
Saat ini, waktu di dimensi X adalah pagi hari. Bisa ditebak, ratu sedang membutuhkan waktu pagi sekarang ini. Para peneliti dan seorang gadis kecil tidak bisa melewatkan waktu ini begitu saja. Tidak, mereka tidak boleh menyia-nyiakan waktu yang mungkin saja tidak akan pernah mereka dapatkan lagi. Ratu masih memberi titahnya pada para pengawal kerajaan untuk membawa kelima peneliti ke hadapannya hidup-hidup. Entah apa yang akan dilakukan wanita pesolek itu pada mereka nantinya. Dalam keadaan genting begini, waktu bukan lagi uang, melainkan nyawa mereka.
"Baiklah Jungen! Ini adalah kesempatan kita untuk mengajari Neo beradaptasi di dunia kita. Jangan buang-buang waktu, kawan!" Abe menepuk tangannya, berlagak menjadi pelatih kejuaraan tanding. Pria manis itu terbiasa menggunakan bahasa Jerman, menjadikan bahasa campurannya itu khas dirinya. Hanya Nath dan Neo yang tidak menghiraukan perkataan laki-laki landak itu. Sedikit rasa penasaran ialah salah satu alasan Neo. Pagi itu tidak terasa seperti pagi yang biasa di dunia manusia. Dia masih belum kenal betul dengan tempatnya berada sekarang.
"Dasar bebal! Hargai orang yang sedang bicara dengan kalian!" Nath mendelik, "terutama kau, anjing!" Anjing putih yang dimaksud masih berkutat di atas selimut, berbaring telentang seperti meminta perutnya digaruk.
"Diamlah, kucing berisik!" Anjing itu menolak mengikuti perintah Nath. Ia terlalu malas berbicara lebih dari itu, bahkan terlalu malas untuk membuka matanya yang tertutup rambut halus putihnya. Anjing itu berguling menikmati empuknya selimut tebal dan sejuknya hawa di pagi hari. Ia sama sekali tidak memedulikan Nath maupun Abe. Anjing itu kembali sibuk dengan alam mimpinya tanpa menyadari laki-laki landak sudah ada di sampingnya, menyengir lebar.
"Akan kubuatkan sesuatu untuk kau makan di mimpimu~" Abe bersenandung, menunggu respon si anjing. Anjing putih itu membalikkan tubuhnya hingga pada posisi tengkurap, lalu ia berdiri dengan keempat kakinya. Kedua matanya terbuka lebar, ia sepenuhnya bangun. Dilihatnya kedua sohib seperjuangannya dalam menghadapi Nath, Devan dan Tagt, juga sudah terduduk rapi di lantai.
"Aku sudah memikirkan pembagian jam belajar Neo, tentunya kita tidak bisa sekaligus mengajari nona kecil kita ini," lanjut Abe, "di pagi hari, Neo akan belajar bersama Morga."
Ucapan Abe sepenuhnya dapat diduga si anjing. Ia merubah wujudnya menjadi seorang manusia sambil meregangkan kaki panjangnya. Abe memang kreatif, tapi tidak dalam hal perencanaan. Dia bahkan tidak mau ambil pusing dan hanya memberi teman-temannya jam mengajar sesuai dengan pelesetan nama mereka dalam bahasa jerman. Morga (morgen) di pagi hari, Tagt (tag) di siang hari, dan Nath (nacht) di malam hari. Sedangkan dirinya, Abe (abend) saat menjelang malam. Devan sedikit membuat laki-laki landak itu kebingungan memposisikan jam mengajar, tapi hal itu dapat segera diatasi. "Devan menjadi asisten!"
Itu berarti Devan lah yang sepanjang hari membantu berlangsungnya jam belajar-mengajar. Bukannya ia ingin protes, tapi pembagian Abe sungguh tidak adil bukan? Terlebih karena Neo juga tidak mungkin bisa mencerna semua pengetahuan dalam sehari penuh. Dia juga manusia biasa yang tentunya butuh waktu untuk memproses berbagai hal. Dan lagi, Devan tidak terlalu suka berada bersama Nath. Ia tidak membenci pria kucing itu, tentu tidak. Hanya saja, tingkatan emosi Nath selalu melewati batas ketika bersama Devan. Entah karena Devan yang memulai, atau karena Nath tidak suka bahasa "bodoh" Devan.
