
Drap! Drap! Drap!
Neo berlari keluar dari tempat persembunyian. Jantungnya berdetak semakin cepat seiring dengan kecepatan langkahnya yang semakin bertambah. Entah ini adalah sebuah keisengan sekaligus "pelajaran" dari Nath atau dia benar-benar meninggalkan naungan. Tapi jika benar, untuk apa kucing itu meminta untuk dicari? Apapun alasannya, Neo tidak bisa tinggal diam.
Morga memang sudah memperingatkannya agar tidak bepergian sendirian, tapi fokus utama Neo saat ini hanyalah Nath. Neo masih mencari di dalam batas aman, berharap Nath tidak gegabah keluar perbatasan. Tapi pencariannya berujung pada kenihilan. Ia menuju ke tempat-tempat yang pernah dilalui saat jam pelajaran. Mungkin sudah lebih dari 30 menit ia berlarian mencari. Bahkan gadis itu sudah sampai di dekat gua dimana ia bertemu seorang peri. Tapi keberadaan Nath sama sekali tidak tercium.
Malam kian melarut, perut gadis itu meminta diisi. Fisiknya memaksa istirahat. Dilanda tuntutan dari setiap anggota tubuhnya, Neo berusaha melawan. Telinganya berdengung, kesadarannya perlahan memudar, langkahnya tidak terarah. Ia tidak menyadari sebuah batu menghalangi jalannya. Gadis itu jatuh tersungkur. Sebagian anggota tubuhnya melewati perbatasan tanpa ia sadari.
Di dalam markas peneliti, ketiga pemuda masih berkutat saling menyorot tajam. Devan merasa kelakuan Abe sangat aneh sejak pertama kali Neo sampai di tempat persembunyian. Tidak dapat dipungkiri, Morga juga merasakan hal yang sama. Seakan Abe merencanakan hal lain tanpa sepengetahuan mereka.
"Minggir, Abe! Mengapa kau jadi keras kepala begini? Bagaimana jika Neo dalam bahaya?!" Devan setengah membentak. Abe yang tidak bergeming melukiskan senyuman kecut di wajah pria bersayap itu.
"Abe. Jangan halangi." Morga berjalan mendekati Abe. Namun anak itu masih keukeuh diam di tempat. Devan memandang gusar, ia tahu sikap kawannya akan semakin menjadi jika ia juga keras memaksa.
"Baiklah, Abe. Kami tidak akan pergi, mari kita makan sekarang," Tagt angkat bicara, ia mengajak Abe agar pikiran anak itu bisa sedikit teralih. Abe melihatnya was-was, tapi gemuruh dari perutnya tidak dapat berbohong. Akhirnya dia mengurangi penjagaannya dan berjalan cepat ke ruang sebelah. Tagt melirik Devan dan Morga, lalu menyusul Abe. Tanpa pikir panjang, kedua lelaki itu melesat keluar, tidak ingin membuang kesempatan yang diberikan Tagt.
Devan berubah ukuran menjadi kecil, lalu terbang melalui jendela lingkaran ruangan agar tidak menimbulkan terlalu banyak suara. Morga berhati-hati membuka dan menutup kembali pintu depan, kemudian ia langsung berubah menjadi anjing putih dan berlari kencang ketika sudah berada di luar. Tagt tidak kalah berhati-hati saat menuntun Abe agar ia tidak curiga, ia memasukkan sedikit bahan yang membuat mengantuk ke dalam sajian Abe. Sebuah kerjasama yang bukan rekayasa ini berjalan cukup baik. Beberapa menit setelah Abe menyantap makan malamnya, ia sudah menguap dan tidak sadarkan diri. Kepala ia tidurkan di atas meja, tangannya dibiarkan menggantung. Tagt buru-buru membopong pria optimis itu ke atas ranjang agar ia tidak terbangun sewaktu-waktu. Pria itu bisa menjadi sangat berbahaya jika marah, oleh karena itu, Tagt tetap berada di rumah untuk menutupi kepergian kedua temannya kalau-kalau Abe terbangun dan sadar nanti.
