
"Tunggu sebentar"
Nala yang sudah berbalik kini kembali menghadap sang bos yang sedang duduk dan fokus menulis.
"Ya Pak,"
"Duduk,"
Nala pun duduk di depan Dimas, Gadis itu diam dan menunggu, tapi yang di tunggu tak kunjung bicara.
Lima menit sudah berlalu, Nala menunggu dengan gelisah, berulangkali dia melirik jam yang ada di pergelangan tangan kanannya, namun si Bos belum juga mengatakan apapun, masih sibuk dengan berkas-berkas yang bertumpuk di depannya.
Nala menggerutu di dalam hati, 'apa sih maunya si Bos ini, orang disuruh duduk tapi dia sibuk sendiri, emangnya aku dianggap tunggul atau jangan-jangan dia lupa jika aku ada disini," omel Nala di dalam hati.
Nala ingin menegur Dimas, tapi dia urungkan kembali takut jika Dimas marah dan mereka bertengkar, ini masih sangat pagi untuk bertengkar dengannya.
"Ok, aku tunggu 5 menit lagi jika dalam 5 menit lagi, tidak juga bicara aku akan keluar.'
Sepuluh menit berlalu, "Pak" tegur Nala
"Ya" sahut Dimas tanpa mengangkat kepalanya
"Bapak mau bilang apa? Saya sudah menunggu selama 10 menit lho."
"Oh ya, saya sampai lupa."
"What!! dia bilang lupa, gue sebesar ini dia bilang nggak lihat dan lupa, emang dasar nih si bos, masih pagi lagi udah ngajak perang, gerutu Nala dalam hati.
Wajahnya memerah menahan amarah.
Dimas akhirnya mengangkat kepala melirik gadis itu, seringai jelas terlihat di wajahnya, penuh ejekan namun sayangnya masih tetap terlihat tampan.
"Oh ya, pengobatan ibumu bisa di mulai sore ini,"
"Hah,"
"Kok hah, saya bilang ibumu akan diobati mulai sore ini," ulang Dimas
Nala masih diam dan Dimas kembali angkat bicara, "Woy, saya bicara dengan kamu, Nala.
Saya mau bilang, Ibu kamu akan diobatin mulai sore ini. Kamu dengar nggak sih? Kenapa kamu sekarang jadi lelet kayak gini, "
"Hanya itu?" sahut Nala
"Iya, kenapa?" tanya Dimas tanpa rasa bersalah
'Jadi dia nyuruh aku nunggu sampai 10 menit cuman mau bilang itu, astaga .. untung lu Bos gue, kalau nggak udah gue ikat bejek-bejek, masukin goni dan gue buang ke lautan." geram Nala di dalam hati.
"Wajah kamu kenapa?" tanya Dimas lagi, padahal pria itu tahu di dalam hatinya dia tertawa melihat Nala yang sekuat tenaga menahan kekesalannya.
"Eh enggak ada, enggak apa-apa, Pak."
"Oh..."
Nala sekuat tenaga menahan kekesalannya akan sikap Dimas ini. "Sabar Nala..sabar..." Ucapnya dalam hati.
"Sudah, kamu nunggu apa?" tanya Dimas membuyarkan lamunan Nala, dan sekali lagi Gadis itu geram karena merasa diusir begitu saja oleh Dimas,
"Atau ada lagi yang ingin kamu tanyakan?"
"Oh, saya tau kamu mau berterima kasih kan sama saya, tidak perlu Nala,"
'Astaga.... ya Allah sabar kan lah hatimu...." ucap Nala berulang kali.
"Eh tidak pak, terima kasih, saya permisi," Nala berdiri dan melangkah keluar meninggalkan ruangan Dimas.
Di depan pintu Gadis itu menggeram kesal, beberapa kali dia menghentakkan kakinya untuk meluapkan kekesalannya.
",Dasar bos sinting,--"
Sementara di dalam ruangannya Dimas terkekeh, dia tersenyum penuh kemenangan, karena telah berhasil mengerjai Nala.
