My Secretary Is My Wife

My Secretary Is My Wife
Berbohong



"Bagaimana dengan mu?"


"Apanya?"


"Jangan berlagak bodoh, aku yakin kau pasti paham maksudku?"


"Maksud kamu apa sih, kalau ngomong itu yang jelas, jangan berbelit-belit,"


"Ok, aku sudah bilang, kalau kamu harus menikah denganku?"


"a..aku"


"Apa?" tanya Dimas dengan tatapan tajamnya, dia sengaja mengintimidasi Nala, karena dia tahu gadis di depannya ini tak mudah di tindas.


"Bulan depan, tidak ada penolakan, dan kau tidak bisa mundur lagi, apalagi kau telah berhasil mencuri perhatian Mama."


"Apa? mencuri perhatian?"


"Mama menyukaimu itu yang terpenting,"


"Hah!"


'Dia menikahi ku hanya karena ibunya, bagaimana ini? aku...aku harus bagaimana? aku tidak mungkin mundur, rumah dan Mama, itulah alasan ku menerima dia, tapi..."


"Kenapa diam?" pertanyaan Dimas mengembalikan Nala dari lamunannya


"Tidak, aku tidak akan mengelak, aku tau apa yang harus aku lakukan dan aku juga sudah siap, hanya saja aku mohon bersikap baiklah di depan ibuku, karena -"


"Aku tau, ibumu sangat bahagia bukan, akan mendapatkan menantu tampan dan mapan seperti ku, dia bersyukur karena ada yang mau dengan anaknya yang jutek, nyebelin keras kepala." ucap Domas tanpa basa-basi.


Nala mengepal kan tangannya mendengar kalimat terakhir pria itu jika dirinya itu nyebelin keras kepala dan juga jutek.


Dan aku yakin pasti belum pernah ada pria yang datang menemui mu, ya kan?" lagi-lagi Dimas menghinanya.


Nala yang awalnya tersentuh menjadi kesal dengan ucapan Dimas yang terlalu membanggakan diri, pria itu minus di mata apalagi hatinya.


"Sudah!!?"


"Asal kamu tahu wanita jutek nyebelin dan keras kepala ini akan jadi istri lo, puas!"


"tentu saja, karena aku tau kamu cukup bisa diandalkan,"


Nala menghentikan percakapan yang tidak jelas ini, sebagai seorang wanita tentu saja hatinya sakit dihina seperti itu oleh Dimas.


Namun dia berusaha meredamnya sekuat tenaga agar tidak terjadi pertengkaran yang tidak akan ada ujungnya.


"Sudah ngomongnya, aku boleh turun?"


"Ok, silahkan, tapi ingat untuk menepati janjimu. Awas! jika kau coba-coba mempermainkan aku."


"taunya cuma mengancam," desis Nala


Sayangnya masih terdengar samar oleh Dimas. Lagi pria itu terkekeh membuat sang gadis menoleh kepadanya.


"Jadi kamu merasa terancam?"


"Eh, aku..."


"Sudahlah lupakan" ucap Dimas santai, dia membuka pintu mobil sengaja melewati Nala, sehingga gadis itu dapat mencium aroma woody dan mint yang menguar dari tubuh Dimas.


Sesaat tubuhnya membeku posisi mereka sangat dekat dan membuatnya speech less.


Nala segera menguasai diri, saat Dimas telah kembali ke tempatnya. Dia turun tanpa berkata sepatah kata pun, dan melangkah masuk ke dalam rumah,


sambil menetralkan jantungnya yang berdebar cepat akibat tindakan Dimas tadi.


Tak bisa dia pungkiri berada di posisi sedekat itu dengan Dimas membuat jantungnya maraton, entah perasaan Apa itu Nala sendiri nggak tahu, yang pasti jantungnya jadi tidak sehat karenanya.


Dimas pun segera berlalu setelah Nala turun. Tak lagi diliriknya dia terus melajukan mobilnya pulang, tanpa dia sadari sudut bibirnya tertarik ke atas melihat tingkah lucu sang gadis tadi.


Gadis itu pun melangkah masuk ke dalam rumah, ternyata sang Ibu masih menunggunya dengan duduk di kursi ruang tamu.


