
"Berjuanglah, Neo."
Itulah kata-kata terakhir yang terngiang dalam kepala Neo setelah Abe mendorongnya keluar dari kawasan aman. Neo terperosok di dalam gua, sendirian. Ingin rasanya gadis itu menolak perintah Abe, sayangnya keterbiasaannya untuk menerima segala perintah masih tertanam kokoh dalam dirinya. Ia tidak dapat berbuat apa-apa selain menerimanya. Lagipula, ini merupakan salah satu bentuk "pelajaran" agar dirinya dapat menyesuaikan diri di lingkungan barunya. Ia terlanjur berhasil melewati "pelajaran" dari Morga dan Tagt. Apa gunanya mundur sekarang?
Gadis kecil itu bangkit. Dia harus menyelesaikan semuanya. Terlebih karena Abe sudah sangat baik padanya. Setelah semua yang dilakukan pria itu, Neo harus mengusahakan yang terbaik agar tidak mengecewakan si landak. Tekadnya membulat. Permintaan tanpa paksaan dari Abe adalah perintah mutlak baginya saat ini. Jika ia dipinta untuk bersosialisasi, maka itulah yang akan ia lakukan.
Goyahan kaki ia paksa untuk menopang tubuhnya. Neo menegakkan sikap berdiri dan mengambil ancang-ancang untuk memasuki gua jauh lebih dalam. Gadis itu siap untuk keluar dari batas aman. Di dalam gua, terlepas dari batas aman, suasana terasa sangat mencekam. Bebatuan yang ia pijak saat ini seperti tidak memiliki ujung. Terlebih cahaya sore hari tidak mendukung penerangan di dalam sama sekali. Neo memejam, mencoba mengatur penglihatannya dalam gelap. Kembali ia membuka mata dan menutupnya lagi demi membiasakan.
Semakin jauh gadis kecil melangkah ke dalam gua. Sayup-sayup terdengar suara dengkuran. Sosok inikah yang harus ia temui untuk diajak bersosialisasi? Apa maksud Abe dengan bersosialisasi? Apakah sekedar bertemu saja sudah termasuk? Gugup hatinya berdebar kencang meski ekspresi wajahnya berbohong.
"Bagaimana kalau dia adalah hewan buas?"
"Bagaimana kalau aku membangunkannya?"
"Bagaimana kalau nanti ia terganggu?"
Berlarian lagi pikiran negatifnya. Keringat meluncur lepas dari pelipisnya. Jelas gadis itu takut setengah mati. Jiwanya kecut bertanya-tanya, "apakah ini saatnya mundur?" Tapi kakinya terus melangkah maju meski disertai getaran kencang. Walau matanya sudah mulai terbiasa dengan kegelapan yang mewarnai setiap sudut gua, namun gadis ini tetap seorang anak kecil. Ketakutan yang ia rasakan berbeda dengan ketakutan terhadap om dan tantenya.
"Bagaimana kalau aku mengecewakan Abe?"
Ketakutannya saat ini adalah campuran dari rasa takut jika ia tidak selamat dan rasa takut akan membuat orang lain kecewa. Namun tanpa ia sadari, kakinya telah berhasil membawa seluruh tubuhnya dalam keadaan utuh di hadapan sosok yang sedang tertidur. Seketika pikiran-pikiran negatifnya sirna.
Sesosok makhluk kecil mungil yang terlihat menggemaskan sedang tertidur nyaman di atas gumpalan tanah. Daun-daun lebar sebagai selimut dan beberapa kelopak bunga menjadi penutup gumpalan tanah tempat kepala mungilnya berada. Seorang peri nan cantik bagai artis di setiap acara TV tidur dengan manis. Sekarang kebimbangan mencolek-colek hati Neo. Gadis kecil itu tentu tidak ingin mengganggu peri yang tertidur. Tapi dia juga tidak ingin mengecewakan Abe. Gadis itu menghela nafas. Sungkan jemarinya menyentuh tubuh mungil yang terbalut dedaunan.
