
Nala dan Miska duduk bersama di sofa. Sementara Dimas berpamitan masuk ke dalam kamarnya, entah apa yang dia lakukan.
Kedua wanita itu tampak asyik berbincang hingga akhirnya dia menyampaikan niatnya
"Nala, Minggu depan kami akan datang untuk melamar mu,"
"Minggu depan?" ulang Nala yang tak mampu menutupi rasa terkejutnya, bagaimana mungkin akan ada lamaran dalam waktu dekat. Ibunya masih saja sakit dan di rawat di rumah sakit. Sedangkan ayahnya kabur entah kemana meninggalkan hutang yang bertumpuk akibat berjudi.
Nala menghela napas, menahan sesak yang kini menghimpit dadanya, haruskah dia mengatakan kebenaran itu? bagaimana tanggapan wanita itu nantinya?
"Hei, kamu melamun?" tegur Miska
Nala terkejut dan menoleh "Tapi tante.. Orangtua saya masih sakit," ucap Nala beralasan.
"Saya tau, lagipula ini hanya acara keluarga saja, dan kamu tenang saja, semua akan diatur oleh orang-orang suruhan suami saya."
"Ehm..."
"Tenanglah, saya menerima kamu," sahut Miska coba mengusir keraguan di hati Nala, dia seakan mengatakan jika dia sudah tau semuanya tentang gadis itu dan mampu menerima kekurangannya.
"Makasih tante,"
"Kita makan tuk, coba kamu panggil Dimas, dia ada di kamarnya."
"Di kamar?"
"Iya, kamarnya ada di lantai dua paling ujung, pintunya terbuat dari kayu berwarna putih."
."Saya..."
Wanita itu melihat keraguan dimata gadis cantik itu, dan dia sekali lagi tersenyum dan menepuk lengan Nala, "Saya percaya padamu," bisiknya pelan
"Ba..baik Tante,"
Nala melangkah menuju kamar Dimas, hingga akhirnya dia menemukan nya, sebuah kamar dengan pintu berwarna putih.
Tok...tok.... Nala mengetuk pintu
Dua kali ketukan belum juga terdengar sahutan dari dalam dan Nala kembali mengetuknya lebih keras.
"Ya..."
Pintu terbuka, Dimas menatap kaget gadis itu kini sudah ada diatas di depan pintu kamarnya.
"Bu Miska memanggil, kamu di suruh turun,"
"Oh.."
Nala berbalik "Tunggu" panggil Dimas membuat gadis itu berhenti dan kembali menoleh.
"Ada apa?"
"Kamu tidak ingin masuk?"
"Masuk? ngapain?" sang gadis menyipitkan mata
"Ya biar tau isi kamar aku, "
"No! jangan coba macan-macam, atau aku akan mengadukannya pada tante, " sergah Nala menghempaskan tangan Dimas yang ingin menggenggam tangannya.
Dimas terkekeh lalu keluar dan kembali menutup pintu kamarnya.
'sudah kuduga dia pasti marah- marah. batin Dimas
Dimas Berjalan menuruni tangga bersama dengan Nala yang menatapnya waspada, di dalam hatinya Dimas merasa geli.
Dimas yang lebih dulu mendekat,
"Mama masak apa? wanginya enak banget," ucap Dimas yang langsung duduk di meja makan, membuat sang ibu merasa senang.
"Mama donk" sahut Miska tersenyum lebar.
"Ini Ayam rica-rica, sayur lodeh dan omelette kesukaan kamu" sahutnya lagi.
"Nala yuk duduk, kita makan bareng,"
"Iya tante," jawab Nala kemudian duduk di samping Dimas.
Mereka makan bertiga karena Ayahnya sedang dinas keluar.
Selesai makan, nala dan Dimas berpamitan pulang.
**
Sejak perdebatan antara Dimas dan kevin, pria itu kini tak lagi menampakan dirinya dihadapan Nala.
Sisil juga tidak menegur, atau ingin tau lebih jauh tentang hubungan mereka,
Gadis itu juga merasa bersalah dengan Nala setelah mendengarkan curhatannya.
"Nala," panggil sisil
"Makan siang bareng yuk?"
"Jam berapa?"
"Lima belas menit lagi, gimana?
"Boleh deh,"
keduanya telah bersiap untuk pergi makan siang bersama.
Di tempat lain, Dimas juga makan siang bersama dengan Dita.
Dita adalah seorang model, dan dia baru saja kembali dari Perancis, dan mengajak Dimas makan siang bareng.
Dimas banyak membantu Dita selama ini. Dimas juga teman yang enak diajak ngomong.
Gadis itu tentu saja senang sekaligus kagumdengan sosok dermawan itu,
"Dim.."
"Hwm..."
"Aku..aku suka sama.kamu?"
"Terus.."
"Sudahlah sebaiknya kamu cari saja kekasih baru yang cocok dan sayang padamu.
"Tapi Dimas, aku maunya menikah dengan kamu, aku cintanya sama kamu, emangnya apa sih kurangnya aku?"
"Tidak ada, tapi hatiku tidak memilihmu,"
"Katakan padaku, siapa perempuan beruntung itu, apa aku mengenalnya?"
"Tidak, dan kau akan tau nanti, saat waktunya sudah tepat."