"Ibu" gadis itu berlonjak kaget melihat ibunya masih ada disana menunggu dirinya, "ibu belum tidur?" Tanya Nala yang langsung duduk di samping ibunya.


"Ibu menunggumu, ibu khawatir karena sampai jam segini kamu belum pulang,"


"Maafkan Nala bu, Nala lupa memberitahu Ibu tadi Nala pergi dengan bos Nala, pak Dimas."


"Ya sudah kamu pasti capek buruan sana cuci tangan lalu makan,"


Nala nyengir kemudian bicara dengan berat, "Maaf ya Bu, Nala udah makan tadi sama bos Nala diluar, maaf ya," gadis itu bicara dengan sedihnya.


"Oh ya sudah, kalau gitu kamu Segera istirahat ya"


"Bu, Apa tadi para preman itu datang kemari?" Nala bertanya lagi pada ibunya


"tidak , tidak ada lagi preman yang datang, apa mereka mendatangi mu?" tanya ibunya khawatir


"Tidak bu"


"Syukurlah," ibunya bernapas lega


"Mereka juga gak akan pernah datang ke sini lagi,"


Ibu jadi heran mendengar penuturan Nala tersebut, "Apa kamu sudah membayar hutang-hutang kita?"


"Sudah Bu, aku sudah melunasinya dan ini surat rumah kita. Aku harap Ibu bisa menjaganya dengan baik jangan sampai ini jatuh ke tangan ayah,"


"Ibu janji nak, ibu akan menjaganya." ibu mengambil map yang di berikan Nala dan membacanya, benar itu adalah akte rumahnya.


"Nala, dari mana kau mendapatkan uang untuk menebus ini semua? Bukankah jumlahnya cukup besar sedangkan kamu hanya pegawai kecil, apa kamu berhutang di kantor?" sang ibu menatapnya tajam dan penuh selidik,


"Nala tidak berhutang di kantor Bu, tapi Bos Nala orang baik, beliau meminjamkan uang ini, dan Nala akan mengembalikan nya dengan cara mencicil Bu. Jadi setiap kali gajian Nala akan mencicilnya kepada bos Nala.


"Ya Allah, benarkah. Mulia sekali orang itu, Ternyata jaman sekarang masih ada orang baik, jangan lupa sampaikan terima kasih ibu kepada bos kamu itu,"


"Iya Bu,"


"Nala ke kamar dulu ya Bu, gerah mau mandi,"


"Oh ya, sudah sana. Ibu juga mau istirahat"


Di dalam kamar Nala tersenyum miris, Dia baru saja membohongi orang yang paling ia sayangi yaitu ibunya tapi mau bagaimana lagi tidak mungkin dalam menceritakan yang sebenarnya kepada ibunya. Jika dia telah menukar rumah dan kesehatan ibunya dengan sebuah pernikahan yang pasti ibunya tidak akan pernah setuju.


**


Pagi menyapa, disertai kicauan burung yang bernyanyi merdu. Menyambut indahnya sang surya yang bersinar terang.


Seorang gadis sedang menangis diatas sajadah nya, dia mengadu kepada sang pemilik kehidupan, tentang apa yang telah dia terjadi, di dalam hidupnya.


Berulang kali Gadis itu melafazkan istighfar memohon ampunan kehadirat Allah Swt, atas apa yang telah dia lakukan. Karena dia sadar apa yang dia lakukan salah, tapi dia melakukan itu semata-mata hanya demi ibunya.


Beberapa menit kemudian dia bangkit dan bersiap untuk berangkat ke kantor.


Nala memilih memakai kemeja berwarna biru muda dengan rok pensil hitam yang panjangnya dibawah lutut, dengan jas hitam ditangannya.


Setelah merasa penampilannya rapi walaupun keluar dari kamar menemui sang ibu yang tengah duduk di meja makan menunggunya.


"Cantik bener anak ibu," puji ibunya melihat sang Puteri keluar kamar.


"Ibu..." jawab Nala tersipu malu.