Poke~
Ukiran alis indah di wajah peri itu mengerut. Perlahan peri cantik itu memicingkan matanya. Dia terbangun.
"Huh...?" Sedikit ia mengusap matanya agar dapat melihat lebih jelas, "h-hu-UAHHH???!!!"
Bruk. Saking kagetnya sang peri melihat sosok di hadapannya begitu dekat dengan wajahnya, ia terjatuh dari tumpukan batu yang menjadi ranjang tidurnya. Neo sama seperti raksasa di mata peri mungil itu. Peri berkuncir dua diikat pita manis itu terjerembab ke tanah, membuat Neo agak khawatir. Berlutut Neo hendak mengembalikan peri cantik ke atas ranjang, namun tiba-tiba peri tersebut menggores jari Neo dengan pecahan batu runcing. Darah segar menetes.
"Kau... Kau manusia! Apa yang kamu lakukan di sini?! Apa sekarang kaum keji-mu ingin memakan daging peri?!" Neo terdiam mendengar runtutan kata yang keluar dari bibir peri cantik itu, tidak tahu dan tidak ingin membalas ucapannya.
"Terkutuklah kau dan segala kejahatanmu! Kau berniat untuk menghabiskan suku suci kami, bukan?!" Dia masih memaki Neo. Sungguh Neo sudah terbiasa menghadapi uraian kata penuh asumsi negatif terhadapnya. Diam sebagai tanggapan adalah sikap terbaik yang dapat ia ambil.
"Asal kau tahu, monster sepertimu tidak akan diterima dimanapun! Kau akan menderita seumur hidupmu!!!" Neo tetap tenang. Sorot mata peri cantik itu menampilkan kemurkaan dahsyat. Tanpa perlu ditanya lagi, sudah pasti perempuan cantik nan mungil itu amat sangat membencinya. "Aku akan memberitahu Ratu tentang keberadaanmu di sini!"
"Langit, kumohon padamu untuk menerbangkan ingatannya, laut, kumohon padamu untuk menghanyutkan ingatannya, tanah, kumohon padamu untuk mengubur ingatannya." Jalinan kata terdengar familiar di telinga Neo. Neo membalikkan badannya, masih belum bangkit berdiri. Pupil mata gadis itu mengecil saat melihat Devan berada di belakangnya. Dia terkejut, namun juga sedikit lega akan kehadiran sosok tersebut.
"Devan, kamu... menghapus memorinya?" Tanya Neo memastikan begitu melihat seorang peri cantik terkulai di telapak tangan Devan. Mata Devan menatap lembut. Senyuman yang tak kalah lembutnya ditujukan pada Neo, membuat anak yang terkulai lebih tenang. Devan mendekati Neo dan meraih tangannya, membantu gadis kecil itu berdiri. Tanpa banyak bicara, pria bersayap tersebut menarik Neo dengan lembut kembali ke batas aman. Tidak lupa ia letakkan peri di tangannya di atas rerumputan di luar batas.
"Devan? Kenapa kamu keluarkan Neo? Dia sudah berhasil? Dia bicara pada suku Raath? Neo sudah-"
"-Cukup, Abe! Ada apa denganmu?! Belakangan ini tingkahnya sangat aneh! Kau hampir membahayakan dia, apa yang ingin kau lakukan sebenarnya? Apa niatmu?!"
"Devie, kau tidak menjawab pertanyaanku. Apakah dia berhasil berteman dengan kaum dimensi kita?" Abe berpaling dari Devan, berbalik menuju Neo, "kau sudah menyelesaikannya ya, Neo?"
Neo menundukkan kepalanya. Kedua bahunya diguncang pelan oleh Abe, namun celengan kepala gadis itu membuat guncangannya berhenti. Abe masih tersenyum meski auranya berubah drastis. "Tidak masalah, Neo. Kita bisa coba lagi lain waktu."
