
Nala segera berangkat ke kantornya selepas dari rumah sakit.
Hatinya merasa bimbang dan juga sedih semua kalimat yang ibunya ucapkan terngiang-ngiang di kepalanya. Muncul rasa bersalah yang cukup besar di dalam diri Nala karena telah membohongi ibunya. Tapi mau bagaimana lagi dia sudah terikat perjanjian dengan Dimas, dan yang membuatnya semakin kuat adalah ibunya telah mendapatkan pengobatan yang layak.
satu-satunya orang yang paling berharga dalam hidupnya akan sembuh dan tetap bersama dengannya, meskipun dia harus mengorbankan dirinya.
Sesampainya di kantor Nala langsung masuk ke dalam ruangannya, jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Itu artinya aktivitas kantor pun sudah dimulai, semua tanpa sibuk dengan pekerjaan yang masing-masing termasuk Sisil yang sudah sibuk dengan berkas berkas di depan mejanya.
"Nala tumben loe telat," bisik Sisil
Nala menoleh sekilas, lalu kembali fokus dengan bertas bekas di mejanya, "tadi gue ke rumah sakit sebentar,"
"nyokap lo.belum sembuh?"
"Masih proses,"
"Oh..."
diam mereka fokus dengan pekerjaannya masing-masing dalam menyusun berkas-berkas yang akan ditandatangani oleh Bos kemudian berdiri dan mengetuk pintu ruangannya.
tok...tok....
"Masuk" terdengar sahutan dari dalam.
"Pagi Pak, ini semua berkas yang harus Bapak tanda tangani," Nala meletakkan berkas tersebut di depan Dimas.
"Bagaimana kondisi kesehatan ibumu?"
"Alhamdulillah sudah lebih baik Pak,"
Dimas melirik gadis itu sekilas, terlihat jelas kemurungan di wajahnya, "lantas kenapa kamu murung?"
"Ah tidak apa-apa, Pak."
"Oh ya, nanti jam makam siang ikut saya,"
"kemana Pak?"
"Beli cincin,"
"Oh.."
"Ya sudah, kamu bisa balik keruangan mu."
"Baik pak, saya permisi."
Nala keluar dari ruangan Dimas dan kembali ke tempat duduknya.
"Nal," panggil sisil masih dengan berbisik takut ketahuan si Bos
"ya.."
"Nanti siang jadikan?"
"Apa?" sahut Nala bingung
" Loh bukannya kita akan double date? makan siang bareng gitu!"
"Hah siapa bilang?"
"Ferdi, katanya diajak sama Kevin."
"Kayaknya gue udah bilang nggak bisa deh sama Kevin."
"Enggak bisa kenapa nal?"
"Gue nggak bisa sisil, gue harus pergi sama Pak Bos. lagian kan gue udah bilang kok sama Kevin tadi malam,"
"Oh ya," Nala teringat sesuatu
"Loh bukannya lo berdua udah jadian ya?"
"Siapa bilang?"
"Ehmm...kevin" sahut sisil ragu, dia bisa lihat sorot mata tajam Nala yang terlihat tidak suka.
"Enggak," sahut Nala singkat
"Lo nggak suka ya ma kevin?
"Ehm... nggak juga,"
"Terus,"
"Gue udah mau nikah!"
"Nikah!!!!" jerit sisil tak percaya
"Shuutt!!! nanti gue ceritain tapi enggak sekarang, udah ah ayo fokus kerja."
"Lo di jodohin?"
"Enggak?"
"Atau lo...."
"Nala..." terdengar suara Dimas memanggilnya, Nala berdiri, "Lain kali gue cerita, Ok!"
Sisil terdiam di tempatnya, Nala mau nikah tapi sama siapa? Bukankah selama ini dia tidak punya pacar, lah jadi..
Ih. Nala bikin penasaran," omelnya dalam hati.
"Ya Pak" sahut Nala masuk ke dalam ruangan Dimas
"Mana kopi saya?"
"Oh iya Pak, maaf saya lupa. Sebentar," Nala keluar dan tak lama kemudian dia kembali dengan membawa secangkir kopi untuk bosnya itu.
"Terimakasih,"
Nala berbalik, siap kembali ke ruangannya, "Tunggu"
"Ya Pak,"
"Temani saya sarapan," Dimas berdiri menuju sofa, diatas meja sudah tersedia dua kotak makanan yang entah apa isinya.
Nala gerak cepat, mengeluarkan kotak makanan dan mengambilkan air putih untuk Dimas.
Dimas membuka kotak makanannya, "Kamu pasti belum sarapan, kota sarapan bareng ya, ini terlalu banyak untuk saya,"
"Tidak usah Pak, saya tidak lapar." tolak Nala secara halus.
"Kamu lupa saya paling tidak suka di tolak,"
Nala menoleh, dia mengambil satu potong roti bakar dan menyuapkan nya ke dalam mulut,
"Makan yang banyak, aku tidak mau kamu terlihat kurus,"
Nala menoleh, "Hehehe, kamu harus punya banyak tenaga untuk melawanku," sahutnya lagi.
"Ini lagi,"
"Cukup Pak sudah kenyang,"
Dimas tidak menyerah dia mengambil sepotong roti dan menyuapkan nya pada Nala,
gadis itu terdiam, jangan di tanya jantungnya sudah berdetak berkejaran, Dimas terlihat begitu manis saat ini.