
Di tengah malam itu, kelima laki-laki dari dimensi X terperangah menyaksikan apa yang telah dilakukan seorang gadis berusia 10 tahun. Tidak ada kata yang bisa terucap dari mulut mereka yang menganga. Ekspresi di wajah mereka hanya mendeskripsikan rasa kaget. Bahkan lelah dan letih mereka hilang dalam sekejap. Padahal mereka telah melakukan perjalanan jauh tanpa istirahat cukup.
Kruyukkk...
Rahang bawah kelima pria yang tergantung kini sudah kembali menempel dengan rahang atas mereka. Kelima laki-laki tersebut saling bertatapan, kemudian melihat ke arah sumber suara. Perempuan yang tadinya membuat mereka tidak bisa mengucapkan kata apapun, sekarang membuat beberapa dari mereka cekikikan, sementara yang lainnya menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil.
"Ahahaha, kamu lapar, Neo? Sebentar, akan aku ambilkan makanan!" seru salah satu dari 5 laki-laki itu sambil berlari menuju ruangan lainnya. Dicarinya sebuah kubus dengan tulisan spesifik di kepalanya. "Aha!" Laki-laki itu, Abe, bersorak senang ketika menemukan kubus yang ia cari. Tanpa buang-buang waktu, ia langsung mengucapkan apa yang terukir di kubus hitam itu.
Boom!
Sebuah lemari pendingin raksasa keluar dari kubus hitam di genggamannya. Lemari itu lantas jatuh ke lantai sebagai efek dari gravitasi. Kubus di tangan Abe berubah warna menjadi putih, tanda furnitur telah sepenuhnya keluar dari sana. Hanya dengan menaruh telapak tangannya di depan sebuah geometri yang terpajang di salah satu sisi, lemari pendingin tanpa pintu itu secara bertahap memunculkan pintunya. Lantas ia membuka pintu tersebut dan mengambil sekantong plastik berisi makanan ringan, lalu membawanya pada gadis kecil di ruangan sebelah.
Pria landak mengambil kubus hitam di lantai, melemparnya ke udara seraya mengucapkan tulisan di sisinya. Sebuah kursi keluar dari kubus yang dilempar, lalu jatuh ke lantai. Abe menangkap kembali kubus yang kini berwarna putih itu dan menyeret kursi ke dekat Neo. Abe menggiring Neo duduk ke kursi yang ia bawa. Lalu pria itu menggeser meja makan sehingga Neo dapat menikmati makanannya. "Ayo, silakan dimakan," ucapnya sambil tersenyum.
Gadis kecil itu, Neo, memiringkan kepalanya sedikit, bertanya-tanya pada diri sendiri apakah itu bisa dimakan, mengingat tempat dimana ia berada saat ini bukanlah dunia manusia. Kemudian gadis muda itu membuka bungkus makanan yang diberikan Abe karena rasa laparnya semakin tak tertahan. Namun baru saja ia memasukkan potongan makanan ke dalam mulutnya, anak perempuan itu memuntahkannya kembali.
"Oh, tidak! Maafkan aku!" Neo tersentak menyadari sikapnya yang kurang sopan. Ia segera berdiri dan membungkuk meminta maaf. Gadis itu tidak mengerti apa yang salah pada dirinya. Kerongkongannya seakan tidak ingin menelan makanan itu meskipun lambungnya menjerit lapar. Ia bergegas mengelap bekas muntahnya menggunakan lengan baju kemejanya. Tapi ketika ia baru bersiap melepas sweater abu-abunya, tangan seseorang sudah mendahului gadis itu. Pria bernama Tagt, langsung mengelap bekas muntah si kecil dengan kain bekas.
"Maafkan aku..." ucap si gadis lagi. Ia benar-benar merasa tidak enak telah memuntahkan makanan dari orang-orang baik itu.