Dimas sangat yakin, Gadis itu pasti sangat kesal dan tengah marah-marah saat ini, Entah kenapa setiap melihat Nala kesal dia merasa sangat bahagia.
Nala menjadi hiburan tersendiri baginya.
*
Sisil sejak tadi memperhatikan Nala yang bertingkah aneh, dia berdiri di tempatnya dan berjalan mendekati Nala, "Nal, lo kenapa?"
"Ah, Enggak," sahut Nala kaget, Iya sampai lupa jika di ruangan itu ada orang lain selain dirinya yang tentu saja bisa melihat semua perbuatannya.
" Lo habis dimarahi Pak Bos? udah nggak usah diambil hati. Pak Bos kan emang gitu suka marah-marah nggak jelas,"
"Gue tau, sabar ya..." ucap sisil lagi menepuk lengannya.
"Iya lo benar," sahut Nala akhirnya mengaku.
"Eh Nal, ntar sore jadikan?" Sisil bicara dengan penuh semangat.
Wajah Nala berubah sendu, "maaf ya kayaknya gue nggak bisa,"
"Loh kok,"
"Sil, gue harus ngantar nyokap ke rumah sakit, maaf ya"
"yah, sayang banget."
"Maaf ya sil,"
"Oke deh enggak apa-apa, salam sama nyokap, semoga lekas sembuh,"
"makasih ya..." sahut Nala tersenyum lega.
"Nah gitu donk, Kalau senyum kan cantik, Ya udah yuk kita balik kerja," Sisil menggandeng tangan sahabatnya.
Mereka pun balik ke meja masing-masing dan mengerjakan tugasnya masing-masing.
Hingga jam makan siang tiba, Dimas Masih betah berada di dalam ruangannya.
Nala dan Sisil bersiap untuk makan siang di kafe depan. Kedua gadis itu berjalan keluar, tiba di parkiran seseorang memanggil mereka.
"Sil, Nala..." keduanya menoleh, Kevin dan Ferdi datang menghampiri kedua gadis itu.
"Sayang," seru sisil bahagia dan tanpa ragu memeluk kekasihnya di depan Nala.
"Makan siang bareng yuk?" ajak kevin pada Nala
"Tapi .."
Belum selesai Nala bicara Sisil sudah memotong ucapan nya, "Nal lo sama Kevin ya, gue sama Ferdi mau jalan duluan bye.."
"kamu..."
Nala tak melanjutkan ucapannya, melihat sisil pergi bersama dengan Kekasih nya.
"kamu mau makan siang di mana?" pertanyaan Kevin mengalihkan perhatian Nala.
Nala merasa terjebak. Pasti ini adalah akal-akalan Sisil, karena tadi dia menolak pergi dengan gadis itu dan juga Kevin. Nala yakin jika kevin dan Ferdi sudah membuat rencana ini, dan gadis itu menjadi sangat kesal di dalam hatinya.
"Kamu mau makan apa?" lagi Kevin bertanya
"Terserah,"
"Mau ke Restoran India?"
"Terlalu jauh, juga mahal" sahut Nala ketus
"Tenang saja aku yang akan mentraktir kamu, "
"Tidak usah kejauhan, lagipula lidahku terbiasa makan makanan yang biasa."
"gimana kalau kita makan di kafe yang ada di ujung jalan sana? nggak jauh kan? atau aku ganggu kamu ya..."
"boleh, eh.." Nala tersadar jika dia sudah salah, dengan bersikap ketus kepada Kevin.
"Maaf,"
"Untuk,"
"Nggak seharusnya aku ketus sama kamu,"
"Enggak apa-apa, aku tau kamu pasti lagi capek, ya kan?"
"Iya, maaf" sahut Nala nyengir
"Santai aja kali, aku ngerti kok,"
"Yuk," ajak Kevin. Akhirnya Nala setuju, dan kevin tersenyum lebar membuka pintu mobilnya.
Nala masuk ke dalam mobil Kevin, mereka pergi makan siang bersama.
Tanpa mereka sadari sepasang mata terus saja memperhatikan mereka berdua.
Ada yang tau nggak siapa itu?"