
Diam adalah jeritan yang paling menyakitkan dan kau tahu itu. Kenapa kamu tetap melakukannya meski mendambakan kebebasan? Kamu ingin pergi, bukan begitu? Kamu ingin keluar dari penjara yang mengekang, bukan begitu? Maka pergilah. Jangan terus kau siksa dirimu dalam diam.
***
Rumah si kecil berjarak cukup jauh dari rumah om dan tantenya. Ia pun lupa harus pergi kemana. Arah mana yang harus dituju? Jalan apa yang harus diambil? Hari sudah semakin larut, entah pukul berapa sekarang. Dia pergi tanpa bekal apapun, tanpa jam tangan, tanpa makan siang, tanpa uang. Hanya robekan kertas dan pensil yang sudah pendek yang selalu ia bawa kemana-mana. Andai dia memiliki ponsel pintar, mungkin dia sudah berada di rumah lebih cepat. Lelah dan letih tidak hanya dirasakan olehnya. Laki-laki bersayap, anjing putih, dan kucing hitam keabuan juga merasakan hal yang sama. Beruntung sekali si landak, ia bisa tidur di atas kepala gadis kecil dengan tenang, tidak harus menguras banyak tenaga.
Sudah 1 jam lebih mereka berjalan dengan arah tak menentu. Memang benar ia jarang keluar rumah, apalagi dalam keadaan seperti ini. Tantenya selalu melarang si kecil bermain keluar dan menjelajahi lingkungan sekitar komplek. Meski sudah tinggal di rumah tantenya selama 2 minggu, ia masih awam dengan rumah itu. Yang ia ingat dari rumah itu hanyalah kamarnya, sebab sebagian besar waktunya ia habiskan di sana. Kucing hitam menyerah untuk bersabar. Dia sudah tidak tahan lagi.
"Hei iblis! Tidak bisakah kau melihat memorinya dan langsung menerbangkan kami ke sana?!" Kucing memerintah dengan kasar. Devan menggeleng.
"Aku tidak bisa melihat memori apapun tentang rumah yang akan kita tuju di kepalanya," ujarnya. Dia dapat membawa si gadis kecil ke rumah lamanya karena sudah melihat memorinya ketika mengambil ingatannya. Kucing mendecak kesal. Anak malang tersesat mencari jalan pulang. Raut wajahnya yang tetap sama tidak mendeskripsikan kepenatannya, namun percayalah, beberapa kali pikirannya menyuruh untuk menyerah.
Ia masih berjalan memandu 4 sosok lainnya. Ketika ia melihat sebuah halte bus dari kejauhan, semburat kegembiraan muncul di benaknya. Akhirnya ia dapat beristirahat walau hanya sementara. Hewan-hewan dan laki-laki bersayap juga bisa mengistirahatkan diri. Lantas ia mempercepat langkahnya, disusul si anjing, kucing, dan pria bersayap.
Ketika sampai di halte, si kecil langsung duduk di kursi besi panjang. Ketiga pengikutnya juga melakukan hal yang sama. Jam digital di halte menunjukkan pukul 19.15. Dia melewatkan makan siang dan makan malamnya. Perutnya memaki meminta makan, kerongkongannya perih mengharapkan air, tetapi gadis kecil hanya bisa menahan lapar dan hausnya.
Mereka pasti juga kelaparan.
Perempuan muda itu memandang ketiga pengikut di sampingnya. Si kucing sedang duduk rapi seraya menatap kosong ke jalanan, anjing putih berbaring, dan laki-laki bersayap duduk melayang sambil berpangku tangan. Ketiganya terlihat sangat lelah. Gadis itu merasa bersalah. Ia ingin menolong keempat makhluk itu, setidaknya dengan memberi mereka air. Tapi kakinya terasa berat untuk melakukan perjalanan. Lututnya pegal dan pergelangan kakinya kebas. Jiwa dan raganya memaksa si kecil untuk tidur.
Di halte itu, keempat tokoh yang kelelahan--dan landak--terlelap. Halte yang tidak biasanya sunyi dan semilir angin malam yang sejuk membuai kelima tokoh tersebut. Gadis kecil bermimpi dalam tidurnya. Ia melihat dirinya dan keempat karakter lainnya berada di dalam halte, tertidur, persis sama seperti keadaan mereka saat ini. Namun di mimpinya, ia juga melihat cahaya menari-nari dalam gelapnya malam.
Hijau. Biru.
