My Secretary Is My Wife

My Secretary Is My Wife
Happy



Perjalanan pulang disertai tawa dan canda, sesekali malah Nala mencubit lengan Dimas karena ucapan pria itu.


"Aku bicara benar, Kau harus tau bahwa aku banyak memiliki mantan, jadi siapkan dirimu jika suatu hari nanti saat bertemu mereka."


"Apa yang harus aku siapkan?"


"Semuanya, karena kamu pasti akan..."


"Aku tau Pak, mereka bisa saja memaki, menghina mungkin ada juga yang menghajar ku, iya kan?"


"Hehehe, bisa jadi."


"Dasar Playboy,"


"Kau mengatai ku?"


"Aku bicara yang sebenarnya, sudahlah lupakan" sahut Nala mengakhiri perbincangan mereka.


Satu jam kemudian Nala tiba di rumahnya.


*


Nala baru saja mandi, dan saat ini dia sedang mengeringkan rambutnya yang basah.


Derrrt...derrtt


ponsel Nala bergetar, gadis itu menoleh dan mengambil ponselnya yang tergelar diatas meja,


"Siapa ini?" Ucap Nala melihat telponnya dari panggilan yang tidak di kenal.


Deringan yang kedua mau tak mau Nala mengangkatnya.


"Ya halo,"


"Hai nala, maaf ganggu, ini aku kevin."


"Kevin?"


"Iya, apa aku mengganggu mu?"


"Eh, darimana kamu tau nomor telpon ku?"


Satu detik kemudian Nala merutuki kebodohan nya karena menanyakan hal itu, sudah jelas pasti dapat dari sisil, siapa lagi. Awas kamu sisil,"


Terdengar kekehan dari seberang sana, "Hehehehe, itu bukanlah hal yang sulit Nal, oh ya kamu lagi ngapain?"


"Aku..aku lagi ngerjain tugas, ada pekerjaan yang belum aku selesaikan," sahutnya beralasan agar perbicaraan tidak panjang,


"Mau aku temenin?" tanya pria itu semakin berani


"males ah, yang ada bukannya selesai tapi malah berantakan," Nala berusaha Tertawa renyah dan diikuti oleh pria itu.


"Besok makan siang bareng ya, aku jemput,"


"Tapi aku nggak bisa, aku akan.."


"Hanya makan siang Nala, tidak lebih."


Nala menghela napas, "aku hanya tidak ingin kamu kecewa,"


"Aku jemput besok ya, bye...."


Tut panggilan terputus, Nala menghembuskan napas lega. .


"Aku akan mengatakan yang sebenarnya, jika aku akan menikah dengan pak Dimas. Ya, aku rasa itu lebih baik, dari pada dia terus berharap lebih padaku, huh!" lagi Nala menghembuskan napas berat.


Nala meletakkan ponselnya kemudian melemparkan asal handuk di kepalanya.


Nomornya berbeda dengan nomor yang baru saja menghubungi nya, dan pesan yang di kirim juga biasa aja, "[Lagi apa cantik?]


Matanya membulat, dengan mulut menganga.


"Aneh.." gumannya pelan.


Nala tak mau ambil pusing, dia meletakkan ponselnya dan tidur.


***


Pagi ini Nala memutuskan untuk singgah ke rumah sakit lebih dulu, dan dia sangat mengkhawatirkan keadaan ibunya. Apalagi setelah pembicaraan mereka kemaren Nala jadi semakin waspada


"Assalamualaikum bu" Nala mencium tangan dan pipi ibunya.


"Waalaikum salam, sendirian nak?" tanya wanita itu sambil celingukan mencari keberadaan Dimas.


"Nak Dimas nggak ikut?"


"Enggak bu, aku dari rumah langsung datang kesini, sendiri."


"Nala.." panggil sang ibu dengan nada lembut dan tatapan sendu.


Nala duduk di tepi ranjang ibunya dan wanita itu dengan begitu penuh kehati-hatian menggenggam tangannya.


"Katakan yang sejujurnya nak, apa kamu terpaksa melakukannya?"


"Eh, tidak bu."


"Apa kamu menikah dengan Dimas demi rumah kita?"


"Rumah?"


"Semalaman ibu berpikir, dan ibu menemukan kesimpulan. Pernikahan mu yang mendadak, rumah yang dibayar oleh bos kamu, apa itu ada hubungannya? apa itu sebuah perjanjian?"


Deg,


jantung Nala seperti berhenti berdetak, ucapan ibunya dan dugaannya begitu tepat. Dan Nala tak mampu berkata apa apa.


"Jangan bohongin ibu, semua serba kebetulan yang tidak masuk akal."


Nala mengumpul kan semua keberaniannya, dan mulai angkat bicara, disertai senyum manis.


"Bu, itu hanyalah sebuah kebetulan saja, dan soal hubungan Nala dengan Dimas, itu murni bu."


"Semua serba kebetulan yang merujuk pada satu benang merah ,dan ibu bisa.."


"Ibu salah, maaf aku memotong kalimat ibu. Sebenernya sejak lama pak Dimas sudah menyatakan perasaannya, sejak pertama kali kami bertemu delapan bulan yang lalu saat Nala masih menjadi sekretaris pak Aditya, ayahnya.


Dan tiga bulan belakangan ini, Nala di tugaskan menjadi sekretaris nya, Pak Dimas masih mengejar Nala, hingga akhirnya Nala sadar dan tau pak Dimas tulus, dan mengajak Nala menikah."


"Apa kamu nggak bohong Nak?"


"Nala berkata jujur bu, dan Pak Aditya ternyata yang merencanakan ini, agar Nala bisa dekat dengan Dimas."


"Benarkah?"


"Iya bu, dan Bulan depan Nala akan menikah,"


"Bulan depan? apa.itu tidak terlalu cepat?"


"Bu Miska ingin secepatnya,"


"Ibu belum bisa tenang karena belum bertemu orangtuanya, dan ibu harap kamu nggak lago bohongin ibu,"


Nala memaksakan dirinya tersenyum dan terlihat happy padahal jauh di dalam hati kecilnya dua menangis sedih. "Maafkan Nala bu, maaf"