My Secretary Is My Wife

My Secretary Is My Wife
ok



"Malam Pa" sapa Dewa


"Aku bukan Papamu," sahut pria itu ketus dan menunjukkan wajah galaknya.


"Maaf Papa mertua"


"Kau!!!" Atjmaja merasa geram dengan sikap Dewa yang kekanakan.


"Boleh saya bertemu dengan naura?"


"Tidak, dia sudah tidur"


"Mana mungkin, masih juga jam segini, boleh ya Pa."


"Sudah saya bilang saya bukan Papamu, dan jangan coba-coba memanggil saya dengan sebutan itu, saya tidak suka."


"Baiklah Om, tapi ijinkan saya bertemu dengan istri saya,"


"Selain keras kepala kamu juga amnesia, sekali lagi saya tegaskan Naura bukan istrimu, dan pernikahan kalian tidak sah."


"Tapi om, saya dan Naura sudah.."


Wajah Adtmaja mengelap dipenuhi kemarahan, "Apa yang kau lakukan pada putriku?" geramnya memegang kerah baju Dewa dan siap memukulnya.


"Yang biasa dilakukan suami istri, Om, bukan kah kami sudah dah menjadi suami istri, jadi apa salahnya kami melakukan nya?"


"Dasar bajingan!"


bugh..


Adtmaja memukul wajah dewa, hingga pria itu tersungkur kebawah, namun tak sedikitpun dia melakukan perlawanan.


"Saya tidak terima di pisahkan dengan istri saya, saya harus memastikan jika Naura mengandung anak saya atau tidak,"


"Bajingan, brengsek, kau pasti memperko** nya,"


"Tidak Om, kami melakukannya atas dasar suka..


Bugh


Lagi dewa mendapatkan pukulan dari Adtmaja.


Istrinya keluar mendengar suara gaduh dan langsung menjerit histeris melihat suaminya memukuli Dewa.


"Stop Pa, stop!!!" teriak sang Istri


"Naura...Naura..." panggil nya pada putrinya yang berada di lantai atas.


Naura pun turun dengan cepat, dia takut terjadi apa-apa dengan ibunya. "Papa.. Dewa" seru gadis itu terkejut


"Naura masuk,"


"Pa, apa ini?"


"Sayang, tolong aku." ucap Dewa memelas


"Pa.." tarik sang Istri membawa suaminya mundur, "Kota bicarakan di dalam, " lanjutnya pelan membujuk sang suami yang masih diliputi emosi.


"Aku hanya ingin bertemu dengan mu sayang"


"Berhenti memanggil putriku sayang, " bentak Adtmaja tak terima.


"Bik, tolong ambilkan air."


Pelayan datang dengan membawa dua gelas air putih, "Sebaiknya papa minum dulu," bisik Sang istri lagi.


"Ada apa ini Pa?"


"Kau tanyakan pada si brengsek itu?" dengus Adtmaja menunjuk tak suka pada Dewa


"Sayang, aku sangat merindukanmu dan juga calon anak kita,"


Mata Naura membola "Calon anak?"


"Iya, aku merindukan-"


bugh..bugh...


Naura memukul Dewa tanpa ampun, "Apa yang kau ucapkan, jangan membuat fitnah.."


"Stop!" teriak bu Adtmaja


"Sekarang jelaskan, apa tujuanmu datang kesini?"


"Saya ingin bertemu istri saya," sahut Dewa,


"Auw..." pria itu meringis mendapat cubitan keras dari sang istri. Dia menoleh dan mendapat pelototan dari Naura.


"Sudah aku katakan, dia bukan istrimu!"


"Tapi Pak, kami.. "


"Auw...." lagi Dewa berteriak karena kakinya diinjak oleh Naura.


"Sayang aku bicara benar, ayo!!" Dewa menarik Naura keluar dengan paksa, Adtmaja ingin melarangnya namun sang istri mencegah


"Biarkan Mereka menyelesaikan permasalahan mereka sendiri,"


"Bagaimana jika nantinya Naura luluh dan mereka kembali bersama"


"Pa, apa Papa tidak dengar apa dikatakan pria tadi dia bilang mereka sudah..."


"Dia pasti bohong Ma!"


"Bagaimana bisa Bapak saya yakin itu mereka itu sudah tinggal bersama dan mereka itu juga sudah menikah Pa, ya walaupun pernikahan itu mungkin memang tidak sah.


Tapi tetap saja yang tidak menikah saja bisa berbuat seperti itu. Papa harus memikirkan nasi Putri kita, Bagaimana jika nantinya Naura hamil?"


"Pikiran Mama terlalu jauh"


"Mama hanya menyampaikan kemungkinan saja Pa, kita tidak ada yang tahu,"


"dasar pria tengil, tidak tahu malu!" maki Adtmaja