
Aku masih terdiam di tempat ini, memikirkan kembali perkataan wanita tadi―yang mengatakan bahwa dia adalah ibuku. Berbagai macam pertanyaan seketika muncul di benakku.
Perang pembuka? Di mana? Kapan? Apakah para petinggi Benua Polist mengetahui hal ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu timbul begitu saja, dan aku tak tahu bagaimana caranya agar pertanyaan ini menghilang dari pikiranku―karena aku tak dapat menemukan jawabannya.
Aku beranjak dari tempatku, melangkah ke mana pun, asalkan aku dapat menghilangkan pertanyaan-pertanyaan ini. Hingga setelah beberapa menit berjalan tak tentu arah, aku memutuskan untuk berkeliling sesaat.
Alasanku ialah karena aku tak tahu ke mana arah jalan pulang.
Aku berusaha mencari jalan setapak yang seperti tadi, berharap jalan itu akan membawaku pulang, namun harapanku tak kunjung terwujud.
Aku mengembuskan napas sebal.
Apakah Microna tidak mengetahui keberadaanku? Mengapa Ibu juga tidak mengatakan ke mana arah jalan pulang?
Alhasil, aku tersesat.
Bagus.
Di tengah gelapnya malam, di dalam alam yang tak kuketahui sama sekali, tak bisa mengingat jalan pulang, dan akhirnya aku tersesat.
Sungguh skenario yang sangat bagus.
Aku tersenyum masam, kemudian memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Pada akhirnya, aku hanya berputar-putar di tempat yang sama, dan kembali lagi ke tempat di mana aku mengetahui bahwa keluargaku masih hidup. Ya, di tempat di mana Ibu meninggalkanku.
Setelah beristitahat beberapa menit, cahaya dengan warna-warna yang berbeda mendatangi tempatku berada, lalu menerangi sekelilingku. Cahaya itu berjumlah tiga, yakni berwarna merah, biru, dan hijau.
Cahaya itu adalah peri hutan.
Aku terpana ketika melihat mereka dari jarak yang cukup dekat.
Pasalnya, selama menetap di Kota Neo atau di tempat Microna, aku tak pernah melihat peri hutan.
Seketika aku berjengit kaget.
Tidak mungkin.
Satu kata itu melintas di pikiranku.
Apakah mataku tidak salah melihat? Apakah benar kalau yang kulihat adalah peri hutan?
Aku menggosok mataku, kemudian kembali menatap ketiga peri hutan itu secara bergantian. Aku tidak salah melihat!
Benar, mereka adalah peri hutan. Meskipun bentuk mereka seukuran jari tengah, tetapi dalam sejarah peri, dikatakan bahwa peri hutan seharusnya telah punah seribu tahun yang lalu.
Benar, seharusnya mereka telah punah!
Namun, mengapa mereka bisa muncul di sini?
Mungkinkah ... Ibu membawaku ke alam atas, yaitu alam di mana mereka yang telah mati dan punah dihidupkan kembali?!
Tidak! Tidak mungkin!
Ibuku tidak mungkin melakukan itu padaku. Ah ... itu bisa saja terjadi jika dia bukan ibuku.
“Ikutlah denganku,” ucap salah satu di antara mereka. Dia adalah peri merah.
Aku terdiam, agak ragu mengikutinya, sebelum akhirnya mengangguk dan menjawab, “... Baiklah.”
Lalu aku berdiri dan mengikuti mereka ke suatu tempat. Aku dibawa oleh mereka keluar dari tempatku beristirahat tadi. Tahu-tahu di tempat mereka membawaku, matahari memancarkan sinarnya, tidak ada lagi bulan dan langit malam.
Aneh.
Apakah benar bahwa aku pergi ke dimensi yang berbeda lagi?
Mataku menyapu seluruh pemandangan yang disuguhkan oleh tempat ini. Namun, ketika aku memandang langit yang begitu cerah, bola mataku sempurna membulat.
Ada beberapa hewan terbang di sana.
Bentuk mereka lumayan besar.
Mereka memiliki sepasang sayap yang lebar.
Juga, leher dan moncong mereka menyerupai hewan tertentu.
Itu adalah naga! Oh, bukan, melainkan sekumpulan naga! Benar, itu adalah sekumpulan naga yang sedang terbang di langit!
“Kau pasti mengenali mereka.”
Aku mengalihkan pandanganku, menatap ketiga peri hutan itu secara bersamaan. Pemilik suara tadi adalah peri hijau.
“Benarkah?” tanyaku memastikan.
