
“Sebenarnya, Lightning bisa berubah menjadi manusia.”
“Ya, aku bisa berubah wujud menjadi manusia.”
“Hah?!”
Pernyataan dari Lightning sukses membuatku terkejut dan berteriak histeris. Aku sangat terkejut karena aku belum pernah mendengar hal seperti itu sebelumnya. Lagi pula, di dalam buku sejarah yang kubaca, tidak tercantum sebuah fakta bahwa seekor naga dapat mengubah wujudnya menjadi manusia.
“Hei, telingaku sakit! Sheyla, kalau kau ingin berteriak kira-kira, kek!” ucap Lightning sambil melotot tajam ke arahku.
Aku hanya tersenyum canggung sebagai balasan, kemudian aku berdehem. “Ekhm. Lalu, bagaimana caramu berubah?” tanyaku pada Lightning.
“Itu mudah. Ketika kekuatan kami, para naga, sudah mencapai tingkat 6, maka secara otomatis kami dapat berubah wujud menjadi manusia,” jawab Lightning sekaligus menjelaskan.
Aku mengangguk-angguk sebagai balasan. Ternyata begitu. Lalu, aku menatap Lightning, lantas kembali bertanya, “Aku penasaran. Sekiranya, kau sudah sampai tingkat berapa sekarang?”
Lightning, yang dalam versi naga, melebarkan mulutnya, tertawa.
Aku sempat ketakutan ketika mendengar suara tawanya yang terdengar menyeramkan. Ada apa dengannya?
Setelah itu, Lightning menjawab pertanyaanku, “Kau akan terkejut jika kuberi tahu.”
“Oh.”
Aku merespons dengan datar. Padahal nyatanya, aku sudah sangat kesal dengannya. Sebenarnya, dia menjawab pertanyaanku atau tidak, sih? Justru menurutku, dia terdengar seperti sedang mengalihkan pembicaraan daripada memberiku sebuah jawaban. Apakah aku benar?
Haaahhh .... Aku menghela napas panjang. Tidak ada gunanya juga menanyakan hal itu pada Lightning. Aku hanya perlu menunggu dia menampakkan wujud manusianya.
Lalu, aku mengalihkan tatapanku ke arah Microna, kemudian memanggilnya, “Microna.”
“Ya?”
“Aku ingin mandi, dan aku ingin kau memandikanku seperti saat aku masih kecil.” Aku pun menatap Felicia. “Kau juga ikut.”
Kemudian, Microna dan Felicia membalas dengan serentak, “Baik.”
Setelah itu, kami bertiga menjauh dari Fajar dan Lightning. Aku pergi menuju danau jernih itu. Sejujurnya, ketika berada di dekat Microna, aku dapat mengingat ingatanku sewaktu kecil, walaupun samar-samar.
Pada saat itu, aku mengingat bahwa setiap kali aku ingin mandi di danau jernih ini, Microna selalu bernyanyi atau memperlihatkan beberapa sihir tingkat dasar dan tingkat menengah padaku. Microna, yang menghiburku hari itu, membuatku bersemangat setiap kali aku ingin mandi.
Kini, aku telah berada di dekat danau. Aku pun mengangkat kedua kakiku, memasuki danau itu perlahan. Setelah itu, aku mendudukkan tubuhku di sana, tidak memedulikan pakaian yang saat ini sedang kukenakan. Beberapa saat kemudian, Felicia terbang ke arahku dan duduk di pucuk kepalaku.
Setelah itu, Microna datang. Dia duduk di tepi danau sambil membaca sebuah mantra sihir. Tepat setelah Microna menyelesaikan mantranya, pakaian yang kukenakan berubah, tergantikan dengan balutan handuk berbulu berwarna merah muda.
Perlahan-lahan, aku merasakan suhu air danau yang tadinya normal, kini berubah menjadi sedikit lebih panas. Apakah seperti ini rasanya mandi di pemandian air panas?
“Felicia, airnya terasa hangat. Kau harus merasakannya, ini sangat nyaman!” kataku dengan riang.
