
Setelah mengobrol ringan bersama Mrs. Aleea, aku dan Microna pamit undur diri dari ruangan itu. Ketika aku berada di luar ruangan tempat Mrs. Aleea melakukan aktivitasnya, aku tak melihat Fajar dan yang lainnya.
Ke mana mereka?
“Microna,” panggilku.
“Ya, Tuan putri?”
“Ke mana mereka pergi?”
Microna tampak berpikir, kemudian menggeleng. “Hamba tidak mengetahui keberadaan mereka. Mungkin saja, mereka berada di asrama?”
Ah, iya. Mengapa aku bisa melupakan asrama di akademi ini?
“Baiklah. Mari kita ke asrama. Apa kau tahu tempatnya di mana?”
Microna mengangguk. “Ya, hamba mengetahui tempatnya,” jawabnya.
Setelah itu, aku dan Microna melangkah, menjauh dari Ruang Kepala Sekolah, menuju asrama. Tadi saat di Ruang Kepala Sekolah, Mrs. Aleea mengatakan bahwa aku dapat langsung belajar di akademi ini mulai esok hari.
Ngomong-ngomong, di Akademi Sihir Mozilla, asrama putra dan putri tidak dipisah, melainkan digabung. Satu hal yang kuketahui tentang akademi ini, yaitu setiap satu bulan sekali, akademi ini akan mengadakan pertukaran pelajar.
Entah itu pelajar dari Megapolist, Philipolist, Vinampolist, Yolespolist, ataupun Neopolist.
Bruk!
Tanpa kusadari, aku tak sengaja menabrak seseorang. Kutolehkan kepalaku, menatap orang itu. Lalu pandanganku teralihkan pada beberapa buku yang terjatuh di lantai akademi, berserakan.
“Aku minta maaf!” ucapku segera, lalu aku berjongkok dan memungut beberapa buku itu, setelah itu kuserahkan beberapa buku yang tak sengaja kujatuhkan pada orang itu. “Ini. Sekali lagi aku minta maaf.”
Namun, laki-laki itu tidak memberikan tanggapan. Wajahnya datar, tanpa ekspresi apa pun. Ya, seseorang yang tak sengaja kutabrak adalah seorang laki-laki.
Setelah beberapa saat, laki-laki itu menjulurkan tangannya, lalu mengambil buku-buku itu dari genggaman tanganku.
“Tidak apa-apa.”
Entah mengapa, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Bola matanya yang berwarna ungu membuatku terlarut dalam tatapannya.
Tetapi....
Jika dilihat lebih lama, aku mengetahui bahwa wajahnya sedikit... mirip denganku.
“Tuan... Muda...?”
Suara isak tangis terdengar, membuyarkanku dari lamunanku tentang laki-laki itu. Aku menoleh, memandang Microna yang sedang menahan bulir air mata yang terbendung di kelopak matanya.
Apakah dia mengenal laki-laki itu?
“Tuan Muda... apakah itu Anda?”
Tangan kanan Microna menyentuh pipi laki-laki itu. Sedangkan laki-laki yang tak kukenal itu menatap Microna, kemudian beralih menatapku, setelah itu dia tersenyum tipis.
Benar.
Dia tersenyum ke arahku, walaupun senyumannya sangat tipis―bahkan hampir tidak terlihat.
“Tuan Putri, dia....”
Aku tak dapat mendengar perkataan Microna selanjutnya. Tatapanku hanya terarah pada laki-laki itu. Berbagai serangkaian kejadian segera kusambungkan.
Wajahnya yang mirip denganku.
“Tuan Muda”, nama yang dipanggil oleh Microna.
Dan, senyumannya.
Jangan-jangan....
“Kakak...?”
Tanpa sadar, panggilan itu keluar dari bibirku.
Kau tahu, ‘kan? Waktu itu, ibuku pernah mengatakan bahwa aku memiliki seorang kakak, tetapi dia tidak mengatakan padaku, apakah kakakku perempuan atau laki-laki.
Lalu, aku bertemu dengan laki-laki itu. Laki-laki yang mirip denganku. Jika dia mirip denganku, bukankah berarti aku dan dia berasal dari keluarga yang sama?
