, perang besar lainnya juga terjadi di pintu masuk Neopolist.


Pintu masuk Neopolist adalah pintu yang telah diberi segel pelindung. Itu dibuat dari sihir seorang penyihir pertama di Benua Polist. Seharusnya segel itu tidak dapat dirusak. Tapi jika segel itu dirusak atau lebih parahnya lagi dihancurkan, maka tamat sudah Neopolist yang sangat kucintai.


Aku meringis tak karuan ketika melihat mayat-mayat penyihir tergeletak di sepanjang jalan yang saling terhubung, bahkan sebagian dari mayat-mayat itu terjatuh ke jurang yang tidak terhubung oleh jalanan―yah, kau tentu tahu bahwa Kota Neo adalah kota yang terapung.


Di tengah panasnya medan perang, sesosok gadis bersayap malaikat muncul dari langit. Aku tak tahu siapa gadis itu, karena seluruh tubuhnya bercahaya, seakan-akan tidak ingin diketahui wajahnya.


Tapi aku yakin bahwa gadis itu menunjukkan wajahnya saat di medan pertempuran. Hanya saja sepertinya Pohon Kehidupan tidak ingin memperlihatkan wajah gadis itu padaku.


Kemunculan gadis itu membuat situasi di medan perang semakin memanas. Dapat kulihat raut wajah kebencian yang sangat mendalam tercetak jelas di wajah ratusan malaikat dan iblis yang berasal dari Philipolist yang memerangi Kota Neo.


Aku menyaksikan adegan tiap adegan yang terjadi di portal itu.


Pada akhirnya, perang itu dimenangkan oleh Kota Neo, meski begitu korban jiwa yang berjatuhan tidaklah sedikit.


Di sisi lain, Neopolist juga mengalami hal yang sama. Mereka juga memenangkan perang itu, yang juga dibantu oleh orang yang sama. Ya, gadis malaikat itulah yang membantu Neopolist.


Aku tidak tahu bagaimana caranya dia membantu Neopolist saat tubuhnya saja berada di Neo untuk membantu memenangkan peperangan itu.


Dan begitulah, kegiatan “menonton” masa depan telah selesai.


Aku hanya bisa menyimpulkan satu hal bahwa ketiga masa depan itu tak pernah terpikirkan olehku sama sekali.


Pertama, aku tidak terpikirkan akan menikah dengan Fajar di masa depan dan memiliki sepasang anak kembar. Kedua, aku juga tidak terpikirkan bahwa Neo dan Neopolist akan menghadapi perang besar di masa depan. Intinya, ketiga masa depan yang kusaksikan hari ini sangat berbeda dengan pemikiranku.


Tapi tetap saja, ada yang janggal.


Mengapa aku tidak muncul di medan perang? Lalu tidak adakah Fajar, Stay, Microna, dan Lightning di sana untuk membantu?


Juga....


Aku tidak melihat Felicia di portal masa depanku.


Ke mana perginya peri pirang itu?


...❀ ❀ ❀...


Tbc.