Kemudian, aku merasakan bahwa Felicia bergerak di atas pucuk kepalaku, setelah itu aku melihat Felicia terbang dan duduk di atas pundakku.
“Bagaimana?” tanyaku ketika melihat Felicia meletakkan tangannya di udara, merasakan suhu air danau.
“Ini sangat nyaman. Sayangnya, ini tidak bagus untuk peri. Aku tidak bisa mandi di danau ini karena nantinya sayapku bisa rusak,” jawab Felicia. Dia tampak cemberut ketika mengatakan kalimat itu.
Mendengar itu, aku tersenyum masam kala menyadari bahwa Felicia tidak dapat merasakan apa yang saat ini sedang kurasakan.
Sementara itu, Microna membelai rambutku dengan lembut, kemudian membasuhnya. Ketika Microna membasuhnya, aku dapat merasakan bahwa rambutku sedikit lebih lembut dari biasanya...?
Merasa penasaran, aku pun menyentuh rambutku dengan jemari telunjukku. Ada rasa lembut menjalar di jemariku. Saat itu juga aku langsung menarik jemariku dari sana dan melihat ada sesuatu berbusa yang menempel di jemari telunjukku.
“Apa ini?” tanyaku pada Microna.
“Ini adalah zat untuk membersihkan rambut. Hamba selalu memakaikan zat ini di rambut Anda ketika Anda mandi. Lebih tepatnya, ketika Anda masih kecil.”
“Begitu.”
Kemudian, angin yang sedikit kencang berembus dari arah sebelah kiri dari tempatku berada. Aku pun menoleh, menatap sesosok hewan besar yang ada di sana.
Itu adalah Lightning. Dia menatapku. Kemudian, tanpa aba-aba, dia langsung mengubah wujudnya menjadi manusia.
Oh, astaga!
Aku terpesona kala melihat wujud manusianya.
Rambutnya pendek berwarna pirang emas dengan sedikit poni yang menyamping, juga ada belahan rambutnya yang sedikit miring. Bola matanya berwarna merah, tampak menawan dan memikat. Bibirnya tipis dan berwarna kemerahan. Posturnya tegap.
Gila....
Aku tercengang.
Lightning dalam wujud manusia sangatlah tampan! Ditambah lagi, dia memakai pakaian seperti yang dikenakan para pangeran. Pakaiannya berwarna emas dengan dipadukan warna merah dan putih.
“Sheyla.” Mendengar suara indah itu, aku berkedip berulang kali, tersadar dari lamunanku. “Bolehkah aku mandi bersamamu?”
Pertanyaan frontal itu keluar begitu saja dari bibir indahnya. Seketika rasa kagum saat melihat penampilannya hilang kala dia bertanya seperti itu. Kuperjelas, image tampan, memukau, memesona, dan memikat telah hilang dari diri Lightning!
Aku menatapnya sebentar, kemudian tersenyum dengan riang. “Tentu saja, boleh. Tapi, itu pun jika kau berhasil menghindar dari amukan Fajar.”
Tepat setelah mengucapkan kalimat itu, aku menatap Fajar yang terdiam, aku dapat melihat raut wajahnya yang gelap.
Aku sangat senang ketika melihat raut wajah Fajar, dengan segera aku memancing amarahnya, aku pun berteriak, “Ah! Fajar, tolong aku! Lightning, dia, dia ... dia ingin mandi bersamaku! Ah! Fajar, tolong aku!”
Setelah itu, kilatan angin dengan cepat mengarah padaku, sehingga menimbulkan bunyi “wooshh” yang cukup keras. Kutolehkan kepalaku, menatap Fajar yang berdiri di depanku. Dari tempatku berada, kulihat Fajar menatap ke arah Lightning dengan tajam.
Hehehe....
Apakah dia terpancing?
Namun, perlahan-lahan tatapan Fajar melunak. Setelah itu, beberapa kalimat yang keluar dari bibir laki-laki itu sukses membuatku melotot kaget ke arahnya.