Awalnya, aku hanya menganggap hal itu sebuah kebetulan. Bisa saja dia mirip denganku, tetapi tidak berasal dari keluarga yang sama, bukan?
Namun, pemikiran itu tersingkirkan.
Ketika Microna memanggilnya “Tuan Muda”, aku menjadi yakin bahwa dia adalah salah satu keluargaku; kakakku.
“Akhirnya kita bertemu.”
Setelah sekian lama, laki-laki itu―kakakku―membalas panggilanku.
Saat itu juga, aku merentangkan kedua tanganku dan memeluknya erat. Sangat erat, sama seperti perasaan rinduku pada keluargaku. Ia terdiam sesaat. Namun, tak lama kemudian dia membalas pelukanku.
Tak kusangka bahwa aku akan bertemu dengan kakakku di sini.
Ketika aku tiba di kamar asramaku nanti, akan kucatat hari bersejarah ini; tanggal 9, bulan Aurantiaco, tahun 2290 Bintang.
...❀ ❀ ❀...
Kini aku berada di dalam kamar asramaku. Aku segera mencatat apa saja yang terjadi hari ini di dalam buku harianku.
Kira-kira seperti ini yang kutulis di buku harianku:
...――――――――――...
Akademi Sihir Mozilla, 9 Aurantiaco 2290 Bintang.
Tak kusangka, aku bertemu dengan kakakku hari ini. Ya, hari ini. Di hari ini pula, aku mengetahui nama kakakku. Namanya adalah Shavir Ali Putra. Itu nama yang sangat indah, bukan? Ya... kalau dipikir-pikir lagi, nama depannya hampir sama denganku.
Tetapi entah mengapa, aku sedikit kecewa dengan sikapnya. Apakah kau tahu? Sepertinya kakakku adalah tipe laki-laki berwajah datar dan anti-sosial, berbanding terbalik dengan sifat adiknya sendiri, bukan?
...――――――――――...
Setelah itu kututup buku harianku. Pandanganku teralih pada jendela kamar asramaku. Aku pun berdiri, lalu berjalan menuju jendela sambil membawa kursi belajarku. Lantas aku menaruh kursi kayu itu di depan jendela, kemudian duduk di situ.
Kupandangi pemandangan yang disuguhkan dari lantai tiga.
Ah, aku belum memberitahu di mana letak kamar asramaku. Kalau begitu akan kuberitahu.
Kamar asramaku berada di lantai tiga, tepatnya di kamar bernomor “120”. Di kamar ini terdapat dua tempat tidur yang letaknya sejajar. Hanya saja, tempat tidurnya tidak terbuat dari kayu, melainkan terbuat dari sulur-sulur tanaman.
Sulur-sulur tanaman itu dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat dinaiki dan dijadikan tempat beristirahat.
Ngomong-ngomong, saat ini aku sendirian di kamar.
Setelah bertemu dengan kakakku, Microna pamit pergi. Katanya, dia ingin mengobrol lebih lama dengan kakakku―itu pun jika kakakku yang mengobrol dengannya, bisa saja hanya Microna yang mengoceh sementara kakakku diam mendengarkan, atau malah tidak mendengarkan sama sekali.
Awalnya, Microna mengajakku untuk ikut bersamanya, tetapi kutolak. Alasannya karena aku ingin beristirahat. Sementara beberapa orang yang tadi pergi bersamaku, hilang entah ke mana.
Aku tidak melihat Fajar, Stay, Lightning, maupun Felicia. Ketika aku mengecek kamar asrama Fajar, aku juga tidak menemukan mereka.
Aku mendengkus kesal. Kutarik napasku dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. "Haahh... aku bosan sekali," keluhku sambil cemberut.
Sekarang aku merasa menyesal menolak tawaran Microna untuk ikut dengannya.
Tak berapa lama kemudian, burung putih―tempat aku menitipkan surat kepada Tania di gua―datang padaku melalui jendela kamarku.