"Abe, kenapa kau tidak bertukar posisi dengan Devan?" Nath mengacungkan tangannya. Tepat sekali, itulah yang diinginkan laki-laki bersayap setengah iblis. "Kau tahu aku tidak bisa bicara bahasa bodoh," katanya sambil melirik Devan. Lirikan itu terlihat seperti ajakan berkelahi di mata Devan. "Yah, itulah salah satu hal yang kupertimbangkan. Kalian harus mencoba akrab sesekali," Abe menyengir, memperlihatkan susunan gigi tajamnya. Nath tidak bisa menolak lagi. Karena suatu alasan, Abe adalah orang pertama dan terakhir bagi Nath yang tidak ingin ia buat masalah.
"Kita coba dulu sehari ini," Abe kembali menunjukkan senyum polosnya.
***
"Asal kau tahu, nak, aku malas melakukan kegiatan ini," Morga, Devan, dan Neo berada di luar tempat persembunyian. Ini pertama kalinya Neo dapat melihat lingkungan barunya dengan jelas berkat cahaya pagi hari. Tempat persembunyian kelima peneliti itu berada di pedalaman hutan. Suasana hutan di sana seakan sama dengan hutan kecil di dekat kompleknya di dunia manusia. Angin berhembus kencang, menerbangkan helaian rambut hijau kebiruan si gadis. Ia melekatkan matanya pada anjing putih yang memimpin jalan.
Ya, Morga terlalu malas untuk merubah wujudnya menjadi manusia. Ia berjalan di sekitar tempat persembunyian dengan kaki empatnya, sesekali sambil mengibaskan ekor berambut tebalnya. "Maaf, Morg. Aku tidak bisa menganggapmu serius dengan wujudmu sekarang ini, pfft..." Devan menahan tawanya, namun tidak dipedulikan si anjing.
"Inilah pelajaran dasar yang akan kuajari padamu: jangan pernah keluar dari wilayah ini tanpa ditemani seorang pun dari kami," Neo melipat kakinya, ia jongkok di hadapan anjing putih itu agar dapat mendengarnya lebih jelas.
"Mengapa?" tanya si kecil, menanggapi anjing putih itu. Morga diam sejenak, berusaha mencari kalimat efektif agar penjelasannya mudah dimengerti.
"Singkatnya, karena kita sedang bersembunyi," ia tidak menyadari justru kalimatnya membuat rancu. Neo semakin bertanya-tanya, ia penasaran namun diurungkan niatnya bertanya. Sedikit banyak ia paham kalau Morga bukanlah sosok yang mudah menjelaskan segala sesuatu.
"Ah, um, kau tahu, 'kan kalau kami berlima itu peneliti?" Devan mengambil alih pembicaraan, berniat membantu Morga. Neo mencoba mengingat hal apa saja yang pernah diterangkan laki-laki pirang itu. Ragu-ragu ia mengangguk. "Kami agak mengacau di sini, sehingga kepala pemerintahan di dunia kami memburu kami." Ritme bicara Devan berubah cepat saat menjelaskan, khawatir Neo akan menjadi panik. Tapi gadis muda itu hanya ber-oh ria.
Tidak ingin memperpanjang diskusi itu, Devan langsung mengalihkan pembicaraan. "Menurutmu, apa yang berbeda dengan dunia ini dan duniamu?"
"Matahari," tukas Neo cepat. Meski pagi datang, ia tidak melihat adanya matahari terbit dari ufuk timur.
"Ya, benar, itu salah satunya," lanjut Devan, "kau tahu kenapa?" Neo menggeleng, menarik senyuman simpul di wajah Devan.
"-Pagi ini terjadi karena ratu ingin demikian," gumaman Neo memotong penjelasan Devan. Spontan, ia menutup bibir mungilnya dengan kedua tangan yang sudah tenggelam oleh lengan sweater yang kebesaran. "Maafkan aku!"
Permintaan maaf Neo justru mengundang gelak tawa lawan pembicaranya. "Kau dapat memahaminya dengan cepat. Bagus, Neo!" Iblis setengah malaikat itu terbang mendekati Neo dan mengusap lembut rambutnya. Morga yang sedari tadi mengasingkan diri dari pembicaraan mulai terbiasa mendengar tanggapan tenang si gadis. Neo bersikap normal seperti biasa, tidak panik, tidak takut. Perlahan hal itu membuat Morga semakin tertarik pada manusia kecil di sampingnya.
"Huff, baiklah nak," Morga memutuskan untuk berubah menjadi manusia, mengajari Neo beberapa hal seperti yang seharusnya ia lakukan, "ini beberapa hal yang bisa aku sampaikan padamu."
Dimensi X tidak dapat memproduksi buah berkualitas tinggi. Kebanyakan buah di tempat itu tidak manis. Namun rempah-rempah berada hampir di setiap perkebunan.