Ketiga peri hutan itu mengangguk serempak. Kini giliran peri biru yang berbicara. “Lihatlah naga yang berwarna hitam keperakan itu,” katanya sambil menunjuk naga hitam keperakan yang kini sedang terbang ke arahku.
Aku menatap naga itu. Seketika aku merasa bahwa aku pernah melihatnya, tetapi aku tidak ingat pernah melihatnya di mana.
Ketika naga itu telah tiba di tempatku berada, dia melangkahkan kakinya ke arahku. Detik berikutnya, moncong besarnya mengendusku dan lidahnya keluar, menjilatiku.
Oh, astaga! Naga ini...!
“Bun! Ternyata itu kau!” Aku berseru, lantas memeluk moncongnya dan menggaruk bagian bawah moncongnya.
Bun tampak senang ketika aku mengenalinya.
Naga hitam keperakan yang sedang bersamaku adalah Bun. Itu adalah nama yang kuberikan padanya.
Bun adalah pemimpin para naga penyerang, yaitu tim khusus untuk pasukan naga yang tugasnya membantu ketika perang sedang berlangsung―yang berasal dari Kota Neo.
Aku pertama kali bertemu dengan Bun ketika aku dinobatkan sebagai “Angel” Kota Neo.
Tak kusangka, Bun juga ada di sini.
Tunggu, itu berarti .... Jika pemimpin para naga penyerang ada di sini, maka seharusnya pasukan naga penyerang juga ada di sini, bukan?
“Pemikiranmu tidak salah, Sheyla.”
Aku menatap peri merah yang telah berada di samping kiriku. Hah? Dari mana peri itu mengetahui namaku?
“Setelah penyerangan misterius yang terjadi di Kota Neo, seluruh naga yang berada di sana bermigrasi ke sini, begitu juga dengan pasukan naga penyerang. Saat itu, mereka tidak dapat membantu, karena salah satu penyihir yang ada di sana mengatakan bahwa tak boleh ada satu pun naga yang binasa di tempat itu,” jelas peri merah.
Aku diam mendengarkan, menanti kelanjutan cerita itu.
“Awalnya, sebagian peri hutan di sini tidak memperbolehkan. Tetapi karena terdesak oleh waktu, aku, peri merah, sebagai pemimpin peri hutan, menyetujui mereka menetap di sini.”
Aku mengangguk paham.
“Ah, penyihir yang mengatakan itu, kurasa dia adalah salah satu petinggi Kota Neo. Itu, sih, menurutku,” sambung peri merah.
“Ya,” balasku. “Itu pasti adalah dia, mungkin.”
Ketiga peri hutan itu segera menghampiriku dengan ekspresi terkejut. “Apa kau tahu siapa dia, Sheyla?” tanya ketiganya serempak.
“Aku tidak tahu. Aku hanya berasumsi.”
Memang benar, aku tidak mengetahui penyihir mana yang mengatakan itu. Namun, menurut pendapatku dan digabungkan dengan pembawaan penyihir itu yang tegas, sehingga mampu mengucapkan kalimat itu, aku tahu kalau penyihir itu adalah dia.
Peri biru kemudian bertanya, “Siapa?”
“Raja Riss.”
“Apa...?”
Alasan mengapa aku menjawab “Raja Riss” ialah karena hanya dia yang dapat berkata demikian. Dia adalah seorang raja, dia adalah orang yang berkuasa di Kota Neo dan Neopolist, dan dia juga orang yang dapat memberi perintah.
“Ah, mari kita ganti topik,” kata peri hijau.
Mungkin dia merasa bahwa topik ini kurang seru atau dia tak ingin mendengar apa pun tentang penyerangan diam-diam yang terjadi di Kota Neo, dan tentu saja itu masih menjadi misteri bagi Neopolist.
“Baiklah.” Aku menyetujui perkataannya. Lalu aku menatap peri merah dan bertanya, “Oh, ngomong-ngomong, dari mana kau mengetahui namaku, peri merah?”
Peri merah tidak langsung menjawab. Sesaat ketika dia akan menjawab, seseorang telah terlebih dahulu menjawab, “Ratu Shena memberi tahu kami bahwa putrinya sedang berada di sini. Dia juga mengatakan bahwa namanya adalah Sheyla.”
Yang menjawab adalah peri biru.
“Jadi begitu?” Aku mengangguk. Cukup bisa dipercaya. “Jadi, sekarang aku berada di mana?”
“Kau berada di tempat tersembunyi,” jawab peri merah.
“Tersembunyi? Seperti apa? Apa tempat ini juga diberikan sihir seperti yang Microna lakukan pada gua tempatku dibesarkan?”
