NEO

NEO
Neo Can Try




Detik ini, kau resmi memulai kisah perjalananmu bersama kami.


***


Di penghujung malam, hanya ditemani suara gesekan kaki jangkrik jantan menggoda betina, keenam sosok berjalan berdampingan menuju hutan. Neo sudah terkantuk-kantuk karena waktu sudah melebihi jam malamnya. Ditambah lagi, ia tidak sempat beristirahat sejak mengalami semua hal aneh seharian. Dia juga hanya mengisi perut dengan sarapan, tanpa makan siang ataupun makan malam. Selama seharian pula ia berusaha menahan dahaga. Mungkin saat ini tanah kering berpasir telah menghuni kerongkongannya.


"Ada apa, jagoan?" Devan melayang mundur, menghadapkan tubuhnya pada Neo.


"Hei, kau bukan mobil yang punya kaca spion! Perhatikan kemana kau terbang!" tegur Nath jengkel, dibalas tawaan renyah Devan.


"Lapar, ya? Aku tidak melihatmu makan sejak saat kamu di gubuk nenek tua," Abe tersenyum, sedikit menurunkan kepalanya untuk melihat wajah Neo yang tersembunyi sebagian, tertutup poninya. Merasa tebakannya benar, laki-laki dengan mata bersinar penuh keoptimisan melanjutkan, "kita akan segera sampai ke hutan, kok! Lalu kamu bisa makan di dunia kami~"


Sebagai informasi, kaum dari dimensi X dapat menahan lapar selama seminggu penuh ketika berada di dunia manusia. Sistem tubuh mereka dapat dengan sendirinya beradaptasi dengan cuaca, iklim, dan perbedaan lainnya yang dapat memengaruhi sel M yang mengatur pembentukan energi dalam tubuh mereka, seperti beruang yang berhibernasi. Hanya saja, mereka tetap dapat melakukan aktivitas seperti biasa. Begitu mereka kembali ke dunia mereka, sistem tubuh mereka kembali normal. Lain halnya jika mereka meminum cairan campuran permen cokelat buatan Tagt. Cairan itu dapat membuat mereka bertahan di dimensi mereka selama seminggu lebih, dan lebih dari sebulan di dunia manusia. Sayangnya, permen cokelat sangat terbatas di dimensi X karena satu dan lain hal.


Morga menjatuhkan kedua bola matanya ke arah Neo, ia melirik sekilas. Tanpa aba-aba, ia menggapai pinggang Neo dan mengangkatnya ke gendongan. Lengan kirinya menjadi tempat duduk, sementara tangan kanannya menjaga agar gadis itu tidak jatuh. Anak berambut hijau kebiruan kaget dibuatnya.


"Aku tidak pandai memperlakukan wanita dengan baik. Maafkan aku, mungkin kamu tidak suka digendong. Tapi kalau kakimu lelah berjalan, kau bisa tidur sekarang." Dengan lembut ia menatap ke mata si gadis yang kini lebih tinggi darinya. Neo membalas tatapan Morga. Perlakuan ini membuatnya teringat akan kakaknya. Neo memejamkan matanya. Apakah ia pantas diperlakukan sebaik ini oleh orang lain? Kepalanya mulai memikirkan hal-hal negatif.


"C-curang! Morga mengambil start awal karena merasa lebih jangkung!" teriak Abe kesal. Ia memukul pelan punggung teman berambut putihnya.


"Start awal? Dimana garis finish-nya?" canda Devan berpura-pura lugu. Abe bersungut kesal, menggembungkan pipinya. Melihat ekspresi lucu yang dibuat Abe, Devan tidak tahan mengacak-acak rambut temannya yang sudah berantakan itu. Terdengar dengusan kesal dari Abe.