Jarang sekali--bahkan hampir tidak ada--makanan ataupun minuman manis di dimensi X. Ratu dengan segala kedoknya membuat rakyat percaya bahwa manisan hanya akan memperpendek jangka waktu hidup mereka. Namun kelima peneliti itu sudah pernah mencoba memakan coklat ketika pertama kali ke dunia manusia. Dan berdasarkan pengalaman mereka, coklat malah menambah energi bangsa mereka.
Kaum mereka terdiri dari 2 suku yang disatukan oleh sistem pemerintahan ratu. Suku pertama adalah keturunan dari Cleo, yaitu makhluk yang dapat bertransformasi, seperti Nath, Devan, Tagt, Abe, dan Morga. Sedangkan suku kedua adalah keturunan dari Raath, yaitu makhluk yang tidak dapat bertransformasi dan cenderung termasuk keluarga kerjaan karena dianggap mulia.
Dimensi X kaya akan daging. Tidak, mereka tidak melakukan kanibalisme. Daging yang mereka makan adalah daging hewan murni yang bukan termasuk golongan Cleo apalagi Raath. Jenis-jenis hewan di sana juga sangat beragam, namun tidak semuanya dapat dimakan. Beberapa jenis hewan bahkan berbahaya bagi sejenis kaum. Tentunya insting hewani suku Cleo dapat membedakan hewan mana yang dapat dikonsumsi dan mana yang tidak.
Kaum adam dari dimensi X terbiasa melakukan perburuan. Tidak seperti singa yang mengandalkan para betina untuk berburu, rakyat dimensi X sangat menjunjung tinggi kaum hawa. Sebagian besar hidup mereka didedikasikan untuk melayani wanita-wanita di sana. Bahkan terdapat akademi khusus untuk mempelajari tata krama dalam beretika terhadap perempuan. Tentunya menghadiri akademi tersebut adalah salah satu kewajiban bagi setiap kaum pria.
Seluruh rakyat dari dimensi X terkena kutukan. Mereka sulit berkembang biak karena sistem sel mereka yang sering bermutasi. Sel yang bermutasi dapat memberi keuntungan, namun juga dapat memberikan dampak negatif yang besar. Mereka sulit bertahan hidup saat baru lahir. Mereka sulit menemukan sel "betina" yang dapat meneruskan keturunan. Mereka sulit menambah generasi. Mereka tidak dapat hidup tanpa betina. Namun mereka dibekali jangka hidup yang panjang. Mereka dibekali sel yang dapat menyembuhkan dan beregenerasi dengan cepat. Mereka dibekali keahlian bertahan hidup, sesuai dengan insting alami, hanya perlu sering diasah.
"Dan yang terpenting yang harus kamu ketahui..."
Kaum Raath membenci manusia.
DEG!
Rasanya jantung Neo berhenti berdetak. Tatapan tajam Morga benar-benar menyakitinya. Segala kemampuannya ia kerahkan agar tetap terlihat tenang. Akan tetapi pikiran negatifnya mulai menyimpulkan berbagai hal.
*Bukankah itu berarti ratu membenciku?
Bukankah itu berarti aku tidak aman berada di sini*?
Ia mulai mengerti mengapa kelima peneliti itu memilih tempat yang jauh di dalam hutan sebagai tempat persembunyian mereka. Ia mulai mengerti mengapa kubus-kubus itu sangat penting bagi kelima peneliti tersebut. Mereka sama sekali tidak berada pada posisi yang aman jika bersamanya, tapi mereka meyakinkan dirinya akan selalu menjaga gadis itu. Perlahan Neo menepis segala pikiran negatifnya. Jika ia ingin bebas dari kekangan om dan tantenya, ia harus belajar untuk bertahan hidup di dunia ini.
"Aku mengerti. Lalu mengapa kalian membawaku?" tanya Neo memastikan. Gadis mungil tersebut mengernyitkan dahinya masih dengan ekspresi datar, "bukankah hidup kalian juga akan terancam?"
Morga tidak tahu harus menjawab apa. Fakta bahwa mereka membawa gadis itu untuk menjadi bahan penelitian mereka, untuk mendamaikan kedua belah pihak--manusia dan kedua suku dimensi X--yang mungkin saja mengancam nyawa gadis itu, membuat perasaan bersalah kian tercipta. Ia belum membahas tentang pertempuran antara kaum dimensi X dengan manusia. Ia belum membahas tentang hubungan mereka dengan kaum manusia. Bersyukur sekali ia diselamatkan oleh kebijakan ratu: pagi berganti menjadi siang. Lelaki bertubuh jangkung itu menghela napas.
"Tanyakan pada Tagt nanti. Dia lebih mengerti."