Burung itu hinggap di lengan kiriku. Aku menatap burung itu sekilas, lalu pandanganku mengarah pada sesuatu yang diikat di kaki kanan burung itu. Itu adalah seutas kain.
Setelah memandang kain itu berkali-kali, aku pun memutuskan mengambil kain itu. Setelah aku mengambilnya, burung putih tadi bertengger di pundakku.
Perlahan aku membuka kain itu. Isinya memperlihatkan sebuah kertas, yang kuyakini adalah sebuah surat.
Siapa yang mengirimiku surat?
Jemariku perlahan memegang kertas yang dilipat itu, membukanya perlahan. Ketika kertas itu tampak dan tertangkap oleh indra penglihatanku, betapa terkejutnya aku saat melihat sederet kalimat yang ditulis rapi di kertas itu.
Aku sangat mengenal siapa pemilik tulisan tangan ini.
[Kepada sahabatku, Sheyla Putri.]
[Hai, Sheyla.]
[Aku meminta maaf karena belum sempat menghubungimu. Jika saja kau tidak mengirim surat untukku hari itu, maka aku akan benar-benar melupakan keberadaanmu. Tetapi, untung saja aku tidak melupakanmu.]
Aku menahan tangis ketika membaca surat itu. Tanganku gemetar.
[Apa kau bertanya tentang keadaanku? Akan kujawab, aku baik-baik saja.]
[Ketika Kota Neo terkena teror hari itu, aku berniat untuk mengecek keadaanmu di kamarmu. Tetapi belum sempat aku mengecekmu, kamarku runtuh, dan aku terjatuh. Terlebih, aku tertimpa kamarku sendiri. Dan sialnya, aku ditangkap oleh sekumpulan prajurit dan dibawa ke Kastil Kota Neo.]
[Di tempat itu, aku bertemu dengan teman masa kecilku; Alex. Sejak saat itu, aku dijaga ketat olehnya. Bahkan ketika aku hendak mandi, beberapa pelayan diwajibkan untuk menemaniku.]
[Bukankah hal itu terlalu berlebihan?]
Aku tertawa pelan. Pantas saja ia tidak pernah menghubungiku sejak saat itu. Ternyata ada seorang laki-laki yang terlalu posesif di sisinya. Aku kembali melanjutkan membaca surat yang dikirim olehnya, yang menurutku adalah surat terpanjang pertama yang berhasil dia buat.
[Setiap saat, aku selalu memikirkanmu. Apakah kau selamat, apakah kau baik-baik saja, di mana kau saat ini, di mana kau menetap, apakah kita akan bertemu kembali, dan sejenisnya.]
[Untung saja kau menulis surat untukku, jadi aku bisa bernapas lega karena mengetahui di mana keberadaan dan bagaimana keadaanmu.]
[Ngomong-ngomong, selamat untukmu karena telah berhasil lolos ujian masuk Akademi Sihir Mozilla!]
[Dan, apakah kau tahu? Surat ini kutulis tengah malam secara diam-diam.]
[Terima kasih karena telah membaca suratku. Kuharap, kita bisa bertemu kembali. Dan pada saat pertemuan kita nanti adalah pertemuan yang diiringi dengan raut wajah kegembiraan.]
Aku tersenyum.
Ketika membaca kalimat terakhir itu, aku jadi membayangkan bagaimana jadinya jika aku dan dia bertemu kembali. Apakah pertemuan kami diikuti oleh sebuah pertempuran atau sebuah kebahagiaan?
[Tertanda, sahabatmu, Tania Lilina.]
Sudah kuduga. Dan ternyata dugaanku terbukti benar. Orang yang mengirimiku surat adalah sahabatku tersayang, Tania.
Ketika aku selesai membaca surat dari Tania, pendar berwarna putih terang mengelilingiku. Entah dari mana pendar-pendar itu bermunculan. Pendar-pendar itu berkumpul tepat di hadapanku, setelah itu pendar-pendar itu berubah menjadi sebuah surat yang memiliki sepasang sayap kecil di sisi kanan dan sisi kirinya.
Itu artinya ada yang mengirimiku surat lagi.
Tetapi, siapa?