"Shh, si hijau sedang tidur," jari telunjuk tangan kiri Nath ditempelkan di depan bibirnya, berbicara pada Abe, sementara tangan kanannya menarik ekor Devan dengan kasar. Hampir saja Devan menjerit. Ia merutuk Nath dalam bisikan, lalu menengok ke arah Morga yang menggendong Neo. Kepala gadis itu bersandar pada bahu Morga. Jari-jemari mungilnya menggenggam erat baju hangat berwarna biru yang dikenakan pria tinggi itu. Aura di sekitar gadis itu terasa damai. Matanya terpejam, napasnya teratur. Anak gadis berambut hijau kebiruan itu tidur dengan tenang.


Seperti melihat anak kucing yang sedang menguap dan meregangkan kaki depannya, hati keempat pemuda itu luluh lantak. Batin mereka meneriaki keimutan gadis yang tertidur. Hanya Abe yang dapat dengan polosnya mengutarakan apa yang ia rasakan. "Aww~ sepertinya jantungku baru saja meleleh," gumam pria yang selalu optimis itu.


Keempat pemuda terus berjalan menelusuri hutan sambil berbincang, suasana berubah menjadi serius dalam sekejap. Abe yang aktif dan selalu bersemangat tanpa disangka dapat memimpin diskusi dengan baik.


"Nath, Dev, Morg, aku sudah merekam setiap hasil penelitian tentang Neo. Jujur saja, aku sebenarnya mulai ragu membawa anak ini," ungkap Abe dengan nada serius. Ia melempar recorder pada Nath. "Aku menyadari 3 hal yang membuat Neo berbeda dari semua sampel penelitian kita."


"Heh, benar-benar seperti yang diharapkan dari mantan peneliti kesayangan ratu," Devan terkekeh. Abe mendelik, "ya, terimakasih," balasnya.


"Kau adalah definisi dari peneliti yang sesungguhnya, Abe," Nath mengukir senyuman kecil seraya menggeser tuas pada recorder. Klak! Objek itu memainkan rekaman suara Abe.


"Sampel nomor 001730: 1. Subjek adalah anak manusia berkelamin perempuan. Dia dapat melihat manusia yang sudah meninggal dan kaum dari bangsa kita tanpa alat bantuan." Suara rekaman masih berputar, "sampel nomor 001730: 2. Subjek menunjukkan perubahan fisik pada warna zat keratin rambut dan iris mata, diduga akibat zat kimia Yethilium, tapi kami belum tahu pasti. Ia juga dapat mendengar suara saat kita dalam wujud kedua." Nate agak tercengang mendengar laporan Abe. Abe tahu jenis cairan yang ia masukkan secara asal ke dalam tabung, yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa jenisnya. Dan juga, ia tidak menyadari fakta bahwa Neo bisa mendengar suara hewan mereka sama sekali.


"Sampel nomor 001730: 3. Subjek dapat menyaksikan dan merangkai kembali memori yang sudah dihapus ilmu sihir dari dunia kami." Laporan ketiga membuat mata Devan berbinar. Memang benar, sebelumnya tidak ada manusia atau makhluk lain yang dapat mengingat kembali setiap ingatan yang sudah diambil iblis setengah malaikat itu. Rumor terkenal di dimensi X memang pernah bercerita tentang kemungkinan 0.0000001% ingatan manusia yang diambil dapat kembali. Dengan catatan jika ada seorang dengan kepercayaan akan benarnya suatu hal yang ia percaya dapat meyakini orang lain yang ingatannya dihapus tentang memori yang hilang. Meski demikian, ini pertama kali sepanjang 300 tahun hidupnya ia melihat langsung kebenaran rumor itu. Klak! Rekaman pun berakhir.


"Bagus Abe," Morga yang sedari tadi hanya diam angkat bicara, "kau berencana memberitahu Tagt tentang laporanmu?"


"Natürlich, aku berniat memberikan laporan ini pada Tagt," lanjut Abe seraya menangkap lemparan recorder dari Nath, "ia pasti bisa mendapat banyak informasi sekaligus menganalisa Neo lebih jauh."