Setiap kali cahaya itu bergerak, percikan ekor sinar berwarna hijau dan biru, saling bergantian, mengikuti. Gadis kecil penasaran akan cahaya tersebut. Ia memutuskan untuk mengikutinya. Namun setiap langkah gadis itu hanya membuat cahaya semakin menjauh. Tidak ada gunanya. Ia seperti mengejar bola yang menggelinding dari bukit. Si kecil kembali duduk di halte sambil tetap mengawasi cahaya itu. Anak itu dibuat heran oleh cahaya tersebut. Ketika ia menjauh, cahaya itu mendekat. Ketika ia diam, cahaya pun ikut diam. Mungkinkah...
Perempuan muda mencoba mengikuti cahaya tersebut sekali lagi. Kemudian berhenti. Lalu mendekat lagi. Cahaya itu bergerak sesuai dengan pergerakan si kecil. Nampaknya cahaya indah mencoba mengarahkan si kecil ke suatu tempat. Tahu akan hal itu, si kecil mengambil kertas dan pensil dari dalam sakunya. Awalnya dia tidak yakin, tapi ini layak dicoba. Ia menggambarkan rute yang telah ia lalui pada kertas tersebut. Hingga akhirnya cahaya seutuhnya berhenti, lalu sirna. Gadis kecil tahu betul dimana ia berada. Rumah tantenya.
Betapa leganya ia ketika sampai di sana. Cahaya itu mungkin memang baik. Si kecil sempat ragu ketika cahaya membawanya ke berbagai tempat. Untungnya perjalanan itu berujung pada rumah tantenya. Tanpa disadari, cahaya lainnya muncul. Semakin banyak, cahaya-cahaya itu mengitari gadis kecil. Seiring dengan bertambahnya sinar dari cahaya yang membuat gadis semakin kesilauan, si gadis terbangun. Begitu teringat akan rute yang digambarnya, ia langsung merogoh saku celananya. Perlahan ia membuka lipatan kertas, berharap menemukan gambar rute tersebut.
Dan benar saja, gambar rute menuju rumah tantenya ada di kertas itu. Dia tidak punya waktu untuk terkejut atau bingung. Ia segera membangunkan ketiga makhluk lainnya yang pulas di atas bangku.
"Ada apa? Kau ingat jalannya?" Kucing bertanya, masih dalam keadaan setengah tidur. Pemudi kecil mengangguk pasti. Ia memperlihatkan kertas di tangannya sebagai bukti. Devan dan anjing putih langsung membuka mata mereka. Kucing mencaci dalam hati, "kenapa tidak diperlihatkan sejak tadi?!", namun ia tidak sampai hati ingin mengajak ribut si kecil.
"Baiklah Neo, kau pimpin arahnya," anjing putih melompat turun dari bangku, bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Tapi gadis kecil itu menyambut dengan torehan ke kanan dan kiri, mencari subjek yang dimaksud si anjing. Tidak ada orang lain di halte itu, hanya merekalah penghuninya. Barulah ia tahu bahwa 'Neo' adalah dirinya. Ia pun bangkit dan mulai berjalan mengikuti rute yang ia gambar.
Melewati banyak warung, beberapa perumahan, dan hutan kecil dekat komplek yang mulai familiar untuknya, sampailah mereka di depan sebuah rumah. Mobil sedan Honda Accord berwarna silver sudah terparkir di depan rumah. Gadis kecil berniat menghindari masalah dengan menyelinap masuk lewat pintu belakang. Namun sungguh disayangkan, tante yang amat sangat membencinya mengawasi gerak-gerik gadis itu lewat jendela di samping pintu depan, dengan muka masam dan tangan berkacak pinggang.
Wanita yang hampir mendekati usia paruh baya itu keluar bersama suaminya. Mereka menghampiri gadis kecil dengan murka. Dilihatnya hewan-hewan dan mainan figurin yang dibawa si kecil. Si kecil tahu dia baru saja masuk ke dalam masalah, dua kali berturut-turut. Tanpa banyak mukadimah, orang yang dipanggil "tante" itu menampar pipi, menjewer telinga si kecil, dan menjambak rambut hijau kebiruannya. Dia tidak peduli dengan apa yang terjadi pada anak itu, wanita itu hanya ingin menumpahkan amarahnya pada anak malang tersebut.
