NEO

NEO
12. Sepenggal Cerita Legenda



Dahulu, ada sebuah wilayah dengan nama “Restricted Area” yang berada di sebelah timur laut kerajaan-kerajaan besar. Tidak ada yang tahu bahwa daerah tersebut adalah daerah kekuasaan sebuah kerajaan besar, bahkan dapat dikatakan wilayah kerajaan terbesar di antara kerajaan-kerajaan yang lain. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raja Rio Ali Putra. Ia adalah raja pertama yang berasal dari kaum wizard, yaitu penyihir.


Dulunya, raja itu tidak pernah mengira bahwa dia akan kembali memimpin wilayah yang telah lama ditinggalkannya setelah dilenyapkan oleh seseorang di masa lalu. Hingga suatu ketika, seorang wanita dari ras Malaikat tak sengaja menemukan sebuah buku di Restricted Area. Di dalam buku tersebut terdapat sebaris mantra untuk membangkitkan seorang penyihir yang tersegel di dalam buku itu. Buku itu memiliki judul “Wizard Book”.


Malaikat itu sangat penasaran dan sangat antusias ketika mendapatkan Wizard Book itu. Tak lama setelah ia berkeliling untuk mencari tempat percobaannya, wanita itu tak sengaja menemukan sebuah reruntuhan kastil yang berada cukup dalam di Restricted Area. Setelah cukup yakin untuk melakukan percobaannya, wanita itu meletakkan buku itu di atas meja yang masih utuh dan mulai memperagakan suatu gerakan yang ditirukannya di dalam Wizard Book.


Namun, sebelum ia membaca sebaris kalimat yang diyakini adalah mantra, wanita itu berpikir untuk menghilangkan kekuatan ras Malaikat yang berada di dalam dirinya. Sebab, jika ia diketahui sedang mencoba menggunakan sihir, maka Kerajaan Malaikat―tempat di mana para ras Malaikat hidup―akan langsung melacak keberadaannya dan ia akan dihukum mati.


“Aku akan melakukan ritual untuk melepas kekuatan malaikat yang ada di dalam diriku,” ucapnya dengan penuh keyakinan.


Setelah meyakinkan dirinya, wanita itu mulai melepas segala kekuatan malaikat yang ada pada dirinya.


Beberapa saat setelah ritual melepaskan seluruh kekuatan malaikatnya berhasil, wanita itu mulai memperagakan suatu gerakan yang ditirukannya di dalam Wizard Book. Wanita itu mengangkat kedua tangannya seperti postur berdoa, bibirnya terus bergerak, mengeluarkan beberapa kalimat yang tak lain adalah mantra yang ia baca.


Sesaat setelah wanita itu selesai membaca mantra, kedua tangannya membentuk tanda silang di dadanya, lalu menarik kembali tangannya seperti sedang menciptakan angin. Setelah melakukan percobaannya, wanita itu terduduk lemas. Ia berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin, mengingat bahwa dia tidak sekuat dulu ketika menjadi ras Malaikat, satu-satunya yang dapat membantunya saat itu adalah menghirup oksigen.


Tak berapa lama kemudian, cahaya yang amat terang menerangi Wizard Book yang berada di atas meja. Ketika Wizard Book-nya mengeluarkan cahaya, dengan spontan wanita itu berdiri sambil bersiap pada posisi siaga. Di tengah-tengah cahaya yang menyilaukan, sesosok bayangan muncul. Bayangan-bayangan itu kemudian membentuk tulang, daging, dan yang terakhir berubah menjadi sosok pemuda tampan.


Wanita itu, yang melihat wajah serta postur tubuhnya, terpana melihat pemuda tampan yang kini berada di hadapannya.


Pemuda itu kemudian membuka matanya secara perlahan. Ia menatap sekitarnya dengan heran, kemudian tatapannya beralih pada sosok wanita cantik yang berada di hadapannya. “Apakah aku ... hidup kembali?”


Microna menjeda cerita legenda yang ia ceritakan, membuatku sangat penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Setahuku, cerita legenda yang diceritakan Microna padaku sangat berbeda dengan cerita yang kubaca di buku-buku sejarah ketika masih menetap di Kota Neo.


“Lalu, apa yang selanjutnya terjadi?” tanyaku antusias pada Microna.


Namun, Microna justru memasang tampang yang berbanding terbalik dengan ekspetasiku. Ia menghela napas, lantas menggeleng. “Belum saatnya Anda tahu. Tapi, hamba akan memberitahu Anda perkembangan dari pemuda tampan dan wanita yang telah mencabut rasnya itu,” katanya dengan lembut.