Surat bersayap itu tetap melayang. Aku mengamati surat itu, kemudian kuberanikan diriku untuk menggapai surat itu. Tadi saat pendar itu berubah menjadi surat, surat itu langsung terbuka dengan sendirinya―yang mulanya dilipat.
Aku membaca surat itu. Alisku bertautan ketika membaca sederet kalimat yang ditulis di dalam surat itu; singkat, padat, dan penuh misteri.
[Temui aku di perpustakaan akademi. Aku menunggumu.]
Hanya itu yang tertulis. Tidak tercantum siapa yang mengirimiku surat.
Setelah membaca surat itu, kepalaku berpikir keras.
Apakah Fajar yang mengirimku surat? Jawabannya tentu saja tidak mungkin. Karena jika dia yang mengirimiku surat, seharusnya di surat itu tertulis kami menunggumu bukanna aku menunggumu. Karena kata “kami” berarti Fajar, Felicia, Lightning, dan Stay.
Apakah Microna? Tentu saja tidak mungkin, sebab Microna tidak pernah memanggil dirinya dengan sebutan “aku”, pasti dia akan memanggil dirinya dengan sebutan “hamba”. Bukankah begitu?
Sekali lagi, kepalaku berpikir keras, mencari tahu mengenai siapa yang mengirim surat misterius ini padaku. Hingga tiba-tiba saja, sekelebat ingatan ketika aku telah selesai mendaftar di akademi ini beberapa saat lalu terlintas di pikiranku, membuatku merasa yakin bahwa orang itulah yang mengirimiku surat.
Ya, siapa lagi kalau bukan seseorang yang tak sengaja kutabrak dan orang yang awalnya memanggilku dengan panggilan “Ratu Shena”.
*(Pada part 7)
...❀ ❀ ❀...
Perpustakaan Akademi Sihir Mozilla berada di belakang gedung asrama putra dan asrama putri.
Perpustakaan itu berbentuk seperti kubus, sementara atapnya terbuat dari kristal putih yang dilapisi sihir pelindung tingkat lima belas dan memiliki bentuk melengkung.
Perpustakaan itu memiliki luas empat ratus ribu meter persegi. Di perpustakaan itu terdapat 500 buku sejarah, 55 buku dongeng, 450 buku novel, 650 buku tentang sihir dan ramuan, serta 750 buku fakta umum. Jadi, total buku yang disimpan di dalam perpustakaan itu sebanyak 2.405 buku.
Perpustakaan Akademi Sihir Mozilla memiliki lima lantai. Lantai satu berisi tempat untuk murid penyihir tingkat 5 sampai tingkat 7, lantai dua berisi tempat untuk murid penyihir tingkat 8 sampai tingkat 10, lantai tiga berisi tempat untuk murid penyihir tingkat 11 sampai tingkat 13, sedangkan lantai empat berisi tempat untuk murid penyihir tingkat 14 sampai tingkat 16.
Sementara lantai teratas alias lantai lima adalah tempat yang diperuntukkan bagi murid maupun pengajar yang memiliki akses khusus untuk memasuki bagian itu. Dengan kata lain, lantai lima adalah tempat yang sangat tertutup dan rahasia. Entah apa yang ada di dalam sana.
Aku memandangi buku-buku yang berada di rak sejarah. Tanganku terasa gatal hendak mengambil beberapa buku sejarah yang tampaknya sangat menarik untuk dibaca.
Ya, saat ini aku sedang berada di Perpustakaan Akademi Sihir Mozilla.
Entah dorongan apa yang membuat kakiku melangkah kemari. Namun yang pasti, dorongan itu datang setelah aku membaca surat misterius yang tidak kuketahui pengirimnya.
Selang beberapa detik kemudian, seorang wanita yang kukira adalah salah satu penjaga perpustakaan ini, datang menghampiriku.
“Permisi,” sapanya sopan. Aku menatapnya sekilas. Alisku mengerut. Jujur saja, aku tidak tahu mengapa wanita itu menghampiriku. “Apakah Anda adalah Nona Sheyla Putri?”
Aku tersentak.