“Tidak buruk juga. Lightning, aku menyetujui idemu, walaupun sebenarnya aku tidak suka berbagi. Tapi, untuk kali ini, aku tidak akan keberatan “berbagi” Sheyla denganmu.” Ada senyum menggoda di wajah tampannya.
Gawat! Ini tidak sesuai rencana!
Aku menatap ke arah mereka secara bergantian. Meskipun mereka berbeda, tetapi mereka memiliki persamaan yang sangat jelas!
Lihatlah! Bahkan, senyum kemenangan yang ada di wajah mereka terlihat serupa.
“Baiklah. Mari kita bersenang-senang.”
Itu adalah suara Lightning.
Sialan!
“Kalian....” Tatapan tajamku mengarah pada mereka. “... Dasar mesum!!!”
***
Pemandangan dari atas tebing membuatku merasa sedikit nyaman. Ketika tadi Fajar dan Lightning menggodaku di danau, Microna dengan segera menyihir mereka menjadi tanaman bunga untuk sementara waktu. Beruntung Microna
menyelamatkanku. Jika tidak, aku tidak tahu apakah Fajar dan Lightning akan benar-benar melakukan hal itu padaku.
Yah ... kalaupun mereka melakukan hal itu, aku akan segera menghajar wajah mereka, sehingga orang-orang tidak akan mengenali penampilan mereka.
Setelah selesai mandi, aku menenangkan diri di tebing ini. Tempat aku berada saat ini terletak di samping kanan gua. Di sini sangat luas. Di sekitarnya ada beratus-ratus tanaman sihir, dimulai dari tanaman sihir biasa hingga tanaman sihir terlangka.
Kalian pasti bertanya-tanya, mengapa tidak ada seorang pun yang mengunjungi tebing ini untuk mengambil tanaman-tanaman sihir langka itu, bukan?
Alasan mengapa tak ada seorang pun yang menginjakkan kaki di sini ialah karena tebing ini termasuk ke dalam daftar “Lima Tempat Terlarang yang Tidak Boleh Dikunjungi di Desa Mozilla”.
Tetapi sejujurnya, bukan itu alasan utama mengapa tidak ada seorang pun yang datang ke sini. Selain karena alasan umum itu, di Desa Mozilla juga menyebar sebuah fakta bahwa tebing ini sangat sulit dijangkau. Konon katanya, siapa pun yang menunggangi naga dan berniat mengunjungi tebing ini, maka orang itu tidak akan dapat melihat di mana letak tebing ini, bahkan beberapa di antara mereka tidak pernah kembali ke rumah masing-masing setelah terbang menembus awan hanya untuk mencari tebing ini.
Namun, menurut pendapatku, itu karena Microna-lah yang menyamarkan aura dari tebing ini, sehingga membuat siapa pun yang terbang tak jauh dari tempat ini tidak dapat melihat di mana letak tebing ini. Aku sangat yakin jika dialah yang melakukan hal itu.
Kemudian, aku menatap sekitar, hingga tiba-tiba sesuatu menarik perhatianku. Itu adalah sebuah jalan setapak yang mengarah lurus ke belakang, aku bahkan tidak mengetahui ujung jalan setapak itu. Seketika perasaan penasaran menggerogoti hatiku, aku pun mengikuti arah jalan setapak itu.
Ketika aku berjalan di jalan setapak ini, pemandangan asing memenuhi penglihatanku. Aku tidak tahu kalau ada hutan di tebing ini. Setelah itu, aku memutuskan menelusuri hutan ini sebentar.
[Anakku, ikuti jalan itu.]
Tiba-tiba, langkahku terhenti ketika mendengar suara seorang wanita di sampingku.
Hah?
Aku mengerjap.
Apakah aku salah mendengar?
Lalu, kepalaku menoleh ke kanan, ke kiri, dan ke belakang, tetapi tidak ada siapa pun di sekitarku.