"Morg, sudah kau endus baunya? Aku tidak dapat menemukan anak itu," gerutu Devan gusar seraya mengacak-acak susunan rambutnya. Morga dan Devan sudah berpencar mencari Neo, tapi batang hidung anak itu tetap belum terlihat.
Morga nampak ragu menjawab, "baunya samar-samar mengarah ke luar perbatasan." Devan terperanjat. Di dalam lingkup aman saja bisa membahayakan, apalagi di luar! Sontak Devan melaju terbang menuju perbatasan. Sama halnya dengan Morga. Ia langsung berlari mengikuti Devan menuju perbatasan. Sementara di saat yang sama, Neo kebingungan melanjutkan pencariannya. Arah mana yang harus ia tuju, kemana ia harus pergi, dia tidak tahu. Tidak butuh waktu lama baginya menyadari bahwa ia tersesat. Ia telah melewati batas aman dan kini berada di tempat yang mulai tidak terlihat seperti hutan.
Tak gentar ia berjalan melalui jalur satu arah. Pohon-pohon mulai tertata di kedua sisi kanan dan kiri. Gadis itu tidak tahu sama sekali apa yang ada di seberang sana. Namun setiap tempat patut ditelusuri demi menemukan Nath.
Sk..sksk...
Sesuatu bersembunyi di antara semak di sekitar pepohonan. Neo merasa diawasi. Dia memperketat penjagaannya. Dilihatnya sekeliling. Beberapa pohon di sisi depan berbatang putih dan bergaris horizontal mengeluarkan percikan cahaya. Barisan rapi pepohonan itu sedikit menerangi jalan Neo sekaligus menjelaskan penglihatan anak itu. Dia dapat melihat sosok yang bersembunyi di dalam semak. Alangkah bahagianya ia jika sosok itu hanyalah kelinci, namun kenyataan terkadang sungguh kejam.
Sosok yang sama sekali asing bagi Neo mengintainya dari balik semak. Neo menarik kembali langkahnya, berjalan mundur. Namun sosok itu justru mendekatinya. Neo dapat melihat keseluruhan bagian tubuh sosok tersebut. Mata merah menyala dalam gelap, wajah biru berkerut, bulu-bulu hitam legam menutupi bagian badan dan anggota gerak bawah, 4 kaki kokoh mencengkeram tanah, 2 kepala bertanduk dan bermulut penuh liur, serta tubuh yang sangat besar. Makhluk itu tidak sepenuhnya bersembunyi di dalam semak, ia hanya menyembunyikan salah satu kepalanya. Seekor hewan buas yang tidak pernah ia temui sebelumnya.
Ia kembali ke rute awalnya, tempat yang sedikit banyak mulai terlihat familiar, hutan. Pepohonan yang tidak beraturan memperlambat gerakan makhluk tersebut. Neo tidak memperhatikan akar-akar pohon yang merambat keluar tanah. Gadis itu tersandung dan jatuh tersungkur. Hewan semakin mendekat, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tanah berguncang setiap hewan itu memijak. Terkadang geraman makhluk itu terdengar kencang hingga ke telinga Neo, membuat batin gadis tak berdaya itu semakin berdoa mengemis keberuntungan.
Neo bisa merasakan kedua kakinya gemetar ketakutan berusaha bangkit. Pergelangan kakinya terkilir, Neo semakin kalut. Tangannya juga bergetar hebat berusaha menopang badan agar tetap terduduk. Otak gadis itu memerintahkan kedua kakinya untuk berdiri dan berlari lagi terus menerus tanpa henti. Bulir keringat mengalir deras dari setiap bagian tubuhnya. Adrenalin berpacu dan jantungnya berdetak kencang. Gadis itu mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa, berusaha menenangkan dirinya.
Neo menarik nafas, menghembus pelan. Ia mengeratkan kepalan tangannya. Perlahan tapi pasti, Neo berhasil bangkit dan mulai berlari lagi. Ia berhasil menjauhi lokasi berbahaya tersebut. Dan yang lebih melegakan, hewan itu tidak terlihat mengejarnya lagi. Ia lolos dari kejaran maut. Tanpa ia ketahui Devan dan Morga telah menghadang hewan tersebut saat ia terjatuh agar Neo berhasil kabur. Saat kedua pria itu selesai berurusan dengan makhluk buas tersebut, Neo sudah hilang entah kemana. Kedua pria itu mendengus kesal sambil mengacak rambut mereka. Segera mereka melesat kembali ke arah hutan.
