
Ketika semua hal yang kau inginkan terpendam jauh di dalam dirimu, terkubur di bawah kehendak orang lain, kau berusaha melupakan keinginanmu. Hingga kau benar-benar lupa apa keinginanmu yang sebenarnya, apa yang kamu butuhkan, apa yang selama ini kamu cari, dan apa yang hilang dari dalam dirimu.
***
Dimensi X...
Klak! "Cek, cek! Apa itu bekerja?"
"Mungkin? kurasa begitu..."
"Kami sekelompok peneliti yang ditugaskan kepala militer untuk membantu pencarian data tentang manusia, makhluk yang saat ini sedang kami perangi. Namun kami masih belum yakin apakah mereka musuh atau bukan. Berita tentang keluarga kepala militer dan sanak saudara Yang Mulia Ratu yang dibantai habis-habisan oleh manusia tiba-tiba saja tersebar luas!"
"Devan, berikan recorder itu..." klak!
"...ahem! Tagt di sini bersama Morga, Devan, dan Nath-"
"-Dan Abe!"
"...ya, dan Abe. Kami sedang dalam masa pelarian, tidak tahu hingga berapa lama. Ratu menyuruh pasukannya untuk mencari kami. Ia memaksa kami melakukan eksperimen pada rakyat di sini dengan menggabungkan DNA manusia dan membuat sesuatu sejenis mutant, dengan alasan perbaikan pasukan militer. Kami tentunya menolak-"
"-Tagt! Ini semua tidak akan terjadi kalau kamu menerima apa yang diperintah Ratu! Kau tahu manusia yang membuat rakyat kita menjadi seperti sekarang ini!"
"Kita pernah membicarakan hal ini, Nath! Mereka juga punya hak untuk hidup! Bertahun-tahun lalu, hubungan kita dan manusia cukup baik, 'kan?"
"Ya, dan mereka menginginkan dunia kita untuk dikuasai!"
"Itu karena kita melakukan percobaan ilegal terhadap kaum mereka! Aku tidak ingin melakukannya lagi!"
"...hei tuan-tuan. Kalian teliti saja salah satu dari mereka-"
"-Ide bagus, Morg! Kau, Devan, Abe, dan Nath! Kalian harus pergi dan mencari sampel manusia yang dapat menguatkan pendirian kita dan mendamaikan dunia kembali! Aku akan mempersiapkan hal lainnya di sini. Kabari aku jika kalian sudah menemukannya!"
"Kau bukan pemimpin kami, tidak perlu repot memerintah! Aku akan lakukan sesuai kehendakku!" tap tap tap!
"Uhm, kawan-kawan? Kita tidak perlu berdebat, 'kan? Heeiiii???"
"..."
"-Abe! Cepatlah, kami sudah mau pergi!!!"
"Yaa, sebentar! Oke, Abe pergi." klak**!**
***
"Kasihan sekali anak itu, sejak kejadian 2 minggu lalu, dia sering melamun, cuma mau bicara sama kakaknya aja."
"Dengar-dengar, hubungan mereka sama kerabatnya kurang bagus lho, mbak. Budenya sering marah-marah ke si adek, dia disalahin terus gara-gara saudaranya meninggal."
"Kok bisa, ya... padahal dia masih kecil. Masih butuh sosok orangtua... kasihan ya, mbak..."
"Iya, bu. Apalagi kakaknya sudah kuliah, universitasnya jauh pula... jadi jarang banget pulang ke rumah..."
Bisikan-bisikan ibu rumah tangga yang mengerubungi tukang sayur di depan rumah sudah berkicau sejak dini hari. Seorang anak berusia sekitar 10 tahun duduk di depan pintu, di salah satu anak tangga pada teras sebuah rumah yang tidak jauh dari keramaian. Matanya bagaikan orang mati, tidak ada cahaya sama sekali.
Beberapa meter dari kerumunan ibu-ibu, terdapat banyak anak berlarian. Sempat terbesit di benak anak itu untuk bergabung dengan anak lainnya. Tapi sebelum dia sempat berdiri, beranjak dari posisi duduknya, terdengar teriakan nyaring dari dalam rumah. Tanpa basa-basi, kakinya segera berlari ke dalam rumah, dibuangnya pikiran yang sempat terlintas. Dengan hati-hati, ia menghampiri sebuah ruangan. Seorang wanita paruh baya yang wajahnya penuh riasan sudah menunggu di sana dengan raut muka penuh emosi.
"Ngapain lu keluar-keluar!? Emangnya kakak lu bakalan pulang kalo lu tungguin di depan rumah!? Gue mau jalan-jalan hari ini! Lu tunggu di rumah, jangan kemana-mana!!!"
