
"Tolong carikan kebaya yang cocok untuk gadis ini,"
Nala menatap Dimas dengan tetapan heran "kebaya? untuk apa?"
Nala langsung menyuarakan rasa penasarannya.
"Ini yang terbaik di toko kami." terus sampeyan sambil membawa dua buah kebaya yang memang sangat cantik, satu berwarna biru muda dan yang satu lagi berwarna merah muda terlihat mewah dan elegan.
"silahkan dipilih? jika kurang cocok masih banyak koleksi kami lainnya,"
Dimas memperhatikan kedua kebaya tersebut pilihannya jatuh kepada kebaya berwarna merah muda selain warnanya yang terang dan juga modelnya yang cantik Dimas rasa itu sangat pas untuk dikenakan oleh Nala.
"saya pilih yang itu," ucapnya menunjuk kebaya berwarna pink,
"Sayang coba kamu pakai," ucapnya lembut kepada gadis cantik di sebelahnya.
sebenarnya di dalam hati Nana ingin berontak namun melihat sikap manis Dimas dia pun mengurungkan niatnya dan berjalan mengikuti pelayan menuju ruang ganti.
sambil menunggu Nala Dimas memperhatikan sekelilingnya satu lagi pilihan jatuh kepada sebuah kebaya yang terletak agak di sudut berwarna kuning gading. Modelnya memang sangat sederhana dan terlihat biasa saja namun Dimas melihat banyak keunikan di sana.
"Gimana?" tanya Nala yang sudah keluar dari ruang ganti.
Dimas berbalik dan menatap gadis itu "cantik" ucapnya tanpa sadar.
"Yang ini?" Ucapnya menunjuk beberapa kebaya yang sudah di pilihnya.
Nala kembali ke ruang ganti dan mencobanya. Namun saat Gadis itu keluar Dimas menggelengkan kepalanya.
Dia mengulanginya hingga beberapa kali, membuat gadis itu merasa kesal dan merasa dikerjai oleh Dimas.
"Kamu coba yang itu?" Dimas kembali menunjuk kebaya berwarna kuning hadis tersebut.
Nala menghela napas dirinya sudah capek dan ini adalah baju kelima yang dia coba.
Pelayan segera mengambilnya dan mau tak mau Nala kembali ke ruang ganti untuk mencobanya.
Beberapa menit kemudian Nala Kembali keluar, Dimas menatapnya tanpa kedip. Kebaya itu terlihat sangat pas dan cantik di tubuh mungil Nala.
"Bagaimana?" tanya Nala karena Dimas tak kunjung memberikan penilaian.
'awas aja jika dia mengatakannya lumayan, maka aku tidak akan mau mencoba yang lain. aku capek!! Terserah mau beli atau tidak, karena aku yakin kamu hanya ingin mengerjai ku saja," batin nala kesal.
"Lumayan," sahutnya ketus.
"Jangan bilang aku harus mencoba yang lain!" potong Nala setelah mendengar kata lumayan tersebut.
"Hehehe, kenapa? baru juga lima,"
"Sudahlah stop, aku tidak sanggup lagi, aku rasa yang ini juga sudah cocok."
"Bukankah kita harus mencari yabg terbaik?"
"Ya memang, tapi aku lelah." sahut Nala kemudian dia memilih kembali ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.
"Bungkus yang ini dan ini." ucap Dimas menunjuk kebaya berwarna pink dan kuning gading, pria itu juga memberikan kartu kreditnya untuk melakukan pembayaran.
Nala kembali dengan wajah cemberut. Dia menjatuhkan tubuhnya di sofa, di sebelah Dimas.
"Kenapa? bukankah biasanya perempuan sangat hobi belanja?".
"Yang pasti itu bukan aku,"
"Kamu lapar?" tanya Dimas sambil menenteng paper bag di tangan kanannya dan sebelah tangannya menggandeng tangan Nala. Mereka berdua berjalan keluar menuju mobil.
"Dimas..." terdengar suara seseorang yang memanggil namanya. Pria itu menoleh dan sedikit kaget melihat seorang gadis mendekati mereka.
"Hai Dimas, kebetulan sekali kita ketemu disini."
"Hai siren.."
"Dim, makan yuk!" gadis itu mendekat dan bergelanyut manja di tangannya.
Dengan santai Dimas menolaknya, "Maaf, aku tidak bisa."
"Atau kita ngopi?"
"Tetap saja aku tidak bisa?"
"Kamu kenapa sih, biar barang itu sekretaris mu aja yang bawa, kita-"
"Dia bukan sekretaris ku, dia adalah calon istri ku."
"Calon istri? jangan bercanda Dimas! itu tidak lucu.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang terpenting aku sudah sudah jujur, ayo sayang," ucapnya menarik tangan Nala.
Nala membalas genggaman tangan Dimas, dan sengaja merapatkan tubuhnya ke tubuh pria itu.
Hingga mereka hilang keluar dari parkiran, Siren masih menatap kepergiannya hingga tak terlihat lagi.
"Itu kekasih mu?"
"Iya kenapa?"
"Cantik, kenapa tidak mengajaknya menikah."
"Itu bukan urusan mu, kita sudah buat perjanjian Nala, jangan pernah memancing emosiku."
Nala mendesah dia tak tau harus bicara apa lagi, "Aku tau tapi aku.."
"Sudahlah Nala, sekarang kita mau kemana?"
"Aku turun di depan saja pak, "
"Kenapa?"
"Aku mau menjenguk Mama, dan aku bisa pergi sendiri. Bapak bisa kembali sendiri."
",Sejak kapan kamu yang jadi memerintah saya!"
"Maaf, bukan maksud saya.."
"Diam lah aku yang akan mengantarkan mu,"
"Tapi Pak!"
"Enggak pake tapi, diam lah di tempat mu,"
Nala memilih bungkam, dia duduk lurus meremas tangannya.