"Tidak masalah, Neo. Ini artinya kamu tidak cocok memakan makanan ringan dimensi kami," Tagt menepuk pundak Neo dengan lembut. "Lagipula, melayani seorang nona sepertimu adalah suatu kehormatan." Neo menunduk, tidak tahu harus berkata apa.
"Kalau begitu, aku akan memasak sesuatu untukmu! Tunggu sebentar~" Abe berlari lagi ke ruangan sebelumnya. Morga, Nath, dan Tagt hanya bisa saling melempar tatapan bingung. "Apa Abe bisa memasak?"
Sesampainya ia, laki-laki dengan rambut berantakan melawan gravitasi itu mencari kubus lainnya. Tidak makan waktu lama, Abe berhasil mengumpulkan kubus-kubus yang ia butuhkan. Langsung saja ia menyebut benda di dalamnya secara bergantian.
Boom!
Lagi dan lagi, barang-barang keluar dari kubus hitam di tangannya, lalu segera memposisikan diri di setiap titik ruangan. Untung saja Abe selalu memberi jarak ketika hendak mengeluarkan benda-benda tersebut dari dalam kubus. Satu persatu kubus pun menjadi putih. Lalu Abe memulai aksinya.
Laki-laki itu bersenandung riang sambil mengeluarkan bahan-bahan makanan dari dalam kulkas. Ia juga mengambil peralatan dapur seperti pisau, talenan, piring, dan sebagainya dari rak kaca. Sambil masih bersenandung, ia memutar pisau lalu mulai memotong bahan-bahan yang telah diambilnya, seraya memanaskan air di dalam panci. Gayanya yang cekatan bagai seorang ahli ternama. Kurang dari 30 menit kemudian, ia selesai memasak. Tangan kanannya mengangkat sepiring masakan yang ia buat, sementara lengan kirinya menjadi tempat bergantung bagi serbet. Anak itu berjalan gagah ke ruangan dimana teman-temannya telah menunggu.
"Makanan siap disajikan!" Abe menyerahkan piring di tangannya dengan elegan. "Mari kuperkenalkan pada Mold'eisuppe!" Abe menyengir seperti anak kecil tanpa dosa, rentetan gigi putih serta taringnya yang tajam di ujung terlihat.
"Ya ampun..."
"-Kurasa kepalanya terbentur!"
"...Dia sakit."
Keempat temannya meringis melihat sajian Abe. Mereka tidak ingin berkomentar apapun, hanya bergumam ngeri. Abe bisa saja membuat Neo terbunuh dengan memakan apa yang ia sajikan. Dan itu berarti mereka akan kehilangan kesempatan satu-satunya untuk memurnikan kembali nama baik mereka. Gadis kecil itu menatap sajian di depannya. Segan-segan ia mengambil sendok dan garpu.
Sluurpp! Neo menyeruput masakan Abe. Matanya berbinar namun ekspresinya tetap datar, tanpa emosi. "Kuah!" Seru si kecil.
"Ah, yah, kau bisa menyebutnya begitu, hehe," ucap Abe tersipu malu, "tapi aku yakin, di duniamu ini disebut sup." Abe menggaruk bagian rambut belakangnya yang tidak gatal. Beberapa waktu kemudian, Neo menghentikan lahapannya. Ia melihat ke dalam piring. Sesuatu berwarna oranye, kuning muda, dan hijau menghiasi sajian tersebut.
"Ini... wortel, kentang, dan buncis? Sayuran?" gumam gadis itu sedikit mengangkat bahan yang dimaksud. Abe mengangguk setengah menggeleng, "lebih tepatnya c**errateun, ritateun, dan gratteun. Sebenarnya ini semua daging hewan herbivora di sini~"
"Daging... lezat." Ungkap gadis itu melanjutkan makannya dengan lahap, membuat lengkungan manis di wajah Abe. "Terimakasih! Apakah itu berarti kamu belum pernah makan daging? Itu tidak baik bagi masa pertumbuhanmu, lhoo~" Abe mengetuk pelan hidung mungil Neo dengan jari telunjuknya sambil tersenyum. "Makanlah yang lahap, Neo!"