Anjing putih dengan Devan yang berpura-pura menjadi mainan di atas punggungnya dan kucing hitam keabuan berniat menyusul si kecil, akan tetapi seorang pria mencegat mereka. Laki-laki dengan tampang garang itu memungut kedua hewan tersebut layaknya plastik sampah, lalu ia melemparnya jauh ke tong sampah tetangga.
"Lu gak ngerti kata 'diam di rumah' ya?! Anak bodoh! Kalo aja lu bisa diam, kakak gue gak bakalan mati!"
"Ngapain lu pake acara warnai rambut sama bawa-bawa hewan segala?! Jadi anak kok bisanya ngerepotin aja!?" derasnya makian dihujamkan pada si kecil. Anak itu tidak melawan, ia hanya menerima perlakuan kasar tantenya. Wanita itu menyeretnya ke loteng, lalu melempar si kecil masuk ke dalam bagai kucing jalanan.
"Lu gak boleh keluar selama sebulan! Gue bakal bilang ke guru lu kalo lu sakit!" lanjutnya, "dan lu gak dapet jatah makan malam selama waktu hukuman!" lalu derap kaki wanita itu perlahan menjauh. Si kecil hanya bisa tertunduk, dia sudah menduga hukuman seperti ini akan ia dapatkan. Setiap bagian tubuhnya terasa nyeri, dia sangat ingin memberitahu kondisinya yang sedang tidak baik itu kepada tantenya. Dia sangat ingin melawan, memberikan respon setimpal pada wanita itu. Dia sangat ingin memberontak dan meminta banyak hal, bertingkah manja kepada kerabatnya. Tapi itu semua hanya akan menambah jarak antara dirinya dan kerabatnya. Baru saja ia hendak berdiri dari lantai yang berdebu, seseorang membuka pintu dengan kencang. Tantenya, masih dengan raut masam, mendekatinya sambil menggenggam telepon rumah wireless. Tanpa banyak bicara, ia langsung menyodorkan telepon itu dengan kasar pada si gadis.
"Halo? Aya? Bagaimana kabarmu, malaikat kecil?" suara yang dirindukan perempuan muda itu terdengar dari seberang telepon. Ia bisa saja menangis saat itu, bukan karena perlakuan kasar atau keinginan untuk mengadu pada kakaknya, ia hanya sangat sangat rindu mendengar suara orang itu.
"Aya sehat, kak," ucap gadis kecil. Baru saja ia hendak membuka mulutnya, ingin bertanya bagaimana kabar sang kakak dan kapan beliau akan pulang, suara dari seberang telepon kembali terdengar. Aya si gadis kecil mendengarkan.
"Aya, aku mendapat beasiswa kuliah ke luar negeri."
Aya, gadis kecil yang kini hanya memiliki kakaknya sebagai anggota keluarga satu-satunya, tidak dapat membalas kata-kata kakaknya. Ia tahu bahwa kakak laki-lakinya itu sosok yang sangat amat cerdas. Kecerdasannya berada di level yang jauh berbeda dengan kebanyakan orang seusianya. Di usia 16 tahun, ia sudah menginjak dunia perkuliahan. Sehingga bukan hal yang mustahil bagi sang Kakak untuk mendapat beasiswa melanjutkan kuliah ke luar negeri. Sang adik sangat tahu cita-cita kakaknya sangatlah tinggi. Tapi di sisi lain, melepaskan satu-satunya orang yang memiliki hubungan darah dengannya tidak mudah.
Baik sang adik maupun sang kakak terdiam. Keduanya tak mampu melanjutkan percakapan. Perilaku kasar tante dan sikap dingin omnya tidaklah sebanding dengan apa yang gadis muda, Aya, rasakan saat ini. Dia bisa saja meminta kakaknya untuk tidak mengambil beasiswa tersebut, tapi apakah itu hal yang pantas dilakukan? Bersikap egois, membuat kakaknya melewatkan kesempatan beasiswa, apakah itu akan membuatnya lebih bahagia? Dia tidak bisa memaksakan keinginannya dan menghanyutkan impian kakaknya. Jika ia terlalu lama diam, sang kakak bisa saja berpikir bahwa sang adik tidak setuju. Ia pun buru-buru memecah keheningan yang sejak tadi menemani.
"Selamat. Kakak pantas mendapatkannya." Ujar si adik pada sang kakak. Dari seberang telepon, kakaknya menghela napas lega.
"Kamu akan baik-baik saja tanpaku, kan? Jangan cemas, aku pastikan untuk selalu menelepon nona manisku setiap waktu," kakaknya sedikit terkekeh.