"Sarapan yuk, ibu udah buat roti bakar mentega kesukaan kamu,"


"Roti?" sahut Nala kaget


"Kok kaget, Bukankah kamu semalam yang pesan roti, Jadi kalau bukan kamu ini roti dari mana? semalam ada go-jek yang mengantarkan roti dan katanya itu pesanan kamu."


"Iya Bu maaf Nala lupa,"


'apa roti ini yang dikirim oleh Pak Dimas ya tapi kenapa Pak Dimas nggak cerita sama aku? nanti aja deh pas di kantor aku tanya,' batinnya


Mereka pun sarapan bersama, "Enak banget bu," puji gadis itu.


"Pasti donk, makan yang banyak,"


"Oh ya, tadi pagi ada telpon datang dari rumah sakit dan mengatakan bahwa ada yang menyumbangkan bantuan untuk ibu,"


"Bantuan? bantuan apa bu?"


Mereka bilang ada orang yang mendonasikan uangnya, beliau memberikan pengobatan gratis untuk para orang tidak mampu, dan ibu adalah salah satunya yang mendapatkan kesempatan itu."


"Benarkah, Alhamdulillah..."


"Iya, Alhamdulillah.."


"Alhamdulillah bu, ternyata masih ada orang baik yang mau memberikan bantuan kepada kita."


"Iya nak, ibu juga sangat senang, dan mereka bilang ibu harus ke rumah sakit sore ini, Ibu disuruh ke sana jam 03.00,"


" ya udah Nanti Nala temani,"


"Apa enggak merepotkan mu? bagiamana dengan pekerjaan mu, takutnya bos kamu marah,"


"Ibu tenang aja, bos Nala pasti kasih ijin, "


Nala berangkat dulu ya, assalamualaikum," Nala berpamitan, dia berangkat ke kantor dengan gojek langganan nya.


Sepanjang jalan Nala teringat akan ucapan ibunya, dia tau jika yang di maksud ibunya adalah Dimas.


Ternyata pria itu cukup cerdik juga,


dia tidak langsung memberikan bantuan pengobatan kepada ibunya, melainkan melalui pihak rumah sakit yang menyatakan dan pengobatan gratis. Sehingga ibunya tidak tahu dan curiga jika semua itu karena dirinya yang memiliki perjanjian dengan pria itu.


Nala pun bernapas lega.


Sesampai di halaman kantor, Sisil memanggilnya Ternyata gadis itu sudah menunggu Nala sejak tadi.


"Nal... Nala..." panggilnya dengan melambaikan tangan, Nala menoleh dan tersenyum lalu berjalan menuju sisil


"Malam ini ada acara enggak?" tanya sisil to the point


"Ya ampun Sil, kirain ada apa? kamu manggil aku sampe segitunya."


"Ini serius Nal."


"Ada apa?" Nala mulai berjalan masuk dibarengi oleh sisil di sampingnya


"Lo masih ingat Kevin kan? nah dia ngajakin kita ngedate bareng, sebenernya mau ngajak Sendiri tapi takut kamu tolak,"


"Kemana?"


"nonton? makan? kamu bebas mau pilih?"


"Kok jadi aku?"


"Ya iyalah, dia kan mau jalan sama lo," Nala diam dan terus melangkah, membuat Sisil penasaran.


"Di coba dulu La, siapa tau Kevin cocok ma lo, lagian lo kan jomblo, ya udah anggap teman, kenalan dulu, siapa tau cocok,"


"Aku mau ngantar ibu kerumah sakit lain kali ya.."


"ini nggak cuma alasan kamu kan?"


"Astaghfirullah, lo pikir gue bohong, ya Enggak lah, Apalagi ini menyangkut ibu gue,"


"Hehe maaf," sahut sisil tak berdosa.


Nala tak lagi menyahut sedikit tersinggung dengan ucapan gadis itu yang menuduhnya berbohong, pake bawa nama ibunya lagi. kemudian dia berjalan lebih dahulu dari Sisil.


Sisil dan Nala masuk keruangan masing-masing.


Lima belas menit kemudian si boss datang, bala berdiri menyambutnya, membuat kopi setiap pagi.


"tok .. tok..."


"Masuk .....


Nala masuk dan meletakkan secangkir kopi di depan sibos, lalu berbalik.


"tunggu,"


"Ya Pak?"