Bocah cilik itu menundukkan kepalanya lalu mengangguk pelan. Sejak 2 minggu berlalu, seluruh anggota tubuhnya sudah terbiasa menerima perilaku kasar kerabatnya. Tidak ada tangisan keluar dari matanya, tidak ada keluhan dilontarkan dari mulutnya. Ia hanya menerima.
Sekitar 30 menit kemudian, tantenya siap berangkat dengan supirnya, meninggalkan keponakannya sendirian di rumah. Dia berdiri di ambang pintu, memandang mobil yang semakin lama semakin hilang dari jangkauan mata. Ditutupnya pintu dengan rapat, lalu ia bergegas mengambil sapu dan pengki. Dari jendela, dia dapat melihat anak-anak lainnya sedang bermain kejar-kejaran. Sudah lama rasa iri hilang dari benaknya. Ia fokus melakukan tugasnya.
Setelah 2 jam, barulah anak itu selesai berbenah. Rumah yang dapat dihuni oleh 4 orang itu terlihat lebih berkilau dari sebelumnya. Anak berambut hitam pendek beristirahat sejenak, lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Bahan makanan di kulkas yang seadanya membuat manusia cilik itu lagi-lagi berimprovisasi.
Mie telur goreng tepung.
Digorengnya mie lalu dimasukkan ke dalam tepung yang sudah dicampur telur. Adonan dalam mangkuk ini setidaknya cukup untuk sarapan dan makan siang baginya. Tidak lama kemudian, dia berlari kecil menuju meja makan dengan kedua tangannya menampung piring berisi 10 potong makanan yang digoreng si kecil. Dihabiskannya 5 potong dengan lahap dan 5 potong lainnya ia simpan di kotak bekalnya.
Dari kursinya di ruang makan, ia beranjak ke kamarnya untuk mengambil handuk dan beberapa pakaian ganti. Rumah ini sangat sederhana, seperti rumah-rumah lainnya di komplek ini. Hanya saja, terdapat 2 kamar mandi yang berada di dalam dan di luar rumah. Menurut peraturan tak tertulis di dalam rumah ini, dia tidak boleh menggunakan kamar mandi di dalam rumah kecuali ada kehadiran sang kakak. Jadi anak itu melangkah ke pintu keluar bagian belakang dan menuju ke gubuk kecil dari kayu. Kamar mandi yang sangat, sangat sederhana yang awalnya diperuntukkan bagi pembantu penghuni rumah.
Si cilik keluar dari kamar mandi sempit itu dengan pakaian ganti melekat di tubuhnya. Kemeja putih dilengkapi dasi dan sweater abu-abu muda yang kebesaran milik kakaknya. Dengan celana panjang coklat berpola kotak-kotak, anak itu seperti memakai seragam sekolah. Dia kembali ke rumah lewat pintu belakang dengan handuk dan pakaian kotornya. Dari kejauhan, dia dapat mendengar komposisi indah dari kicauan burung dan nyanyian air terjun yang berada di hutan kecil, tidak jauh dari komplek rumahnya. Terkadang ia penasaran akan apa saja yang ada di dalamnya. Tapi mustahil baginya untuk bisa keluar dari kandang dalam jangka waktu dekat.
Anak itu kembali masuk ke rumah. Dicarinya posisi ternyaman di dekat jendela. Dia suka sekali menonton kegiatan tetangga-tetangganya, sebab dia tidak punya hiburan lain. Beberapa saat kemudian, kedua matanya menangkap seorang nenek bungkuk sedang berjalan tertatih menenteng banyak plastik belanjaan. Tidak butuh waktu lama, wanita ringkih itu terjatuh, membuat barang-barangnya berceceran. Banyak orang berlalu lalang, tapi tidak ada satupun yang menolong si nenek.
Bocah cilik terdiam. Apa yang harus dia lakukan? Bude bisa saja pulang selagi dia berada di luar rumah. Rasa sakitnya ketika mendapat perlakuan kasar memang sudah tumpul, tapi itu bukan berarti ia berani menentang perintah budenya. Tiba-tiba sebuah motor berkecepatan tinggi melintas, menabrak serakan barang-barang dan tanpa sengaja menyerempet sang nenek. Si pengendara tidak berhenti untuk meminta maaf. Ia tetap melajukan motornya dengan kencang. Meski ragu untuk keluar rumah, sebuah bisikan dari hati kecilnya berhasil memonopoli pikirannya. Entah apa yang akan dilakukan bude padanya saat ia pulang nanti. Dengan berhati-hati, dibukanya pintu, lalu ia berlari ke arah nenek itu.