[Tidak perlu khawatir. Ikuti saja.]
Suara wanita itu kembali terdengar.
Dengan perasaan ragu, aku mengikuti arah jalan ini. Jalan setapak yang kulewati seakan tak berujung, itu terus saja menggiringku ke suatu tempat, yang bahkan aku sendiri tidak mengetahui tempat apa itu.
Setelah beberapa saat berjalan di jalan setapak ini, sebuah pemandangan indah yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata tampak di dalam indra penglihatanku.
Tempat ini terlihat gelap, tetapi ada lentera-lentera berbentuk unik yang menerangi tempat ini, tanaman-tanaman yang ada di sekitarnya juga mengeluarkan cahaya yang beraneka ragam, membuat tempat ini terlihat sangat indah.
[Rasakanlah elemen yang berada di sekitarmu.]
Suara wanita itu kembali berdering di telingaku.
Tanpa mengatakan apa pun, aku duduk bersila di tengah-tengah jalan setapak ini. Kuletakkan kedua tanganku di atas paha, kemudian otakku bekerja, berkonsentrasi dengan penuh, lalu mataku terpejam.
Setelah itu, aku merasakan sesuatu dalam jumlah besar menyentuh kulitku. Ini adalah elemen api, jenis elemen yang kukuasai.
[Seraplah elemen itu.]
Aku pun mengikuti instruksinya.
Satu per satu jumlah elemen itu menyentuh kulitku, kemudian terserap masuk ke dalam tubuhku.
Waktu pun berlalu dengan cepat.
[Sekarang, buka matamu.]
Kelopak mataku, yang awalnya terpejam, perlahan terbuka, lalu aku mengerjap beberapa kali. Pikiranku mendadak kosong setelah menyerap elemen itu, hingga akhirnya aku tersadar akan suatu hal mustahil yang mengejutkan.
Duduk bersila. Berkonsentrasi. Merasakan elemen. Menyerap elemen.
Bukankah tadi ... adalah tahap peningkatan sihir ke peringkat penyihir tingkat 9?
[Benar. Yang tadi kaulakukan adalah tahap peningkatan sihir ke peringkat penyihir tingkat 9.]
“Ap-apa?!” Aku berteriak histeris.
[Selamat, anakku, kau telah menjadi penyihir tingkat 9.]
“Ba-bagaimana bisa? Hei. Kau berhutang penjelasan padaku,” ucapku, berharap wanita itu mendengar ucapanku. “Lalu, mengapa kau memanggilku dengan panggilan “anakku”?”
Eh .... Tunggu, tunggu!
“Anakku”, katanya? Jika dia mengatakan bahwa aku adalah anaknya, apakah mungkin bahwa dia adalah ibuku, Ratu Shena?!
[Ya, ini Ibu, Nak. Ibu minta maaf karena telah meninggalkanmu. Tapi, Ibu berjanji. Suatu saat nanti, kau pasti akan bertemu dengan Ibu.]
Aku terbelalak, kaget, tidak percaya dengan perkataannya.
[Ibu hanya ingin membantumu menjadi penyihir terkuat. Ibu ingin kau menyelamatkan Ayah dan Ibu. Ibu ingin kau bertemu kakakmu. Ibu juga ingin kau menyelamatkan Kota Neo dan Neopolist. Karena sebentar lagi, perang pembuka akan segera dimulai. Bersiap-siaplah, Nak. Kalau begitu, sampai jumpa di lain waktu.]
Setelah mengucapkan kalimat itu, suara wanita―yang kuyakini adalah ibuku―menghilang entah ke mana.
Tanpa kusadari, aliran air mata membasahi kedua pipiku.
“Jadi, kalian masih hidup?” Ada helaan napas lega ketika aku mengatakan kalimat itu. “Syukurlah. Aku merasa bahagia.”
Namun, beberapa kata sebelum perkataan terakhir Ibu membuat tubuhku menegang.
Perang pembuka akan segera dimulai, katanya?
Apa maksudnya?
***
TBC!