
"Memangnya Mama mengundang mu?" tanya Dimas
Byur...wajah Nala pias bagai disiram es batu ribuan ton. Seketika tubuhnya membeku, sakit dan malu mendengar teguran Dimas.
Dimas mengangkat kepalanya, "Temani aku bertemu dengan Siren," ucapnya tanpa dosa, bahkan dia tidak minta maaf karena telah membuat Nala malu.
"Aku bercanda Nala, Mama mengundang kita, jadi aku dan kamu."
"Aku tidak bisa, sibuk." jawab Nala kemudian dia berbalik dan keluar ruangan,
Dimas tersenyum lebar, dia sudah berhasil membuat gadis itu kesal padahal hari masih pagi, "hahaha rasain," ucapnya pelan.
Nala telah kembali ke ruangannya, wajahnya di tekuk dalam, sungguh meskipun Dimas mengatakan dia bercanda, tetap saja candaan itu tidak lucu dan menyakiti hatinya,
Setelah menenangkan hatinya, Nala menarik napas dan memfokuskan dirinya untuk mulai mengerjakan semua tugasnya hari ini.
Hingga jam makan siang pun tiba,
"Nala, mau temenin aku nggak?"
"kemana?"
"Makan siang,"
Nala terdiam, dan sisil kembali melanjutkan kalimatnya, "Nanti kan aku makan siang dengan Mas Ferdi, dan dia mau bawa temen, sekalian mau dikenalin sama kamu. Siapa tahu cocok?"
"Aku?" seru gadis itu kaget
"Iya," sahut Sisil nyengir
"Maaf ya soalnya kemarin aku keceplosan, aku bilang aku juga punya temen yang jomblo eh mas Ferdi juga bilang, dia punya temen yang sama, dan tadi mas Ferdi ngajak makan siang bareng. Mau ya..."
"Hem..."
"Udah deh nggak usah mikir lagi. Kamu kan emang .."
"Terus!!" tanya Nala dengan tatapan tajam nan membunuh, namun bagi Sisil itu adalah hal biasa. Karena dia paham betul siapa sahabatnya itu.
"Mau ya..." ucapnya lagi dengan puppy eyes, "kenalan dulu ya... Please...."
Nala menarik napas dalam, "Ok deh, tapi lain kali jangan melakukan ini lagi, jangan janji tanpa seijin dariku." tegas Nala
"Iya, aku janji." ucapnya mengangkat tangan membentuk huruf peace.
Mereka berdua berjalan keluar bersama, di depan Ferdi sudah menunggu mereka bersama dengan teman nya, lalu keduanya masuk ke dalam mobil.
Dimas hendak keluar menemui siren dan tak sengaja melihat kedua gadis itu masuk ke dalam mobil, dia sempat tertegun namun kembali acuh dan melanjutkan perjalanan nya.
'Pantas dia menolak ajakan ku, eh.. tapi siapa pria itu, apa pacarnya? tapi menurut informasi kemaren dia kan tidak punya pacar, argh...bodo amat,' guman Dimas.
Dimas pergi menemui Sireen, gadis itu telah menunggunya sejak tadi.
Dimas mengajaknya makan siang, karena malam ini dia akan mengajak Nala ke rumahnya sesuai dengan perintah ibunya.
Sementara di dalam mobil tak banyak terjadi percakapan, teman Ferdi fokus menyetir sedangkan kedua gadis itu duduk manis di belakang.
Sesampainya di kafe, mereka segera memesan tempat, dan duduk berempat.
Sisil mulai memperkenalkan pacarnya,
"Oh ya La, kenalin ini pacar aku Ferdi, dan mas ini sahabat ku Nala,"
"Nala.."
"Ferdi, " dan mereka pun berjabat tangan, Nala tersenyum lebar padanya.
"Oh ya sayang, Kenalkan ini temen aku namanya Kevin." ucap Ferdi pada Sisil,
" Kevin, ini pacar aku Sisil dan Ini temennya, yang aku ceritakan kemaren."
Lalu mereka bertiga berkenalan. Kemudian pelayan datang mereka pun mulai memesan makanan.
Kevin berulang kali mencuri pandang pada gadis di depannya itu. Dia tertarik pada Nala, cantik, modis dan fashionable.
Pakaiannya juga terlihat sangat sopan untuk ukuran seorang sekretaris. Sedikit berbeda dengan penampilan Sisil yang seksi.