Bagaimana wanita itu mengetahui namaku?
Dengan perasaan gugup yang dikelilingi rasa takut, aku menjawab dengan tertatih, “Y-ya. Itu... itu saya. Um... ada apa... mencari saya?”
Wanita itu tertawa setelah aku menjawab pertanyaannya. Setelah itu, dia mengukir senyum di wajahnya. “Anda tidak perlu merasa takut pada saya,” katanya, terdengar cukup meyakinkan.
Aku tertawa kecil. Tidak tahu harus membalas perkataannya dengan ekspresi seperti apa.
“Saya ditugaskan untuk mengantar Anda menuju lantai lima,” lanjutnya.
Mataku melotot kaget. Apa yang baru saja wanita itu katakan? Dia ditugaskan untuk mengantarku ke lantai lima, katanya? Lantai lima?!
Wanita itu hanya tersenyum sebagai balasan. Lalu dia berkata, “Ah... ini perintah dari seseorang. Bukankah Anda menerima surat yang beliau berikan?”
Surat?
Apakah surat yang tadi kudapat di kamar?
Aku menatapnya sekilas. Setelah itu, aku memandang sekeliling. Sepi. Tidak ada siapa pun, kecuali aku dan wanita itu. Sepertinya, murid-murid di akademi ini dilarang memasuki perpustakaan pada jam ini. Kemudian aku mendekat ke arah wanita itu, lantas membisikkan sesuatu.
“Apakah surat yang dikirim melalui pendar berwarna putih itu... dikirim oleh orang yang menugaskanmu?” tanyaku pelan.
Wanita itu langsung menjawab, “Ya. Itu adalah surat yang dikirim oleh beliau.”
Itu pasti dia.
Ya, tidak salah lagi, itu pasti orang yang tak sengaja kutabrak ketika aku selesai mendaftar ujian masuk akademi ini.
“Baiklah. Jika Anda telah mengetahui isi surat yang beliau kirim, mari ikut saya. Beliau ingin bertemu dengan Anda di ruangan pribadinya―di lantai lima.”
Aku meneguk ludah, ada sedikit perasaan gugup bercampur rasa penasaran. Dengan perasaan bimbang, aku mengangguk pada wanita itu, pertanda bahwa aku menyetujui ajakannya.
Kemudian, wanita itu menuntunku menuju sebuah tangga yang terbuat dari kayu. Dia berjalan di depanku, sedangkan aku mengikuti dari belakang. Sesampainya di lantai lima, kami berbelok, kemudian kembali berjalan lurus.
“Di mana ruangan itu?” tanyaku, merasa penasaran. Karena sedari tadi, kami terus melewati beberapa ruangan.
“Di ujung sana,” jawabnya sembari menunjuk sebuah ruangan yang berada di paling ujung.
Aku mengembuskan napas pelan.
Ketika aku melewati ruangan yang di atasnya terdapat simbol botol ramuan, langkahku terhenti. Sayup-sayup kudengar suara dua orang yang sedang berdebat. Salah satu suara orang yang berdebat di balik ruangan itu terasa tak asing bagiku, sepertinya aku mengenal suara itu.
“Anda harus kembali ke kerajaan,” titah salah satu suara, nadanya terdengar datar namun mengandung unsur paksaan.
“Kau tidak berhak membawaku ke tempat bagai neraka itu! Kau bukan siapa-siapa bagiku!”
Suara lain seorang laki-laki membantah paksaan suara pertama. Seketika tubuhku menegang kala mendengar suara laki-laki itu.
“Ini perintah.” Suara pertama kembali terdengar. “Jika Anda memberontak, maka gadis itu akan saya lenyapkan.”
“Jika kau menyentuhnya, aku yang akan terlebih dahulu melenyapkanmu!” Suara kedua menyahut, terdengar membentak. “Pergilah dari kehidupanku! Aku tidak ingin kau merusak surga yang kubuat dan mengubahnya menjadi neraka, seperti apa yang kau lakukan di masa lalu!”
Deg!
Suara itu... bukankah itu suara Fajar?
...❀ ❀ ❀...
Tbc.