
"Siapa pria itu?" bisiknya dengan geram. Tangannya terkepal erat satu sama lain, hingga buku-buku jarinya memutih.
Lalu dia masuk ke dalam mobilnya dan pergi.
Moodnya untuk makan siang telah hilang, hatinya tiba-tiba merasa kesal melihat gadis itu pergi dengan oranglain.
Di jalan Kevin coba membangun komunikasi dengan Nala.
Sejak Pandangan pertama dia sudah menyukai Nala.
Nala tak hanya cantik, tapi dia sangat lugas, berwawasan luas, sedikit jutek tapi justru itu yang membuatnya menarik di depan Kevin. Nala gadis unik, dia tidak menutupi sifat aslinya, buktinya dia bisa bersikap jutek seperti tadi, Padahal Kevin adalah orang yang baru dia kenal.
Biasanya setiap gadis pasti akan bersikap jaim dan bersikap manis di awal pertemuan mereka, tidak seperti Nala yang menunjukkan siapa dia yang sebenarnya.
Kevin semakin terpikat dengan gadis cantik itu.
"Maaf ya, kalau gara-gara aku kamu jadi kesal." lagi Kevin meminta maaf dan menunjukkan wajah bersalahnya.
Gadis itu menjadi merasa tidak enak hati. Padahal sebenarnya bukan cuma Karena Kevin yang datang secara tiba-tiba, Tapi karena tadi Dimas yang mengerjainya di ruangannya berimbas sampai saat ini. Rasa jengkel itu hampir saja terlampiaskan pada Kevin yang datang di saat yang tidak tepat.
"Ah Enggak, aku cuma .. Maaf lagi capek, maaf ya.." Nala coba mencari alasan
"Memang aku yang meminta Sisil mengajak mu pergi, berhubungan nanti sore kamu enggak bisa, tolong jangan salahkan sisil ya,"
"Tuh kan benar dugaan ku, emang sisil biang kerok nya, awas aja nanti tuh cewek, gue kasih pelajaran biar tau rasa," kesal Nala di dalam hatinya.
"Maaf, aku hanya ingin bicara berdua dengan mu "
"Eh, tapi lain kali ngomong dulu Jika kamu ingin mengajakku atau menjemput ke kantor."
"Kenapa, Apa ada yang marah? Apa kamu punya pacar?"
'To the point aja nih cowok, hadeh..'
"Tidak, bukan begitu aku takut kamu kecewa, karena terkadang aku harus pergi makan siang dengan bos atau menemui klien bersama dengan bos,"
"Oh, aku kira ada, Alhamdulillah," sahutnya senang
Nala pura-pura tidak mendengar ucapan Pria itu, dia memilih membuka ponselnya, dan melihat ada satu pesan dari bosnya, tapi karena kesal Nala enggan membacanya.
"Nal, kamu sudah punya pacar belum?" tanya kevin tanpa basa-basi.
Sepertinya dia begitu percaya diri, karena yang Kevin tau, Nala tidak punya pacar.
Belum sempat Gadis itu menyelesaikan ucapannya, kembali lagi Kevin yang berbicara. "Kamu mau nggak jadi pacar aku?" tanyanya dengan sangat yakin.
Pria itu terlalu percaya diri jika cintanya akan diterima oleh Nala mengingat seperti yang di katakan Ferdi, bahwa Nala itu seorang gadis yang tidak memiliki kekasih.
"Eh, maaf apa ini tidak terlalu cepat, lagipula.." Nala coba menolaknya dengan sopan.
"AKu rasa tidak, usia kita juga sudah tidak cocok untuk pacaran, dan aku ingin segera menikah, bagaimana?"
"Maaf tapi aku enggak bisa!_
"kenapa?"
"AKu akan menikah dalam waktu dekat?"
"Menikah? jangan bercanda, aku tahu kamu jomblo dan aku tau kamu juga ingin segera menikah kan?"
"Hah!"
"Aku menyukaimu Nala dan aku juga sudah memiliki pekerjaan yang mapan, kenapa kamu menolakku?"
"Aku tidak menolak, tapi ini terlalu cepat, sedangkan ini pertemuan kedua kita, jujur aku belum ada rasa ke kamu," jawab Nala jujur
"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, percayalah,"
"Tapi..."
"Tak usah di jawab sekarang, aku memberikan mu waktu, dan aku, aku akan menunggu sampai kami bilang iya,"
"Tapi.."
"Kita sudah sampai, nanti saja kita bahas lagi sekarang waktunya mengisi perut, biar punya tenaga untuk terus bekerja, ya kan?"