Abe berjalan menjauh dari lokasi. Sepertinya ia sedikit kaget ketika mendapati Neo dan Devan sudah kembali dari batas aman saat dirinya hendak mengecek keadaan Neo. Lantas tanpa pikir panjang ia berlari menghampiri Devan dengan antusias. Devan merasa sedikit bersalah telah menimbulkan kericuhan dan memulai perselisihan dengan Abe. Pria itu terbang secepat kilat mengejar temannya sambil tanpa sadar menarik tangan Neo.
\\*
"Oh, selamat datang kembali, anak-anak," sambut Morga tanpa bergeming dari posisi nyaman di sofa. Abe menampilkan wajah cerianya, "heya, Moggie~!"
Hari yang melelahkan. Mungkin ratu juga sudah kelelahan, oleh sebab itu sang wanita berkuasa memerintahkan malam untuk segera datang. Devan dan Abe masih menjalani perang dingin mereka. Sebisa mungkin mereka saling menjauh satu sama lain hingga pikiran mereka kembali tenang. Devan langsung menghempaskan tubuhnya, bersandar di samping Morga. Sedangkan Abe menuju tempat dimana Tagt sedang menyiapkan makan malam. Morga dan Tagt mengerti apa yang terjadi tanpa perlu dijelaskan. Keempat peneliti itu kembali sibuk dengan dunia mereka masing-masing.
Rasanya damai ketika para peneliti tidak berbuat ulah. Gadis kecil memasuki ruangan yang sama dengan Devan dan Morga. Sebuah ranjang yang awalnya akan ia tiduri berada di lantai di sisi ruangan. Gadis itu merasa janggal. Neo mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan namun hanya menangkap secarik kertas tersembunyi dengan tulisan huruf yang hampir tidak terbaca, "carilah aku". Nath!
Apakah ini pelajaran penting lainnya? Semacam tes tak terduga? Neo belum sempat mengistirahatkan raganya. Tidak mungkin Nath benar-benar menghilang. Ia pasti masih berada di dalam tempat berlindung. Gadis itu mencari Nath dalam diam, takut membuat para lelaki panik.
Tidak ada di bawah kasur, tidak ada di bawah tumpukan kubus, tidak ada di bawah sofa, tidak ada di bawah meja. Dimana Nath? Neo terus mencari Nath, tak menghiraukan pandangan bingung dari para lelaki. Tanpa sengaja ia membuat peneliti lainnya penasaran pada apa yang ia lakukan. Hingga tiba-tiba gadis kecil itu memutuskan untuk berjalan keluar dari tempat perlindungan. Tangannya meraih gagang pintu.
"Mau kemana, Neo? Apa yang kau lakukan sejak tadi?" Rasa penasaran Devan tidak dapat dipungkiri. Neo tersentak. Ia menoleh ke belakang. Devan, Morga, dan Tagt menatapnya heran.
"Aku ingin mencari Nath," ujar gadis itu lalu langsung melesat keluar. Morga dan Devan dengan cekatan bergegas menyusul gadis itu. Meski ia masih berada di batas aman, sangat berbahaya keluar di malam hari. Kemungkinan hewan buas terjaga dan mengintai mangsa lebih besar. Insting berburu suku Cleo juga kerap aktif di malam hari. Dan lagi, peri tadi mungkin masih berada di luar sana. Sedikit saja gadis itu melewati batas aman, keberadaannya pasti langsung tercium.
"Ah, hei!" Tagt yang tadinya berkutat dengan peralatan dapur juga bergegas mengikuti Neo. Namun Abe menghalangi jalan keluar ketiga pria tersebut. Sorot matanya menatap tajam ketiga temannya. Senyumnya mengembang setelah lama tertahan. "Ini adalah kesempatan Neo untuk membuktikan kelayakannya."