Perkataan Microna membuatku cemberut. “Huh. Kenapa aku harus tahu tentang perkembangannya kalau aku tidak tahu kelanjutan kisahnya?” Di akhir kalimat, aku mendengkus.


Memang benar. Kalaupun Microna berniat memberitahu informasi mengenai perkembangan kisah tersebut padaku, apa yang kudapatkan? Aku bahkan tidak mengetahui kelanjutan dari kisah legenda itu, jadi untuk apa aku tahu perkembangannya?


Aku menatap Microna. Kulihat, dia memasang raut wajah serius.


“Tapi, ini berkaitan erat dengan keluarga Anda.”


Tubuhku menegang kala mendengar pernyataan Microna. Apakah cerita legenda itu berkaitan dengan keluargaku?


Aku masih menatap Microna. Bibirku berucap, meminta penjelasan, “Jelaskan apa maksudmu.”


Microna menghela napas, sebelum akhirnya memberikan penjelasannya padaku. “Mungkin sudah waktunya, ya? Sebenarnya....” Microna menjeda, sedangkan aku mendengarkan. “Pemuda tampan dan wanita dari ras Malaikat itu, bersatu. Dengan kata lain, mereka menjalin sebuah hubungan khusus. Lalu, wanita itu melahirkan seorang anak laki-laki dan perempuan. Anak perempuan itu adalah....”


Di akhir kalimatnya, aku mendengar Microna mengatakan kata “an”. Seketika alisku mengerut sangat dalam. Mengapa kesannya seperti Microna sengaja mengecilkan suaranya?


“Hah? Apa?”


Microna pun menjawab pertanyaanku dengan singkat, “Anda.” Alisku semakin mengerut kala mendengarnya, tetapi jantungku berdetak lebih cepat daripada sebelumnya. “Anak perempuan itu adalah Anda, seorang putri kerajaan dengan nama Sheyla Shena Ali Putra. Pemuda itu adalah Raja Rio Ali Putra, sang penyihir yang tersegel di dalam Wizard Book, sedangkan wanita itu adalah Ratu Shena Ali Putra, wanita dari ras Malaikat yang melepaskan kekuatannya.”


Aku tersentak. Jantungku berhenti berdetak beberapa saat. Mataku sempurna membulat. Tubuhku menegang.


Ini tidak mungkin.


Tidak mungkin kalau mereka adalah orang tuaku.


Tapi, kalau mereka adalah orang tuaku, artinya penderitaan yang kualami ketika bersama Tania di masa lalu benar adanya?


Microna kembali melanjutkan ucapannya, menyentakku dari lamunan yang tak berujung, “Menurut hukum tertulis Benua Polist, seorang ras Malaikat yang melepaskan kekuatan malaikatnya kemudian menikah dengan seorang penyihir, maka konsekuensi atas perbuatan mereka akan ditanggung oleh anak mereka. Anak mereka akan merasakan sakit di bagian punggungnya, akibat sayap malaikat yang tak pernah keluar karena tertahan oleh sihir yang berada di dalam tubuhnya.”


Ah, aku pernah mendengar adanya hukum tertulis mengenai hubungan antara ras Malaikat dengan kaum wizard.


“Apakah Anda pernah merasakan sakit di bagian punggung?” tanya peri berambut hijau itu padaku.


Aku mengangguk sebagai balasan. “Ya,” jawabku. “Tepatnya ketika aku berusia 17 tahun. Saat itu adalah kenangan terburuk bagiku. Aku merasa bahwa akan ada sesuatu yang keluar dari punggungku. Meskipun aku telah merasakan sakit beberapa kali―oh, bukan, banyak kali, tapi tetap saja tak ada sesuatu yang muncul di punggungku.”


Microna tampak berpikir. Ia menganggukkan kepalanya beberapa kali.


Aku kembali melanjutkan, “Dan juga, di waktu yang sama saat aku merasakan sakit di punggungku, pucuk kepalaku terasa sangat nyeri, seolah-olah ada sesuatu yang akan muncul di sana. Mungkinkah yang kurasakan adalah sepasang sayap yang ingin mencuat dari punggungku dan lingkaran halo malaikat yang ingin segera keluar dari kepalaku?”


Penjelasanku sukses membuat kening Microna berkerut lebih dalam.


