My Secretary Is My Wife

My Secretary Is My Wife
Gaun



"Bagaimana aktingku bagus bukan?" ucap Dimas memuji dirinya sendiri, dengan gaya pongah dan senyum mengejek pada gadis yang duduk dengan menekuk wajahnya itu.


"Ya bagus, sampai bisa membuat ibuku percaya,"


"Hahaha... Harusnya kamu berterimakasih padaku?"


"Aku? berterima kasih, No!" bantah Nala yang sejak tadi memang sudah merasa kesal pada pria itu.


"Kenapa?"


"karena kamu terlalu berlebihan,"


"Kita itu harus total Nala, ingat janjimu. Aku tidak suka kerja setengah- setengah. Aku mau hasil maksimal, paham!"


"Iya, aku tau!" sahut sang gadis mengalah dan dia menatap keluar jendela.


Sesampainya di depan rumah, Nala langsung turun. "Terimakasih Pak,"


Nala turun dan memasuki pekarangan rumahnya dengan langkah gontai. Dan Dimas, dia berlalu dengan wajah senang, puas rasanya bisa membuat gadis itu merasa bete dan marah seharian ini.


"Nala, kau tidak akan menang dari ku," bisiknya bangga.


Tanpa pria itu sadari, dirinya yang telah terbuai dan mulai larut dengan permasalahan hidup Nala. Semakin hari dia semakin dekat dengan gadis itu dan masuk kedalam kehidupannya.


***


Nala sudah berangkat ke kantornya, sebelumnya dia menyempatkan diri melihat ibunya di rumah sakit.


Wajah sang ibu terlihat begitu bahagia, membuat Nala semakin bertekad untuk bertahan, meskipun sikap dan ucapan pria itu membuatnya merasa begitu kesal.


Sedikit pun Dimas tak bersikap manis padanya terkecuali di hadapan ayah dan ibunya.


'Semangat Nala, semua demi Ibu, bertahan lah setidaknya satu tahun kedepan sampai ibu dinyatakan sembuh. Kuat, kamu pasti kuat, lihatlah ibumu tersenyum bahagia, dia lah alasanmu berjalan sejauh ini, semangat!!" ucapnya pada diri sendiri.


Nala terus melamun hingga dia sampai di perkirakan rumah sakit. Gadis itu turun dan melangkah masuk ke dalam, tak lupa membayar ongkos taksi yang dia gunakan.


Baru dua langkah berjalan, seseorang memanggil namanya "Nala..."


Nala berhenti sejenak namun dia tidak menoleh karena dia kenal betul siapa yang tengah memanggilnya.


"Nala tunggu.." seru gadis itu setengah berlari kearahnya.


"Kamu marah ya?" ucap sisil saat sudah berjalan sejajar dengannya.


Gadis itu tidak menyahut, terus berjalan sengaja agar sahabatnya itu tau jika.dia sedang marah, "Nal, maafin aku." ucapnya lagi.


"Udah gue maafin, tapi ingat jangan coba-coba lagi, Ok!"


Sisil tersenyum kecut. Langkahnya melambat membiarkan Nala berjalan mendahuluinya.


Nala dan Sisil fokus dengan tugasnya masing-masing.


"Nala..."


"Nala..." lagi terdengar suara Dimas memanggilnya namanya.


Sisil menoleh, dia melihat sahabatnya itu terlalu fokus hingga tidak sadar jika dirinya yang tengah di panggil Pak bos. Sisil berbisik memanggilnya,


"Nala..."


Nala mengangkat kepalanya, menatap sisil, "Lo di panggil pak bos tuh,"


"Aku?"


"Iya.."


"Nala..." terdengar lagi suara Dimas memanggilnya, "Iya Pak." sahutnya sedikit kuat. Lalu berdiri dan berjalan masuk ke ruangan Dimas.


"Duduk!"


Nala duduk tepat di depan Dimas yang masih fokus pada pekerjaannya.


"Kenapa lama sekali, apa kamu...!"


"Maaf pak, tadi saya..." belum selesai Nala bicara, sudah memotong nya.


"Tidur!" sambung Dimas tanpa dosa,


"Hah!" sahut Nala kaget dengan tuduhan Nala yang tidak beralasan.


Gadis itu memutar bola matanya malas, 'apakah dia mengundangku kesini hanya untuk menghinaku, dan mau mendebat ku,"


"Kenapa diam? tuduhan ku benar bukan?"


"Tidak,"


"Alasan.. terus kamu ngapain? oh aku tau, kamu ngelamunin aku?