Meski kakinya sakit, gadis itu tetap berusaha berlari secepat mungkin, tidak ingin membuang lebih banyak waktu. Jika sudah larut malam, kemungkinan besar hewan-hewan buas seperti yang sebelumnya mulai berpesta mencari mangsa. Ia tidak bisa terus bergantung pada keberuntungan.
Dalam perjalanannya, ia menemukan gua yang tidak asing dan memutuskan untuk beristirahat sejenak. Gadis itu sudah sampai di sekitar wilayah aman. Harap-harap cemas ia tidak bertemu dengan sang Peri. Ia tidak ingin menambah masalah lagi. Dan ya, mungkin harapannya terkabul. Peri itu sudah tidak ada di gua. Neo melipat kakinya, lalu memeluk kedua lututnya. Ia menenggelamkan wajah ke lingkar tangannya. Perempuan kecil itu tertidur lengah.
Dalam bunga tidurnya, sang Kakak kerap muncul membawa senyum hangat. Bibir kakaknya seakan mengatakan sesuatu. Tapi Neo tidak dapat mendengarnya. Suara kakaknya terdengar jauh dan pelan sekali, seperti sebuah bisikan. Lambat laun bayangan sang Kakak mendekat. Sayup-sayup terdengar suara seseorang yang Neo kenali. Orang itu memanggil namanya.
"Neo, hei Neo!" Mata Neo sontak terbuka. Suara dari sosok yang ia cari seakan dekat sekali dengan dirinya. Gadis itu mengangkat wajahnya dari benaman. Nath!
Pria berambut lurus hitam keabuan itu duduk tepat di hadapannya. Matanya dialihkan dari Neo seraya memegang tengkuk kepalanya. Laki-laki itu menggerutu kesal.
"Sedang apa kamu di sini? Kalau mau tidur, tidur saja di markas. Aku tidak memakai ranjang seharian," Nath mendengus.
"Mencarimu," jawab Neo sambil masih menatap Nath datar.
"Kamu beneran mencariku? Padahal aku cuma mau mengetesmu, bukannya aku ingin diperhatikan atau apapun itu! Ugh, kau tidak perlu mencariku." Tipikal kucing pemalu. Kini kedua sisi ujung rambut Nath, yang berbentuk seperti telinga kucing, digerakkan ke belakang. Ekornya menari gembira, menyuarakan kejujuran. "Tapi terimakasih sudah berusaha," gumam Nath, nyaris tidak terdengar.
Neo senang karena telah bertemu dengan Nath, namun di saat yang bersamaan ia merasa sedih. Ada bagian dari dirinya yang masih merasa kehilangan. Kakaknya, Neo sangat rindu, tapi ia belum ingin kembali. Yang gadis kecil itu butuhkan saat ini adalah pelukan hangat keluarganya. Bagaimanapun, Neo tetaplah seorang gadis kecil yang tidak dapat menghadapi setiap masalah sendirian. Mungkin kali ini dia telah mencapai limit ketenangannya. Matanya menatap lurus ke mata Nath. Ia benar-benar ingin memeluk Nath, melepaskan bebannya walau sedikit.
Tangannya--yang habis dilahap lengan sweater yang kebesaran--bergerak menggapai Nath, gemetar. Belum ia pegang sosok pria di depannya, Neo langsung menarik kembali tangannya dan memalingkan wajahnya, berusaha menahan diri. Nath melirik sekejap, sedikit bingung dengan tingkah aneh gadis itu. Namun instingnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Badan Nath terdorong ke depan, kedua tangannya meraih tubuh mungil Neo. Dengan hangat ia mendekap gadis kecil itu.
"Maaf, Neo. Ayo kita kembali ke markas, bocah lainnya pasti sudah menunggu," bisik Nath lirih. Neo mengepal erat, mencoba menahan gemuruh hati yang semakin lama mendorong tangis. Gadis itu mengangguk dalam dekapan Nath.