“Ya ... itu mungkin saja. Setahu hamba, biasanya anak malaikat yang berusia 17 tahun akan mendapat sepasang sayap, lingkaran halo malaikat, dan kekuatan penuh seorang malaikat. Itu mungkin saja terjadi ketika Anda berusia 17 tahun, tapi pertumbuhan itu dihentikan oleh sihir yang mengalir di dalam tubuh Anda.”


Aku mengangguk, membenarkan perkataan Microna. Ya, mungkin saja itu terjadi. Tapi, apakah benar kalau ibuku dulunya berasal dari ras Malaikat?


Ah, pertanyaan ini harus kuajukan pada ahlinya. Siapa lagi kalau bukan si peri berambut pirang kesayanganku, Felicia!


Oh!


Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Felicia sekarang? Apakah dia mengkhawatirkanku? Mungkin saja dia mengkhawatirkanku, itu karena Lightning mengangkat tubuhku ke atas tubuhnya dan membawaku terbang tanpa bisa berpamitan pada Felicia maupun Fajar.


Hm. Aku memiringkan kepala, berpikir tentang sesuatu. Oh, ya, bukankah esok adalah hari di mana para juri mengumumkan peserta-peserta yang lolos seleksi? Ugh, aku ingin pergi ke akademi dan mendengar apakah aku termasuk para peserta yang lolos seleksi atau tidak!! Tapi, apa Microna akan membiarkan aku pergi? Haahh ... sepertinya itu tidak mungkin terjadi.


Setelah itu, kurasakan seseorang menepuk pundakku. Aku menatap orang itu. Itu Microna.


Aku mengangguk. Lebih baik aku tidur dulu. Mengenai Microna yang mengizinkanku pergi ke akademi atau tidak akan aku tanya padanya besok pagi.


***


Kelopak mataku mengerjap, berusaha menyesuaikan kondisiku dengan sinar matahari pagi yang menerangi gua. Tanganku meraba-raba sekitar, sementara aku berusaha memulihkan kondisiku dari rasa kantuk yang terus menyerang. Setelah itu, aku merasakan bahwa tidak ada siapa pun di sekitarku.


Segera, aku beranjak dari tempatku. Pikiranku melayang pada satu orang, yaitu Microna. Ketika aku hendak mencari peri berambut hijau itu, aroma makanan yang menggugah selera makanku tiba-tiba tercium, mengelilingiku.


Astaga, harum sekali!


Aku tersenyum cerah kala kembali mencium aroma masakan itu.


Siapa yang memasak makanan dengan aroma selezat ini? Pertanyaan itu seketika terlintas di pikiranku.


Aroma makanan itu membawaku ke sebuah tempat yang tak jauh dari tempatku tertidur semalam. Di tempat itu, tampak Lightning sedang memakan makanan yang dituang di dalam sebuah tempat berbentuk lingkaran yang terbuat dari kayu dengan wajah gembira dan berseri-seri, entah makanan apa yang dimakannya, aku tidak tahu. Di samping Lightning, sebuah meja yang terbuat dari kayu telah dihiasi dengan berbagai macam makanan. Seketika mataku berbinar, langkah kakiku dengan cepat membawaku ke sana, kemudian duduk di sebuah kursi kayu yang ada di sana.


“Apa kau tahu siapa yang memasak makanan-makanan ini, Lghtning?” tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari makanan-makanan lezat di depanku.


“Aku yang memasaknya.”


Suara seseorang yang sangat kukenal menjawab pertanyaanku. Seketika tubuhku menegang. Aku pun menoleh ke arah sumber suara, mendapati Fajar tersenyum ke arahku.


“Fajar!” Aku berseru dengan penuh sukacita. Ya, orang itu adalah Fajar. Entah bagaimana ia bisa mengetahui di mana tempatku berada, aku tidak tahu. Namun, aku senang melihatnya di sini. Aku segera bangkit dari tempatku, kemudian menghampirinya. “Mengapa kau bisa di sini?”


Sementara aku bertanya pada Fajar, suara imut seseorang tiba-tiba terdengar.


“Hai!”


Mendengar suara imut itu, sontak mataku terpaku pada sosok kecil berambut pirang yang menyembul keluar dari rambut Fajar.


“Felicia!” Aku kembali berseru dengan riang. Itu peri kesayanganku!! Aku, yang saat itu tidak bisa menahan kegembiraan yang meledak dari dalam diriku, segera berlari ke arah Felicia, melupakan fakta bahwa Felicia berada di atas kepala Fajar.


Bruk! Suara dua orang yang terjatuh segera terdengar. Rintihan pelan seketika keluar dari bibirku. Mataku tertutup, enggan terbuka.