Nala hanya bisa mendesah pasrah, pria itu tak memberinya kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya, lagi pula kevin juga tidak menuntut jawaban sekarang, Jadi Nala diam saja, gadis itu berpikir akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Kevin.
'Sebaiknya aku bicara dulu dengan Sisil baru Sisil akan bicara dengan Ferdi dan Ferdi akan bicara dengan Kevin tapi jika sinyal yang aku berikan tidak mempan maka aku akan bicara langsung pada Kevin,' batinnya.
Mereka berdua makan dengan santai, tak ada sedikitpun pembahasan mengenai pengakuan Kevin tadi.
Kevin justru membahas hal-hal lain yang membuat Nala terhibur, ternyata Kevin seorang yang humoris dan periang. Pria itu bisa membuat Nala melupakan kesedihannya sejenak.
Selesai makan siang bareng, Kevin mengantar kan Nala kembali ke kantornya.
Nala melambaikan tangan dan masuk ke dalam setelah kevin berlalu, lagi-lagi seseorang pria itu mengepalkan tangannya karena geram.
Nala melangkah masuk, baru beberapa langkah berjalan resepsionis di kantor memanggilnya,
" Bu Nala.."
"Ya.." Nala berjalan mendekat menuju meja resepsionis,
"Ibu tadi dicariin pak Dimas."
"Aku?"
"Iya, buruan. Kayaknya pak Dimas lagi bad mood."
"Ada apa ya?" tanya gadis itu pelan. Rini hanya menggedikkan bahunya,
"Ok, Makasih ya Rin"
"Sama sama ibu.,'"
Nala melangkahkan masuk ke dalam dengan perasaan was-was.
tok...tok.. Nala mengetuk pintu.
"Masuk." terdengar suara datar Dimas, membuat nyali Nala sedikit menciut. Bosnya sangat galak jika sedang marah, dan entah kenapa kali ini dia merasa takut. Seperti seorang penjahat yang ketahuan mencuri dan mau di interogasi.
"Darimana saja kamu?" tanya Dimas tanpa menatap Nala
"Makan siang Pak," sahutnya santai
"Darimana?"
"Saya, makan siang pak," jawab gadis itu santai
sedikit merasa heran mengapa Dimas mempertanyakannya, dan Baru kali ini pria itu mempertanyakan Kemana dia pergi makan siang.
"Dengan siapa?"
"Teman,"
"Oh,"
"Ada apa ya Pak?" tanya Nala yang bingung dengan sikap Dimas itu.
"Kamu tau kenapa saya memanggil mu?"
"Tidak, Pak" sahut Nala menggeleng dengan santai, ya memang dia tidak tau kenapa si bos memanggilnya.
"Kamu terlambat sepuluh menit, dan kamu harus di hukum"
"Hah!"
"Habisnya Bapak bikin saya kaget, mana ada aturan seperti itu Pak,"
"Ada, aturan tidak tertulis yang menyarankan jika karyawan tak boleh telat kembali ke kantor saat jam makan siang. Dan kau melanggar nya."
"Maaf pak, tapi sejak kapan ada peraturan itu?"
"Sejak lama,"
'Ada saja tingkahnya yang buat aku kesal dasar bos Edan.
"Maaf Pak, saya tidak tau tapi saya janji ini yang terakhir kalinya." Nala memilih mengalah daripada harus berdebat panjang dengan Dimas.
"Baguslah kalau kau ingat, apa kau sudah siap?"
"Siap? kemana?"
"Pulang!" ucap Dimas sedikit membentak Nala yang kebingungan.
"Bapak memarahi saya?"
"Iya!"
"Bapak sadar nggak, Bapak udah marah-marah tanpa sebab yang jelas dan saya bisa menuntut Bapak,"
"Hahah, kamu mau menuntut saya, silahkan!!!" Dimas juga tersulit emosi
"Bapak kenapa sih, PMS?" tanya Nala heran, menurutnya kemarahan Dimas sangatlah tidak beralasan dan bukan pertama kalinya dia terlambat saat kembali dari makan siang.
"Bukankah sudah saya bilang kamu terlambat kembali ke kantor setelah makan siang,"
"Hanya itu?" tanya Nala seakan tak percaya
"kembali ke ruangan mu dan bereskan semua pekerjaanmu sebelum jam dua." perintah Dimas
"Ba..bapak mau memecat saya? Hanya karena saya telat?" tanya gadis itu terbata, wajahnya memucat, Tangannya terasa sangat dingin dan sedikit gemetar.
"Sulit dipercaya," Batinnya
Alrm di kepala Nala berbunyi nyaring
'Jika dia memecat ku, Bagaimana dengan pengobatan ibu? apa dia berubah pikiran?" batin Nala
Nyalinya menghilang entah kemana, saat ini yang tersisa hanya rasa takut.
