My Secretary Is My Wife

My Secretary Is My Wife
Kebaya



"Lepas kau menyakiti ku," teriak Nala saat mereka berada di dalam lift, untungnya tidak ada siapa pun disana, hanya ada mereka berdua.


"Kau, apa kau tidak malu!" bentak Dimas


"Aku? kenapa harus malu?"


"Itu pacar mu?" bentak Dimas


"Bukan urusanmu!"


"Akan jadi urusan ku karena kamu calon istriku!'' sahut Dimas penuh emosi, wajahnya memerah menahan amarah


"Masih calon..."


Tiiing pintu lift terbuka.


Menghentikan perdebatan mereka, lalu kedua segera keluar tanpa saling bertegur sapa.


Nala berjalan cepat, coba meninggalkan Dimas yang menyebalkan.


Bukan hal sulit bagi Dimas untuk menahan gadis itu, dengan sekali tarikan saja, Nala sudah kembali sejajar dengannya.


"Tunggu, kita belum selesai bicara!"


"Maaf Pak, ini di kantor dan.."


Dimas tak perduli dia menyeret Nala masuk ke dalam ruangannya, Sisil hanya bisa mengintip tanpa bisa membantu sahabatnya itu, "kenapa lagi sih si Nala itu," ucapnya pelan.


"Kau mau coba bermain-main dengan ku?" tanya Dimas saat mereka sudah berada di ruangannya, hanya berdua.


"Bukan seperti itu Pak, saya kan hanya makan siang,"


"Siapa dia?"


"Dia.. teman saya."


"Teman? atau kekasih mu?"


"Teman, terserah Bapak mau percaya atau tidak,"


"Ok, kali ini saya percaya tapi saya tidak mau jika kejadian seperti ini terulang kembali, saya tidak mau melihat kamu atau mendengar kamu jalan dengan pria lain, paham!"


"Iya, saya paham."


"Bagus, sekarang kembali ke tempat mu."


"Hah, enggak" sahut Nala datar


"Ayo sini duduk," ajak sisil lalu gadis itu mengambil air putih dan menyerahkannya pada Nala, "Minum dulu,"


"Sekarang cerita kamu kenapa?" tanya sisil setelah Nala meminum air yang dia berikan.


"Aku enggak apa-apa sil, biasa Pak bos, soal kerjaan." sahut gadis itu.


"Sabar ya..." sisil merasa prihatin


Nala tertawa melihat eskpresi sahabatnya itu, "it's ok. Aku cuma lagi kesal.aja, I'm Ok." sahut Nala


"Alhamdulillah..."


Baru saja Sisil merasa lega, pintu ruangan Dimas terbuka dan pria itu berjalan kearah Nala,


"Kamu ikut saya," ucapnya tanpa menoleh


Pria itu berjalan cepat, Nala segera menyambar tas dan ponselnya lalu berjalan mengejar Dimas yang sudah jauh.


Dia hanya berdiri di belakang Dimas mengikuti langkahnya tanpa berani bertanya apa dan mau kemana mereka. Hingga sampai di parkiran, Nala ikut masuk ke dalam mobil tanpa mengatakan sepatah katapun.


Tampaknya Dimas memang masih sangat kesal atas kejadian tadi dan Nala tak berniat untuk memulai pembicaraan, dia juga masih sangat kesal pada Dimas yang memarahinya tanpa sebab.


Mobil yang mereka tumpangi berbelok ke butik yang kemaren gadis itu kunjungi bersama dengan calon mertuanya.


"turun!"


"Bukankah saya sudah.."


"turun!" sekali lagi Dimas menginterupsi nya.


Nala turun dengan wajah di tekuk, kesal karena sejak tadi Dimas tidak mengatakan apapun.


"Ngapain lagi coba harus kesini?"


Dimas menggandeng tangan Nala memasuki butik tersebut, Nala melirik tangannya yabg di gandeng mesra oleh Dimas. sesuatu menjalar masuk di dalam hatinya, ada rasa hangat dan menyenangkan muncul yang membuatnya senang.


"Selamat sore Pak," sambut pelayan begitu ramah


"Sore, tolong Carikan kebaya yang cocok untuknya,"


Nala langsung menatap sengit, kebaya untuk apa? batinnya