“Sampai kapan kau akan mempertahankan posisi ini?” Terdengar suara berat seseorang memasuki indra pendengaranku. Mendengar itu, sontak mataku terbuka dengan lebar, menampakkan wajah menggoda Fajar yang terlihat menyebalkan. “Aku tidak masalah kalau harus seperti ini hingga pagi,” lanjutnya dengan senyum cerah yang membuat jantungku berdebar kencang.


Si-sial .... Aku salah memeluk orang! Dan posisi ini ... sangat ambigu!


Segera, aku bangkit dari posisi tubuhku yang menindih Fajar, kemudian mengalihkan tatapanku ke arah Felicia, lantas menujuk peri berambut pirang itu sambil menahan malu, lalu berteriak, “Ini semua salahmu, Felicia! Karena kau, aku jadi ... jadi .... Argh, pokoknya salahmu! Kemari, cepat!!”


Felicia, yang sudah pindah dari rambut Fajar, langsung terbang menjauhiku ketika kata-kataku selesai terucap.


Ah, dia melarikan diri!


“Felicia!” Aku kembali meneriaki namanya dan mulai mengejar peri kecil itu.


***


Pada saat ini aku, Fajar, Felicia, Stay, Lightning, dan Microna berkumpul di dekat danau. Kemudian, Microna menceritakan padaku bahwa dialah yang menemui Fajar, Felicia, dan Stay, lalu membawanya kemari.


Sejujurnya, aku sangat senang karena Microna telah memenuhi permintaanku, meskipun sebenarnya aku tidak pernah meminta hal itu.


Fajar juga memberitahuku bahwa aku lolos seleksi akademi dan secara resmi diperbolehkan memasuki akademi sebagai murid baru angkatan tahun ini, dimulai dari hari ini.


Setelah mendengar apa yang disampaikan Fajar, tentu saja aku memperlihatkan Microna tatapan menyedihkan milikku yang memintanya agar mengizinkanku belajar di Akademi Sihir Mozilla.


Awalnya, Microna tidak menyetujui permintaanku. Namun, setelah lama aku membujuknya dengan mata berair yang tampak menyedihkan sekaligus lucu, akhirnya Microna pasrah dan mengatakan bahwa ia mengizinkanku pergi ke akademi dan belajar di sana sana. Namun, Microna mengizinkanku pergi esok hari, jadi mau tak mau aku setuju.


“Tapi, hamba meminta satu syarat.” Microna berucap dengan nada misterius.


Aku mengerutkan kening, tapi akhirnya membalas, “Syarat apa?”


Beberapa pertanyaan seketika terlintas di pikiranku.


Bagaimana mungkin peri yang sangat dihormati dan mulia seperti Microna meminta syarat pada seorang gadis sepertiku? Bukankah ia dapat dengan mudahnya menjentikkan jari dan membuat apa pun dengan sihirnya sesuai dengan permintaanya?


“Hamba ingin Anda mengajak hamba untuk tinggal di sisi Anda, seperti Anda membiarkan Felicia tetap berada di sisi Anda apa pun yang terjadi,” jawab Microna. Syarat dari Microna membuatku terkejut sekaligus senang. “Dengan kata lain, hamba akan mengikuti Anda ke akademi. Tapi, hamba harap Anda juga mengizinkan Lightning ikut menemani Anda.”


Aku tersentak mendengar syarat selanjutnya dari Microna. Bagaimana jadinya jika aku membawa naga emas itu, lalu mengizinkannya tinggal bersamaku di asrama Akademi Sihir Mozilla? Mustahil!


Setelah cukup lama mempertimbangkan, aku akhirnya bersuara dengan sedikit gugup. “Umm .... Aku bukannya tidak setuju,” kataku, yang langsung mendapat perhatian dari semuanya. “Tapi, bukankah bentuk Lightning terlalu mencolok?”


Ya, itu benar. Warna tubuh Lightning yang berwarna emas terlalu mencolok. Selain itu, reputasi dan pengaruhnya yang luar biasa hebat di Desa Mozilla membuatku ragu untuk membawanya, itu karena aku tidak ingin terlalu menarik perhatian banyak orang.


Tatapanku bergeser pada Microna yang tampak berpikir, kemudian peri berambut hijau itu tersenyum cerah, membuatku bertanya-tanya pada diriku sendiri; ada apa dengannya?


“Sebenarnya, Lightning bisa berubah menjadi manusia.”


***


TBC!