"Iya, kak. Hati-hati di sana," kata gadis kecil, menanggapi kakaknya. Suaranya pelan dan ekspresi wajahnya tetap datar. Namun hati kecilnya hancur, menangis pilu. Setelah itu kakaknya menyuruh si kecil untuk tidur, lalu ia menutup telepon. Gadis kecil mengembalikan telepon rumah pada tantenya yang sejak tadi menunggu di kursi sambil menyilangkan kakinya. Wanita itu memasang muka jengkel lalu meninggalkan si kecil sendirian di loteng.
Gadis kecil berhati-hati memindahkan si landak ke sofa usang, tempat yang tadinya ia akan tiduri. Kemudian ia memakai kembali sweater abu-abunya. Landak menguap dan mengeluarkan decitan lucu. Ketika ia sepenuhnya sadar mendapati dirinya berada di ruangan gelap, ia terkejut dan mendadak ia berubah menjadi seorang anak laki-laki dengan rambut acak-acakan melawan gravitasi bumi. Laki-laki itu terjatuh dari sofa coklat yang busa dan per-nya sudah mencuat.
"N-Neo? Kita sudah sampai?" laki-laki itu menengok ke kanan dan kiri kebingungan. Dia tidak pernah menyangka kalau rumah yang dituju sangat... tua.
"Ya, ini loteng rumah tanteku," jawab gadis cilik. Ia sedikit kaget dengan perubahan wujud landak, tapi setelah semua hal yang dilaluinya, rasanya ia menjadi lebih terbiasa dengan segala keanehan ini.
"Loteng? Dimana Morga, Nath, dan Devan?"
"Sepertinya Devan bersama anjing putih dan kucing," lanjutnya, "siapa Morga dan Nath?"
"A- ah, kita belum berkenalan. Sungguh tidak sopan kami ini," laki-laki itu berusaha bangun dari posisi jatuhnya. Si gadis kecil menurunkan tangannya, menolong si laki-laki berdiri.
"Terimakasih! Benar-benar manusia yang baik." Ujarnya. Gadis kecil hanya diam.
"Namaku Abe, hai!" laki-laki tersebut menyodorkan tangannya, disambut jabatan si anak.
"Aya."
"Kamu punya nama ternyata. Cantik sekali!" Mata Abe berbinar. Ia diam sesaat memikirkan sesuatu, lalu berkata, "maaf kalau kami seenaknya memanggilmu 'Neo'."
"Tidak apa. Neo terdengar keren." balas si kecil datar, ia melanjutkan, "teman-temanmu-"
"-Oh iya! Terimakasih sudah mengingatkan! Anjing dan kucing yang kau sebut sebelumnya adalah Morga dan Nath. Mereka dari dunia yang sama denganku. Singkatnya, bangsa kami bisa berubah menjadi 3 wujud: semi-manusia, hewan, dan sesuatu yang sebaiknya tidak kamu lihat," jelas Abe, tangannya bergerak berganti pose beriringan dengan gerakan mulutnya.
"Dan Devan adalah wujud ketiga?" gadis kecil mulai memahami situasinya. Abe menggeleng.
"Di antara kami, hanya Devan yang tidak memiliki wujud kedua sebagai hewan. Ratu kami-"
"-GUK GUK! WROOF!" Gonggongan seekor anjing memotong penjelasan Abe. Sontak kedua anak itu langsung melihat ke luar celah loteng. Jam tua di loteng menunjukkan pukul 22.00. Di jam-jam ini, biasanya ada satpam yang berkeliling melakukan ronda malam. Dan sialnya, anjing dan kucing bertemu dengan salah satu penjaga komplek. Satpam itu langsung menyeret kedua hewan tak bersalah keluar dari perumahan.
"Oh tidak! Kita harus menyelamatkan mereka!" Abe berpikir sebentar, "tapi kita perlu Dev-"
"Abe! Morga dan Nath, mereka ditangkap petugas ronda!"
"Devan!" Abe berseru gembira melihat temannya masuk ke loteng lewat celah. Devan langsung membesarkan tubuhnya hingga seukuran manusia normal.
"Neo, kau harus pergi dari sini! Orang-orang di rumah ini sudah kehilangan akal, mereka bisa membiarkanmu mati kelaparan di atas sini!" Gadis itu tidak merespon. Ia sudah terbiasa menghadapi om dan tantenya, untuk apa ia berlari dari takdirnya? Inilah akibatnya jika ia menjadi tersangka dibalik kematian kedua orangtuanya di mata kerabat besarnya.
