
Dimas sedikit kesal dengan ibunya. Sejak tadi pria itu marah, Sejak kehadiran Nala, ibunya jadi lebih memperhatikan gadis itu, bukan dirinya.
Selesai makan malam, ibunya masih saja betah mengobrol dengan gadis itu. sesekali keduanya juga tertawa bersama.
Dimas menghampiri mereka, dia memanggil ibunya "Ma,"
"Ya, "
"Kami pamit, Nala ayo,"
"Loh kok cepat banget, masih jam delapan lo," cegah Bu Miska
"Ibunya Nala sakit Ma, kasihan jika di rumah sendirian, ya kan sayang?"
"Iya Tante,"
"Oh ya, bagaimana kondisinya?"
"Ya gitulah tante,"
"Sudah berobat?"
"Sudah Tante, Makasih.
"Duh maaf tante nggak tau, tapi tante akan usahain menjenguknya nanti,
"Eh enggak usah tante, ibu enggak apa-apa kok, hubby aja yang berlebihan,"
"salam ya sama ibu kamu,"
"Iya Tante, aku pamit dulu ya, Assalamualaikum," Nala menarik tangan wanita itu dan menciumnya, lagi dada Miska menghangat, dia tahu Gadis itu melakukannya dengan tulus.
"waalaikum salam,"
**
Di dalam mobil, Nala tampak sibuk dengan ponselnya, beberapa kali Dimas meliriknya tapi gadis itu tetap acuh.
"Nala," panggil Dimas
"Ya..." sahut gadis itu tak menoleh dia tetap fokus pada ponselnya.
Dimas kesal karena merasa di cuekin, dia menarik ponsel Nala,
"Kembalikan!" protes gadis itu coba meminta ponselnya dengan pelan.
"Enggak,"
"Apaan sih, nggak banget, cepat kembalikan?"
"Ti-dak!"
"Dimas!" Nala menaikkan satu oktaf nada bicaranya, dia sangat marah dengan sikap kekanakan calon suaminya ini.
Nala maju dan coba meraih ponselnya yang di letakkan Dimas di sebelah kanan nya.
Tanpa sadar tubuh Nala berhimpitan dengan tubuh Dimas, "Mau peluk?" bisik Dimas
Seketika tubuh Nala membeku, Nala tersadar, wajahnya memerah dan gadis itu kembali ke tempat nya semula duduk manis, kemudian membuang muka. Dan Dimas terkekeh melihat nya.
"Sini!" Nala mengulurkan tangannya meminta ponselnya kembali, namun kali ini dia tidak menoleh ke arah Dimas masih menatap keluar.
"tidak, makanya kalau aku bicara itu di dengarkan,"
"Aku udah dengar kok?" sahut naratus sambil melirik tajam ke arah pria itu.
"Aku enggak suka kalau lagi bicara di cuekin, paham,"
"Iya, iya, Ok. balikin cepat."
"minta yang manis"
"Enggak mau!" dengus Nala
"Ya sudah kalau enggak mau,"
"Dimassss" Nala begitu geram karena Dimas tak kunjung mengembalikan ponselnya. malah pria itu seakan mempermainkannya.
"Aku bilang ulang, apa kamu enggak dengar,"
Nala kembali diam tak mau menuruti Apa yang diperintahkan oleh bosnya itu, dengan santai Dimas menyimpan pesan Allah ke dalam saku celananya.
*
perjalanan menuju rumah Nala tidaklah begitu jauh sehingga dalam hitungan menit berangkat telah tiba di sana.
Dimas telah menepikan mobilnya, Nala juga sudah bersiap untuk turun, namun Dimas masih mengunci pintu mobilnya. Menunggu reaksi gadis itu, masih marah atau tidak.
Nala menoleh dengan tatapan kesal, "Buka!"
"Jika aku tidak mau?" ejeknya
"Buka Dimas, ini sudah malam,"
"Bodo!"
Nala menghela napas, menekan kuat emosi yang sudah mencapai ubun-ubun. Dia menarik napas dalam, "Dimas buka?" kali ini dia bicara dengan nada biasa, tak ada lagi kemarahan disana.
"Aku mau bicara," ucap Dimas
"Ambil map yang ada di belakang itu?" ucapnya lagi semakin membuat gadis itu marah, padahal hanya tinggal membuka pintunya saja dia akan terbebas dari manusia satu ini.
Nala melirik, dan yang dilirik hanya diam membisu, Lagi Nala menghela napas, dia mengalah, menoleh ke belakang dan mengambil apa yang di perintahkan oleh Dimas.
"Buka." ucap Dimas lagi
Nala menurut, akan lebih baik jika dia mengalah dan semuanya cepat selesai.
Pelan dia membukanya, mata gadis itu terbuka sempurna melihat isi map tersebut, "I..ini... dari mana kamu mendapatkan nya?" tanya Nala gugup dan bingung
"Itu bukanlah hal yang sulit untuk ku, dan itu artinya, aku telah menepati satu janjiku," ucap Dimas
"Sekarang giliran mu, kamu juga harus menepati janjimu."
"Iya, Tapi darimana kamu mendapatkan nya?"
"Itu bukan hal yang sulit untukku, dalam lima menit mereka bisa segera menyelesaikan nya.
"Sombong," dengus Nala yang terdengar oleh Dimas, tak marah pria itu justru terkekeh, "Aku bicara apa adanya,"
"Aku telah mengembalikan rumahmu, mulai saat ini kalian bebas tinggal disana, tidak akan ada lagi yang berani menganggu kalian.
Dan ini," Dimas memberikan kartu kepada Nala
"Di dalamnya ada seratus juta, kamu bisa membeli apapun yang kamu inginkan,"
Nala masih terpaku di tempatnya sulit mencerna apa yang diucapkan oleh calon suaminya itu,
Satu lagi, aku juga sudah merekomendasikan pengobatan terbaik untuk ibumu, jadi ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik disini. Selama dirawat di rumah sakit, juga akan ada perawat khusus yang menemaninya."
"Hah!" ucap Nala lagi yang masih belum bisa mencerna apa yang dia ucapkan Dimas, semua terasa mendadak dan dia kaget.
"Terima kasih," sahut Nala kemudian
"Hanya itu?'
"apalagi?'
"Harusnya kamu itu berterima kasih padaku dengan-, Dimas memonyongkan bibirnya seakan mencium Nala.
Plaaak...
Nala memukul lengan pria itu kuat,
"Itu sih memang maunya kamu, udah aku mau turun."
"Tunggu,"
"Aku sudah menempati janjiku, bagaimana denganmu?"
"A..apa?"
"Jangan berlagak bodoh Nala,"
"A..aku.."
"Kamu harus menikah denganku."
"Me..menikah? denganmu?"
"Iya, apa kau setuju?"
"Apa bisa aku menolak?"
"Tentu saja tidak,"
"terus, untuk apa kamu bertanya! jika akhirnya aku tetap harus menikah denganmu?"
"Aku cuma basa-basi saja, heheheh" sahut Dimas
"Besok kau ikut denganku, dan mulai saat ini buang wajah terpaksa mu itu, tunjukkan jika kita pasangan bahagia, dan saling mencintai, paham!!!"
"Hah,,"