Obrolan mulai mengalir diselingi makan siang bersama. Dalam sekejap kecanggungan diantara mereka mencair. Karena Sisil gadis yang supel dan ramah,
Di tempat lain Dimas juga makan siang dengan Sireen.
"Mas,"
"Aku mencintaimu," ucap gadis itu tanpa malu apalagi ragu.
"Terus..."
"Kamu jawab aku donk, apa kek!" Rengut sisil
"Bukankah kau sudah tau jawabannya,"
"Tapi aku serius Dim?"
"Dan menurut mu apa aku bercanda, tidak bisa Siren, Maaf!" ucap Dimas dengan nada datar.
"Mas..." gadis itu sedikit memaksa
"Kamu tau kan sejak awal sudah aku katakan, tidak ada komitmen diantara kita, hanya sebatas teman, tidak lebih."
"Tapi mas, aku serius mencintai mu,"
"Berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Kau tau jawabannya, kan!!!
Jadi berhentilah mempermalukan dirimu sendiri,"
"Mas..."
Dimas berdiri, "jika kau menemui ku hanya ingin bicarakan ini, kurasa jawabannya sudah jelas aku permisi." ucap Dimas kesal
Pria itu berdiri dan berjalan keluar meninggalkan Sireen yang masih tidak terima dengan ucapan Dimas.
"Kau memang berbeda Dimas, dengan penolakan mu ini, aku semakin ingin mendapatkan dirimu, aku pasti akan menjadi istrimu," sumpah Siren di dalam hatinya.
Memang semua yang pria itu ucapkan benar, tapi dia tak mampu menahan dirinya untuk tidak jatuh cinta pada Dimas, yang tampan dan mapan.
Jam makan siang sudah berakhir,
Nala dan Sisil telah tiba di kantor, dan kembali fokus pada pekerjaan nya, begitu juga dengan Dimas yang telah tiba di kantornya. Semua sibuk dan fokus pada pekerjaan nya masing-masing.
Waktu bergulir dengan cepat, Jam di dinding sudah menunjukkan pukul lima sore, Dimas memanggil Nala dan mengajaknya pulang.
"Nala,"
"Ya Pak," sahut gadis itu mendongak karena, Dimas berdiri tepat di depannya hingga gadis itu merasa kaget.
"Ayo kita berangkat sekarang,"
"Sekarang?" tanyanya dengan wajah terkejut
"Iya, kamu mau kemana lagi?" sahut Dimas berdecak kesal, kenapa sekarang Nala malah menjadi orang bodoh,
"Atau kamu ada janji lain?" sengaja dia menyindir gadis itu.
Sayangnya Nala tidak peka, hingga dia bersikap biasa saja, Nala membereskannya mejanya,
"La, lo mau kemana dengan si bos?"
Nala mwnggedikkan bahunya, tanda tidak tau, belum lagi sisil melanjutkan pertanyaannya, Dimas telah memanggil Nala, "Cepat!!" bentaknya
Nala bergegas keluar dengan setengah berlari, tak lupa menarik tas dan ponselnya.
Karena terburu-buru Nala tidak memperhatikan jalan, dan menabrak punggung Dimas dari belakang.
"Aduh..." gadis itu mengusap keningnya yang terasa lumayan sakit akibat terbentur punggung Dimas.
Bukannya menolong Dimas malah mentertawakan nya, "Hahaha, ceroboh!" ucap Dimas membuat Nala cemberut.
"Dasar sinting," ucap Nala pelan sayangnya terdengar jelas di telinga Dimas,
Dimas memilih diam karena pintu lift terbuka dan mereka masuk ke dalamnya,
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Dimas menghimpit Nala ke dinding
"Ehm, Pak, a.aapa yang Bapak lakukan?" tanya Nala ketakutan,
"Aku, " seringai nakal tercipta di wajah tampan itu, sayangnya sebelum dia melanjutkan aksinya pintu lift terbuka, Nala terburu buru keluar, sengaja setengah berlari meninggalkan Dimas yang terkekeh melihat tingkah konyolnya,
"Gadis aneh, polos..." ucap Dimas tanpa sadar.
Hingga masuk ke dalam mobil,.tak ada percakapan diantara mereka berdua, Nala memilih diam dan menenangkan hatinya, yang tiba-tiba saja jadi tak sehat saat berada di sisi Dimas tadi.