Dikelilingi orang-orang yang peduli padanya bagaikan sebuah mimpi. Sesaat ia berharap tidak pernah bangun dari mimpinya. Kehangatan menyelimuti gadis kecil itu. Tiba-tiba Neo menghentikan suapannya dan bangkit dari kursi. Dibawanya makanan yang dibuat Abe di tangan kirinya, sementara sendoknya dipegang erat di tangan kanannya. Ia menyendok sup hangat dan daging, kemudian menyodorkannya pada orang di sampingnya, Abe.
"Kamu juga belum makan sejak siang tadi, bukan?" Neo memandang lurus ke mata lelaki berambut tak terarah. Terpampang jelas ekspresi terkejut di wajah Abe. Matanya berbinar-binar, terharu akan sikap si gadis. Langsung saja tubuhnya dicondongkan ke depan, dibukanya lebar kedua lengannya. Hup~ "Neooo kau manis sekaliii!!!" Abe memeluk gadis di hadapannya dengan erat. Neo kaget bukan kepalang dibuatnya. Namun wajahnya tetap terkomposisi dengan tenang.
"Ayo, ayo! Suapi aku!" Seru Abe riang. Neo menatapnya canggung. "B-buka mulutmu..." ucap Neo pelan. "Aaaah~ sluurrrpp!" Morga, Tagt, Devan, dan Nath memperhatikan penuh tatapan ingin tahu, bagaimana rasa masakan Abe. Dalam sekejap, wajah riang Abe berubah menjadi senyuman kecut. Teman-temannya tahu pasti bagaimana rasa masakan pria itu. Abe menoleh, melirik mereka yang langsung sibuk sendiri. "He-he-hee~ Kawan-kawan, tidakkah kamu ingin merasakan masakanku~?" Abe melirik jahil. Keempat temannya menggeleng kompak.
"Aww~ Sayang sekali! Padahal rasanya manis seperti Schokolade, ya 'kan Neo?" Abe mengedipkan sebelah matanya, mengisyaratkan Neo untuk berkomplot dalam rencananya. Neo sama sekali tidak mengerti arti kedipan mata laki-laki itu. "Bagiku sangat lezat." Ia hanya mengutarakan pendapatnya. Devan dan Tagt terpengaruh tanggapan Neo. Didekatinya Abe. Spontan, Abe menyodok mulut kedua temannya itu dengan sesuap daging dan sup, membuat wajah mereka pucat seketika.
HAMBAR!!!
Masakan Abe sama sekali tidak ada rasanya! Abe tersenyum licik. Matanya tajam menargetkan kedua laki-laki yang terperanjat dalam diam. Nath dan Morga. Ketiga laki-laki itu saling berlarian tak tentu arah di ruangan berisi kubus, bagai anak kecil bermain kejar-kejaran.
"Bagaimana bisa kamu merasakan, hal menjijikkan itu, Neo?" bisik Devan ketika Abe sudah jauh dari kediaman mereka.
"Aku tidak tahu. Tapi masakannya enak, menurutku." Jawab Neo.
"Kau yakin? Maksudku, anak itu bahkan tidak memberi rempah-rempah apapun di masakannya!" Tagt ikut berbisik. Neo mengangkat bahunya. Ia sendiri tidak mengerti, tapi rasa yang baru dikenali oleh lidahnya itu seakan tidak bisa ia lupakan.
"Kebanyakan manusia bahkan tidak bisa memakan makanan dari dimensi kita, Tagt," bisik Devan sembunyi-sembunyi. Tagt terbelalak. Ia baru menyadari betapa cerobohnya pria landak yang memasak sajian itu.
"Ada sesuatu yang aneh pada Abe. Tidak biasanya anak itu seceroboh ini," gumam Tagt. Matanya tak lepas dari anak berambut melawan arah gravitasi yang masih mengejar Nath dan Morga.