"Neo..." Devan bergumam. Ia memandang gadis yang sudah terlelap dalam damai di dekapan Morga, "entahlah kawan, aku merasa kita tidak seharusnya membawa anak ini."


"Reputasi subjek dengan keluarganya terlihat buruk, ia sering dipukuli meski tidak bersalah," lanjut Abe, "kamu tahu, 'kan, kalau menghapus ingatan A yang membenci B, maka kemungkinannya kurang dari 0.0000001% A akan mengingat B kembali. Kita beruntung keluarga Neo tidak menginginkannya." Nada bicara laki-laki itu berubah lirih. Tidak seharusnya ia mengatakan itu seperti suatu hal positif dan perlu dibanggakan.


"Dan dengan fakta itu, kau dan Devan menipu seorang anak untuk bisa ikut bersama kita, berjanji melindungi dan membawanya ke tempat aman, benar?" tohok Morga tenang. Abe melempar matanya ke tanah, merasa bersalah.


"Kalian lupa keadaan kita saat ini sedang terpojok?" Morga menambahkan, "Ratu mengerahkan segalanya untuk menahan pelarian kita. Dan kalian mengikutsertakan anak ini. Hebat sekali."


"Jika kau lupa tentang rencana awal kita, aku bisa mengukirnya di kulitmu, Morg. Jadi, jaga cara bicaramu!" Bisik Nath, dalam sekejap mata ia berada tepat di belakang pemuda jangkung itu sambil meletakkan kuku tajamnya di dekat leher, sedikit menekan leher Morga. Morga tidak membalas. "Lagipula bukankah kau yang terlihat paling bahagia ketika dia datang untuk ikut?" Morga tidak bisa membalas pernyataan Nath. Dia memang melihat suatu potensi dalam diri gadis yang digendongnya, dia memang tertarik kepadanya, dan dia tahu teman-temannya merasakan hal yang sama. Nath menjauhkan tangannya dari leher Morga.


"Kalau begitu, anggap saja kita memang menculiknya. Dan saat ini, kita sedang melakukan pelarian," Abe angkat bicara. "Lagipula, dia hanya ikut untuk diteliti. Setelah penelitian dan masalah kita selesai, kita bisa mengembalikan Neo."


Tidak ada respon dari ketiga temannya. Mereka melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal sebentar tanpa bicara lagi. Lalu sampailah mereka di hutan, tempat pertama kali mereka bertemu Neo. Di sana, Nath mengeluarkan arloji kuning tua keemasannya. Muncullah hologram Tagt beberapa detik kemudian.


"Antar kami pulang, Tagt." Pinta Nath. Tagt membelalakkan matanya melihat pencapaian teman-temannya. Laki-laki dengan lekuk mata yang terlihat ramah itu seakan tidak percaya. Tidak perlu waktu lama bagi teman-temannya untuk menemukan sampel yang cocok diteliti itu, Neo. Dengan cekatan, Tagt yang berada di markas perlindungan menekan beberapa tombol, mengakibatkan terpancarnya cahaya dari bawah kaki keempat temannya di dunia manusia. Dalam sekejap mereka diteleportasi kembali ke dimensi X.


***


"Kalian sungguh berhasil," ucap pria berjas putih. Ia masih tidak percaya, hanya butuh waktu kurang dari 3 hari untuk menemukan manusia yang dibutuhkan. Ia melihat kejanggalan pada anak yang digendong Morga. Kerutan alis di wajahnya dengan jelas mengutarakan kebingungannya.


"Oh, kami juga membawa ini. Jaga-jaga kau ingin tahu apa yang sudah kami amati." Abe melempar recorder pada Tagt. Lengkungan manis terukir di wajahnya.


"Danke, Abe!" Serunya. Pria berjas putih dengan poni rambut disisir ke belakang menyimpan recorder ke dalam jasnya. Ia berniat mendengarkan laporan Abe nanti. Abe tersenyum. Kemudian ia teringat kembali pada ucapan Morga tentang betapa buruknya perbuatan Devan dan dirinya. Seketika senyumnya memudar.