"Ayo ikut kami, Aya! Kami akan menjagamu," Abe memberikan tangannya. Tatapan kosong gadis itu dilemparkan ke arah kedua laki-laki di depannya. Gadis kecil bimbang. Dia tahu bahwa dia akan mendapat perlakuan buruk dari kedua wali asuhnya jika ia tetap berada di sini, tapi ia juga tidak ingin menambah masalah dengan om dan tantenya. Ditambah lagi, bagaimana jika kakaknya pulang suatu waktu?
"Aku bisa menghapus ingatan warga di sini. Ayo pergi dari neraka ini!" Devan mengiba. Ia tidak tahan menyaksikan gadis itu diperlakukan seperti budak. Si cilik menundukkan kepalanya, berbisik kata maaf kepada dirinya sendiri, lalu meraih tangan kedua pria di hadapannya. Dalam sekejap mata, mereka sudah berada di luar rumah. Devan memerintahkan Abe untuk pergi bersama si gadis dan mengambil Morga dan Nath dari tangan satpam, sementara dirinya menghapus ingatan semua orang di perumahan tentang keberadaan si cilik.
Dengan lincah, Abe berlari dan melompat, menerjang penjaga yang merantai kedua temannya. Anjing putih dan kucing hitam ikut tersungkur ketika Abe datang "menyerang" sang penjaga malam. Sekonyong-konyong kedua hewan itu berubah menjadi 2 laki-laki lainnya yang pernah dilihat si gadis dalam ingatannya. Pria berambut putih gondrong, bergelombang, dengan mata orang mengantuk terpasang di wajahnya, jelmaan si anjing putih. Kucing hitam berubah menjadi seorang pria dengan rambut pendek tidak rapi, kedua sisinya berbentuk seperti telinga kucing, dengan warna yang sama seperti bulunya saat menjadi kucing.
Si cilik berlari mengikuti dari belakang. Angin berhembus melawan arah larinya, menerpa wajah dan menerbangkan belaian rambutnya. Segar. Tidak pernah ia merasakan hal ini sebelumnya.
"Maaf om, tante. Hanya sampai kakak pulang, aku akan bersama mereka," batinnya. Gadis muda itu memantapkan hatinya. Ia merasa egois karena merengek meminta kebebasan. Tapi gejolak membara ketika ia berlari menerpa angin lebih dahsyat dari yang ia bayangkan.
Whoosh!
Tampaknya Devan telah menyelesaikan tugasnya. Ia terbang menyusul teman-temannya. Keempat laki-laki di hadapan gadis cilik itu saling tertawa, mereka menepuk tangan satu dengan lainnya, lalu pria anjing, Morga, dan pria kucing, Nath, menyadari kehadiran si gadis kecil. Nath terbelalak kaget. Jika gadis ini berada di sini, satu-satunya kemungkinan yang terjadi adalah...
"Kalian berhasil mengajaknya ikut dengan kita?" Nath menatap Devan dan Abe seolah tidak percaya. Abe mengangguk dengan antusias.
"Membawa seseorang tanpa izin wali asuhnya, ini penculikan. Kalian kriminal." Ucap Morga datar, disambut sanggahan kedua temannya. Senyum tipis terukir di wajahnya.
"Kau tahu, Nak? kamu akan jauh lebih aman bersamaku." Morga menarik lengan baju si gadis yang kebesaran, disambut tatapan tidak setuju dari Nath. Tangan mungilnya lolos dari tarikan Morga. Abe mendorong gadis itu dari belakang dengan semangat dan melepaskan tinju ke udara. Devan terbang bebas dan mengelus rambut hijau kebiruan si gadis. Gadis kecil mengikuti langkah kaki pria berambut putih itu. Di malam yang semakin dingin itu, kehangatan menyelimuti kelima tokoh. Mereka berjalan bersama di atas aspal tanpa pejalan kaki. Semua sudah terlelap.
"Omong-omong, bagaimana kami memanggil namamu?" tanya Devan. Karena ia mendengar Abe menyebutnya 'Aya' di loteng, ia merasa tidak enak memanggilnya dengan sebutan lain. Ketiga individu lainnya melihat ke arah si gadis penuh rasa ingin tahu. Gadis kecil menunduk, menyembunyikan perasaan yang bercampur aduk.
"Neo. Kalian bisa memanggilku Neo."