"Maaf Pak, apa Bapak memanggil saya hanya ingin mengajak saya bertengkar?"


"Kamu marah, cih.." ejek Dimas


"Ok saya cuma mau bilang, Mama mau kesini, katanya mau mengajak kamu pilih gaun pengantin."


"Gaun pengantin?"


"Iya, kenapa wajahmu begitu? kamu tidak suka?"


"Siapa bilang, bukan begitu Pak,"


"lantas.."


"Tidak ada Pak,"


"Jangan lupa dengan perjanjian kita, bersikap manis di depan kedua orangtua kita,"


"Iya, aku tau."


Belum selesai perdebatan mereka, Seseorang membuka pintu, cklek...


sontak Keduanya menoleh, Mama.."


"Bu Miska," ucap keduanya secara bersamaan.


"Wah kebetulan sekali, kalian disini," ucapnya mendekati Nala dan Dimas.


Nala berdiri menyambut Bu Miska, mencium tangannya, lalu Miska mencium pipi gadis itu. Hati Miska sangat senang dengan sikap manis calon mantunya ini.


Nala yang manis dan sopan santun, sungguh telah memikat hatinya.


"Dimas, kamu tidak menyambut Mama?"


Dimas berdiri, lalu mendekat dan mencium pipi ibunya, "Cepat banget datangnya Ma,"


"Apa Mama ganggu,"


"Enggak Bu,"


"Iya," jawab Dimas dan Nala bersamaan. Bu Miska tertawa melihatnya, "pasangan serasi" batinnya bahagia


"Aku belum bahas konsep gaun pengantinnya dengan Nala,"


"Gampang, biar itu jadi urusan Mama dan Nala."


"Lah.."


"Kok Lah, Mama kan udah bilang sama kamu, Mama yang akan pilih gaun nya dengan Nala, atau kamu mau ikut?"


"Enggak, semuanya aku serahin ke Mama aja, aku tau pilihan Mama pasti yang terbaik."


"Good boy, nanti konsepnya Mama kirim ke kamu,"


"Iya Ma,"


"Ya sudah Mama pergi dulu, ayo sayang," ucap Miska menarik tangan Nala.


"Sayang tunggu," panggil Dimas


Cup...


Pria itu mencium kening Nala, "hati-hati," ucapnya pelan


Beberapa detik Nala terdiam, dan kini dia menggeram kesal di dalam hati, marah melotot ke arah Dimas itu terkekeh melihatnya.


Dimas yakin gadis itu pasti memaki dan mengamuk di dalam hatinya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, Nala harus menyimpan nya rapat karena ada ibunya disana. Dimas sangat merasa puas.


"Romantis nya ..." seru bu Miska bahagia


"Ma titip Nala ya, jangan sampe lecet,"


"Hais anak muda, baru pinjam bentar aja, ya udah kamu kerja yang benar,"


Kedua wanita beda generasi itu berjalan bersama keluar gedung megah itu. Seorang sopir sudah menunggu mereka di depan.


Mereka masuk kedalam dan Mobil langsung meluncur menuju butik langganan Miska.


Sepanjang jalan keduanya terlibat obrolan santai, dan beberapa kali mereka tertawa bersama. Nala gadis yang supel, tidak sulit baginya untuk nyambung saat mengobrol dengan Miska, dan ternyata hobi keduanya sana, yaitu memasak.


Awalnya Nala merasa sangat sungkan, namun sikap Miska yang memperlakukannya seperti puterinya membuat gadis itu merasa nyaman.


Mereka bergandengan tangan masuk ke dalam, Seorang pelayan menyambutnya, "Selamat siang nyonya, Mari ikut saya, nyonya sudah di tunggu di ruangan bu Indy.


Mereka mengikuti gadis itu menuju ruangan bosnya.


Nala tak hanya berjalan tapi dia memperhatikan sekelilingnya, gadis itu merasa takjub memandang deretan gaun pengantin yang sangat cantik, memanjakan mata dan pastinya dia tau itu mahal.


Hingga sampailah mereka di depan ruangan pemilik butik, pelayan membuka kan pintu, dan mereka masuk.


"Jeng Miska, apa kabar?" sambut Bu Indy ramah


", Alhamdulillah baik, kamu makin sukses aja ya ndi,"


"Biasa aja, Alhamdulillah. Duduk yuk," Indy membawa mereka menuju sofa dan mempersilahkan kedua tamunya duduk.


"kamu juga makin cantik," puji Indi pada Miska,


"Siapa dia?"