"Kini dia harus bersembunyi, melenyapkan identitasnya dari keramaian," gumam Abe murung.


Melawan kecemasannya, Abe berusaha setuju, "ya, kita harus menjaga Neo," tepat pada saat itu, Neo terbangun. Tangannya mengusap lembut kedua matanya. Ia sedikit terbelalak ketika melihat tempat dimana ia berada saat ini. Tempat yang seperti khayalan negeri dongeng. Lampu yang menerangi tempat tersebut tidak terpasang pada dinding atau langit-langit. Mereka beterbangan dimana-mana. Banyak sekali tumpukan kubus kecil hitam mengkilap berceceran di lantai. Setiap kubus memiliki tulisan, tapi ia tidak dapat membacanya. Huruf-huruf di tulisan tersebut sangat berbeda dari huruf yang ia pelajari. Selain kubus dan lampu, ruangan itu kosong melompong.


Morga menurunkan gadis kecil itu kalau-kalau ia ingin melihat-lihat sekitar. Tapi gadis itu tidak bergeming dari sisi Morga. Ia sangat berhati-hati, tidak ingin merusak apapun di ruangan itu. Lalu ia melihat sosok yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Laki-laki itu memberikan tangannya pada Neo.


"Hai, aku Tagt. Ini adalah tempat tinggal kami, anggap saja rumah sendiri." Begitu katanya. Neo menjabat tangannya.


"Neo."


"Kami yang memberikannya nama! Keren, 'kan?" pamer Abe tersipu. Tagt tertawa kecil.


"Mulai saat ini, kau adalah bagian dari keluarga kecil kami, Neo. Selamat datang di dunia kami, dimensi X."


"Dimensi... X?" Neo bingung. Jadi ini bukan dunia manusia?


"Ya, dimensi X. Abe sudah menjelaskan tentang makhluk dari bangsa kami bukan?" Tagt tersenyum. "Biar kujelaskan lebih lanjut," kata Tagt sambil berjalan mengambil salah satu kubus kecil di lantai.


"Dimensi X adalah dunia pertama yang terbentuk jauh sebelum adanya dunia manusia di bumi," kisahnya, "kami hidup dan terus berevolusi setiap dekade. Dunia ini adalah batas antara alam fana dan alam baka. Meski begitu, dunia kami sangat terlindungi. Tidak ada yang bisa keluar dan masuk seenaknya tanpa perizinan dari salah satu rakyat bangsa kami."


"Dimensi ini dipimpin oleh seorang ratu, bukan raja, karena semua kaum adam di sini sangat menjunjung dan menghormati kaum hawa," lanjutnya lagi, "aku akan langsung menjelaskan tentang kubus ini." Tagt menunjukkan kubus di tangannya.


"Ini mungkin lebih seperti sihir untuk kaum manusia sepertimu. Kau lihat ada ukiran tulisan di kubus ini?" Neo mengangguk.


"Kubus ini adalah benda paling efektif yang pernah kami buat, masing-masing kubus berisi barang-barang dan pernak-pernik di sini. Dengan menyebutkan tulisan di kubus ini, barang yang ada si dalamnya akan muncul," jelas Tagt seraya memberikan Neo kubus yang dipegangnya, "sebenarnya aku lebih suka ruangan yang dipenuhi peralatan dan lainnya. Tapi karena suatu alasan, kami harus sering berpindah tempat, oleh karena itu kami lebih suka menaruh barang kami dalam kubus-kubus ini agar bisa lebih mudah ketika bergerak. Apa kamu sudah paham tentang kubus ini?"


"Ya, kurasa..." jawab Neo pelan, masih berusaha memproses kalimat Tagt.


"Ahaha, sedikit rumit, ya?" Abe menghampiri Neo dan menepuk punggungnya pelan. "Sini, kuajari cara menggunakannya!"


