
"Dimas.." gadis itu masih coba menahan Dimas agar tetap berada disisinya.
"Maaf," sahut Dimas yang kemudian berdiri, menuju kasir, membayar tagihan dan pulang.
Dimas merasa sangat heran mengapa wanita jaman sekarang seperti kehilangan urat malunya terbukti mereka dengan santainya mengatakan jika mereka menyukai seorang pria.
Padahal gadis itu jelas tahu jika pria yang dia sukai tidak membalas perasaan nya.
Sesampainya di kantor, Dimas mendapatkan kabar jika terjadi sedikit kendala di proyek, dan pria itu segera berangkat kesana untuk mengeceknya namun tidak pergi bersama dengan Nala.
**
Siang ini Bu Ranti sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah, kondisi kesehatannya sudah membaik, hanya butuh cek up secara rutin dan berkala.
Tentu saja wanita itu sangat senang,begitu juga Nala yang menyambut baik kepulangan ibunya.
Nala segera menjemput pulang ibunya selepas pulang dari kantor.
"Selamat pulang ke rumah bu," sambut Nala dengan senyum lebar merentang kan tangannya.
"kamu tuh ada-ada aja," sahut sang ibu tergelak.
"Alhamdulillah, ibu senang banget bisa pulang," ucap sang ibu memeluknya, dan mereka berdua menangis haru.
Beberapa saat keduanya tersadar, dan mereka tertawa, "makasih nak,"
"makasih apa bu?"
"Makasih masih mau bertahan bersama ibu, enggak seperti Bapak mu! entah dimana beliau sekarang,"
"kok ibu masih mikirin Papa?"
"Enggak kok nak, ibu hanya teringat bapakmu saja,"
"Ibu istrirahat ya, yuk aku antar ke kamar?"
bujuk Nala yang tak ingin bicara lebih jauh lagi, takut jika rahasianya bisa terbongkar.
Ibu setuju dan mengikut Nala untuk beristirahat di dalam kamarnya, setelah membaringkan ibunya, nala keluar dan menghembuskan napas lega didepan pintu kamarnya.
Ternyata susah juga bersandiwara di depan ibu," batinnya
lalu nala masuk ke dalam kamarnya.
***
"Ma Nala berangkat, assalamualaikum."..
"Waalaikum salam,"
Setelah kepergian Nala, bu Ranti kembali masuk ke dalam rumah dan istirahat. Dia memang diperbolehkan pulang namun harus banyak beristirahat.
"Maafkan aku Ma, lagi-lagi aku membohongi Mama" ucap Nala di dalam hatinya.
mu yang mendadak, rumah yang dibayar oleh bos kamu, apa itu ada hubungannya? apa itu sebuah perjanjian?"
Deg,
jantung Nala seperti berhenti berdetak, ucapan ibunya dan dugaannya begitu tepat. Dan Nala tak mampu berkata apa apa.
"Jangan bohongin ibu, semua serba kebetulan yang tidak masuk akal."
Nala mengumpul kan semua keberaniannya, dan mulai angkat bicara, disertai senyum manis.
"Bu, itu hanyalah sebuah kebetulan saja, dan soal hubungan Nala dengan Dimas, itu murni bu."
"Semua serba kebetulan yang merujuk pada satu benang merah ,dan ibu bisa.."
"Ibu salah, maaf aku memotong kalimat ibu. Sebenarnya sejak lama pak Dimas sudah menyatakan perasaannya, sejak pertama kali kami bertemu delapan bulan yang lalu, saat Nala masih menjadi sekretaris pak Aditya, ayahnya Dimas," Nala berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Dan tiga bulan belakangan ini, Nala di tugaskan menjadi sekretaris nya Pak Dimas, dan beliau masih mengejar Nala, hingga akhirnya Nala sadar dan tau pak Dimas tulus, karena beliau mengajak Nala menikah."
"Apa kamu nggak bohong Nak?"
"Nala berkata jujur bu, dan Pak Aditya ternyata yang merencanakan ini, agar Nala bisa dekat dengan Dimas."
"Benarkah?"
"Iya bu, dan Bulan depan Nala akan menikah,"
"Bulan depan? apa itu tidak terlalu cepat?"
"Bu Miska ingin secepatnya,"
"Ibu belum bisa tenang karena belum bertemu orangtuanya, dan ibu harap kamu nggak lagi bohongin ibu,"
Nala memaksakan dirinya tersenyum, "minggu depan mereka akan datang bu,"