
Jam makan siang, Nala berjalan keluar mengikuti Dimas. Sesuai dengan rencananya, siang ini mereka akan membeli cincin pernikahan,
Mereka berdua jalan menuju parkiran,
"Nala..." terdengar suara seseorang memanggil nama Nala. Tak hanya Nala Dimas juga menoleh.
"Kevin.." ucap Nala lirih
"Siapa?"
"Teman ku,"
"Nala, yuk!" ajak kevin tanpa menyapa Dimas.
Nala mendekati Kevin "Maaf ya, aku enggak bisa, kan sudah aku bilang kemaren,"
"Ayolah Nal,"
Dimas melihatnya menjadi geram, "Maaf bung, jangan memaksa,"
"Siapa kamu ini urusanku dengan nala, kamu hanyalah bosnya,"
Nala menarik tangan Dimas agar mundur ,sebelum terjadi perkelahian diantara mereka berdua, "Maaf kevin, tapi ini pacar saya," sahut Nala
Dimas menyeringai puas, tersenyum remeh kearah kevin. Dia menarik nala dan masuk ke dalam mobilnya.
"Itu pacar kamu?" tanya Dimas
"Bukan!"
"Oh..."
Dimas tak lagi bertanya-tanya, dia fokus pada laju kendaraan di depannya, Mobilnya melaju kencang menuju pusat pertokoan untuk membeli apa yang mereka inginkan, yaitu cincin pernikahan.
Dimas menggandeng tangan Nala masuki mall dan mencari toko perhiasan yang dia tuju.
"Selamat siang Pak Dimas, ada yang bisa saya bantu,"
"Saya ingin membeli cincin pertunangan Bisa tunjukkan yang paling bagus yang ada di sini?"
"Oh tentu saja ada sebentar ya akan saya ambilkan," Pelayanan itu masuk ke dalam dan tak lama kemudian keluar kembali dengan membawa 3 pasang cincin.
"Kamu suka yang mana?" tanya Dimas pada Nala
Gadis Itu tampak memperhatikan ketiga pasang cincin tersebut. Pilihannya jatuh kepada cincin yang bertahtakan mutiara kecil di atasnya, terlihat sederhana namun Entah mengapa nampak cantik di mata Nala.
"Yang ini."
" Pilihan Ibu sangat bagus ini adalah cincin limited edition dan hanya ada dua di dunia,"
"limited edition," ulang Nala kaget
"Saya mau mencobanya." ucap Dimas
"Silahkan,"
Dimas mengambil cincin tersebut dan memasangkannya ke jari Nala, cincin itu terlihat pas di jari kecilnya, "wah anda sangat beruntung ya, karena sudah beberapa orang yang mencobanya namun tidak ada yang pas berarti cincin itu berjodoh dengan anda,"
"Berapa harganya?" tanya Nala tiba-tiba, label limited edition menunjukkan bahwa itu adalah barang mewah dan dia tidak mau memberatkan Dimas
"300 juta,"
"Hah!"
"Ini.." Dimas menyerahkan kartu kreditnya sebelum Gadis itu melanjutkan kalimatnya dengan cepat di melirik Nala dengan tatapan tajam.
"Baik Pak, akan saya proses, tunggu sebentar."
"Jangan membuatku malu dengan menanyakan harga. Aku bahkan bisa membeli seluruh isi toko perhiasan ini,"
"Maaf"
Selesai membeli cincin, Nala dan Dimas pergi membeli beberapa barang lainnya tas, sepatu, dan entah apalagi Nala sendiri sampai lupa menghitungnya. Dia membiarkan Dimas melakukan apapun yang pria itu mau, bahkan tas dan sepatu tersebut adalah pilihan Dimas bukan pilihannya.
Setelah selesai mereka kembali ke kantor.
Nala duduk di kursi nya, sejenak gadis itu menyandarkan kepalanya ke Sandara kursi, hari ini benar-benar luarbiasa, Dimas benar telah menguji imannya.
Melihat sahabat nya sedikit berbeda, sisil pun mendekat.
"Lo darimana?" tanya sisil serius bahkan dia memperhatikan wajah Nala yang memang tampak lelah.
"Tuh nemenin si bos!" tunjuknya dengan memonyongkan bibir
Sisil tersenyum, belum lagi dia bicara gantian Nala yang memberondong nya dengan banyak pertanyaan.
"Lo sengaja ya nyuruh kevin jemput gue?"
"Enggak!" sahut sisil terkejut
Nala menarik napas dalam dan panjang, kemudian balas menatap lekat sahabatnya itu, "Dengar ya, sebenernya gue makasih banget lo udah mau peduli sama gue, tapi ya itu gue udah mau nikah, jadi..."
"Iya tapi lo mau nikah sama siapa?" susi
"Ntar juga lo tau,"
"Kok pake rahasia sih nal, gue kan sahabat lo,"
"Pokoknya Rahasia..."
Jam enam sore semua karyawan pulang begitu juga dengan nala dan Dimas.
Dimas mengajaknya menemui ibunya di rumah.
Mereka telah sampai di kediaman Dimas, Langsung di sambut hangat oleh Miska.
Dilain tempat nampak Kevin yang tengah marah, dia begitu emosi karena Nala tidak berhasil dia dapatkan dan terkesan menolaknya.
Ada rasa tidak suka melihat apa yang dia inginkan tak bisa dia dapatkan, padahal biasanya semua gadis akan tunduk dan tergila-gila padanya.
"Sial, aku akan membalas mu nanti, aku tidak terima dengan penghinaan ini," geram Kevin di dalam mobilnya.