"Kamu sudah bisa membaca, 'kan?" Neo mengangguk. "Nah, kalau begitu kamu tinggal sebut saja tulisan di kubus yang kamu pegang itu."


"Aku tidak bisa membaca tulisannya," sergah Neo. Abe tertawa.


"Tentu saja, ini, 'kan huruf kuno~ Bagaimana jika kamu asumsikan huruf-huruf di sini adalah huruf yang biasanya kamu baca?"


"Kalau artinya berbeda dengan barang yang ada di dalamnya, bukannya tidak akan bisa?" celetuk Nath ketika mendengar usul Abe. Abe hanya menoleh sebentar dan tersenyum. "Secara teknis, memang tidak bisa."


BOOM!


Sebuah bunker dari bahan kaca transparan dan air memenuhi ruang antarkaca keluar dari kubus yang dipegang Neo. Kaki Neo langsung melangkah mundur, memberi jarak.


"Bagaimana kau melakukannya?!" Pekik Nath tidak percaya.


"Coba kulihat kubus itu," Morga meraih kubus yang kini berwarna putih. "Ini seharusnya bukan bunker."


"Eeehh??? Aku ingin lihat! Aku ingin lihat!" Rengek Abe termakan rasa ingin tahu. Morga mengoper kubus yang dipegangnya.


"Woah! Neo, kau mengubah isi di dalamnya! Ini seharusnya meja yang sangaaat panjang!" Seru Abe terkagum-kagum, "lihat! Tulisannya '⊜థฺㄟ✴' artinya meja."


"Maafkan aku." Neo menundukkan kepalanya.


"Kenapa? Untuk apa meminta maaf? Ini sangat bagus! Kau hebat, Neo!" Devan mengelus lembut rambut hijau kebiruan si gadis.


"Bagaimana kau melakukannya?" Selidik Nath penuh curiga. Dia membawa sebuah kubus dari tumpukan gunung kubus di lantai. "Ini kubus bunker yang sebenarnya. Warnanya masih hitam, berarti benda itu seharusnya masih ada di dalamnya."


"Aku hanya... uh, kata bunker terlintas di pikiranku ketika melihat tulisan di kubus ini karena aku tidak pernah melihat benda itu sebelumnya," Neo menjawab cepat lalu mengambil nafas dalam. "Aku penasaran, maafkan aku."


"Sudah kubilang, jangan meminta maaf. Bisakah kamu mencoba untuk mengeluarkan barang yang sebenarnya dari kubus ini?" Abe dengan cekatan mengambil kubus dari tangan Nath. "Akan kuusahakan."


Neo melihat kubus hitam itu, lalu mengucapkan kata dalam hati. Meja.


Poof!


Bunker yang keluar dari kubus sebelumnya berubah menjadi meja makan yang panjang. Meja dari bahan yang sama, dengan air di dalam mengisi ruang kosong. Abe, Nath, dan Devan melongo. Spontan, Abe membaca ukiran di kubus hitam di tangannya. Lalu keluarlah bunker sebelumnya. "Tidak mungkin!" Bisiknya. Seorang manusia tidak akan bisa melakukan sihir tanpa benar-benar mempelajari bahasa dari dimensi mereka. Tapi Neo adalah pengecualian.


"Hahaha, kau pikir meja panjang yang dimaksud Abe adalah meja makan?" Tagt yang sedari tadi memperhatikan terbahak, "meja panjang yang dimaksud adalah meja teliti. Kami sejenis ilmuwan, kau tahu?"


"Uh-oh," Kryuyukk... cacing di perut Neo bernyanyi ria. Anak itu langsung memeluk perut kecilnya.


"Pfft... kamu lapar, ya?" Wajah datar Neo hanyalah tameng untuk menyembunyikan perasaan malunya. Ia mengangguk. "Sebentar, aku akan cari kubus kulkas di ruang sebelah," tanggap Abe sambil berlari. Hatinya bersenandung riang. Ia mendapatkan hal baru untuk dicatat dalam dokumen laporannya.