Pertanyaan yang lumayan banyak itu terlontar begitu saja dari bibirku. Rasanya aku tak dapat menyembunyikan rasa penasaran ini, sehingga dengan tidak sengaja pertanyaan itu keluar begitu saja.
“Bisa dibilang begitu,” jawab peri merah, membuatku bernapas lega. Setidaknya, aku masih berada di sekitar gua. Namun, perkataan peri merah selanjutnya membuatku menahan napas selama beberapa detik. “Sekarang kau berada di dimensi yang berbeda.”
... Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis. Detik selanjutnya....
“Lalu kenapa kau mengatakan bahwa tempat ini tersembunyi dan diberikan sihir?!”
“Memang,” jawab peri merah dengan santai. “Tempat ini memang diberikan sihir agar tak ada seorang pun yang mengetahui tempat ini. Bisa dibilang, sihir yang diberikan adalah untuk memberikan jarak antara dimensi yang satu dengan dimensi yang lain.”
Oh, sial!
Aku mengumpat di dalam hati.
Aku tidak tahu jika hutan di dekat gua adalah perbatasan antardimensi!
“Lalu, naga-naga itu....” Aku menunjuk sekawanan naga yang masih beterbangan di langit cerah. “Bagaimana mereka bisa ke sini?”
“Heh―” Peri biru tertawa, dia seakan sedang mengejekku. “Oh, ya ampun, Sheyla. Apakah kau meragukan kemampuan pemimpin pasukan naga penyerang? Lucu sekali.”
Aku diam, tidak mengatakan apa-apa.
Baiklah. Aku akui kalau aku memang sedikit bodoh, karena tidak mengetahui bahwa pemimpin pasukan naga penyerang dari Kota Neo dapat membuka pintu menuju dimensi lain.
***
Langit cerah berganti dengan malam dalam sekejap. Matahari telah terbenam sejak beberapa jam yang lalu, kini digantikan oleh kehadiran bulan dan bintang-bintang. Aku telah berada di tempat ini selama berjam-jam, entah sudah berapa jam, aku juga tidak tahu.
Aku terkagum ketika melihat pemandangan malam yang disuguhkan oleh tempat ini. Sungguh menakjubkan!
Selama berada di sini, Cia, Cey, dan Caf―aku membuatkan nama untuk peri merah, peri biru, dan peri hijau―mengajakku berkeliling, entah itu di darat ataupun di laut.
Di tempat ini, peri merah, Cia, memberitahuku bahwa ada suatu tempat seperti gua di sini.
Di sanalah naga-naga yang menghilang dari Kota Neo membentuk sebuah desa naga.
Di desa itu, ada banyak sekumpulan naga kecil berkeliling dan terbang ke berbagai arah, sedangkan sebagian naga dewasa menjadi penjaga desa itu, lalu sebagiannya bertugas sebagai pemburu, setelah itu hasil buruan akan dibawa ke tengah desa dan dimakan bersama-sama.
Bagi orang-orang yang tidak pernah melihat naga, mereka pasti akan memasang tampang terkejut ketika melihat bahwa sekumpulan naga-naga itu makan daging bersama.
Ya, aneh memang saat mengetahui bahwa hewan seperti naga, yang terkenal sangat buas saat mencari mangsa dan tidak akan pernah berbagi mangsa dengan hewan lain termasuk hewan sejenisnya, justru tidak masalah ketika mereka berbagi hasil buruan.
Sejujurnya, naga memang memiliki sifat seperti itu. Mereka angkuh, terkadang mengganggu hewan yang lebih lemah, dan egois.
Namun, karena mereka tinggal di wilayah kaum penyihir dan telah dididik agar memiliki sifat seperti masyarakat Kota Neo―yaitu ramah, saling menolong, dan tidak pelit saat berbagi dengan siapa pun―sehingga menyebabkan mereka bersifat demikian.
Kini aku sedang duduk di bawah pohon rindang, sedangkan ketiga peri hutan itu mengelilingiku.
“Haah....”
Aku menghela napas sambil menikmati udara malam hari di bawah pohon.
Pohon tempatku berteduh sangatlah unik. Batang pohon itu berwarna biru bening layaknya kristal. Daun pohon itu juga serupa warnanya dengan batang pohonnya.
Peri hutan memberi nama pohon itu dengan nama “Pohon Kehidupan”.
Konon katanya, satu utuh daun dari pohon itu mampu mengembalikan hidup seseorang, dan air yang mengalir di sekitar batang pohon itu mampu menghilangkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan dengan mantra sihir atau dengan cara pengobatan tradisional. Dikatakan juga bahwa pohon itu dapat melihat masa depan.