Mendengar jawaban Nala yang tidak masuk akal, Dimas pun mengangkat kepalanya. Kemudian mengerutkan keningnya, menatap intens gadis yang berdiri menunduk dan tanganya.meremas
Beberapa detik kemudian Dimas pun tertawa terbahak, kini dia pahan dan merasa sangat lucu melihat wajah ketakutan Nala. 'ternyata gadis bodoh ini bisa takut juga, Baiklah aku akan mengerjai nya sedikit."
"Cepat, bereskan pekerjaan mu!"
"Tapi Pak.."
"Kau mau membantah ku?" Dimas semakin mengintimidasi gadis itu.
"Maafkan aku Pak, aku rela melakukan apapun asal bapak jangan memecat ku."
"Kau yakin?"
"Iya,"
"Sudah bereskan pekerjaan mu lalu ikut aku?"
"Kemana Pak?"
"Kau mau beneran aku pecat!" sahut Dimas yang merasa kesal
"Eh iya, maaf." Nala segera keluar dan kembali ke ruangannya.
"Gimana makan siangnya?" tanya sisil begitu gadis itu melihat Nala.
"Hah,"
"Nal, kamu kenapa? wajahmu pucat, apa kamu habis di marahin pak bos?" tanya sisil khawatir, gadis itu bangkit dari kursinya dan mendekati Nala, bahkan mengguncang bahunya pelan.
"Enggak, aku hanya sedikit capek,"
"Kamu -"
"Aku lagi buru-buru lain kali aja ceritanya," sahut Nala, gadis itu meraih tas dan merapikan mejanya.
"Kamu mau kemana?" tanya sisil lagi
Nala tak menjawab dia melangkah mengikuti Dimas dibelakang nya.
sampai masuk ke dalam mobil Dimas tak juga bersuara sepertinya pria itu sengaja mendiamkan Nala. Gadis itu diam karena tidak tahu ke mana arah tujuan mereka, ke mana Dimas akan membawanya pergi?
sesekali dia melirik Dimas yang sedang menyetir, namun Dimas tetap cuek dan fokus pada kemudinya.
"Pak .."
Diam, Dimas tidak menjawab panggilan Nala.
Sekali lagi gadis itu memanggil bosnya, "Pak..."
Dimas tetap diam membisu, kesabaran Nala habis, gadis itu bertanya dengan sedikit keras, "bapak jangan macam-macam ya, atau saya teriak,"
Dimas menoleh dan tersenyum remeh, "silahkan saja, asal kamu tahu mobil ini kedap suara dan juga orang tidak akan melihat apa yang kita lakukan dari luar,"
Nala bungkam, dan pasrah, dia akan ikut kemana Dimas membawanya.
Mereka memasuki sebuah rumah sakit, Dimas menghentikan mobilnya dan turun. Nala sedikit kebingungan tapi gadis itu juga memilih turun mengikuti Dimas.
tanpa menoleh pada Nala, Dimas terus melangkah maju dan masuk kedalam, langkahnya yang panjang dan cepat membuat gadis itu sedikit kesulitan mengejarnya, tapi Dimas tak peduli.
Mereka berhenti di depan sebuah ruangan, Nala mendongak dan melihat nama ruangan tersebut, dia terkejut, "ruang paru,"
"kenapa Dimas mengajaknya kesini?"
Belum terjawab pertanyaannya, Dimas sudah membuka pintu dan masuk ke dalam, dan alangkah terkejut Nala, dia melihat ibunya berada di dalam bersama dengan seorang dokter yang memeriksanya.
"Ibu..." seru Nala dan berlari kearah ibunya
"Nala, kamu sudah sampai nak,"
"Ibu menunggumu, oh ya sampai kan terimakasih ibu kepada bos kamu, dia orang yang sangat baik,"
"Bos Nala?"
"Iya, tadi ada sopir kantor yang datang ke rumah Ibu. Dia bilang kamu sedang rapat bersama bos jadi sopir tersebut datang menjemput ibu dan membawa Ibu ke sini,"
"Sopir?" ulang Nala melirik Dimas, namun pria itu diam saja
"bagaimana kondisi ibu saya dok?" tanya Nala pada dokter,
"kita tunggu hasil pemeriksaannya, tapi sari ciri-cirinya saya menyimpulkan jika ibu nona terkena TBC,"
"hah!"
"Nona jangan takut, ibu anda pasti sembuh,"
"Oh ya Ma, kenalkan ini Pak Dimas," ucap Nala mengenalkan Dimas pada ibunya