"Oh ya, baru mau aku kenalkan, ini menantuku, namanya Nala,"


Nala mengulurkan tangannya menjabat tangan Indi, dan menciumnya tanpa sungkan. Membuat Indi sedikit terkejut, karena tidak ada yang se sopan itu padanya selama ini.


"Nala, Tante."


"Cantik, kamu beruntung." puji Indi


"Pastinya," sahut Miska bangga.


"Silahkan duduk,"


"Mau minum apa?" tawar Indi ramah


"Tak perlu sungkan, apa saja."


"Sebentar," ucap Indi yang kemudian memanggil salah seorang anak buahnya dan memesan minuman.


"Tak usah repot, kedatangan ku kesini untuk meminta bantuan mu, tolong buatkan gaun pengantin yang sangat cantik untuk nya,"


"Wah, aku beruntung sekali, pasti akan aku buatkan yang terbaik. Oh ya mau konsep yang seperti apa."


"Aku mau Nala terlihat seperti seorang puteri, dan semua orang memandang takjub padanya,"


"Ok, percayakan padaku, aku pasti akan buatkan yang bagus, dan cantik. Nanti setelah aku buat konsepnya, akan aku kirimkan segera,"


"Baiklah aku tunggu,"


"Ayo diminum,"


Setelah selesai mereka tak langsung pulang, Miska mengajak Nala untuk berbelanja.


"Nala, kita mau kemana dulu, makan atau belanja?"


"Terserah tante aja,"


"Jangan gitu donk, gimana kalau kita makan dulu, setelah itu kita belanja,"


"Saya ikut dengan Tante saja,"


"Baiklah,"


Miska mengajak Nala makan di restoran mewah. Gadis itu sempat merasa risih, namun Miska tak peduli, dia bersikap ramah dan baik pada Nala. Padahal Miska tau Nala merasa sungkan, namun dia ingin Nala terbiasa.


"Nala, nanti setelah kamu menjadi istri Dimas, kamu pasti akan sering pergi ke restoran seperti ini, mungkin menjamu kolega Atau apa? makanya kamu harus terbiasa dari sekarang."


"Iya tante,"


**


Miska memborong banyak barang branded, tas, sepatu, pakaian dan juga perhiasan.


Nala sendiri merasa lumayan lelah mengikuti Miska yang masih asyik berbelanja.


Setumpuk barang sudah dia beli, dan semuanya adalah pilihan sang mertua. Miska menyuruh sopir membawanya ke dalam mobil, lalu dia menghubungi Dimas dan meminta pria itu menjemputnya.


"Mama..."


"Dimas, syukurlah kamu sudah sampai. Oh ya, Mama ada janji ketemu dengan teman Mama."


"Jadi Mama menghubungi ku kesini cuma untuk menjemput Nala?"


"Hai mengapa kamu bicara seperti itu, apa kamu marah?"


"Tidak, aku tidak marah Ma, hanya saja.ku kita ada apa? ya sudah, aku akan pulang dengan Nala nanti, Mama hati-hati ya."


"Iya, bye.." ucapnya berpamitan


Setelah kepergian ibunya, Dimas menatap kesal gadis itu, "Kamu yang meminta Mama menghubungi ku dan meminta aku menjemputmu!"


"Tidak, aku juga tidak tau jika Tante mau pergi,"


"Alasan!" ucap Dimas masih dengan kesalnya.


Pria itu berjalan membuat Nala terpaksa mengikutinya, meski dengan perasaan yang juga mendongkol.


Dimas berjalan cepat, sementara Nala sedikit tertatih di belakangnya sambil mengomel.


"Dasar cowok nggak peka, dasar sok keren, kalau bukan karena Tante aku juga tak mau jalan denganmu," batinnya


"Nala.." Panggil seseorang yang tidak sengaja berpapasan dengannya, gadis itu menoleh dan melihat Kevin ada disana. Berjalan menuju kearahnya dengan senyum lebar.


"Kita bertemu lagi, kamu ngapaian?"


"Aku, tadi aku... "


Belum selesai Nala bicara, Kevin kembali bertanya. "Kamu sendirian?"


"Aku.."


"Nala.. cepat'" ucap Dimas yang langsung menarik tangan nya, namun dihalangi oleh Kevin.


"Siapa lo?" tanya Kevin tak suka dengan sikap Dimas yang seenaknya.


Dimas Sendiri merasa begitu kesal melihat Nala bersama pria itu, Pria yang dia lihat kemaren.


"Saya bosnya, kamu siapa?"


"Maaf Kevin, aku pergi dulu, bye..."


"Nal...Nala..." panggil kevin, tapi Dimas tak perduli dia terus menarik Nala hingga gadis itu terseret.