Jika memang benar bahwa pohon itu dapat melihat masa depan, maka aku ingin sekali melihat masa depanku dengan kedua mataku.
Namun sayangnya, pohon itu berada di dimensi yang berbeda dengan dimensi tempatku menetap. Jika saja pohon itu berada di dimensiku, maka sudah dipastikan bahwa seluruh warga Benua Polist akan mengadakan perang untuk memperebutkan pohon itu.
Bisa dikatakan, aku adalah penyihir pertama yang dapat melihat secara langsung pohon ajaib itu.
Bukankah ini keren?
***
Ada sesuatu yang tidak dapat kupercaya.
Cia, Cey, dan Caf akan memperlihatkan padaku bagaimana Pohon Kehidupan melihat masa depan!!
Ini adalah sesuatu yang tidak terduga!
“Masa depan apa yang ingin kau lihat, Sheyla?” tanya Caf, yaitu peri hijau.
Aku sangat antusias ketika mendengarnya. “Benarkah? Benarkah?” tanyaku. Mereka mengangguk sebagai jawaban. Aku pun tersenyum lebar. “Aahh! Aku sangat senang!!”
Caf kemudian menjelaskan, “Jadi, kau diizinkan melihat masa depan yang ingin kau lihat, tapi kau hanya dapat melihat tiga masa depan. Lebih dari tiga tidak boleh. Setelah kau selesai melihat tiga masa depan itu, maka kau harus menunggu setidaknya sebulan untuk melihat masa depan yang lain.”
“Begitu, ya.”
Pohon Kehidupan hanya memperbolehkan seseorang melihat tiga masa depan, setelah itu harus menunggu setidaknya sebulan lagi untuk melihat masa depan yang lain.
Namun, aku bersyukur, karena aku diizinkan untuk melihat masa depanku sendiri.
Ah, membayangkannya saja sudah membuatku bahagia.
“Aku....” Perkataanku terhenti ketika ingin melihat masa depanku. Sebuah pertanyaan seketika melintas di pikiranku. Aku langsung mengurungkan niat sebelumnya, lantas bertanya, “Jika aku melihat masa depanku, dan di sana, misalnya, aku sedang sekarat karena ditikam oleh orang yang ingin membunuhku, apakah aku bisa mengubahnya dan berhati-hati mulai sekarang?”
Cey, peri biru, menjawab pertanyaanku, “Kemungkinan kau bisa mengubahnya, tapi perbandingannya sangat kecil. Mungkin saat kau berhati-hati mulai sekarang, di masa depan kau hanya terluka parah atau dapat melarikan diri dari orang yang ingin membunuhmu, tapi tetap saja kau akan terbunuh atau mengalami sekarat walaupun kau telah melarikan diri.”
Aku tertunduk lesu kala mendengar jawaban Cey. Jadi kesimpulannya, masa depan yang akan kulihat hari ini tidak dapat aku ubah?
“Kau jangan terlalu memikirkan hal itu. Kau cukup melihat masa depan dan berhati-hati. Yang terpenting, kau telah berusaha, jadi terimalah hasil dari usahamu, tak peduli hasilnya baik atau buruk.”
Cia berusaha menghiburku, membuatku kembali bersemangat.
Apa yang dikatakan Cia memang benar. Tidak seharusnya aku pesimis. Aku hanya perlu melihat masa depanku, kemudian berusaha untuk berhati-hati. Jika hasilnya buruk, aku harus tetap menerimanya. Jika hasilnya baik, maka aku harus bersyukur pada Tuhan.
“Baiklah! Terima kasih atas saran yang sangat bermanfaat darimu, Cia,” balasku seraya tersenyum tulus.
“Sama-sama,” tukas Cia. “Ya sudah, mari kita lihat masa depan yang ingin kau lihat.”
Aku dan ketiga peri hutan itu memutuskan untuk melihat masa depan melalui Pohon Kehidupan.
Saat ini, aku akan melihat masa depanku, masa depan Kota Neo, dan masa depan Neopolist.
Aku berharap bahwa aku dapat melihat masa lalu yang menimpa Ayah, Ibu, dan kakakku. Aku juga berharap bahwa aku dapat melihat bagaimana caranya aku kabur dari gua sampai akhirnya tiba di Kota Neo.
Aku ingin melihat semua yang tidak ada di dalam memori ingatanku.
Aku berharap pohon itu mampu mengabulkan permohonanku.
***
TBC!