
"Masuk!"
Nala terpaksa menurut daripada dirinya menjadi tontonan gratis, Dimas membanting pintunya kuat lalu memutar dan duduk di belakang kemudi. Tanpa bicara dia melajukan mobilnya pulang.
Tidak ada percakapan diantara mereka. Aura kemarahan masih jelas terpancar di mata pria itu. Bahkan dia mengemudi dengan kecepatan tinggi.
Dimas berbelok keluar kota, Nala menyadari jika jalan yang pria itu tempuh bukan menuju rumahnya, dia kaget dan menatap Dimas dengan wajah panik. Kemudian melihat jalanan dan kembali melihat Dimas, "ini bukan jalan ke arah rumahku? kau membawa ke mana? Jangan macam-macam,"
Tak ada jawaban Dimas melajukan mobilnya semakin kencang, dan Nala menjadi panik.
"Stop!!!!" teriak Nala kencang
Dimas mengerem mendadak mobilnya dan kini dia berbelok ke sebuah rumah di tepi jalan, terus masuk kedalam. Ternyata di belakang rumah itu ada sebuah kafe outdoor yang sangat bagus. Pemandangan nya juga sangat cantik, tak banyak pengunjung hanya beberapa pasangan muda mudi yang berpacaran.
Dimas menghentikan mobilnya dan menatap penuh seringai.
"Apa yang membuatmu takut? kau takut mati?"
"Kau gila!!" sungut Nala
"Aku belum mau mati,"
"Aku bisa lebih ngeri dari ini, jadi jangan memancing ku, Sudah aku bilang bukan, aku tidak suka di bantah, apa kau lupa?" ucapnya penuh intimidasi
"A..aapa mau mu!" ucap Nala takut-takut.
"Aku.. kau tidak salah bertanya apa mau ku?" ulang pria itu
"Aku mau kau patuh dan berhentilah bersikap jika aku memaksamu, aku benci melihat ekspresi mu itu,!" bentak nya
Nala sampai berjingkat mundur ke belakang hingga tubuhnya menghantam pintu.
"Bukankah kau juga diuntungkan disini!" bentaknya lagi
Nala terdiam, bibirnya terasa Kelu, apa yang diucapkan oleh Dimas benar, ini adalah kontrak yang telah mereka setujui bersama, lantas mengapa dia harus marah pada Dimas, bukankah cepat atau lambat orangtuanya memang harus tau, dan dalam waktu dekat dia memang harus menikah dengan pria itu, sesuai dengan kesepakatan yang telah mereka buat dan setujui bersama, toh kini dia harusnya merasa bahagia, karena ibunya sudah mendapatkan pengobatan dan hutangnya lunas. Lalu apa salahnya dengan harus bersikap manis dan berpura-pura menjadi istri Dimas yang baik.
"Sudahlah lupakan saja perjanjian ini, kita.."
"Tidak, jangan. Aku mohon" Nala terkejut dan panik
"Bukankah kau terpaksa?"
"Maaf, aku salah.. Aku janji aku tidak akan bersikap kekanak-kanakan seperti ini lagi"
"Sudahlah lupakan,"
"Aku mohon" ucap Nala menahan tangan Dimas yang hendak menghidupkan mobilnya, "Aku mohon, maafkan aku, aku hanya sedih melihat wajah ibu yang bahagia, sementara aku, aku.. membohongi nya, hiks..hiks...."
"Kau tau aku hanya memiliki, dia adalah tumpuan ku satu-satunya, aku tidak tau apa yang akan aku lakukan jika ayah tidak bersama denganku lagi.
Dan aku sedih, aku telah membohonginya...."
Hati Dimas tersentuh mendengar ucapan wanita itu, benar juga yang dia katakan.
Dimas menghela napas. "Aku tidak akan memaksa mu, Kau ingin melanjutkan pernikahan ini atau tidak!"
"Aku bersedia,"
"Apa kamu yakin?"
"Mau turun!"
"ini dimana?"
"Ayo aku akan tunjukkan sebuah tempat yang bagus,"
"Kau sering kesini?"
"Buruan jangan banyak bicara kau cerewet sekali,"
Nala menurut dan ikut dengan Dimas, "lihat itu!" tunjuk Dimas
"Indah sekali!"
"Benar bukan, aku saja merasa tidak pernah bosan memandang nya tiap kali aku datang kesini,"
Nala terus menatap pemandangan indah itu, dia tak berkedip melihat air terjun yang terlihat menjuntai indah di lereng bukit yang cukup tinggi. Dari kejauhan Nala bisa melihat semuanya dengan begitu jelas.
"Darimana kamu tau tempat indah ini?"
"Secara tidak sengaja aku menemukan nya saat melintas disini, dan tiba-tiba aku sesak. Aku membelokkan mobilku dan tak sengaja melihatnya.
"Lalu kafe ini?"
"Aku yang membangunnya, aku ingin orang-orang juga bisa menikmati keindahan tempat itu, sambil ngopi atau bercengkrama dengan keluarga dan juga kekasih."
"Jadi kafe ini milik kamu?"
"iya" sahut Dimas mengangguk, "dan kamu memang sengaja mau ke tempat ini?"
"pintar!"
"Kau tau, kau telah membuat aku takut aku ..aku..."
"Kau pikir apa, aku mau membunuhmu?"
"I..iya.. eh nggak gitu juga." sahut Nala meringis.
"Sudah lama aku tidak kesini dan ingin menunjukkan nya padamu taunya kamu keburu marah-marah."
"Aku tidak suka membahas hal itu lagi, kamu mau makan apa?"
"Aku.."
"tenang saja semuanya gratis,"
Nala memesan makanan begitu juga dengan Dimas. Dan mereka makan bersama, pertengkaran dan perdebatan diantara mereka telah selesai.
"Aku menantu idaman bukan?"
"Hah!"
"Buktinya ibumu langsung setuju dan menjawab iya, itu artinya aku memang tampan dan mapan.
"Bodo!"